
Yasmin menahan diri dari rasa jengah, dan juga bosan yang mulai menyelimutinya. Menatap lurus ke depan kelas, sambil mendengar aturan yang di ucapkan dosennya di depan sana.
"Pertama, jika anda masuk kelas saya, maka wajib mengikuti aturan yang ada. Silahkan keluar sejak sekarang, sebelum sebelum menyesal kemudian hari!" tegas Pak Bara dengan penuh tekanan dan juga peringatan.
"Wajib datang tepat waktu dan tak ada kompetensi untuk yang terlambat. Kalau memang ingin belajar, saudara pasti tidak akan main-main dan sadar untuk datang tepat waktu!" tegas Pak Bara lagi.
Pria itu memang sangat perfeksionis dan juga disiplin pada mahasiswanya. Untuk ukuran dosen, dia sangat ketat dalam aturannya.
"Hanya ada dua hari jatah absen. Wajib mengerjakan tugas, dilarang tidur dikelas, bermain HP atau aktivitas lainnya yang tak berhubungan dengan mata kuliah saya!" tegas Pak Bara dengan lantang.
Sebenarnya peraturannya sama saja dengan peraturan dosen pada umumnya, hanya saja Pak Bara ini terkenal tak ada ampunan. Sekali melakukan kesalahan, maka mahasiswa tersebut harus rela mengulang mata kuliahnya.
Satu tahun lalu contohnya, ketika Yasmin masih semester tiga. Ada salah satu temannya yang tidak mengerjakan tugas dan konsekuensi yang di hadapinya. Sekarang adalah dia harus mengambil mata kuliah semester bawah yang pernah Pak Bara bawakan waktu itu. Jadi tak ada yang berani main-main dengan pria itu.
"Baiklah untuk hari ini cukup hanya itu yang perlu kalian pahami dan juga kisi-kisi materi perkuliahan semester ini!" tegas Pak Bara yang kemudian berlanjut menutup kelas.
Hari pertama kuliah di semester lima, seperti semester-semester awal, cuma penyampaian aturan dan juga sekilas gambaran materi perkuliahan.
Yasmin segera mendesah lega, dan menelungkupkan wajahnya ke meja. Kemudian mendengar keluhan-keluahan para mahasiswa lain yang ikut mengambil kelasnya.
"Huhh, akhirnya pak Bara pergi juga!"
"Benar-benar meresahkan. Kenapa sih, harus ketemu dia lagi di semester ini?"
"Ujian berat. Ini sih lebih baik pak Arsen yang doyan ngambek daripada pak Bara yang seperti api suka membakar mahasiswanya dengan membara!"
Dari keluhan itu diketahui, bahwa hampir tak ada mahasiswa yang suka dengan Pak Bara. Cara mengajarnya sudah pernah di rasakan ketika semester tiga, sudah menjadi trauma bagi mahasiswa semester lima itu.
Yasmin segera beranjak setelah merasa cukup dengan apa yang dia lakukan. Mengambil tasnya dan bersiap pulang.
"Mau kemana, Yasmin?" tanya Angel temannya.
"Mau ngopi, kamu mau ikut?" tanya Yasmin menawarkan.
"Dasar bapak-bapak kang ngopi. Aku ogah ah, tidak dengan kopi, tapi ayoklah aku butuh soda untuk menjernihkan kepalaku," jawab Angel seenaknya.
"Enak aja, aku dibilang bapak-bapak karena suka kopi. Kopi kesukaan orang sukses dan sahabat terbaik dalam perjuangan mendapatkan impian," jawab Yasmin dengan puitis.
"Terserah kamu aja! Yuk, sekarang kita ngantin aja aja!"
•••
Pada akhirnya niat awal yang ingin membuat pikiran mereka rileks setelah kelas Pak Bara, keduanya kelepasan sampai melupakan waktu. Sudah masuk lima menit kelas dari dosen berikutnya yang mengampu mata kuliah berikutnya.
"Kamu sih keasikan, jadinya kan gini. Jadi kebablasan. Jangan sampe hari pertama di semester lima ini, tapi Pak Arsen ngamuk dan ngambek!" ringis Angel dengan ngeri.
Yasmin setuju dan karena hal itu diapun mempercepat langkahnya dan berjalan dengan setengah berlari.
Namun sialnya karena hal itu, kewaspadaannya berkurang sehingga Yasmin tak bisa berhati-hati.
Brakk! Sesuatu yang keras langsung dia tabrak tanpa bisa mencegahnya lagi. Sial. Kepala Yasmin sedikit ngilu, tapi ketika menyadari apa yang barusan dia tabrak sepertinya sekarang bukan hanya kepalanya saja yang ngilu.
"Kalau jalan gunakan matamu dengan benar! Jangan seperti orang buta atau kamu memang gob-lok, sampai urusan berjalan dengan baik saja tidak bisa!!peringat Pak Bara dengan sanggar dan suara keras.
Belum selesai Yasmin mencerna apa yang sudah terjadi, sebuah dorongan kasar langsung membuatnya mundur.
"Menyingkir dari jalan saya!" ujar Pak Bara lagi dengan sama galaknya.
•••
"Kamu sih, bisa-bisanya tak melihat Pak Bara yang segede gitu dan malah ditabrak. Apeskan sekarang. Huftt, untung cuma diomeli begitu, belum yang lain-lainnya!" seru Angel menatap Yasmin dengan prihatin.
"Huhh, aku nggak tahulah. Lagian dia kok yang tiba-tiba muncul dan berdiri di depanku, jadi salahnya," jawab Yasmin membela diri.
"Mau siapapun yang salah, kalau hidupmu bertemu pak Bara, memangnya kamu bisa apa. Beliau selalu menaklukkan musuhnya sampai tak berdaya, jadi berhati-hatilah!
Siapa tahu saja, gara-gara kamu nabrak dia hari ini, besok kamu terpaksa mengulang di mata kuliah yang diampunya."
Namun, ah. Sudahlah, memangnya apa yang akan dia dapatkan setelah ini. Cuma menabrak Pak Bara, bukankah agaknya berlebihan jika sampai dia mengulang dimata kuliahnya.
•••
"Darimana saja, kamu? Pulang-pulang baru jam segini?!" tegur ibunya yang bernama Bunga sambil berkacak pinggang.
Yasmin menghela nafas kemudian menatap ibunya dengan perasaan lelah. Ini dia salah satu masalahnya lagi, ibunya sangat sensitif dan bertolak belakang dengan dirinya.
"Bu, Yasmin nggak kemana-mana. Yasmin cuma pergi kuliah," jelas Yasmin memberitahu.
"Halah, kuliah terus. Nggak guna, memangnya apa yang kamu dapatkan dari kuliah sih, buang-buang waktu dan uang saja. Lebih baik kamu bekerja, karena itu lebih bagus dan menghasilkan!" geram Ibunya dengan kesal.
Yasmin tak menjawab dia hanya mendengarkan dan tak protes sama sekali. Omelan ibunya yang demikian itu sudah biasa untuknya, dan Yasmin tak begitu menghiraukannya. Biar saja, toh kalau ibunya lelah wanita itu akan berhenti dengan sendirinya.
"Sudahlah Bunga, anakmu itu sudah benar dengan berkuliah. Jangan berpikiran kolot begitu dan harusnya kamu bangga," ucar Tuti sang nenek segera melerai dan menghentikan perkelahian anak dengan cucunya.
"Apanya yang dibanggakan sih, Bu. Yasmin ini kerjanya cuma buang-buang uang," jawab Bunga dengan kesal sebelum kemudian berlalu dari sana.
•••
Menjelang pukul delapan malam, Yasmin sudah selesai memasak dan menghidangkannya. Ibunya Bunga langsung datang ke meja makan tanpa dipanggil, tapi anehnya dia seperti membawa kantung plastik dari beberapa toko yang berisi makan dan menghidangkannya di sana.
"Sudah letakkan saja di sana. Ganti pakaianmu dengan segera dan kenakanlah yang terbaik. Jangan lupa berhias yang cantik. Tamu Ibu akan datang malam ini dan Ibu harap kamu jangan mempermalukan Ibu," jelas Bunga dengan tiba-tiba memberi kabar yang mendadak.
"Teman yang mana Bu?" tanya Yasmin penasaran.
"Jangan banyak tanya, sudah sana bersiaplah!" seru ibunya lagi sambil mendorongnya pergi.
Tuti sang nenek tiba di sana ketika Yasmin sudah ke kamarnya. Menyapa putri dengan segera dan membicarakan sesuatu yang tanpanya terencana sejak awal.
"Apa mereka datang malam ini?" tanya Tuti pada putrinya Bunga.
"Itu dia, Bu. Makanya aku pergi keluar sebentar untuk makanan ini," jawab Bunga dengan kegiatan yang masih sama. Mempersiapkan hidangan dan alat makan. Masakan sederhana yang baru saja selesai di buat Yasmin bahkan dia singkirkan karena merasa tak pantas menghidangkannya untuk tamu.
"Kenapa mendadak begini dan tidak memberi kabar sebelumnya? Setidaknya seharusnya mereka memberi kabar supaya kita bisa bersiap dengan baik," kata Tuti agaknya sedikit kesal.
"Begitulah orang kaya, mereka bisa bersikap semaunya," jelas Bunga dengan nada suara yang pasrah.
"Dan setelah kamu tahu begitu sikap mereka, mengapa masih begitu tega menjadikan Yasmin sebagai jaminan atas hutang-hutangmu, dengan iming-iming perjodohan?!" sarkas Tuti mengungkit dengan kecewa.
Bunga tiba-tiba berhenti, berbalik dan langsung menatap nanar ibunya. "Lalu aku harus bagaimana Bu? Aku harus memberi jaminan apa pada mereka?!" tanyanya dengan nada suara yang serak.
"Jika saja kita berkecukupan, atau si bajing-an itu tak menggadaikan rumah ini sebelum kabur dengan selingkuhan. Semua ini takkan terjadi, Bu. Kenyataan kita memang miskin dan aku hanya punya Lidia yang mau meminjamkan uang supaya aku bisa membayar rumah ini ke pegadaian, Bu.
Aku juga tak mau anakku jadi alat bayar hutang seperti ini, kalau bisa aku saja yang jual diri supaya mendapatkan uang, tapi siapa yang mau dengan perempuan tua ini.
Hatiku juga sakit, Bu. Secara tak langsung aku menjual anakku sendiri, tapi mau bagaimana lagi. Aku terpaksa melakukan ini, karena sudah tak ada jalan lain!" seru Bunga dengan perasaan yang tak baik.
Dia menitihkan air mata sekarang, karena tak bisa seperti itu terus, Bunga segera kebelakang dan mencuci wajahnya di kamar mandi.
Sebetulnya dia ibu yang baik, hanya saja tekanan demi tekanan membuatnya jadi sensitif. Suka marah-marah tak jelas atau bahkan seenaknya, dan semua itu tak lepas di lampiaskan pada Yasmin tanpa bisa dicegah.
Sementara itu, Yasmin sudah mendengarkan segalanya. Ketika sebelumnya dia kembali ke dapur karena melupakan sesuatu, tapi malah tak sadar menyaksikan sesuatu yang mengejutkannya.
Perlahan setelah melihat ibunya pergi, Yasmin pun berbalik kembali ke kamarnya tanpa ketahuan sama sekali. Begitu di sana, dia langsung terduduk lemas di atas kasurnya. Dilema dalam perasaan yang bercampur aduk.
Yasmin ingin marah, tapi bagaimana dia akan menuntut sementara alasan ibunya adalah ketidakberdayaan.
"Apa karena alasan ini ibu tak pernah suka aku kuliah, karena dia terbebani dengan biayanya dan juga selama ini selama stress dalam masalah keuangan? Tapi kenapa selama ini ibu biasa saja dan tak pernah mengungkitnya, terkecuali masalah aku yang kuliah. Dia memang suka mengomel, tapi dia tak pernah melupakan untuk membayar uang kuliahku?" ringis Yasmin bertanya-tanya.
Perasaan Yasmin langsung tak enak dan juga tak tenang. Dia sangat pusing sekarang dan tak punya solusi untuk masalahnya ini.
•••
TBC