Secret Wife

Secret Wife
03 • Sah!



"Bara mau kemana lagi kamu?!" Himawan  ayahnya langsung menghentikan langkah anaknya. "Papa nggak mau tahu, kamu tidak boleh menemui janda itu. Cukup Bara hentikan obsesi gilamu!"


Bara mengeram, menahan diri untuk tidak melawan Ayahnya. "Kenapa tidak boleh Pah, apa salahnya dengan janda. Helena juga tak mau jadi seperti itu, takdirnya saja yang buruk. Apakah Papa segitu tak punya hatinya selalu merendahkan Helena hanya karena setatusnya. Pah, mengertilah! Bara cuma ingin bersama dia dan tolong hentikan perjodohan konyol kalian ...."


"Tidak ada yang memang yang salah dengan perempuan itu, tapi Papa tetap tak suka kepadanya. Dia perempuan yang buruk, Son. Mengertilah ... atau setidaknya terima gadis yang kami jodohkan untukmu," jawab Himawan dengan penuh harap pada putranya.


"Yasmin maksud Papa? Astaga, dia bahkan mahasiswiku sendiri Pah, dan bagaimana mungkin kami menikah dengan status itu?" Bara tak habis pikir. "Lagian dia miskin dan Bara yakin dia beserta orang tuanya pasti mau mengeruk harta kita!" seru Bara mengingatkan Ayahnya dengan serius.


Himawan menghela nafas, memijat sekilas kepalanya yang sedikit pusing karena ucapan anaknya. "Kalau cuma harta yang mereka inginkan. Papa tak masalah itu. Wajar saja, semua orang memang ingin hidup mapan. Lalu bagaimana dengan perempuan yang bahkan cuma main-main sama kamu, si janda itu? Bukalah matamu, Son ... buka lebar-lebar dan sadarlah seberapa buruk perempuan itu?!"


"Cukup!" Bara tak tahan lagi. "Bara tak mau mendengarkan keburukan apapun lagi tentang Helena, dan baiklah sesuai kemauan kalian juga kesehatan Mama. Bara akan menikahi perempuan miskin itu, tapi setelah itu jangan menuntut apapun lagi pada Bara!" peringat Bara pada Ayahnya.


Setelah mengatakan hal demikian, Bara pun pergi begitu saja. Sementara Himawan langsung terdiam dan terduduk di sofa dengan lemas. Istrinya Lidia tak lama menit berlalu datang ke sana dan menghampirinya. Melihat keadaan suaminya, tak perlu bertanya diapun sudah mengerti apa yang sudah terjadi. Lidia tahu kalau suami dan anaknya pasti habis bertengkar lagi seperti yang sudah terjadi sebagaimana biasanya.


"Bara pergi lagi, Pah?" tanya Lidia sambil mengusap bahu suaminya.


"Begitulah, Mah. Anak itu selalu saja begini. Dia berubah semenjak bertemu perempuan itu. Dia sulit sekali mendengarkan kita," jawab Himawan lesu.


Dia benar-benar sudah tak mengerti dengan pemikiran putranya. Ini bukan soal status janda atau tidaknya, karena pemikiran mereka sekeluarga sama sekali tak sekolot itu. Akan tetapi ini tentang baik atau buruknya.


Helena nama perempuan yang sudah mempengaruhi seorang Bara. Janda satu anak yang sangat jelas sekali belum moveon dari suaminya. Perempuan itu bahkan beberapa kali pernah dipergoki jalan dan keluar masuk hotel bersama mantan suaminya dan juga kadang orang asing yang tak dikenali oleh Lidia dan juga Himawan.


Perempuan itu bukan perempuan baik-baik menurut mereka, image buruk sudah lama luntur bahkan sejak pertemuan pertama. Helena bahkan tak pernah bersikap sopan, dan tak segan mendebat Lidia. Sayangnya dia selalu melakukannya dibelakang Bara. Sehingga hal itu membuatnya seperti fitnah dimata Bara, ketika kedua orang tuanya kerap kali memberitahu.


Bara terlalu buta akan cintanya dan kalau saja Lidia tak jatuh sakit minggu lalu, mungkin anak itu takkan mau dijodohkan.


"Mama cuma bisa harap semoga Yasmin bisa membuatnya berpaling. Dia gadis baik-baik cantik dan secara fisik pasti sangat sulit ditolak oleh anak kita," ujar Lidia sambil kemudian menumpukan kepalanya bersandar pada bahu suaminya Himawan.


Sebenarnya bisa saja gadis lain, tapi melihat dari tempramen Bara, membuat teman-teman Lidia enggan memberikan putri mereka. Siapapun orang tua dunia ini mana mungkin mau menyerahkan putri mereka pada laki-laki galak, pemarah dan belakangan ini juga merangkap menjadi seorang pemabuk.


Alasan Bunga sahabat mereka punya hutang, hal itulah yang kemudian menjadi kesempatan bagi Lidia dan Himawan untuk memanfaatkannya. Yasmin dipaksa menjadi menantu mereka, terlepas dari aib buruk seorang Bara. Lidia yakin, Bunga tidak akan menolak perjodohan anak mereka dan Yasmin pasti akan menikah dengan Bara.


•••


"Apa-apaan ini, Mas? Kenapa kamu bisa memutuskan hal itu. Kamu udah enggak cinta lagi sama aku, hah?!" amuk Helena setelah mendengar pengakuan dari pacarnya Bara. "Kamu udah nggak mau jadi ayahnya Gina lagi? Iya ...."


"Helena mengertilah. Ini bukan mauku dan seperti yang aku katakan tadi. Mamah sakit dan kondisinya sedikit drop. Kata dokter kami tidak boleh membuatnya stress atau kondisinya akan lebih buruk lagi. Aku menyetujui perjodohan konyol cuma karena Mama, Helena!!" seru Bara menjelaskan.


Helena terdiam, kemudian terdiam dan terduduk lemas. Air matanya pun terjatuh dan membasahi pipinya.


"Tapi nggak harus begitu juga Mas, kamu nggak harus menikah dengan perempuan lain ...."


"Aku tak berdaya Helena, mengertilah. Kumohon jangan seperti ini, kita masih bisa bersama walaupun aku menikah dengan perempuan lain. Status tidak akan pernah bisa menghalangi cinta kita!" seru Bara memberikan pengertian.


Ikut duduk dan mengusap bahu kekasihnya. Kemudian mengangkat dagu Helena agar mereka saling menatap. "Aku tidak akan pernah bisa melupakanmu!" tegas Bara dengan tanpa ragu.


•••


Hari pernikahan pun tiba. Tidak mewah dan hanya pernikahan sederhana yang dihadiri keluarga dekat. Semua itu selain karena keras kepalanya seorang Bara, tapi adalah hasil permintaan Yasmin.


Begitu masuk ke dalam kamar hotel selepas acara pernikahan, Bara dengan kesal langsung menghempaskan koper Yasmin. Disusul dengan pintu yang ditutup kencang.


Blam!!


"Ini semuanya karena kamu perempuan breng-sek!!" ujar Bara dengan gusar.


"Enak saja karena aku, Bapak pikir aku juga mau menikah dengan Bapak?!" balas Yasmin dengan sarkas. Sebenarnya dia takut menghadapi Bara dan bahkan dia sudah meneguk ludahnya kasar beberapa kali, tapi mau bagaimana lagi, dia juga tak mau ditindas begitu saja.


"Ya. Aku kaya dan aku juga tampan, memangnya kamu tidak tertarik dengan hal itu?" tanya Bara cukup serius.


Yasmin langsung menyeringai seperti sedang meledek. "Harta dan rupa bukan apa-apa untuk saya. Kalau kelakuan minus, apa gunanya? Gembel di bawah jembatan pun saya pikir tak suka sama Bapak!!"


Bara langsung bertambah geram dalam seketika. Telapak tangannya segera mengepal erat dan desah nafasnya langsung memburu, tapi rupanya Yasmin belum selesai dengan perkataannya.


"Bukan rahasia umum lagi kalau Bapak suka memanfaatkan mahasiswi Bapak. Bisnis unik, perlendiran yang ditukar dengan nilai ataupun kelulusan. Jadi menurut Bapak apakah perempuan baik-baik seperti saya bisa menerima Bapak?!" tanya Yasmin mengungkapkan apa yang sudah diketahuinya mengenai gosip seputar laki-laki yang sudah menjadi suaminya.


"Kalau bukan karena hutang budi ibu, saya pun tak sudi menikah dengan Bapak. Sudah tua, galak pula!!" lanjut Yasmin dengan tajam.


Membuat Barat tak tahan lagi dan segera mencengkram rahangnya.


"Sialan, kamu! Jangan asal memfitnahku! Dasar gadis tengil, gini-gini aku masih perjaka dan aku bukan laki-laki kotor yang sudi memanfaatkan mahasiswaku sendiri!" terang Bara menjelaskan.


Namun tentu saja Yasmin tak percaya itu. Sudah terlalu banyak desas-desus keburukan seorang Pak Bara dosennya ini dan Yasmin sudah lama dan jauh terpengaruh akan hal itu.


"Halah, Bapak pikir aku percaya?" balas Yasmin meremehkan sambil kemudian mendorong Bara dengan berani.


"Aku masih perjaka, gadis sialan!!" geram Pak Bara yang kemudian sambil mendorong mundur Yasmin karena kesal.


Begitu terlepas walaupun hampir terjatuh, Yasmin segera mengusap rahangnya yang sudah di cengkram kasar. Takut-takut, gadis itu rupanya masih berani nekat.


"Apa buktinya Bapak masih perjaka?" tantang Yasmin sambil masih mengusap rahangnya itu.


Bara segera mendesah kasar dan berpikir keras. Untuk keperawanan seorang gadis ada selaput darah yang menjadi buktinya, walaupun tak selama itu akurat sebagai tolak ukur, tapi setidaknya ada bukti itu. Lalu bagaimana dengan seorang laki-laki, Bara terdiam sesaat dan merasa kalah telak.


"Pokoknya aku laki-laki baik dan kamu harus camkan hal itu baik-baik. Aku masih perjaka!"


"Aku tidak percaya!!"


"Aku perjaka, Yasmin sialan!!"


"Pembohong!!"


Malam pernikahan akhirnya berlalu dengan perdebatan panjang antara dosen dan mahasiswanya itu. Tak ada yang mau kalah, keduanya sama-sama keras kepala dan sama-sama meneriaki satu sama lain hampir sepanjang malam.


•••


TBC