
Bara sedang bimbingan dengan salah satu mahasiswanya di dalam ruang dosennya. Dia terlihat serius dan memeriksa skripsi dari mahasiswanya itu. Sayang hal itu malah bertolak belakang dengan yang mahasiswanya itu lakukan.
Selain berpakaian seksi, mahasiswanya itu bahkan kerap-kali memperlihatkan gestur untuk mengoda Bara. Mulai dari suaranya yang mendayu sampai gerakannya yang seperti sengaja menyentuh tangan Bara. Itu semua sangat mencerminkan niat terselubungnya di balik bimbingan.
Namun Bara yang menyadarinya cuma acuh dan membiarkannya saja. Tak terlalu perduli dengan yang mahasiswanya itu lakukan dan hal inilah yang mungkin menciptakan imagenya sebagai dosen buruk.
Cklek!!
Tiba-tiba seseorang masuk tanpa izin. Kedua bola matanya langsung bertemu pandang dengan Bara yang sedang memastikan.
"Sayang ini tak seperti yang kamu lihat!" tegas Bara menjelaskan.
Ternyata yang datang itu adalah Helena kekasihnya. Itulah kenapa Bara tak mau ada kesalahpahaman, tapi sekarang sepertinya ada yang lebih buruk dari itu dan Bara mulai menyadarinya.
"Tidak masalah Bar. Kamu mau bermain-main dengan mahasiswamu, aku baik-baik saja. Toh sebelum denganmu akupun dengan orang lain, jadi kita impas," jelas Helena, setelah sebelumnya karena takut mahasiswa bimbingannya Bara pamit secara sukarela.
"Bukan begitu Helena. Aku hanya tidak bisa mengkhianatimu," jelas Bara dengan serius, tapi Helena malah tersenyum santai dan tanpa beban.
Hal itu membuat Bara pertama kalinya sadar, kalau sepertinya Helena sepertinya tak pernah mencemburuinya. Bara kecewa, sangat kecewa dan walau dikatain bodoh, rasanya lebih baik melihat kekasihnya salah paham daripada terlalu pengertian.
"Kalau kamu mau menyentuh istri kamu, juga tak masalah. Asal kamu janji dengan sungguh-sungguh kalau kamu itu hanya akan kembali ke aku!" ujar Helena semakin membuat Bara kecewa.
"Jangan begitu Helena. Andai aku tidak dipaksa menikah, akupun tidak akan bersama wanita lain. Kamu tahu, aku hanya mencintaimu!" seru Bara dengan serius.
"Dan aku juga cinta kamu Bar," jawab Helena dengan nada suara yang ambigu. Kalimatnya memang biasa saja, tapi dari nadanya Bara bisa salah paham. Helena memang mungkin saja mencintainya, tapi tak menutup kemungkinan Helena juga bisa mencintai laki-laki lain.
"Thanks ya, sudah jagain Gina dua hari ini. Kamu memang pacar aku yang paling pengertian," jawab Helena yang kini sambil berhambur memeluknya.
Namun baru saja mereka mau mesra, Yasmin tiba-tiba saja masuk dan bertemu pandang dengan bara. Berbeda dengan Helena saat memergoki Bara dengan wanita lain, Yasmin justru terlihat terusik padahal dia tak mencintai Bara.
Tatapannya tajam seolah ingin menguliti Bara, tapi di saat sama tersirat sebuah tatapan yang sangat sulit dimengerti di sana. Satu yang pasti, Yasmin menunjukkan reaksi bertolak belakang dengan Helena.
"Maaf, saya tidak sengaja Pak," jelas Yasmin sembari kemudian pergi dari sana.
"Gadis itu tidak sopan. Berani sekali dia!" komentar Helena sambil kemudian kembali ke posisinya semula dan tak lagi memeluk Bara.
'Dia istriku Helena, wajar saja jika dia masuk ke ruanganku begitu saja,' jawab Bara membatin seolah tak terima dengan tuduhan Helena. Sayangnya dia tak terlalu berani mengutarakannya, sebab tak mau membuat Helena marah.
"Sayang kita kencan yuk!" ajak Bara dengan penuh harapan.
Raut wajah Helena langsung merubah dan menunjukkan keberatan dengan ajakan Bara.
"Kita sudah lama loh tidak pergi berdua, lama tidak menghabiskan waktu dan--"
"Maaf Bar, tapi aku banyak pekerjaan. Aku bahkan bisa kemari hanya karena izin sebentar dan itu hanya bisa tiga puluh menit. Sebentar lagi aku juga akan kembali ke kantor," jawab Helena membuat Bara kecewa.
"Apa kamu sungguh tidak bisa? Helena aku sungguh ingin bersamamu aku ingin menghabiskan waktuku denganmu," bujuk Bara penuh harap.
"Sayang, maafkan aku. Aku juga ingin bersamamu tapi ...." Helena tak melanjutkan kalimatnya, tapi sepertinya Bara mengetahui lanjutannya.
"Aku bisa membiayai hidupmu Helena!" ujar Bara sungguh-sungguh.
Bara pun tak berdaya setelah mendengar kalimat Helena yang demikian. Kalau sudah begitu dia hanya bisa mengalah. "Baiklah, tapi jika kamu sudah mempunyai waktu jangan lupa memberitahuku. Aku sungguh-sungguh ingin menghabiskan waktu bersama kamu."
"Tentu saja, Bar. Aku juga ingin melakukan itu," jawab Helena sambil kemudian mengulas senyuman untuk meyakinkan Bara.
❍ᴥ❍
Sementara itu, Yasmin sudah di rumah. Dia tak mood ke kampus setelah melihat Bara bermesraan dengan perempuan lain. Apalagi saat melihat bagaimana wanita itu memeluk Bara, dia memanas dan ingin meledak saja.
"Pak Bara selalu saja mengatakan kalau aku tidak tahu diri, perempuan miskin yang matre. Namun sekarang dia itu apa, bajing-an tukang selingkuh?" geram Yasmin kesal.
"Ah, sialan. Enak sekali dia. Aku nggak mau diperlakukan seperti ini. Aku nggak begitu dan walaupun aku tidak mencintainya aku tidak akan membiarkan dia selingkuh sama janda kesayangannya itu."
Yasmin berdiri lalu berkacak pinggang dan bolak-balik sambil berkomat-kamit, seraya merutuki Bara.
"Persetan dengan hubungan mereka lebih dahulu ada. Kalau memang mereka ditakdirkan bersama, lalu kenapa Pak Bara bereng-sek itu mau denganku, dan bukannya menikahi perempuan itu.
Bodoh amatlah cinta atau enggak, toh Pak Bara bereng-sek itu tetap suamiku dan aku istrinya!
Aku juga punya laki-laki lain yang menyukaiku diluar sana, tapi aku tidak selingkuh, dan karena itu Pak Bara juga tidak boleh selingkuh!!"
Prok-prok!!
"Bagus!!" seru seseorang bertepuk tangan membuat Yasmin menoleh dan terkejut.
"Tante Lidia!"
"Bukan Tante, Yasmin, tapi Mama. Kamu sudah menikah dengan Bara dan itu artinya sekarang kamu itu menantuku. Sudah seharusnya kamu juga memanggilku sama seperti Bara memanggilku!" seru Lidia ibunya Bara.
Yasmin mengangguk paham, sebelum kemudian dia tiba-tiba menundukkan kepalanya. Jika Lidia sudah di sini dan bahkan bertepuk tangan, bukankah artinya dia sudah mendengarkan ucapan Yasmin beberapa saat lalu. Namun bagaimana jika perempuan itu marah karena ada kalimat Yasmin yang tidak disukainya.
"Kamu kenapa, Nak. Kenapa tiba-tiba diam, padahal saat Mama datang kamu sangat serius dan terlihat bersemangat?"
Yasmin meneguk ludahnya kasar. Sementara Lidia mendekat kepadanya. "Aa-anu, Ma. Yasmin tidak serius dengan ucapan Yasmin yang tadi," jelasnya.
Lidia tersenyum, sepertinya dia paham kalau menantunya itu canggung dan berpikir dirinya marah. "Mama tidak marah soal kamu mengatai Bara. Dia itu memang bereng-sek, dan harusnya Mama yang meminta maaf kepadamu.
Aku sudah membuatmu menikah dengan anakku yang bereng-sek itu, tapi Yasmin seperti yang kamu bilang tadi. Aku harap kamu bisa menyingkirkan janda iblish itu. Buat dia menjauh dari hidup Bara dan Bara berhenti menjadi pria bereng-sek," jelas Lidia egois.
Yasmin menatapnya serius dan mengangguk pasrah. Sebenarnya dia merasa ucapan Lidia cukup menekannya, tapi Yasmin tak berdaya karena dia ingat sebanyak apa ibunya berhutang uang dan budi pada wanita dihadapannya.
"Tentu saja, Ma. Pak Bara itu suamiku sekarang. Terlepas dari apapun, sudah kewajibanku sebagai istrinya untuk membuatnya lepas dari perempuan lain," jawab Yasmin bijak sekaligus sambil menguatkan hatinya.
Lidia tersenyum senang, kemudian memeluk Yasmin erat. "Mama tahu kamu perempuan yang hebat sayang. Karena kamu itu anaknya Bunga sahabatku wanita yang paling tegar yang pernah aku temui. Aku memang tak salah menjadikanmu menantuku!" puji Lidia dan Yasmin cuma bisa mengangguk pasrah.
❍ᴥ❍
Bersambung