Sincerely Love

Sincerely Love
Chapter 3



Jin ae terkejut saat Hyo ki dan Nana panik dengan hilangnya barang-barang Suzy. Mereka pikir Suzy hanya pergi mengajar seperti biasanya namun sebagian barang-barangnya menghilang kecuali barang pemberian dari istana.


"Eonni bagaimana ini? Putri menghilang. Apa yang harus kita lakukan" ucap Nana yang panik.


"Benar, apa putri kabur karena tidak tahan dengan sikap pangeran Myungsoo yang datar padanya" tambah Hyo ki.


"Diamlah kalian berdua. Biarkan aku berpikir sejenak, kalian membuatku tidak bisa berpikir aigo.." ucap Jin ae sambil memijat kepalanya. Jin ae akhirnya mengambil keputusan untuk menemui Seungho dan pangeran Myungsoo untuk memberi tahu.


"Seungho, tuan putri menghilang. Apa yang harus kita lakukan? Barang-barangnya juga menghilang kecuali barang pemberian istana" ucap Jin ae dengan raut muka panik.


"Apa kalian tertidur hingga tidak tahu kemana perginya tuan putri, seminggu lagi mereka akan menikah jadi bagaimana mungkin kau dan yang lain teledor begini" balas Seungho.


"Ada apa?" tanya Myungsoo yang baru keluar dari ruang kerjanya.


"Tuan putri menghilang pangeran"


"Seungho, kau ikut aku. Jin ae kau periksa kembali seluruh istana istana"


Myungsoo keluar dengan Seungho tanpa pengawal, dia menuju sekolah tempat Suzy mengajar.


Sedangkan Suzy disekolahan sedang merapikan peralatan mengajarnya, dia berpamitan kepada seluruh muridnya.


"Nona Suzy, jangan lupa pada kami walau kau sudah menjadi seorang istri pangeran Myungsoo" ucap Sungjong muridnya.


"Aku tetaplah nona Suzy yang kalian kenal. Jangan khawatir"


"Nona Suzy, kami akan merindukanmu"


"Karin, kau ini kekanakan"


"Kalian jangan lupa turnamen basket kalian sebentar lagi. Kalian harus giat berlatih agar menjadi juara. Ok"


"Kau harus menonton kami nona Suzy" seru Jebin semangat.


"Aku akan menontonnya jika kalian bisa masuk final, segera rapikan buku kalian"


Kelas bubar, Suzy mengambil sisa buku dan barang-barangnya yang tersisa dikelas, dia membersihkan barangnya dimeja guru dan lokernya. Dia berat hati berhenti dari pekerjaan yang dia geluti beberapa tahun ini.


"Aaaaa ada pangeran Myungsoo" teriakan suara dari luar membuat Suzy tersadar dari lamunannya.


"Pangeran Myungsoo disini? Apa yang dia lakukan, apa dia memata-matai aku cih serius sekali kecurigaannya padaku" batin Suzy. Namun dia tidak peduli dan sibuk merapikan barangnya dan meminta bantuan pengurus yayasan untuk membantu membawa barangnya ke mobil.


Kaki Suzy melangkah ke depan agar kekacauan dan keramaian disekolah itu segera redam namun Myungsoo sudah terlebih dulu menghampirinya dengan seungho. "Berikan kunci mobilmu?"


"Untuk apa?"


"Sudah berikan saja pada seungho, kau pulang denganku" paksa Myungsoo merebut kunci mobil dari tangan Suzy dan memberikan pada Seungho. Kemudian Myungsoo menarik Suzy agar masuk kedalam mobilnya. Selama perjalanan Suzy duduk diam tidak ingin memulai pembicaraan.


"Kau ingin melarikan diri eoh?"


"Bukankah kau yang menyuruhku pergi, makanya aku pergi"


"Mau melarikan diri menjelang pernikahan kita, kau pikir aku akan mengizinkanmu melakukannya. Jika ingin melarikan diri seharusnya kau tidak pernah datang ke istana."


"Kau ini bicara apa?"


"Jangan membuat malu keluarga istana, kalau kau memang tidak berniat menikah denganku seharusnya kau tidak pernah menerima permintaan ibu suri dan permaisuri untuk menikah denganku. Mengerti! Aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang jika kau berani membuat luka dihati ibu dan nenekku, ingat itu" suara bass Myungsoo terkesan emosi dan mengancam.


"Dengar ya pangeran Myungsoo yang terhormat, aku datang dan mau menjalani pernikahan ini karena janji ayah dan kakekku, aku masih bertahan hingga detik ini karena aku menghormati mereka berdua namun kau yang memintaku pergi maka dengan senang hati aku lakukan. Kau salah menilai aku, aku memang yatim piatu namun aku tidak hidup dari belas kasihan orang lain. Sudah cukup penghinaan yang kau lakukan padaku, cukup! Turunkan aku disini" teriak Suzy karena kesal dengan hinaan Myungsoo, airamatanya bahkan sudah berkaca-kaca.


"Aku akan menurunkanmu jika sudab di istana, jadi diamlah dan duduk yang benar"


"Turunkan aku disini atau aku akan loncat" ancam Suzy yang sudah melepaskan sealbet pengamannya, dia segera membuka pintu.


Ciitt..


Brak..


Kepala Suzy menabrak dashboard hingga mengeluarkan darah, namun Suzy segera berlari keluar. Myungsoo berhasil mengejarnya namun Suzy terus meronta.


"Putri, apa yang kau lakukan?"


"Apa!" balas Suzy tajam.


"Putri kau terluka, kau berdarah" panik Myungsoo yang kaget melihat luka goresan didahi Suzy.


"Ini hanya goresan pangeran yang bisa hilang, tapi hinaan dan cacianmu menimbulkan luka tersendiri yang tidak terlihat ditubuhku. Kau bilang aku bebas melakukan apapun yang ku mau jadi lepaskan aku" ucap Suzy melepaskan tangannya dari Myungsoo, dan masuk kedalam taxi.


Namun bukan Myungsoo namanya jika dia menyerah, dia segera masuk kedalam mobil dan mengikuti taxi yang ditumpangi Suzy.


"Nona, sepertinya kekasih anda terus mengikuti kita" ucap Sopir taxi yang melihat dari spion.


"Kekasih?" ucap Suzy segera menoleh dan melihat mobil Myungsoo memang mengikutinya. "Paman, bisa kau percepat atau kau cari jalan yang padat agar dia tidak bisa mengikuti kita lagi"


"Baik nona, nona anda terlihat pucat apa perlu kita mampir kerumah sakit" tanya soir taxi yang melihat Suzy pucat dan berkeringat dingin.


"Tidak usah, aku baik-baik saja" jawab Suzy yang merasa kepalanya nyeri dan pusing.


Sopir taxi mempercepat lajunya hingga Myungsoo sedikit kesulitan karena sang sopir masuk kawasan padat mobil. Dan Myungsol kehilangan jejaknya saat dia terjebak dilampu merah.


"Sial! Aku kehilangan jejaknya" ucap Myungsoo yang kemudian mengambil hpnya menghubungi seseorang. "Seungho, jika putri Suzy kembali segera hubungi aku. Aku akan kembali sebentar lagi, suruh para pengawal mencarinya" ucap Myungsoo yang langsung mematikan hpnya. "Sial! Kenapa aku jadi memikirkannya, darah dikeningnya. Aish gadis itu benar-benar menyebalkan"


*


*


Istana.


Myungsoo sudah sampai istana lagi setelah berkeliling selama satu jam kemudian, dia berkeliling mencari Suzy kebeberapa tempat-tempat lain yang mungkin saja didatangi fadis itu.


"Apa putri sudah kembali?" tanya Myungsoo pada Seungho yang menunggunya didepan.


"Belum pangeran, pangeran didalam mobil putri saya menemukan barang-barang putri dari sekolah. Menurut kabar yang beredar hari ini hari terakhir putri mengajar di SMA" jawab Seungho memberikan informasi.


"Berikan barang itu pada Jin ae, agar barang putri Suzy dirapikan dikamarnya.


"Baik pangeran"


Buuggghh


Myungsoo melempar bantal kecil disofa kamarnya, dia terus terngingang ucapan Suzy dan luka darah yang ada dikepala Suzy karenanya.


"Astaga, kenapa aku terus kepikiran ucapan gadis itu" ucap Myungsoo kesal pada dirinya sendiri. Dia juga bingung harus mencari kemana lagi karena dia tidak tahu apapun tentang Suzy.


Suzy, saat ini dia masuk ke kawasan pemakaman keluarganya setelah turun dari taxi yang membawanya.


"Ini bayaranmu paman? Ambil saja kembaliannya" ucap Suzy memberikan beberapa lembar uang.


"Apa saya perlu menunggu anda, nona?"


"Tidak usah paman. Aku akan pulang sendiri nanti. Terima kasih"


"Nde nona, berhati-hatilah karena hari sudah mulai senja dan sebentar lagi malam akan datang"


"Nde paman"


Entah apa yang membawa hati Suzh kemari, sungguh hatinya merasa ingin mengadu pada orangtua dan kakek neneknya. Udara yang dingin menusuk pori-pori membuat luka dikepala Suzy semakin pusing. "Ayah, ibu, kakek, nenek kenapa kalian tidak bilang jika calon suamiku sangat tampan. Kenapa kalian tidak bilang jika calon suamiku seorang pangeran. Kenapa kalian tidak bilang jika mereka keluarga istana hiks.. Kenapa tidak mencarikan aku calon suami dari keluarga biasa saja. Apa aku sanggup menjalaninya? Disana aku akan mempunyai keluarga tapi kenapa kalian tidak mengenalkan kami sejak dulu sehingga kami bisa pacaran terlebih dulu, apa kalian takut aku menolaknya? Atau merasa aku tidak bisa memilih yang terbaik? Aku mungkin hanya akan menjadi pendampingnya saja, cinta bahkan aku tidak berharap ada"


Suzy menumpahkan semua rasa yang menyesakan didadanya, Suzy menuangkan soju ke masing-masing makam. Dalam hati dia menangis menjerit namun dia berusaha tersenyum. Setelah selesaidia berjaln menuruni tangga, Suzy tidak berani menoleh karena air matanya yang terus turun. Ditangga bawah Suzy merosot dan menangis sejadi-jadinya.


"Nona, apakah anda tidak apa-apa?" tanya sopir taxi yang ternyata menunggunya.


"Paman, kenapa masih disini padahal aku sudah menyuruhmu pergi" ucap Suzy memandang sosok yang berdiri didepannya.


"Aku melihat anda sedang sakit nona saat didalam taxi tadi, mana mungkin saya tega meninggalkan anda diarea pemakaman sendirian, hari juga sudah mulai malam nona. Mari saya antar anda pulang nona" ucap supir taxi yang membantu Suzy masuk mobil.


Sepanjang perjalanan Suzy hanya menangis dan menghapus air matanya, supir taxi hanya memandangnya tanpa berani bertanya. Suzy merasa sesak, kepalanya sakit dan pandangannya kabur namun dia tetap menjaga kesadarannya.


"Paman, lampu didepan beloklah ke kiri dan dipertigaaan belok kanan"


"Nona bukankah itu ke arah istana. Apakah anda..."


"Aku hanya pelayan di istana paman. Digerbang ke lima itulah tempatku bekerja, tolong buka jendelamu karena nanti mereka akan mengenaliku"


"Baik nona"


Supir taxi terus menjalankan mobilnya, walau melihat gemerlapnya lampu begitu indah namun hatinya sungguh takut. Benarkah nona yang dibawanya ini seorang pelayan? Sesekali dia memperhatikan Suzy yang bermandikan keringat, smakin pucat dan berkeringat. Disetiap gerbang mereka slalu diberhentikan pengawal namun karena pengawal semua mengenali Suzy maka mereka diizinkan masuk melewati gerbang demi gerbang sampai di gerbang ke lima dimana paviliun Suzy tinggal.


Didepan paviliun Suzy, Myungsoo datang bersama asistennya untuk melihat apakah Suzy sudah pulang atau belum. Jin ae dan kedua dayang lain masih menunggu tuan putrinya datang.


"Apa putri Suzy sudah pulang?"


"Putri... Putri Suzy kembali" teriak suara pengawal dari luar yang membuat Myungsoo dan yang lain segera keluar menghampirinya.


Suzy keluar dari dalam taxi yang langsung dikerubuti oleh para pengawal istana membuat sopir taxi tadi bingung melihatnya, sopir itu kini ketakutan.


"Putri, nona anda seorang putri bukan pelayan" ucap sopir taxi tersebut kaget saat Suzy keluar langsung dikerubungi banyak pengawal.


"Pengawal, biarkan paman ini pergi dia hanya seorang supir taxi biasa yang mengantarku. Paman, ini bayaran untukmu terima kasih sudah mengantarku dengan selamat hingga kesini" ucap Suzy memberikan sejumlah uang pada supir taxi yang mengantarnya.


"Iya putri, hamba permisi"


Suzy masuk kedalam dengan sempoyongan, banyak yang ingin membantu namun ditolaknya, Suzy berjalan dengan langkah pelan karena merasa tubuhnya yang kian melemas dan pandangannya meremang semakin gelap.


"Putri Suzy...."


Myungsoo yang memang berjalan keluar segera menangkap tubuh Suzy yang pingsan, dan segera saja mengangkat membawanya masuk ke dalam kamar.


"Seungho segera hubungi dokter istana, Jin ae siapkan susu hangat, Hyo ki siapkan baju putri dan gantikan baju putri Suzy nanti. Nana kau siapkan air hangat dan kain untuk membersihkan luka putri. Lakukan segera"


"Baik pangeran"


Myungsoo menyibak rambut Suzy dan membersihkan lukanya dengan kain yang dicelupkan air hangat yang dibawakan Nana. Wajah Suzy terlihat sangat pucat dan dingin.


"Pangeran, saya menemukan barang-barang putri tersimpan dibalik lemarinya. " ucap Hyo ki menunjukan pada Myungsoo bahwa dibelakang lemari Suzy ada sebuah ruangan.


"Apa kau tidak tahu ini Hyo ki?" tanya Myungsoo yang berdiri lalu masuk kedalam mengeceknya dan melihat barang-barang Suzy tersusun rapi disana.


"Saya baru mengeceknya ketika membereskan barang-barang putri tadi siang"


"Seungho, kenapa ada ruangan dibalik lemari putri Suzy?" tanya Myungsoo pada Seungho yang tiba-tiba masuk kedalam.


"Dulu ruang ini digunakan raja sebagai perpustakaan sementara pangeran, karena perpustakan pribadinya mengalami kebarakan. Raja terdahulu takut dokumen penting bisa saja hilang kapan saja jadi beliau membuatnya diarea pribadi putri istana sebelum putri istana yang merupakan bibi anda menikah. Apa ada sesuatu pangeran?"


"Tidak ada. Apa dr istana sudah datang?" tanya Myungsoo lagi.


"Nde, dokter sedang memeriksa keadaan putri makanya saya menyusul anda kemari"


Myungsoo melangkah keluar ruangan dari balik lemari Suzy dan segera menemui dokter Lee yang saat ini menangani Suzy.


"Dokter bagaimana keadaan putri Suzy?"


"Biarkan dia istirahat beberapa hari karena daya tahan tubuhnya sangat lemah sekali pangeran, seperti mengalami beban yang berat yang mengganggu pikirannya sehingga putri mengalami penurunan daya tahan tubuh yang menyebabkan tubuhnya lemas, pucat dan kedinginan apalagi diluar cuaca buruk ditambah putri keluar tidak menggunakan baju hangat"


"Apa separah itu. Lalu luka dikepalanya?"


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena luka dikepalanya tidak parah, namun anda bisa membawa kerumah sakit ketika putri sadar untuk memastikan lebih lanjut. Namun tubuh putri mengalami demam tinggi pangeran dimana kondisi tubuhnya akan merasa kedinginan padahal dia sedang demam tinggi, bahkan putri terus mengingau yang saya khawatirkan putri berhalusinasi dan melakukan hal yang buruk"


"Apa separah itu dokter?"


"Harap ada yang menjaganya, saya hanya khawatir saja putri melakukan hal yang membahayakan dirinya sendiri karena kondisi bawah sadarnya yang terlihat kacau."


"Nde, Seungho antarkan dokter Lee. Kalian bertiga istirahatlah, kalian sudah bekerja dengan keras hari ini biar aku yang menjaganya malam ini"


"Baik pengeran"


Seungho mengantar dokter Lee kembali ke klinik istana, sedangkan Jin ae dan kedua dayang Suzy kembali ke asrama para dayang. Tak lama ibu suri dan permaisuri datang menhampiri Myungsoo yang menunggui Suzy.


"Bagaimana ini bisa terjadi Myung?" tanya permaisuri yang duduk disamping tubuh Suzy.


"Dia terlalu lama diluar dengan cuaca seperti ini mama, sehingga mekanisme tubuhnya menurun dan menyebabkan kedinginan yang memicunya mengalami demam tinggi" jawab Myungsoo yang menggantikan kompres Suzy.


"Astaga, apa menikah denganmu terlalu berat untuknya, apa kita terlalu keras padanya hingfa kondisinya menurun" ucap ibu suri yang mendesah sambil melihat Suzy dengan tidak tega yang terus mengigu memanggil ibunya.


Pukul tengah malam Myungsoo mengantar permaisuri dan ibu suri pulang karena besok mereka harus menyiapkan beberapa keperluan untuk menjelang pernikahannya dengan Suzy. Saat Myungsoo kembali suara gaduh terdengar, Myungsoo segera masuk kedalam kamar Suzy dengan secepatnya.


"Ayah, ibu, kakek, nenek jangan tinggalkan aku sendiri hiks...." teriak Suzy dengan wajah terpejam namun gelisah, Myungsoo dengan telaten menghapus keringatnya. "Ayah, jangan pergi" igaunya lagi sambil memegang tangan Myungsoo dan memeluknya.


"Tenanglah, aku tidak akan pergi meninggalkanmu. Sekarang tenanglah ya" ucap Myungsoo membalas pelukannya sambil mengelus rambut Suzy seperti anak kecil, cukup lama melakukan itu hingga membuat Suzy kembali tenang dan tertidur.


Sudah 3 hari Suzy tidak sadarkan diri dan itu sedikit membuat istana kebingungan, jika Suzy tidak segera sadar hingga hari pernikahan mereka, maka dipastikan pernikahan mereka harus diundur beberapa waktu sampai kondisi Suzy pulih.


"Eonni, apa putri tidak akan bangun. Ini sudah 3 hari dia tertidur dan beberapa hari lagi mereka menikah, setiap malam pangeran bahkan menjaganya namun pagi ini beliau menyambut para tamu dari luar negri bersama raja, permaisuri dan ibu suri. " ucap Hyo ki pada Jin ae dan Nana.


"Mereka sepertinya bahagia sekali menyambut putri Suzy sebagai menantu mereka, aku harap pangeran juga sama apalagi putri Suzy baik dan sopan" ucap Nana menambahi sambil sesekali mengganti kompres Suzy.


"Kita berdoa saja yang terbaik untuk mereka berdua, semoga kejadian dulu tidak terulang lagi dan pangeran batal menikah lagi"


"Putri gadis yang baik, jadi mana mungkin dia seperti wanita itu yang pergi meninggalkan pangeran demi pria kaya. Aku rasa putri Suzy tidak seperti itu"


"Ibu... Aku... Haus..." igau Suzy yang perlahan membuka matanya.


"Putri, anda bangun. Syukurlah kami senang melihatmu bangun." ucap Nana yang kemudian mengambilkan minum untuk Suzy.


"Aku kenapa?" tanya Suzy.


"Anda pingsan dan tidak sadarkan diri putri selama 3 hari ini. Bahkan setiap malam pangeran datang kesini untuk menjaga anda" jawab Jin ae.


"Benarkah?"


"Nde putri. Kalian berdua layani putri biar aku ke istana utama untuk memberitahu pangeran Myungsoo jika putri sudah sadar."


"Baik eonni. Pergilah!"


Jin ae segera datang ke istana utama menemui asisten Myungsoo untuk memberitahukan keadaan Suzy. Namun karena Myungsoo dan keluarga istana masih melayani tamu yang datang sehingga Seungho memutuskan untuk memberitahunya nanti. Namun semua dapat melihat kehadiran Jin ae walau sekilas.


Suzy masih tiduran kembali setelan makan bubur dibantu Hyo ki karena tubuhnya yang masih lemas, Hyo ki dan Nana melayaninya dengan baik. Jin ae, dia mengambilkan beberapa buku yang akan dipelajari Suzy menjelang pernikahan mereka. Walau masih sakit Suzy harus membacanya karena memang pernikahan yang akan segera dilakukan.


"Putri, apakah anda masih pusing?" tanya Nana.


"Sedikit, namun aku sudah tidak apa-apa Nana. Berapa lama aku tertidur kemarin?" ucap Suzy ganti bertanya.


"3 hari tuan putri, dan kami semua khawatir jika anda tidak segera bangun apalagi beberapa hari lagi anda akan menikah. Istana sudah kedatangan tamu dari berbagai negara, pangeran Myungsoo dan yangmulia sibuk menjamu mereka" jawab Jin ae.


"Astaga, bagaimana bisa aku merepotkan istana disaat semua orang sibuk menyiapkan pesta"


"Anda sudah sadar saja itu sudah membuat semua orang bahagia putri"


"Bisakah aku mandi. Badanku lengket sekali rasanya" ucap Suzy.


"Tapi udara dingin putri. Kami lap dan ganti baju saja putri" ucap Hyo ki.


"Baiklah, Jin ae siapkan apa saja yang harus aku lakukan setelah ini. Aku tidak enak mereka sibuk aku malah tiduran"


"Baik putri"


Suzy dibantu Hyo ki dan Nana di lap hingga berganti pakaian, Jin ae sudah menunggu di sofa kamar dengan tumpukan buku yang dibawanya tadi.


"Astaga Eonni, apa aku harus belajar sebanyak ini dalam semalam. "


"Tidak putri, anda bisa belajar setahap demi tahap dan saya akan menerangkannya karena anda baru siuman dan tubuh anda masih lemas. Jadi saya akan membantu anda belajar cepat."


"Hmm. Baiklah"


Jin ae menerangkan prosesi apa saja yang harus dilakukan Suzy, Jin ae menerangkan dengan telaten hingga larut karena Suzy memaksanya untuk melanjutkan tentang semua prosesi pernikahan.


Malam semakin larut dan Suzy menyuruh Jin ae beserta kedua dayangnya untuk istirahat, sedangkan dia membaca buku yang dibawa oleh Jin ae.


"Hari sudah larut putri, kenapa tidak segera pergi tidur." tegur seseorang dari belakang Suzy.


"Astaga pangeran Myungsoo, apa yang anda lakukan disini. Apa ingin melihatku?" tanya Suzy menggoda Myungsoo.


"Tentu, aku hanya ingin memastikan calon istriku sudah sehat? Dia sudah berhasil menghebohkan istana karena pingsan selama 3 hari ini." sindir Myungsoo.


"Aku sungguh tersanjung denganmu pangeran, apalagi dengan tindakanmu yang manis ini" balas Suzy sambil tersenyum.


"Jangan pernah berharap apapun dariku, karena ini hanya status. Aku tidak akan pernah mencintaimu, cintaku sangat mahal putri"


"Aku juga tidak ingin terpenjara oleh cintamu pangeran Myungsoo, jangan khawatir. Atau kau yang takut jatuh cinta padaku?"


"Syukurlah, jika kau tidak berniat membalas cintaku seandainya aku berikan semua cintaku padamu putri"


"Aku hanya ingin membalas kebaikan ibu suri, permaisuri dan raja yang memberiku banyak cinta. Dalam mimpiku pun aku tidak pernah berharap cintamu akan datang padaku"


"Aku rasa kita kita bisa jadi teman yang baik, putri. Karena kita seperti bintang utama dalam sandiwara ini. Senang berkenalan denganmu." ucap Myungsoo mengulurkan tangannya didepan Suzy.


"Nde, semoga bisa menjadi teman yang baik pangeran." balas Suzy menjabat tangan Myungsoo.


"Istirahatlah, jaga kesehatanmu karena dua hari lagi kita akan menikah, aku tidak mau kau merepotkan istana lagi. Selamat malam." pamit Myungsoo yang langsung pergi meninggalkan Suzy.


"Selamat malam pangeran"