
Myungsoo bangun dari tidur siangnya tidak mendapati Suzy dimanapun, dia akhirnya memutuskan keluar rumah dan melihat Suzy sedang memetik jeruk dan tomat juga melihat keranjang sayur yang telah penuh dengan berbagai sayuran dibelakang rumahnya yang luas dengan berbagai tanaman sayur, buah dan bunga.
"Apa yang kau lakukan putri?" tanya Myungsoo berjalan ke arah Suzy.
"Apa kau tidak bisa melihatnya pangeran, aku sedang memetik hasil sayuran dan buah. Aku akan memberikannya kepada paman didepan rumahku yang anaknya baru saja melahirkan seorang putra." jawab Suzy sambil memetik buah dan memasukan kedalam keranjang digendongannya.
"Apa semua ini kau tanam sendiri?" tanya Myungsoo yang bermain dengan buah jeruk yang bergantung didepannya.
"Semua yang ditanam disini adalah hasil dari berkebun keluargaku, sejak keluargaku meninggal hanya aku dan bibi saja yang merawat. Namun sejak aku di istana aku meminta bibi untuk menanaminya bersama masyarakat sekitar sini. Mau mencoba buah jeruknya? Ini manis" tawar Suzy.
"Boleh"
Suzy meletakkan keranjang buahnya, mengupaskan sebuah jeruk dan menyuapi Myungsoo.
"Bagaimana? Maniskan?"
"Rasanya manis sekali. Istana harus merasakan hasil berkebunmu putri."
"Aku bahkan tidak tahu kapan akan pulang. Aku rasa ingin disini lebih lama agar bisa membersihka rumah bersama bibi Hwang karena aku kasihan jika bibi membersihkannya sendirian." desah Suzy lesu.
"Kalau begitu aku juga tidak akan pulang" putus Myungsoo.
"Yaa bagaiman bisa kau begitu, kau tidak kasihan pada yangmulia yang harus mengerjakan tugas istana sendirian bersama permaisuri. Kau harus membantunya? Jangan egois"
"Lalu bagaimana denganku? Kau juga tega meninggalkan aku sendirian diistana."
"Aish.. Kau jadi menyebalkan"
"Maaf nona Suzy, apa aku mengganggu kegiatan kalian" ucap seorang paman yang masuk lewat pintu samping rumah Suzy yang menghubungkan jalan dengan kebun keluarga Suzy.
"Aniya paman Choi, kami baru saja memetik buah dan sayur." balas Suzy.
"Saya ingin mengantar uang hasil dari penjualan kemarin nona. Ini uangnya nona, semua laku besar" ucap paman Choi menyerahkan uang pada Suzy.
"Banyak sekali paman"
"Itu karena hasil kebun disini bagus nona, semua laris dibeli dengan harga bagus. Bahkan aku mendapat laba besar"
"Paman Choi kenalkan ini suamiku? Kau pasti sering melihatnya"
"Anyeong pangeran"
"Panggil tuan muda saja paman"
"Mohon ampun, Hamba tidak berani pangeran"
"Paman ini ada sedikit buah dan sayur ambillah, aku dengar anakmu baru melahirkan jadi aku memberikan ini sebagai hadiah" ucap Suzy menengahi.
"Terima kasih nona anda sungguh baik. Putriku baru melahirkan seorang putra, maukah anda memberikan nama untuk cucu pertamaku?"
"Berikan nama Myungsoo agar ketika dewasa dia bisa menjadi orang yang besar, bijaksana dan bersinar seperti emas, semoga dia bisa membawa diri untuk membanggakan keluarganya. Seperti suamiku!"
"Terima kasih nona sudah memberi nama yang bagus untuk cucuku. Dan juga buah dan sayuran ini. Saya pamit" ucap paman Choi yang kemudian mengangkut buah dan sayur pemberian Suzy.
"Kau tidak marahkan aku memberikan nama cucu paman itu seperti namamu"
"Kenapa aku harus marah? Doamu bagus dan aku rasa itu bukanlah hal buruk untuk aku harus marah"
"Ya sudah. Ayo masuk sudah sore dan kau harus mandi, bawa ini masuk" ucap Suzy memberikan keranjang berisi jeruk, kemudian meninggalkan Myungsoo yang masih berada dikebun.
*
*
Malam harinya,
Suzy bersiap dan terlihat dengan rapi, Myungsoo yang tengah asyik menonton Tv sambil memakan cemilan yang disediakan Suzy menoleh.
"Kau mau kemana Suzy dengan dandanan rapi begitu?"
"Aku mau ke festival desa, aku ingin membeli beberapa makanan dan melihat-lihat. Sejak masuk istana aku tidak pernah merasakan indahnya menjadi rakyat biasa yang menyenangkan. Kau mau ikut?"
"Apa boleh?"
"Tentu saja. Ayo pergi mumpung aku banyak uang jadi aku akan mentraktirmu makan dan jalan-jalan"
"Sebentar, biar aku berganti pakaian dulu walau aku aslinya memang sudah tampan" gurau Myungsoo yang mengundang tawa bagi keduanya.
"Dasar, cepat sana sebelum aku tinggal sendirian biar kau diajak bermain hantu penunggu rumah ini hahaha" perintah Suzy sambil tertawa.
"Awas saja jika aku ditinggal, tidak akan ku ampuni kau" teriak Myungsoo dari kamar Suzy. Suzy makin tertawa karena sepertinya berhasil menakuti pengeran.
Keduanya keluar dengan penyamaran ala kadarnya saja karena Suzy hanya punya itu, Myungsoo mengenakan topi dengan kacamata dan jaket tebalnya sedangkan Suzy memakai kacamata dengan syal dan rambut dikepang. Keduanya berjalan kaki meyusuri jalanan kecil menuju tempat adanya festival desa.
"Kita sungguh lucu menyamar seperti ini hehehe. Baru kali ini aku keluar harus dandan aneh" ucap Myungsoo garing.
"Oppa pasti tidak pernah melakukan hal seperti inikan? Jalan-jalan melihat festival karena oppa sibuk dengan kegiatan kenegaraan setiap harinya. Bergelut dengan dokumen yang menumpuk setiap harinya. Iyakan? Kau harus berterima kasih padaku karena mengajakmu keluar" goda Suzy.
"Siapa bilang? Aku juga kadang setelah pulang dari kegiatan diluar istana juga bermain sebentar dengan Seungho. Kadang aku juga menemui teman-temanku sewaktu sekolah dulu untuk ke club sebelum pulang ke istana"
"Wah oppa ternyata pangeran yang nakal juga ya hahaha. Asisten Seungho menurut sekali padamu"
"Karena Seungho dan ayahnya sudah bekerja lama untuk istana dan mereka mengenal aku. Sini, nanti kau hilang jika tidak ku gandeng." ucap Myungsoo yang menarik tangan Suzy untuk digengamnya.
Sepanjang jalan Myungsoo menggenggam erat tangan Suzy menuju tempat dimana festival berada. Keduanya mencoba makanan yang tersaji difestival sambil bergurau berdua seolah ini adalah kencan mereka berdua.
"Aku rasanya tidak puas walau sudah mencicipi jajanan yang banyak tadi. Di istana aku tidak akan menemukannya lagi, bersama Seungho saja aku dilarang makan itu" ucap Myungsoo.
"Dasar perut karet, kasihan sekali dirimu oppa. Aku bisa membuatnya di istana jika kau mau tapi kita harus sembunyi-sembunyi karena mereka pasti tidak mengizinkan kita makan itu karena dianggap tidak sehat padahal enak" ucap Suzy.
"Benar, lagipula kau itu calon ratu dan seorang putri. Putri dilarang masuk dapur karena tugasnya hanya melayaniku dan melahirkan anakku"
"Dasar, ayo kita kencan cari makanan sebelum pulang."
"Ayo, sekalian kita cari kopi karena rasanya walau sudah memakai jaket tapi dingin"
"Nde, ayo oppa"
Keduanya kini berjalan ke stand yang menjajakan banyak makanan, namun keduanya berhenti dikedai jjangmeyon.
"Kalian sepertinya pasangan yang baru menikah?" tanya penjual jjangmeyon.
"Bagaimana bibi bisa tahu?" ucap Myungsoo berbalik tanya.
"Terlihat dari wajah kalian yang berseri. Karena kalian pasangan baru, aku akan memberikan khusus belut goreng ini untuk kalian" ucap bibi penjual jjangmeyon yang mengambilka sepiring belut goreng yang menggugah selera.
"Tidak apa, jangan sungkan. Makanlah dan nikmati malam kalian yang menggairahkan" ucap bibi itu memberikan belut gorengnya dan kemudian pergi melayani pelanggan lainnya.
"Terima kasih bibi"
"Jangan sungkan"
"Kau tidak mau? Kalau tidak mau ya sudah untukku saja semuanya" ucap Myungsoo mengambil piring belut goreng itu dari depan Suzy.
"Siapa bilang" ucap Suzy merebut piring itu dan mengambil satu belut goreng untuk dimakan. "Ehmm enaknya belut ini"
"Tadi saja jual mahal, dasar"
"Biar saja. Wleeee" ucap Suzy memeletkan.
"Cepat habiskan mie mu dan kita pulang, hari sudah malam dan makin dingin, aku tidak mau kau sakit dan merepotkanku lagi. Terlalu banyak minum Soju juga tidak baik untuk tubuhmu"
"Baik Myungie oppa yang cerewet seperti ibu-ibu yang melihat anaknya baru tawuran"
"Hmmm"
Myungsoo dan Suzy sampai dirumah Suzy pukul 22 waktu KST. Keduanya masuk kedalam rumah dan meletakkan belanjaan mereka tadi sebelum pulang dimeja kamar Suzy.
"Kau beli banyak sekali sewaktu aku melihat-lihat lukisan tadi" tanya Myungsoo yang duduk dimeja rias Suzy dengan tumpukan tas belanja.
"Iya, aku membelikan ibu suri dan permaisuri beberapa pernak pernik yang cocok untuk mereka, aku juga membelikan pita untuk eonni aku bosan melihat ikatan mereka yang selalu monoton jadi jika diberi pita pasti lebih cantik dan menarik. Dan aku juga membelikan baju untuk bibi Hwang" jawab Suzy yang mengambil selimut dan kasur lipat dari lemarinya.
"Kau menghabiskan uangmu hanya untuk itu. Pemborosan namanya" ucap Myungsoo yang berdiri dengan gaya sok cool.
"Aku juga membelikanmu beberapa baju jadi jangan cemburu hehehe. Aku menghabiskan uangku yang penting aku senang karena ini uangku bukan uangmu" ucap Suzy menaruh Selimut dikasurnya.
"Sesukamu saja" ucap Myungsoo melepas jaket dan kaosnya, menggangtung digantungan baju.
"Pangeran kau tidurlah diatas kasurku, biar aku dibawah. Disini kasurku hanya kecil tidak sebesar kasur dikamarmu di istana"
"Lalu kau akan tidur dimana? Jika aku diatas"
"Aku bisa dibawah saja memakai kasur lipatku"
"Kasur ini muat untuk dua orang kenapa kau tidur dibawah hmm. Apa kau sedang mencoba menghindariku?"
"Aniya, tidak seperti itu."
" Bukankah kita sudah pernah berbagi tubuh dan lebih dari berbagi kamar, jadi apa yang kau takutkan jika kita tidur berdua hmm. Kita bahkan hampir menjadi calon ayah dan ibu" ucap Myungsoo yang sudah berdiri dibelakang Suzy dan berbisik ditelinga Suzy dan menciumi pipi Suzy berulang-ulang, tentu itu membuat Suzy bergidik dan mendorong bahu Myungsoo sedikit menjauh.
"Pangeran, apa yang kau lakukan?" gugup Suzy.
"Tentu saja mengajakmu tidur. Ini sudah sangat malam"
"Aku ganti baju dulu. Kau tidurlah duluan"
"Baiklah, selamat malam"
Suzy berganti baju dikamar mandi sedikit lebih lama karena sedikit takut pada Myungsoo, saat memasuki kamar Suzy masih melihat Myungsoo bermain dengan ponselnya mungkin mengecek pekerjaannya. Suzy berbaring disamping Myungsoo dengan menarik selimut dan memeluk boneka beruangnya karena guling kesayangannya sudah dikuasai oleh Myungsoo.
Lama berdiam diri keduanya juga tidak memejamkan mata, hanya berbolak-balik merasa gelisah.
"Kau belum tidur Suzy?"
"Belum, rasanya aku tidak bis tidur"
"Apa kau juga kepanasan sepertiku"
"Nde, padahal aku sudah mandi lagi tapi rasanya tidak nyaman"
"Aku rasa ini efek soju dan belut tadi"
"Hmmm"
Myungsoo menindih tubuh Suzy, karena memang rasanya tidak nyaman dan ingin dipuaskan. Makanya Suzy juga diam saat Myungsoo menciumi wajahnya dan turun menciumi lehernya sambil tangannya melucuti baju tidur Suzy, memberikan rangsangan kecil berupa ciuman saja rasanya sudah sangat tidak tahan ingin segera disentuh.
"Oppaa, ini tidak benar"
"Kita sudah menikah dan inilah tugasmu sebagai calon ratu, melahirkan anaku. Jika kita tidak melakukannya sesering mungkin kau tidak akan segera hamil"
"Tap..."
Myungsoo mencium Suzy dengan lembut walau kedua tangannya mendekap erat tubuh Suzy yang terus saja berontak ingin dilepaskan. Dikulumnya bibir itu dengan penuh hasrat karena lamanya menahan rindu pada sang istri digerayanginya tubuh Suzy hingga Suzy tidak sadar bahwa bajunya sudah dilepas dengan perlahan oleh Myungsoo, dan entah sejak kapan Myungsoo juga melucuti bajunya.
Myungsoo kembali menciumi bibir Suzy sambil kedua tangannya meremas dada Suzy yang begitu padat dan sudah keluar dari branya, keringat keduanya terus keluar membasahi tubuh mereka. Karena dirinya yang tidak tahan, Myungsoo melepas semua bajunya dan segera memposisikan adiknya setelah melebarkan kedua kaki Suzy untuk mengangkang. Memaikan sebentar untuk membuka jalan kewanitaan Suzy agar Suzy tidak kesakitan karena ini yang kedua pastilah ****** Suzy akan sakit, jadi Myungsoo ingin melakunan perlahan.
"Aaaahhhh"
Merasa kewanitaan Suzy sudah basah, Myungsoo dengan perlahan-lahan memasukan adiknya. Awalnya kepalanya yang masuk perlahan hingga masuk setengahnya, dikeluarkan sedikit sebatas kepala lalu dimasukannya seluruhnya hingga mentok.
Jleb
Myungsoo memasukan adikn dengan sekali hentakan karena Suzy yang susah basah hingga mudah dimasuki, Myungsoo segera mengeluar masukan adiknya perlahan-lahan dengan pasti karena dirinya juga sudah tidak tahan.
"Aaaaaahhhh"
Tubuh Suzy mengikuti imbangan gerakan Myungsoo membuat tubuh keduanya terus mendesah tanpa henti. Bunyi penyatuan alat kelamin mereka terus bergema, adik Myungsoo terasa sesak didalam rumahnya apalagi kewanitaan Suzy yang berdenyut mengeluarkan cairan membuat adiknya semakin melesak keluar masuk dengan cepat karena pelumasnya keluar.
"Myungggiii....opppaaa....."
"Beerrrrsssaaaamaaa Zy"
Crooottt
Crooottt
Myungsoo menekankan adiknya dengan dalam-dalam agar spermanya masuk ke rahim Suzy agar Suzy segera hamil.
Myungsoo berganti posisi dan mengenjot Suzy dengan berbagai posisi hingga tubuh keduanya lelah karena menghabiskan percintaan mereka yang ganas akibat terlalu banyak makan belut goreng dan Soju.
"Tidurlah, ini sudah malam" ucap Myungsoo yang segera beranjak dan duduk setelah memakai bajunya, dia tidak mengerti apa yang terjadi dengan dirinya. Kadang dia kesal dengan Suzy yang menjadi pilihan istana padahal dia yakin wanita ini hanya mengincar status sosial dan hartanya. Namun kadang dirinya menolak untuk hal itu.
"Hmmm" ucap Suzy dengan mata terpejam, sepertinya memang kelelahan membuatnya malas menjawab.
Myungsoo memandang wajah polos Suzy yabg sedang tertidur dengan selimut yang menutupi tubuh telanjangnya. Myungsoo keluar kamar menuju dapur dan meminum air dingin untuk menjernihkan kepalanya yang kacau. Dia kesinu karena ibu suri yang memintanya, dia ingin menyenangkan Suzy karena hari ini peringatan kematian keluarganya yang disebabkan istana jadi dia ingin menyenangkan hati Suzy namun kenapa dia jadi gelisah.
"Ada apa dengan diriku? Aku peduli atau kasihan sebenarnya dengan Suzy. Istana terlalu sayang padanya namun aku tidak percaya dia gadis baik. Astaga Tuhan aku pusing memikirkannya. Aku harap saat kembali ke istana semua bisa seperti semula" ucap Myungsoo yang meminum air putihnya kembali. Kemudian dia kembali ke kamar dan berbaring dirinya disebelah Suzy yang sudah terlelap, mencoba untuk tidur agar tidak bangun kesiangan esok harinya.