Secret Wife

Secret Wife
09 • Pembalasan Bara



Yasmin masih di halte ketika, tiba-tiba saja mobil Bara berhenti di sana. Kaca mobil diturunkan, menyusul kepala Gina menyembul keluar dan menatapnya dari sana. Klakson pun berbunyi dan membuat Yasmin menghela nafas.


"Ada apalagi sih? Kenapa lagi mereka berdua di sini. Belum puas menyiksaku, hahh?!" geram Yasmin kesal.


Klakson berbunyi lagi dan kali ini membuat penghuni halte saling menatap. Bingung kenapa mobil dihadapan mereka berhenti dan untuk siapa. Sementara Yasmin langsung memutar bola matanya kesal.


Berdiri dari tempatnya duduk, karena tak mau menciptakan kerusuhan, diapun mendekat ke mobil tersebut. "Ada apa lagi sih?!" tuntutnya pada dua orang di dalam mobil.


"Tante ikut kita," jelas Gina mendahului Bara.


"Masuk!" tegas Bara melanjutkan ucapan Gina.


Sementara penghuni halte lainnya malah bergosip dibelakang mereka. Entah apa yang dibicarakan, tapi dari tatapannya sepertinya mereka kesal dengan Yasmin yang dua kali diklakson baru bangkit.


"Ayo, masuk!!" ulang Bara karena belum dijawab Yasmin.


"Ck, mau kemana?" tanya Yasmin akhirnya menjawab.


"Ke kampuslah. Memangnya kamu mau diantar ke mana?" balas Bara yang entah mengapa sekarang dia juga ikut kesal.


"Tumben," ujar Yasmin agak heran. Beberapa hari menikah, selain dijadikan pembantu, Bara memang tak pernah memperdulikannya, tapi sekarang bahkan dia menawarkan tumpangan.


"Ayo Yasmin. Mau diantar nggak sih?!" tanya Bara kesal dan sedikit mengancam.


Mendengar itu Yasmin langsung mendengus kasar. "Siapa juga yang mau diantar sama Bapak. Ogah!!" tegas Yasmin serius.


"Nggak usah gengsi. Gadis miskin seperti kamu perlu menghemat, jadi ayo cepatlah naik!" jawab Bara seenaknya.


"Nggak butuh!" ceplos Yasmin dengan cepat. "Lebih baik tidak usah menghemat daripada diantar sama Bapak dan akhirnya apa? Bagaimana jika pas di kampus ada yang melihat aku turun dari mobilmu Pak? Gila!! Bisa digosipkan jadi simpanan tuh!"


"Ckckck, kamu mikir kejauhan. Mundur sedikit Yasmin. Orang-orang tak mungkin bergosip demikian, karena tahu seleraku bukan kamu!" sarkas Bara.


Namun Yasmin juga tak mau kalah. "Ah, iya, yah ... selera Bapak memang bukan gadis, tapi janda!"


"Sial!! Jaga bicaramu?!" geram Bara tersulut emosi dan merasa direndahkan.


"Apanya yang dijaga Pak Bara. Itu fakta dan sekarang adalah buktinya. Seorang Bara Adiwiryawan rela menjadi pengasuh karena terlalu bucin pada janda!!"


Bara yang mendengarnya meremas setir dengan kasar. Tak tahan lagi, tiba-tiba saja dia mengemudikan mobilnya dengan cepat dan berlalu dari sana begitu saja.


Yasmin segera tersenyum karena akhirnya dia bisa merasa menang melawan Bara. Namun orang-orang yang masih di halte belum pergi, sebab busnya belum tiba.


"Ada apa, Mbak?" tanya salah satu penghuni halte kepo dan penasaran.


"Oh, cuma tanya alamat Mbak," jawab Yasmin berbohong.


Tak ada gunanya juga jujur, sebab masalahnya bukanlah konsumsi untuk khalayak umum. Tak lama berselang, bus dengan rute melewati kampusnya pun tiba. Yasmin naik ke sana dan sampai tujuan beberapa menit kemudian.


Dia langsung ke kelas karena waktunya mepet. Jam kuliahnya memang belum dimulai karena masih ada lima menit lagi, tapi karena Bara yang masuk, perasaannya jadi waswas, apalagi setelah pertengkaran mereka di halte.


Benar dugaannya, ternyata Bara sudah ada di kelas walaupun jam perkuliahan belum di mulai. Namun karena alasan itu, Yasmin merasa tak terlambat dan nekat menerobos masuk begitu saja. Sayangnya hal itu malah menjadi boomerang untuknya.


"Berhenti!!" seru Bara membuat, Yasmin reflek melakukan perintah Bara.


"Iya, Pak," balas Yasmin sopan. Dia menjaga nada suaranya. Karena di sana Bara adalah dosennya, dan Yasmin adalah mahasiswanya.


"Siapa yang menyuruhmu masuk?!" sarkas Bara sengit.


"Tapi Pak saya tidak terlam--"


"Saya sudah disini, artinya kelas sudah di mulai dan kamu bisa dianggap terlambat!!" sarkas Bara lagi memotong kalimat Yasmin.


"Tap--"


"KELUAR!!" bentak Bara dengan nada tinggi dan tak mau tahu.


Bukan hanya Yasmin yang terkejut, tapi seisi kelas. Mereka menatap Yasmin dan Bara dengan heran. Sama-sama bingung bagaimana Pak Bara tiba-tiba saja begitu marah. Setelah tiba-tiba saja datang lebih awal ke kelas, padahal biasanya dia selalu memberikan kompensasi lima belas menit waktu terlambat.


Menghela nafasnya perlahan, Yasmin putar balik dan berjalan ke arah pintu keluar dengan cepat. Dia mau basa-basi, dan Yasmin pun tahu alasannya.


"Cih, dasar pria aneh. Gitu aja mau didendamin segala. Padahalkan fakta, Pak Bara doyannya janda!" gerutu Yasmin setelah berhasil keluar dari kelas.


Belum benar-benar jauh dari kelas tersebut, Yasmin menemukan temannya yang masuk dan mengambil mata kuliah yang sama dengannya di jalan. "Mau kemana, Yud?"


"Masuk kelaslah. Memangnya mau kemana lagi, Yasmin?"


"Bukan begitu, tapi Pak Bara udah di kelas dan dia barusan mengusirku karena katanya aku terlambat," beritahu Yasmin baik hati. Dia pikir setidaknya temannya itu tak perlu mendengar omelan Bara atau nantinya di usir seperti dirinya.


Namun bukannya menurut, Yudha malah melihat ke arah arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. "Baru jam segini, kamu bohong ya?!"


"Eh, enggak Yud, aku serius!" peringat Yasmin meyakinkan, tapi Yudha malah berdecak dan mendengus kasar.


"Bodoamatlah mau ucapanmu benar atau tidak. Aku mau ke kelas dulu, pergilah sendiri jika kamu mau boleh, jangan mengajak aku ikut-ikutan!" jawab Yudha memperingatkan.


Laki-laki itu setelah berbicara demikian langsung pergi dan meninggalkan Yasmin sendirian. Melihat itu Yasmin jadi kesal. Menyusul lantaran ingin melihat Yudha diomelin dan dikeluarkan seperti dirinya.


Namun apa yang terjadi. Rupanya Bara kejam padanya dan hanya ingin balas dendam, karena begitu Yudha masuk, pria itu diam saja dan membiarkan Yudha mengikuti perkuliahan.


Brukk!!


"Auchhh, sakit!!" gerutu Yasmin setelah menendang dinding karena kesal dan tak terima.


"Dasar pria menyebalkan. Bisa-bisanya dia giniin aku. Awas saja nanti, aku pastikan akan membalasnya!" ujar Yasmin bersungguh-sungguh sambil mengepalkan telapak tangannya erat.


"Gini nih, kalau menikah dengan dosen sendiri. Hidup jadi double sialnya. Di rumah dia sok seperti majikan, di kampus dia bebas seenaknya menindas!" lanjut Yasmin sambil berlalu dari sana.


Tak punya pilihan dia pun pergi ke perpustakaan. Terlalu sayang uangnya jika harus pulang, sebab setelah kelasnya Bara, masih ada kelas dosen lainnya.


Awalnya Yasmin baca buku, tapi setelah teringat ada fasilitas wifi, diapun memanfaatkan hal itu untuk mendownload drakor kesayangannya dan sekalian menonton.


"Ternyata ada hikmahnya diusir dari kelas. Setidaknya aku nggak perlu melihat wajahnya pria tidak punya hati itu, sekaligus bisa asik-asikan di sini!" seru Yasmin terlihat kembali ceria.


❍ᴥ❍


Bersambung