Sincerely Love

Sincerely Love
Chapter 28



Suzy membaca buku di taman kecil depan paviliun saat Myungsoo akan masuk ke dalam paviliun bersama Seungho yang membawa dokumen dan buku-buku pentingnya untuk dimasukan kedalam ruang kerja, Myungsoo meminta Seungho menaruhnya di meja sebelum pergi sedangkan dirinya menghampiri Suzy.


"Sudah malam kenapa belum tidur? Masih duduk disini diudara yang cukup dingin." tegur Myungsoo.


"Aku masih membaca buku, ceritanya sungguh seru dan diluar udara cukup segar daripada di dalam kamar" ucap Suzy yang masih duduk sambil memegang bukunya.


"Tapi ini sudah jam 11 malam, segera pergi tidur karena besok jadwal kita sibuk karena harus menghadiri acara amal dan pesta ulang tahun pernikahan dari pejabat istana."


"Tapi ini masih seru, pangeran! Ish...."


"Besok masih bisa kau lanjukan membacanya, buku itu tidak punya kaki jadi tidak akan bisa kemana-mana walau kau membacanya lain waktu. Besok kau masih menemani pangeran Eunwoo terapi, kau harus banyak istirahat karena besok jadwal kita padat"


"Baiklah, huft... Kau memang pangeran es yang menyebalkan, seenaknya sendiri menindasku tanpa perasan ish.." ucap Suzy ogah-ogahan berdiri dari duduknya melangkah menuju masuk dan naik tangga menuju kamar mereka berdua. Dibelakangnya Myungsoo tersenyum geli melihat gerutuan Suzy akibat ulahnya.


Keesokan paginya,


Suzy bangun agak kesiangan karena kepalanya yang tiba-tiba saja merasa pusing sehingga membuatnya malas bangun. Myungsoopun juga bahkan sudah menghilang duluan dari ranjang mereka. Jin ae dan kedua dayang setia Suzy terkejut karena tak biasanya sang putri bangun kesiangan, saat mereka datang untuk membantu tuan putri mereka masih rebahan di ranjang.


"Mohon maaf putri, anda harus bersiap karena pangeran Myungsoo sudah menunggu anda untuk sarapan" ucap Jin ae yang memberanikan diri.


"Nde tolong bantu aku, aku sudah bangun sejak tadi pagi tapi aku merasa tidak enak badan, kepalaku sedikit pusing dan perutku nyeri jadi aku menunggu saja kalian datang" ucap Suzy yang berusaha bangun dari tidurnya dibantu Hyoki dan Nana yang segera mendekat.


"Apa anda baik-baik saja putri? Anda terlihat tidak baik hari ini." tanya Nana khawatir.


"Aku hanya merasa pusing, mungkin aku terlalu lelah beberapa hari ini" jawab Suzy.


"Saya akan siapkan air hangat untuk anda mandi agar tubuh anda merasa relax" ucap Hyoki segera berlari ke kamar mandi menyiapkan keperluan mandi Suzy.


"Apa perlu saya memberitahu pangeran jika anda sakit? Hari ini jadwal anda sedikit padat setelah menemani pangeran Eunwoo terapi berjalan, atau mungkin anda ingin periksa ketika berada dirumah sakit" tanya Jin ae meyakinkan.


"Tidak perlu, aku hanya perlu mandi air hangat dan makan pasti aku merasa segar kembali karena sepertinya aku terkena infeksi lambung karena tidak makan dengan baik beberapa hari ini"


"Baiklah, mari kami bantu anda bersiap."


"Gomawo eonni"


"Nde putri"


Suzy tampak lebih segar setelah mandi air hangat dan di rias sederhana oleh Jin ae dan kedua dayang setianya yang memang bertugas membantu Suzy dalam segala hal. Suzy turun dan duduk diruang makan karena Myungsoo sudah menunggunya cukup lama.


"Maaf pangeran jika lama, aku sedikit bangun kesiangan karena tidur larut" ucap Suzy saat baru duduk.


"Hmm. Makanlah yang banyak putri, kau nampak kurang sehat" ucap Myungsoo mulai menyendokkan makanan ke mulutnya.


"Aku hanya sedikit pusing dan perutku nyeri, pangeran. Nanti juga akan reda"


"Apa perlu kita batalkan acara hari ini?"


"Tidak perlu pangeran, aku tidak apa-apa?"


"Tapi kau nampak pucat putri?"


"Aku tidak apa-apa pangeran, makan sedikit pasti aku akan segera sembuh"


"Hmm. Makanlah yang banyak dan nanti periksakan saja ke rumah sakit. Aku tidak mau kau sakit karena pasti akan merepotkan istana"


"Nde"


Keduanya makan dengan diam, Suzy merasa tidak berselera makan sehingga hanya makan sedikit. Perutnya sungguh tidak bisa diajak makan untuk pagi ini, melihat makanan yang tersaji didepannya justru membuat perutnya kram seperti diremas-remas sehingga membuatnya hanya makan sedikit dan hanya banyak minum.


"Apa pusing membuat makanannya terlihat tidak enak, putri?"


"Tidak pangeran"


"Lalu kenapa hanya makan hanya sedikit?"


"Perutku tiba-tiba saja kenyang dan nyerinya semakin membuatku mual, mungkin infeksi lambungku sedang kambuh karena beberapa hari ini aku tidak makan dengan teratur. Aku takut memuntahkannya jika aku paksa makan"


"Ya sudah. Nanti mintalah obat ke dokter saat dirumah sakit saat menemani pangeran Eunwoo terapi berjalan. Aku tidak mau kau sakit karena tidak memperhatikan kondisimu sendiri"


"Nde pangeran. Nanti kita acara amal jam berapa? Aku akan menyusulmu ke tempat acara setelah menemani pangeran Eunwoo terapi berjalan"


"Jam 10, nanti kau hubungi saja aku atau Jin ae jika sudah sampai. Aku akan meminta pengawal untuk menjemputmu diparkiran agar kau tidak berdesakan dengan paparazi yang akan meliput kita"


"Nde, aku akan mengirim pesan padamu saat sampai nanti"


*


*


Suzy keluar dari ruang dokter dengan perasaan yang bahagia, dirinya sungguh terkejut mendengar penuturan sang dokter bahwa dirinya kini hamil. Padahal dia sempat ragu saat dia datang ke dokter umum yang merujuknya pada dokter kandungan, padahal Suzy yakin dirinya hanya pusing dan sakit perut biasa namun saat di USG dia bisa mendengar suara jantung dan melihat langsunh bahwa anaknya dengan pangeran sedang tumbuh diperutnya.


Suzy tak hentinya memasang wajah tersenyum bahagia sejak keluar dari ruang dokter, Suzy kembali ke ruang terapi Eunwoo setelah dia mengambil vitamin dari dokter di apotek rumah sakit. Eunwoo ternyata sudah menunggunya diruang tunggu.


"Maaf aku lama, apa aku lama membuatmu menunggu pangeran?" tanya Suzy menghampiri Eunwoo yang memainkan ponselnya.


"Tidak putri, bagaimana pemeriksaanmu? Apa kau terjangkit sebuah penyakit?" jawab Eunwoo yang kemudian bertanya sambil memasukan ponsel ke saku celananya.


"Aniya pangeran. Aku tidak sakit apapun" ucap Suzy sambil tersenyum.


"Lalu?"


"Aku punya kabar bahagia. Sebentar lagi kau akan menjadi seorang paman?"


"Jadi kau...."


"Iya pangeran, aku hamil dan usianya baru 6 minggu"


"Selamat putri, istana pasti akan bahagia mendengar kabar ini." ucap Eunwoo dengan raut wajah yang berbeda.


"Kalian bisakah merahasiakan ini dari istana? Aku ingin memberitahu pangeran Myungsoo terlebih dahulu sebelum memberitahu yang lain" ucap Suzy kepada para pengawal yang mendampingi mereka ke runah sakit, yang hanya diangguki oleh mereka semua.


"Bukankah setelah ini kalian ada acara? Beri saja kejutan didepan media agar seluruh dunia tahu kebahagiaan ini putri" saran Eunwoo.


"Apa pangeran Myungsoo akan senang dengan ini? Aku takut dia marah" ucap Suzy mengerucutkan bibirnya ragu untuk melakukannya.


"Apa yang kau katakan putri? Pangeran pasti senang karena dia akan menjadi seorang ayah. Mana mungkin calon ayah tidak senang jika dia akan menjadi ayah, bukankah kalian menikah juga karena ingin punya anak."


"Kau benar pangeran Eunwoo. Ayo kita pergi kalau begitu"


"Nde, ayo putri"


Suzy dan Eunwoo pergi meninggalkan rumah sakit menuju balai kota dimana pangeran Myungsoo juga telah berada disana untuk sebuah acara amal. Suzy begitu ceria karena senyum diwajahnya tidak pudar hingga mereka sampai di gedung balai kota.


"Kau tidak ingin ikut aku masuk pangeran Eunwoo?" ajak Suzy yang akan turun dari mobil.


"Ini acara kalian, untuk apa aku ikut masuk. Pangeran Myungsoo pasti tidak suka aku disana apalagi aku belum bisa berjalan normal walau sudah tidak memakai tongkat lagi" tolak Eunwoo.


"Tidak apa-apa, ayo ikut aku untuk masuk." paksa Suzy yang akhirnya membuat Eunwoo akhirnya ikut turun. Keduanya menyusuri balai dimana telah ditunjukkan oleh pengawal istana bahwa ruang untuk mereka istrirahat sebelum tampil adalah dibelakang balai kota ini.


"Itu ruangannya, ayo kita kesana pangeran Eunwoo" ucap Suzy yang berjalan duluan, namun dia terhenti didepan pintu masuk. Eunwoo yang merasa aneh langsung mengikutinya dan ingin melihat apa yang dilihat Suzy.


"Ada ap..." ucapan Eunwoo terhenti saat melihat pemandangan yang dilihat Suzy, mereka berdua melihat Myungsoo berpelukan dengan seorang wanita yang menangis. Suzy tahu dia adalah Son Chae young yang pernah dekat dengan suaminya yang pernah menjadi teman kencan sebelum dia datang ke kehidupan Myungsoo.


"Ayo, ikut aku" ucap Eunwoo menarik tangan Suzy untuk kembali ke parkiran mobil.


Eunwoo memasukan Suzy ke dalam mobil dan dia bicara kepada para pengawal yang kaget melihat keduanya kembali ke parkiran mobil. "Putri tiba-tiba saja tidak enak badan lagi, aku akan mengantarnya ke rumah sakit kembali untuk bertanya pada dokter. Tolong sampaikan pada asisten pangeran jika putri tidak bisa menemaninya untuk acara amal hari ini"


"Tapi pangeran, bagaimana jika..."


"Aku yang akan menjelaskan padanya nanti di istana, tolong nanti sampaikan pada pangeran jika aku mengantar putri ke rumah sakit kembali"


"Baik pangeran."


Eunwoo masuk ke mobil itu dan mengemudikannya pelan, selama perjalanan Suzy hanya diam saja saat Eunwoo membawanya ntah kemana menyusuri jalanan yang lenggang. Mereka melewati jalanan panjang yang dikelilingi pepohonan yang asri.


Sementara itu pemandangan yang dilihat Suzy tadi ialah Myungsoo yang dipeluk Chae young yang sedang menangis. Saat tersadar Myungsoo segera melepaskan pelukan mereka tanpa peduli Chae Young yang menangis.


"Kita hanya teman nona Son, kenapa kau lancang memelukku?"


"Pangeran Myungsok aku masih mencintaimu, kenapa kau kembali bersikap seperti ini seolah tidak mengenalku dan menikah dengan wanita lain. Aku sungguh sakit hati melihatnya hiks... Kau sungguh kejam padaku."


"Nona Chae Young kita hanya teman kencan sebelum aku pergi ke luar negri, aku tidak menjanjikan apapun padamu jadi jangan lancang melampaui batasanmu sebagai pencari berita. Aku tidak ingin kesalahpahaman ini menimbulkan masalah bagi istana yang melukai perasaan putri Suzy dan juga istana"


"Apakah kau mencintainya pangeran? Aku ingin tahu"


"Jika aku tidak mencintainya maka aku tidak akan setuju untuk menikah dengannya yang biasa saja. Aku sudah menutup kisah kita berdua jadi jangan menganggu putri atau mengacaukan istana karena aku tidak akan membiarkan itu."


"Kau mencintainya pangeran, kau melupakan hubungan kita?"


"Ya aku mencintai putri Suzy, awal melihatnya aku berpikir dia sama saja dengan Park Jiyeon yang menginginkan harta, kedudukan dan kekuasaan sebagai istri pangeran namun setahun yang kami melewati bersama aku baru sadar jika dia berbeda dengan wanita lain. Dia hanya ingin sebuah keluarga di istana bukan tahta istana. Kau sudah tahu jika aku mencintainya jadi tolong jaga kesopananmu mulai sekarang"


"Nde pangeran, maafkan saya. Saya permisi"


Chae Young keluar dari ruang istirahat Myungsoo, Myungsoo melihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 11 siang. Seharusnya Suzy sudah sampai jam 10 namun lewat 1 jam dia tidak melihat tanda-tanda Suzy tiba. Myungsoo berdiri dan berjalan keluar mencari Seungho dan Jin ae yang berada di luar.


"Jin ae dimana putri? Kau yang ditugaskan menunggu kedatangannya untuk membantunya bersiap di acara amal yang akan diselenggarakan jam 12 siang ini" tanya Myungsoo menampilkan raut kesal.


"Mohon maaf pangeran, putri..." jawab Jin ae menunduk takut menjawab.


"Katakan, ada apa?"


"Begini pangeran, putri sebenarnya sudah datang sejam yang lalu bersama pangeran Eunwoo. Namun putri Suzy tidak enak badan sehingga membuat pangeran Eunwoo mengantarkannya kembali ke rumah sakit, namun saat saya menelpon pihak rumah sakit mereka mengatakan jika putri Suzy dan pangeran Eunwoo tidak kembali ke runah sakit"


"Kurang ajar pangeran Eunwoo, Jin ae kau minta para pengawal mencari keberadaan mereka dan segera laporkan padaku, Seungho bantu aku mengurus acara ini sampai selesai"


"Baik pangeran"


"Pangeran, pihak rumah sakit juga mengucapkan selamat karena putri Suzy saat ini hamil"


"Apa? Hamil." teriak Myungsoo tanpa sadar.


"Nde pangeran, menurut para pengawal yang mengantar hari ini ke rumah sakit putri Suzy ingin mengatakannya pada anda setelah acara amal ini berakhir. Namun ntah apa yang membuatnya pergi meninggalkan tempat ini bersama pangeran Eunwoo"


"Baiklah, terima kasih. Kau cari tahu dimana keberadaan mereka saat ini dan segera laporkan padaku Jin ae"


"Baik"


"Seungho, ayo pergi bantu aku mengurusi masalah amal ini"


"Baik pangeran"


Jin ae dan Seungho melaksakan tugas sesuai yang perintah Myungsoo.


*


*


Sementara itu,


Suzy dibawa Eunwoo pergi ke sebuah pantai yang berada tak jauh dari kota Seoul, pantai tersebut tidak begitu ramai sehingga membuat mereka berdua tidak perlu khawatir ada paparazi. Mereka berdua duduk dipinggiran pantai yang berpasir putih tanpa menggunakan alas.


"Eunwoo-ya, kau bilang kau tidak pernah pergi ke korea tapi kau bisa membawaku kesini"


"Aku berbohong, aku setiap tahun selalu datang ke Seoul untuk mengunjungi makam ayahku dan kakek bersama ibu. Namun kami berdua sepakat untuk tidak pernah mampir ke istana, namun ntah apa yang dipikirkan ibu saat berniat bunuh diri dan membunuh anak-anaknya"


"Kenapa kau melakukan ini?"


"Apa?"


"Membawaku kabur dari sana"


"Aku tahu apa yang kau rasakan, kau pasti sedih dan terluka. Saat ingin menyampaikan kabar bahagia bahwa kau tapi kau dibuat terkejut dengan mereka berpelukan mesra"


"Aku tidak tahu apakah aku sedih atau terluka? Tapi sedikit ada rasa nyeri saat melihat mereka berpelukan tadi. Aku pernah mendengar kisah mereka berdua dari para dayangku namun aku tidak berani menyimpulkannya, aku takut terluka"


"Apa kau sangat mencintai pangeran Myungsoo?"


"Entahlah, aku ragu pada perasaanku sendiri walau kami sepakat untuk membuka diri saling mencintai. Tapi hatiku rasanya sangat sakit melihat dia memeluk nona Son"


"Jika kau tidak mencintainya, bolehkah aku masuk ke dalam kehidupanmu? Kita bisa kabur bersama dan hidup bersama, anakmu biar menjadi anakku juga" ucap Eunwoo tiba-tiba yang mengagetkan Suzy.


"Pangeran, bagaimana bisa kau berkata seperti ini. Aku ini istri dari sepupumu, aku hanya ingin menikah sekali seumur hidupku jadi bagaimana mungkin aku menghianati istana yang telah memberikan aku keluarga lengkap selama setahun ini." kesal Suzy.


"Aku hanya bercanda tuan putri, kenapa kau marah hahaha"


"Kau bicara ngawur begitu, bagaimana mungkin aku tidak kesal ish.."


"Aku mau memesan makanan untuk kita dikedai sana karena kita belum makan apapun, kau ingin ikut?"


"Aku disini saja, aku belum terlalu ingin makan jadi biarkan aku menikmati udara pantai yang sejuk ini"


"Baiklah, aku tinggal ya? Kau yakin disini sendiri"


"Hmmm"


Eunwoo pergi beranjak dari pinggir pantai meninggalkan Suzy seorang diri yang masih duduk diatas pasir putih, sementara itu di istana Myungsoo masih terus menunggu perkembangan tentang pencarian Suzy dengan cemas.


"Bagaimana pencarian kalian tentang putri" tanya Myungsoo pada Seungho yang baru masuk ruangannya.


"Pangeran, kami sudah menemukan dimana lokasi putri Suzy dan pangeran Eunwoo" ucap Seungho.


"Ayo kita segera kesana" ajak Myungsoo segera berdiri dari duduknya dan mengajak Seunho pergi.


Suzy masih duduk dipinggir pantai dengan menatap matahari yang mulai menyingsing ke barat untuk bersembunyi dibalik kegelapan yang akan tiba sebentar lagi. Suzy setengah jam duduk sendirian menatap jauh ke depan dan terisak seorang diri karena dia tahu Eunwoo sengaja membiarkan dirinya sendirian agar bisa menumpahkan semua emosi didalam hatinya yang menganjal.


"Hiks... Tuhan! Apa ini ujian untukku, saat aku sudah mulai membuka hatiku untuk mencintainya nyatanya dia masih terjebak dengan kehadiran cinta lamanya. Untuk apa dia mengajakku saling terbuka dan saling mencintai jika dirinya saja masih mencintai masalalunya hiks...." ucap Suzy berkeluh keash dalam tangis kesakitannya sambil menatap pantai yang sepi namun terdengar nyaring suara deburan ombak. "Apa yang aku takutkan kinipun terjadi? Bagaimana nasib anakku nanti jika terlahir dari orangtua yang tidak saling mencintai, hanya aku yang ingin mencintainya dengan benar hiks... Aku sakit hati saat melihatnya masih mencintai orang lain Tuhan, sementara setiap hari dia slalu bersamaku dari pagi hingga malam, setiap hari berbagi segalanya denganku, berbagi tidur denganku, berbagi kehangatan tubuh bersamaku tapi ternyata dia masih mencintai masalalunya, untuk apa kepura-puraan itu dilakukan jika dia hanya mempermainkan perasaanku. Apa aku harus meninggalkan istana dan keluarga yang memberiku banyak cinta? Apa aku bisa bahagia dengan meninggalkannya. Tuhan! Aku mohon tolong aku dan anakku hiks... Apa yang harus ku lakukan untuk melewati ini semua hiks... Ini sungguh sakit."


Suzy masih sesenggukan dalam teriakannya, walau dia telah mendengar suara derap langkah kaki yang semakin mendekat. Dia yakin Eunwoo pasti mendengar semua keluhan kesakitannya kali ini namun dia sudah tidak peduli dengan rasa malunya, baginya mengeluarkan sesak dihatinya jauh lebih penting agar dia lega saat dia kembali ke istana nanti walau dia tidak yakin bisa berbaik hati lagi dengan Myungsoo. Langkah derap kaki semakin mendekat dan menyampirkan sebuah jas pada pundak Suzy yang memang kedinginan diterpa angin, Suzy bahkan tidak peduli dengan tubuhnya yang kedinginan akibat angin laut sore yang semakin dingin menerpa kulitnya yang hanya berbalut gaun tipis berlapis cardigan biasa.


"Eunwoo-ya, kenapa semua ini harus terjadi kepadaku hiks.. Apa aku harus berlari bersamamu meninggalkan istana, agar hatiku tidak terluka lagi melihatnya bersama wanita yang pernah di cintainya hiks..." ucap Suzy kepada Eunwoo namun Eunwoo tidak menjawab malah memeluknya dari samping hingga Suzy tersentak menyadari sesuatu.


"Maafkan aku putri, aku juga mencintaimu"