
Myungsoo sepertinya masih marah dan Suzy juga tidak berani mendekatinya. Sore ini Suzy sibuk membuat beberapa sesajen berupa kimchi, kue dan arak beras didapur seorang diri, dia ingin merayakan hari kematian keluarganya. Saat pelayan didapur istana ingin masuk untuk membantu, namun mereka dilarang masuk dan mereka tidak berani berani melawan perintah Suzy karena takut membuat Suzy marah. Selesai dengan urusannya didapur, Suzy menaruh semua kedalam wadah dan membungkusnya dengan rapi.
"Tolong, bawakan ini semua ke jok mobilku. Aku akan menemui ibu suri terlebih dahulu sebelum pergi." ucap Suzy menyuruh Jin ae dan yang lain membawa wadah yang sudah dibungkus rapi.
"Tapi putri, bagaimana jika nanti pangeran bertanya tentang anda?" tanya Jin ae sedikit takut.
"Bilang saja aku sedang menghadiri sebuah perayaan, pangeran Myungsoo sedang menghindariku jadi dia tidak akan bertanya kemana aku pergi" jawab Suzy dengan tenang.
"Tapi putri.."
"Tidak akan apa-apa. Sudah, kalian bawa saja semua ini masuk ke mobilku. Aku akan berpamitan dulu kepada ibu suri"
"Baik tuan putri"
Mereka semua mengikuti ap yang sudah di perintahkan oleh Suzy untuk memasukan semua bungkusan itu kedalam mobilnya, sedangkan Suzy berjalan ke paviliun ibu suri yang langsung disambut oleh dayang setia ibu suri.
"Mama, putri Suzy datang ingin menghadap anda"
"Suruh masuk" ucap ibu suri dari dalam ruangannya.
"Silahkan putri"
"Nde, terima kasih" ucap Suzy yang langsung masuk kedalam ruangan dimana ibu suri berada. "Hormat saya pada yangmulia"
"Ada apa nak? Ini sudah malam harusnya kau beristirahat dikamar agar kesehatanmu segera membaik" ucap ibu suri yang menyambut Suzy dengan baik.
"Mama, saya ingin meminta izin anda untuk menginap dirumah saya selama beberapa hari, karena saya ingin merayakan kematian keluarga saya dirumah dengan ibu asuh saya. Saya sangat merindukan rumah dan ibu asuh saya, yangmulia"
"Kenapa meminta izin padaku nak, seharusnya kau meminta izin pada suamimu dan mengajak pangeran Myungsoo agar dia juga bisa pergi bersamamu kerumahmu"
"Aniya, yangmulia. Pangeran sedang sibuk akhir-akhir ini jadi saya tidak ingin jika perayaan kecil ini mengganggu aktivitasnya, jadi saya ingin pergi sendiri saja. Nanti saya akan mengirimkan pesan pada pangeran jika saya pulang kerumah untuk beberapa hari ini"
"Aku tidak akan menghalangimu nak, pergilah pulang dan hati-hatilah. Nanti biar yang pengawal mengantarkanmu pulang"
"Tidak perlu mama, saya akan pergi sendiri saja menggunakan mobil"
"Kalau begitu biarkan mereka mengawal kepergianmu sampai dirumah nak"
"Baiklah mama, saya permisi sebelum hari semakin malam" pamit Suzy sambil berdiri.
"Hati-hati putri, aku akan sangat merindukanmu" ucap ibu suri yang langsung memeluk Suzy yang masih berdiri.
"Saya juga akan merindukan yangmulia" ucap Suzy membalas pelukan ibu suri.
"Jaga kesehatanmu selama pulang dirumahmu"
"Baik yangmulia"
Suzy memasuki mobilnya, dibelakangnya sudah ada beberapa pengawal yang mengawalnya hingga sampai didepan rumah lama Suzy.
"Terima kasih paman, sudah mengantarkanku sampai dirumah"
"Sama-sama putri. Kami pamit untuk kembali ke istana"
"Hati-hati paman"
Para pengawal itu pergi, dan Suzy mengetuk pintu rumahnya yang sederhana.
Tok...
Tok...
Tok...
"Bibi, ini aku Suzy" panggil Suzy sambil mengetuk pintu rumahnya.
Kriet....
Pintu terbuka dan menampilkan wanita setengah baya yang menjadi pengasuhnya.
"Nona, anda datang" tanya bibi Hwang setelah membuka pintu.
"Nde, bibi. Aku datang karena ingin merayakan kematian keluargaku dirumah." jawab Suzy menampilkan senyum khasnya.
"Pangeran, dia tidak ikut nona?" tanya bibi Hwang lagi saat menyadari nonanya sendirian.
"Dia sedang sibuk sekali di istana bibi, jadi aku datang sendirian"
"Harusnya pangeran bisa meluangkan sedikit waktunya untuk perayaan ini nona, walau bagaimanapun mereka adalah keluarga nona. Mari masuk kalau begitu, bibi buatkan teh hangat dulu. Diluar udara sangat dingin dan itu tidak baik untuk kesehatan nona"
"Nde bibi"
Suzy duduk diruang tamu setelah berganti baju dengan baju rumahan yang dia simpan dirumah, Suzy memang tidak membawa banyak baju saat datang ke istana jadi dirumahnya masih ada beberapa bajunya.
"Minumlah nona" ucap bibi Hwang memberikan tehnya.
"Terima kasih bibi" ucap Suzy saat menerima tehnya dan meminumnya sedikit.
"Nona bagaimana hubungan anda dengan pangeran? Apakah dia dan istana menerima anda dengan baik"
"Aku tidak tahu bibi, istana dan keluarga istana baik padaku. Tapi pangeran sedang marah padaku saat ini dan itu membuatku tidak nyaman." ucap Suzy menampilkan raut wajah sedihnya, membuat bibi Hwang tidak tega segera menghampirinya dan membawa Suzy kepelukannya.
"Ada apa nona? Ceritalah pada bibi?"
"Aku baru saja keguguran dan aku tidak sengaja melakukannya bibi hiks... Aku tidak tahu jika aku hamil, tapi saat aku melihat kuda aku ingin menaikinya namun saat hendak turun aku tidak sengaja terpeleset hingga terjatuh. Dan aku baru menyadari aku keguguran saat punggungku yang terluka robekan semakin bengkak dan membiru. Saat aku dibawa ke dokter, disana dokter mengatakan bahwa aku juga mengalami keguguran hiks.. Bibi aku bersalah! Aku melakukan kesalahan pada istana hiks.. Walau istana tidak marah tapi aku tahu mereka sudah kecewa dan pangeran walau bersikap biasa saja tapi aku tahu dia marah padaku bibi hiks.. Apa yang harus ku lakukan setelah ini hiks... Aku takut kehilangan keluarga lagi huhuhu.."
"Oh Tuhan.. Yang sabar nona, nona dan pangeran masih bisa mendapatkannya lagi."
"Dia saja marah padaku bibi, kami tidur berpisah kembali saat ini"
"Pengeran hanya terkejut nona, dia sebenarnya khawatir pada nona tapi dia malu untuk mengatakannya secara langsung. Percayalah, sebentar lagi dia pasti akan kembali seperti biasanya dan baik lagi pada nona. Apa kalian sudah saling mencintai? Apa nona sudah mencintai pangeran?"
"Aku tidak tahu bibi, setiap hari kami slalu bertengkar karena sikapnya yang sinis dan aku juga membalasnya dengan sinis. Tapi aku rindu jika dia marah dan mendiamkan aku begini? Menegurku saja dia terlihat enggan dan itu membuat hatiku sedikit tercubit"
"Oh Tuhan, anda sudah mencintainya nona. Anda sudah mencintai pangeran"
"Tapi aku takut bibi, aku terbiasa sendirian yang membuatku takut mencintai dan memiliki. Bagaimana jika pangeran menceraikan aku dan menemukan kebahagiaannya dengan wanita lain hiks.."
"Anda harus yakin bahwa anda bisa membuat pangeran mencintai anda, cinta akan datang karena terbiasa bersama. Percayalah itu nona. Aku yakin pangeran sedikit demi sedikit pasti mencintai anda"
"Benarkah aku harus membuatnya mencintaiku? Dan haruskah aku mencintainya?"
"Nona, dalam pernikahan yang terpenting adalah cinta dan komitmen. Pangeran sudah berkomitmen dalam pernikahannya dengan anda, anda tidak akan berdosa jika membuat pangeran mencintai anda dan anda yang mencintainya"
"Aku tidak tahu bibi, tapi aku takut terluka."
"Sudah malam, lebih baik anda istirahat karena hari sudah semakin malam dan besok anda harus pergi ke makam pagi-pagi. Pergilah tidur sekarang, kamar nona selalu saya bersihkan setiap harinya"
"Nde bibi, jaljayo" ucap Suzy segera beranjak dari pelukan bibi Hwang yang menjadi ibu asuhnya sejak kecil. Suzy pergi menuju kamarnya sambil memikirkan Myungsoo yang masih marah sejenak sebelum memejamkan matanya untuk pergi tidur.
Sedangkan Myungsoo,
Dia baru tiba di istana dengan Seungho setelah melakukan beberapa kegiatan diluar istana. Saat turun dari mobil dia tidak melihat mobil milik Suzy yang biasanya terparkir rapi kini tidak ada.
"Kemana mobil putri?" tanya Myungsoo pada pengawal yang membukakan pintu mobilnya.
"Saya mendengar jika putri menggunakannya untuk keluar istana pangeran"
"Dia pergi sendirian dicuaca dingin begini? Ini juga sudah jam berapa putri berkeliaran diluar istana"
"Nde pangeran. Anda bisa menanyakan kepada nona Jin ae yang mungkin lebih tahu kemana putri Suzy pergi sekarang."
"Enak sekali dia keluar masuk istana sesuka hatinya, memanfaatkan kebaikan ibu suri dan permaisuri. Cih.. Dia pikir istana ini tempatnya bermain apa? Tapi kenapa juga aku harus memikirkannya. Bukankah bagus jika dia pergi, biar istana tahu kelakuan buruknya yang mengincar status sosial dan kekayaan istana." gerutu Myungsoo dalam hati sambil berjalan menuju paviliunnya untuk menaruh berkas diruang kerja sebelum dia istirahat.
Masuk ke paviliun, Myungsoo melihat Jin ae membantu Nana dan Hyo ki membersihkan kamar yang dipakai Suzy sejak pulang dari rumah sakit. Myungsoo meminta pekerjaannya dibawa langsung keruang kerjanya.
"Bawa langsung keruang kerjaku. Aku masih ada urusan sebentar dengan maid putri"
"Baik pangeran"
Setelah meminta Seungho membawa berkas pekerjaannya ke ruang kerja, Myungsoo berjalan masuk ke kamar yang dipakai Suzy yang sedang dibersihkan.
"Kemana tuan putri kalian pergi?" tanya Myungsoo yang membuat ketiga dayang Suzy terkejut karena mereka sedang membereskan kamar Suzy.
"Hormat pangeran"
"Tuan putri pergi pangeran, dia berpesan jika pangeran menanyakannya, kami disuruh memberi tahu jika putri pergi karena akan menghadiri sebuah perayaan."
"Perayaan?"
"Nde pangeran, putri juga sudah meminta izin pergi kepada yangmulia ibu suri. Dan sepertinya yangmulia mengizinkan putri pergi beberapa hari."
"Mohon maaf, kami tidak tahu pangeran"
"Lalu kenapa kalian masih disini? Bukankah putri tidak pulang hari ini"
"Kami hanya ingin membersihkannya agar saat putri kembali kamar ini sudah terlihat rapi"
"Pergilah, bersihkan saja besok. Ini sudah malam"
"Baik pangeran"
Ketiga dayang itu pergi dengan membawa sprei, selimut dan baju-baju kotor milik Suzy. Myungsoo masih menyusuri kamar yang ditempati istrinya tersebut, dimeja terpadat foto Suzy kecil bersama keluarganya yang nampak bahagia, disamping itu ada juga foto pernikahan mereka dan foto ketika Suzy wisuda dengan memegang bunga. Dibelakang foto itu terdapat kalender yang sudah dilingkari pada tanggal 8 dan 23.
"Dia sebenarnya manis sewaktu kecil tapi tabiatnya melawanku sungguh tidak semanis wajahnya. Perayaan apa sebenarnya yang dilakukannya putri sampai tidak memberitahu kepadaku, argh... Kenapa juga aku harus repot memikirkan wanita yang hanya mementingkan status sosial tapi berpura-pura menjadi baik didepan banyak orang padahal sebenarnya hanya pencitraan. Daripada memikirkannya lebih baik aku istirahat sebentar " ucap Myungsoo pada dirinya sendiri, kemudian dia beranjak untuk masuk ke kamar utama.
*
*
Keesokan paginya.
Myungsoo dengan santai masuk ke tempat ibu suri untuk sarapan, karena dia tidak suka makan sendirian.
"Mama, pangeran datang untuk sarapan bersama anda" ucap dayang Han yang mengantar Myungsoo ke tempat ibu suri.
"Nde, suruh pelayan menyiapkannya." ucap Ibu suri yang duduk terlebih dulu dimeja makan.
Myungsoo langsung masuk dengan santai dan duduk didalam ruang makan dimana ibu suri sudah duduk terlebih dulu. Pelayan berdatangan membawakan sarapan untuk Myungsoo.
"Ku kira kau sudah pergi nak?"
"Pergi kemana yangmulia? Saya belum melihat schedul saya hari ini"
"Kau tidak pergi menyusul putri Suzy?"
"Memang putri kemana yangmulia?"
"Kau tidak tahu hari ini peringatan kematian keluarganya? Dia pergi karena hari ini melakukan peringatan kematian keluarganya. Aku sudah menyuruh raja untuk membebaskanmu bertugas selama beberapa hari ini agar dapat segera datang untuk ikut merayakannya bersama putri dirumah putri. Kau ini bagaimana pangeran, ku kira putri juga sudah memberitaumu lewat pesan yang dikirimkannya"
"Maafkan saya yangmulia. Saya akan bersiap setelah ini. Semalam saya capek jadi saya tidak melihat handphone saya"
"Pergilah, sampaikan salamku padanya."
"Nde mama. Mama jika saya boleh bertanya sebenarnya keluarga putri meninggal karena apa? Kenapa istana begitu berhutang budi pada keluarganya? Itu yang menjadi pertanyaan dikepalaku."
"Pangeran?"
"Nde mama"
"Kau ingin tahu kenapa istana berhutang budi padanya, bukan? Huft.. Kau tahu? Istanalah yang membuatnya menjadi gadis yatim piatu usianya yang begitu muda karena saat kecelakaan mobil itu terjadi, waktu itu putri yang tidak ikut karena dia sedang demam tinggi membuat semua keluarganya meninggalkannya dirumah. Namun aku bersyukur putri selamat hingga akhirnya dia bisa menjadi bagian dalam istana ini"
"Jadi keluarga putri meninggal dalam sebuah kecelakaan?"
"Nde, saat itu sebenarnya rajalah yang harus menaiki mobil tersebut menuju Villa kita di Pyong-nam. Namun karena ada kecurigaan keluarga putri bersedia menggantikan raja untuk menaiki mobil tersebut. Siapa sangka jika ayah putri yang cemas karena meninggalkan putrinya dirumah kehilangan keseimbangan dan menabrak sebuah truk minyak yang membuat mobil itu langsung meledak seketika"
"Tapi itu bukan kesalahan istana mama? Mereka abdi istana yang bersiap mati untuk istana itu bukan hal salah. Kita bisa mengganti ruginya bukan?"
"Memang, tapi setelah diselidiki lebih lanjut sopir truk itu memang sengaja menabrak mobil orangtua putri karena mengira rajalah yang sedang menaikinya. Dia dibayar dengan jumlah yang besar untuk melakukan itu"
"Apa? Bagaimana bisa? Siapa yang tega menjadi pelakunya mama? Dan apa tujuannya?"
"Pelakunya bibimu nak, saat itu dia tidak terima suaminya yang merupakan kakak dari ayahmu meninggal dalam sebuah kecelakaan dan anaknya cacat. Dia gagal menjadi seorang ratu dinegri ini. Dia wanita baik namun sayang obsesinya membuatnya nekat melakukan hal yang tidak benar. Namun itu juga kesalahan dari mereka dimasa lalu mereka yang mengabaikan adat dan tradisi dari istana ini."
"Kenapa kisah paman dan bibi begitu tragis, sungguh sangat disayangkan"
"Pangeran"
"Nde mama"
"Tolong bahagiakan putri, dia wanita yang baik. Lihatlah tatapan matanya yang rapuh butuh seorang pelindung, dia bahkan terbiasa melakukan semua dengan mandiri sejak kecil. Keluarganya bahkan mengapdikan diri mereka untuk istana hingga membuat putri sendirian. Semalam dia datang padaku untuk meminta izin dan berpamitan padaku dengan tatapan memohon, sudah ku suruh untuk menunggumu tapi dia tidak mau merepotkanmu karena kau sibuk makanya meminta izin pergi untuk mempersiapkan semuanya sendirian sejak semalam. Susulah dia nak? Dia pasti senang jika kau datang kerumahnya dan berada didekatnya saat dia merayakan hari kematian keluarganya seorang diri"
"Nde mama"
Suzy sudah memakai hanbooknya dan menuju makam dengan berjalan kaki menyusuri bukit yang sejuk dipagi harinya karena udara segar yang belum tercemar polusi udara. Dia menaruh bunga, arak, dan sesajen yang memang telah dia persiapkan semalam. Myungsoo, ntah kapan dia tiba di pintu luar pemakaman hanya melihat kegiatan istrinya didalam makam keluarganya.
"Wanita seperti apa dia sebenarnya? Ibu suri dan permaisuri bahkan sangat menyayanginya lebih daripada sayangnya padaku. Jika bukan karena dia yang membawa kebahagiaanku mungkin aku tidak akan tahan hidup dengannya hingga hari ini. Mereka berkata Suzy wanita yang baik, tapi benarkah dia baik untukku." gunam Myungsoo dalam hati sambil memperhatikan Suzy.
"Ayah, ibu, kakek dan nenek. Aku datang untuk merayakan hari kematian kalian, maaf aku datang sendiri karena pangeran sedang sibuk dengan tugasnya yang banyak jadi aku tidak ingin mengganggunya dalam bertugas. Aku juga ingin minta maaf pada kalian karena aku baru saja keguguran, maaf aku tidak bisa menjaganya dengan baik. Karena kecerobohanku cucu kalian pergi dari perutku, tapi aku pasti memberikan kalian cucu yang lucu seperti impian kalian suatu saat nanti" ucap Suzy menahan tangisnya agar tidak keluar.
Myungsoo berjalan perlahan makin mendekat kearah Suzy yang sedang berdoa untuk keluarganya. Suzy yang mendengar derap langkah kaki langsung menoleh ke sumber suara.
"Pangeran, anda datang?" tanya Suzy yang tengah terkejut.
"Kenapa memangnya? Apa aku tidak boleh datang memberi hormat pada keluarga istriku."
"Aniya, tentu saja boleh."
"Ayah, ibu, kakek dan nenek. Aku minta maaf karena datang sedikit terlambat memberi penghormatan tapi jangan salahkan aku, salahkan saja putri dan cucu kesayanganmu ini karena tidak memberitahu padaku sejak awal. Kalian tenanglah disurga sana, disini biarkan putri dan cucu kesayanganmu ini aku yang menjaganya. Aku yang akan menggantikan tugas kalian dalam menjaga dan melindunginya mulai sekarang" ucap Myungsoo yang setelah itu melakukan penghormatan selama 3x dan berdiri. Suzy hanya memperhatikan apa yang dilakukan Myungsoo dengan takjub.
"Pangeran sungguh pandai berpura-pura, apa mungkin ibu suri yang memaksanya datang kemari. Seharusnya pangeran tidak perlu seperti ini jika dia terpaksa melakukannya." ucap Suzy dalam hati.
Panas disiang hari semakin terik, Myungsoo mengajak Suzy untuk pulang. Didalam mobil mereka hanya diam saja dari pemakaman hingga tiba didepan rumah Suzy.
"Terima kasih pangeran karena anda sudah menyempatkan diri untuk datang ke peringatan keluargaku. Padahal aku tahu pangeran orang yang sangat sibuk makanya aku tidak ingin mengganggu." ucap Suzy saat menyadari sudah sampai didepan rumahnya, dan akan keluar dari mobil Myungsoo.
"Kau tidak menyuruhku mampir untuk minum teh sebagai imbalan setelah aku antar sampai rumah." ucap Myungsoo yang membuat Suzy terkejut dan menoleh.
"Kau serius pangeran ingin mampir? Apa tidak apa-apa anda mampir dirumah yang kecil ini."
"Tentu saja. Kau adalah istriku jadi dimanapun kau berada aku juga harus ikut bersamamu. Aku sudah mendapatkan izin selama 3 hari menginap disini"
"Kau sungguh manis pangeran. Dasar perayu ulunh" ledek Suzy yang keluar dari mobil di ikuti Myungsoo yang juga keluar membawa ransel berisi beberapa potong bajunya.
"Hanya padamu putri, apa kau tidak senang?" balas Myungsoo dengan ledekan khas menyebalkannya.
Suzy heran ketika melihat Myungsoo membawa ranselnya untuk keluar dari mobil. Tapi Suzy enggan bertanya jadi dia memutuskan untuk langsung membuka pintu rumah menggunakan kunci yang dibawanya, karena jika dia bertanya pasti mereka akan bertengkar lagi.
"Bibi yang waktu itu kemana? Kenapa kau membawa kunci sendiri? Apa dia tidak ada?" tanya Myungsoo yang masuk dan meletakan tasnya diruang tamu.
"Eoh bibi Hwang sedang pulang kampung menengok cucunya, lusa baru kembali jadi aku sendirian disini." jawab Suzy yang langsung masuk kamarnya untuk berganti hanbooknya dengan pakaian rumahnya.
"Oeh jadi hanya kita berdua dirumah ini" tanya Myungsoo lagi namun tidak di tanggapi akhirnya Myungsoo menyusuri rumah mungil milik Suzy, dia melihat foto-foto Suzy yang memang selalu sendiri. Ada foto Suzy bersama keluarga namun itu foto saat Suzy kecil seperti sekitar usia 9 tahun.
"Itu foto keluargaku pangeran, foto itu diambil saat aku kelas 3 SD dan itu kenangan terakhir kami bersama disaat aku sedang ulang tahun yang ke - 9 tahun"
"Mereka meninggal karena apa?"
"Kecelakaan mobil yang membuat mobil mereka kebakaran, saat itu aku sedang sakit jadi aku ditinggal dirumah bersama bibi Hwang"
"Putri, dimana aku bisa ganti baju?"
"Kau bisa pakai kamarku disebelah kiri, kamar utama milik orangtuaku dipakai bibi Hwang sedangkan kamar kakek nenekku dipakai untuk ruang kerjaku. Kalau kamar mandi ada dibelakang samping dapur"
"Aku pakai kamarmu saja"
"Bergantilah, aku akan siapkan makan siang untuk kita"
"Hmm"
Myungsoo keluar dari kamar Suzy dengan mengenakan kaos biasa dan celana pendeknya, sungguh berbeda dengan penampilannya saat di istana. Dia keluar menghampiri Suzy yang sedang memasak makanan sederhana didapur.
"Kau sudah selesai, duduklah karena makanan sebentar lagi siap. Aku masak sederhana tidak apakan atau pangeran ingin aku dibelikan sesuatu" ucap Suzy saat menyadari Myungsoo sudah keluar dari kamarnya.
"Aku ini pemakan segala, jadi tidak perlu khawatir aku tidak suka masakanmu" ucap Myungsoo yang duduk dimeja makan.
"Baguslah, Myungsoo oppa"
"Oppa?"
"Iya Myungsoo oppa. Tidak apakan jika diluar istana aku memanggilmu Myungsoo atau Myungie oppa? Aku mau memanggilmu pangeran tidak nyaman disini karena ini bukan istana"
"Oppa ya, hmm tidak terlalu buruk kedengarannya. Lalu bagaimana aku harus memanggilmu jika kita berada diluar istana"
"Suzy saja Myungie oppa, bagaimana?"
"Baiklah, Suzy"
"Makanan siap. Mari kita makan siang"
Suzy menyiapkan makanan untuk mereka berdua, dan keduanya makan dengan lahap walau hanya memakan masakan sederhana yang Suzy sajikan.