
Myungsoo bangun saat cahaya matahari menusuk indra penglihatannya, dia meraba sebelahnya Suzy sudah tidak ada. Dia segera bangun dan melihat jam sudah pukul 8 pagi, Myungsoo segera beranjak memutuskan untuk mandi namun saat melewati dapur dia melihat bibi Hwang sudah ada didapur sedang memasak.
"Bibi, anda sudah kembali? Kata putri anda akan kembali besok?" tanya Myungsoo yang terkejut melihat sang bibi sedang memasak.
"Pangeran, anda menginap disini?"
"Nde bibi"
"Aku kembali karena aku pikir nona sendirian dirumah, makanya aku segera kembali. Aku takut jika nona sendirian tapi ternyata pangeran datang untuk menemaninya" ucap bibi Hwang sambil tersenyum.
"Istana telah memintaku untuk menemaninya bibi Hwang, karena tidak baik jika istri sedang sibuk merayakan kematian keluarganya tapi suaminya sibuk bekerja"
"Kalian sungguh pasangan yang serasi. Aku slalu berdoa agar kalian slalu bahagia"
"Terima kasih bibi. Tapi dimana Suzy? Aku belum melihatnya sejak aku bangun"
"Nona ada dibelakang pangeran, dia sedang menanam tomat dan sawi"
"Kalau begitu aku ingin melihatnya dulu."
"Nde"
Myungsoo tidak jadi mandi, tapi berjalan ke pintu keluar rumah tepatnya kearah kebun milik keluarga Suzy, bibi Hwang hanya geleng-geleng saja. Dari kejauhan Myungsoo dapat melihat Suzy yang berjongkok memakai topi kebun dan menamam bibit sayur ke tanah. Karena rasa penasarannya Myungsoo ikut jongkok dan memainkan tangannya ditanah mengikui Suzy.
"Pangeran, apa yang kau lakukan?"
"Istriku punya kebun yang luas dan pandai bercocok tanam, apa ruginya jika aku mencoba. Siapa tahu aku bisa jadi petani yang sukses"
"Kau ini ada-ada saja. Takdirmu itu menjadi pangeran dan calon raja jangan bicara sembarangan"
"Takdir kedepan siapa yang tahu?"
"Ngaco, kau itu pangeran satu-satunya jadi mana mungkin garis takdirmu bisa berubah karena kau sudah ditakdirkan menjadi raja hahaha"
"Baiklah aku rasa berdebat denganmu tidak akan habisnya, putri bisa kau ajari aku bercocok tanam. Rasanya aku ingin mencoba menanam sawi dan tomat segarmu" ucap Myungsoo dengan gaya bergurau.
"Boleh, kenakan sarung tangan ini dulu agar tanganmu tidak kotor terkena tanah" ucap Suzy memberikan sarung tangan dari kotak peralatan kebunnya.
"Sudah" ucap Myungsoo yang sudah memakai sarung tangan.
"Ikuti aku." ucap Suzy memberi contoh, dan Myungsoo melakukannya walau tentu salah-salah. "Jangan terlalu dalam pangeran, nanti tumbuhnya lama"
"Iya, begini" ucap Myungsoo yang membenahi tanaman yang ditanamnya.
"Pintar"
"Aku memang pintar"
2 jam sudah keduanya menyelesaikan menanam tomat dan sawi, walau Myungsoo lebih banyak salahnya hingga Suzy harus mengulangi dan membenahi tanaman Myungsoo namun keduanya sering bercanda apalagi kejahilan Myungsoo yang mencolekkan tanah pada wajah Suzy. Selesai menanam Myungsoo menyirami tanaman dengan telaten dan jahil menyemprotkan ke Suzy.
"Astaga oppa, kau jahil" ucap Suzy mencoba merebut selang ingin menyemprotkan selang ke Myungsoo, namun bukannya berhasil merebut malah tanpa sengaja keduanya berciuman.
Cup..
Suzy dan Myungsoo terdiam dalam ciuman singkat mereka, bahkan Selangnya terjatuh dibawah kaki mereka.
"Sudah biarkan saja tanamannya. Hari sudah siang, kau pasti kelaparan oppa" ucap Suzy salah tingkah.
"Tentu saja. Kita melakukannya tanpa melihat waktu dan sekarang aku memang lapar" ucap Myungsoo mengangkat selang dan mematikan krannya.
"Kau mandilah dulu lalu sarapan sekaligus makan siang. Aku akan mandi setelah oppa mandi"
"Aku akan mandi cepat dan menunggumu dimeja karena aku tidak suka makan sendirian, makan sendirian itu tidak enak"
"Baiklah, sana mandi aku akan bereskan peralatan berkebun ini dulu" perintah Suzy karena malu telah berciuman tadi, padahal mereka sudah melakukan hal yang lebih dari sekedar ciuman.
"Ok" ucap Myungsoo berjalan duluan masuk kerumah juga sambil memengangi dadanya dan tersenyum kecil.
Suzy baru selesai mandi,
Dia mengambil duduk dibangku dekat Myungsoo yang berhadapan dengan bibi Hwang. Mereka makan bertiga.
"Pangeran kapan anda akan kembali ke istana?" tanya bibi Hwang setelah mereka bertiga selesai makan.
"Setelah ini bibi, karena aku tidak bisa meninggalkan tugas istana terlalu lama. Kasihan raja jika aku menginap disini terlalu lama"
"Bagaimana rasa kimchi dan makanan buatan bibi, nak? Semua makanan sederhana ini hasil kebun sendiri"
"Nikmat bibi, di istana jarang ada makanan yang seperti ini. Aku baru kali ini merasakan makanan yang nikmat yang tidak pernah aku ketahui"
"Di istana pangeran bisa meminta nona Suzy membuatkan ini semua. Dia pintar sekali memasak aneka olahan kimchi dan makanan lainnya, pangeran"
"Di istana pangeran makanannya terlalu ribet bibi, aku yakin di istana aku tidak akan diperbolehkan menyentuh dapur apalagi memasak kimchi" gerutu Suzy.
"Boleh, asal izin terlebih dulu"
"Kemarin saja mereka melarangku"
"Itu salahmu sendiri tidak bilang padaku"
"Kau menyebalkan"
"Kalian ini, sudah. Jangan bertengkar"
Myungsoo bersiap dengan pakaiannya dan membawa ranselnya masuk kedalam mobil. Suzy hanya memandang seolah tidak rela saat Myungsoo berpamitan akan pergi.
"Bibi, aku titip istriku. Dia belum ingin pulang ke istana, jadi tolong perhatikan makannya dan jangan biarkan dia kelelahan karena dia baru saja keguguran beberapa bulan lalu. Mungkin disini sementara waktu akan membuatnya pikirannya tenang"
"Anda tenang saja pangeran. Saya sudah menjaganya selama 20 tahun lebih jadi jangan khawatirkan apapun, saya akan menjaganya dengan baik"
"Kau baik-baik disini, kirimi aku pesan jika sudah mau pulang. Aku akan menjemputmu nanti kemari"
"Jaga dirimu baik-baik. Aku pergi dulu" ucap Myungsoo berpamitan pada Suzy dengan mencium keningnya, lalu berjalan kearah mobilnya. Suzy hanya memandangnya sebentar seolah tidak rela.
"Pergilah jika ingin pergi, jangan ragukan apapun"
"Pangeran tunggu, aku ikut pulang ke istana" teriak Suzy yang membuat Myungsoo berbalik dan tersenyum.
"Baiklah, aku akan menunggumu"
"Baik, aku akan bersiap sebentar" ucap Suzy berlari kearah rumah untuk bersiap.
"Bibi, bolehkan aku minta tolong"
"Tentu"
Suzy keluar membawa perlengakapannya dalam tas dan terkejut melihat Myungsoo yang sudah menunggu dengan mobil penuh sayur dan buah hasil kebun miliknya.
"Oppa, apa yang kau lakukan dengan semua ini"
"Aku ingin membawanya sebagai oleh-oleh untuk istana. Bukan hanya barang yang kau beli kemarin. Istana harus merasakan hasil dari kebunmu"
"Sesukamu sajalah"
Di istana,
Myungsoo dan Suzy sampai di istana langsung menghadap ke paviliun ibu suri, karena ibu suri yang mencarinya. Ditempat ibu suri sepertinya semua sedang berkumpul untuk minum teh bersama.
"Mama, putri dan pangeran sudah tiba"
"Suruh masuk"
Suzy dan Myungsoo langsung masuk, Suzy langsung dihadiahi pelukan hangat oleh ibu suri. "Putri, aku sangat merindukanmu. Kalian pergi sebentar saja rasanya istana sangat sepi" ucap ibu suri.
"Saya juga merindukan anda yangmulia" balas Suzy yang juga membalas pelukan ibu suri.
"Mama, biarkan pangeran dan putri duduk dulu" ucap raja Hwanhee menegur ibuny.
"Nde, maafkan aku. Kalian duduklah" ucap ibu suri yang duduk dan mempersilahkan duduk untuk cucunya.
"Nde, mama" ucap Suzy dan Myungsoo.
"Bagaimana pangeran menginap dirumah putri? Apakah menyenangkan?" tanya ibu suri dengan wajah bahagianya.
"Tentu yangmulia, disana putri mengajari saya berkebun dan menanam berbagai sayur dan buah yang rasanya lebih nikmat daripada yang kita beli. Ilmu saya semakin bertambah disana" ucap Myungsoo.
"Benarkah? Wah pangeran kita yang manja ini mau berkebun. Putri Suzy tidak memaksamu melakukannya kan pengeran?" tanya Himchan yang menggoda Myungsoo menimbulkan tawa banyak orang.
"Aniya, tanyakan saja padanya. Benarkan putri?"
"Benar pangeran Himchan. Pangeran Myungsoo suka rela membantu saya"
"Aigo kalian sungguh pasangan yang manis, semoga kelak anakku semanis kalian" tambah Eunji.
"Putri Eunji sedang hamil? Selamat, maaf kami baru mengetahuinya" tanya Suzy dengan raut dibuat bahagia walau hatinya sedikig tercubit.
"Tidak apa putri Suzy, smoga saja kau segera menyusul juga putri agar anak kita bisa menjadi teman main yang baik" jawab Eunji tersenyum manis.
"Aku meminta kalian segera kembali untuk merayakan ini, semoga kalian berdua juga segera menyusulnya" ucap ibu suri yang membuat raut wajah Suzy sedih.
"Kami masih muda jadi biarkan kami menikmatinya sebelum kehadirannya, benarkan putri?" ucap Myungsoo menarik Suzy dalam pelukannya. "Jangan tampilkan raut sedihmu, karena mereka tidak tahu yang terjadi sebelum ini" bisik Myungsoo dingin yang membuat Suzy merinding, padahal ibu suri dan permaisuri juga Sohee sudah tahu hanya berpura-pura agar Myungsoo tidak kesal dan marah pada Suzy.
"Nde mama. Kami masih muda jadi tidak perlu buru-buru, biarkan kami menikmati masa pacaran kami setelah menikah"
"Baiklah, tapi jangan menundanya jika cucu buyutku sudah hadir."
"Nde mama"
"Jangan sedih putri Suzy jika dia memang belum hadir karena dia akan hadir saat yang tepat, seperti aku yang kesusahan punya anak namun aku dan yangmulia tidak pernah berhenti berusaha dan berdoa, hingga pada saat yang tepat aku memiliki pangeran Myungsoo dan putri Minkyung secara bersamaan. Jadi kalian berdua jangan lupa berdoa dan berusaha, smoga kalian berdua selalu bahagia" ucap permaisuri memberikan dukungan untuk Suzy.
"Nde mama"
Pembicaraan terus berlanjut hingga makan malam, Sohee juga menjadi bullyan karena dia yang paling muda dan belum menikah.
*
*
Dikamar Suzy, sejak kembali dari klinik Suzy kembali menempati kamar disamping kamar utama. Myungsoo berjalan dan merebahkan diri diranjang Suzy, sedangkan Suzy yang sedang duduk diranjang sambil membaca buku berlapiskan selimut tebal karena cuaca yang dingin. Myungsoo tengkurap dan menghadap Suzy yang tidak menggubrisnya sejak masuk tadi.
"Hey, putri sombong kau tidak menyadari aku disini sejak tadi. Dan kenapa kau betah sekali dikamar ini daripada kamar utama?"
"Kenapa pangeran? Apa kau kesepian?" goda Suzy.
"Tentu saja putri. Aku kesepian tidur sendirian tanpamu" balas Myungsoo.
"Bukankah biasanya kau juga tidur sendirian dikamar utama. Kenapa sekarang jadi manja pangeran?"
"Dirumahmu dan beberapa waktu lalu bahkan kita juga sekamar bahkan menghabiskan waktu bersama, berbagi tubuh bersama. Jadi kenapa sekarang mengusirku putri?"
"Atau kau sudah jatuh cinta padaku? Makanya tidak mau berpisah denganku?"
"Dalam mimpimu putri, sampai kapanpun aku tidak akan pernah membalas mencintaimu. Walau kau memberikan cintamu tapi aku sudah bilang bahwa aku tidak bisa jatuh cinta padamu. Aku sangat berterima kasih kau sudah mengembalikan istana seperti dulu dan senyum semua orang. Aku hanya bisa memberikanmu kedudukan dan kekuasaan tapi tidak dengan cintaku"
"Kau takut mencintaiku atau kau hanya pengecut yang bersembuyi dibalik nama cinta. Aku juga tidak mengharapkan cintamu pangeran, jadi jangan khawatir aku mencintaiku. Kau bisa bersama orang yang kau cinta dan istana akan mengerti jika kita berpisah"
"Kau jangan pernah berani mengatakan perceraian didepan istana. Aku tidak akan tinggal diam jika kau menyakiti istana seperti wanita itu" geram Myungsoo yang beranjak dari ranjang Suzy menuju pintu keluar dengan kasar.
"Jika memang tidak bisa mencintaiku setidaknya pura-puralah padaku, walau mungkin hanya semu tapi aku mencintai keluarga ini yang memberikan banyak sayangnya padaku. Aku tidak bisa melihat ibu suri terluka tapi salahkah aku yang mulai mencintaimu pangeran. Apa aku tidak bisa sedikit saja memasuki ruang dihatimu" ucap Suzy pada dirinya sendiri dengan memegang dadanya sambil terisak. "Aku hanya ingin disayang apalagi kita sudah berbagi tubuh bersama, bahkan hampir memiliki anak bersama hiks.. Apa aku memang tidak pantas mencintai dan dicintai hiks.. Kenapa menyukai seseorang harus seberat ini"