Secret Wife

Secret Wife
15. Pelampiasan



Bara kembali mendekati Helena dan mengajaknya kencan, akan tetapi lagi-lagi penolakan harus didapatkan olehnya. Bara memutuskan untuk pulang karena teringat Yasmin. Bukan karena merindukan, tapi sekarang dia pikir berdebat dengan perempuan itu jauh lebih baik ketimbang memikirkan kecewanya ditolak Helena.


"Di mana gadis itu? Biasanya sore begini dia sudah di rumah. Keluyuran kemana dia?" Bara bingung sambil mencari-cari kesana-kemari.


Namun hanya sunyi yang didapatinya di sana, tak ada pembantu ataupun tanda keberadaan Yasmin. Tak mau rumit, Bara menghubungi Yasmin, dan langsung menanyakan keberadaannya.


"Kamu dimana?" tanya Bara tanpa babibu, dan belum juga Yasmin menjawab sejak panggilannya terhubung, Bara kembali bicara dan tak memberikan kesempatan untuk Yasmin menjelaskan.


"Keluyuran terus, kau pikir kamu masih anak gadis, Yasmin? Ingatlah kau sudah menjadi seorang istri dan tugasmu harusnya di sini menyambut suamimu teh, menghidangkan kopi atau memberikan pijatan di bahuku untuk menghilangkan letih karena seharian mencari nafkah untukmu!" ujar Bara geram dan karenanya dia bahkan menggunakan kata 'kau' daripada 'kamu.'


"Nggak usah lebay, Pak Bara. Bilang mau cari nafkah, padahal mau ketemu janda. Huhh, Bapak meracau seperti aku tak tahu Bapak aja!" ujar Yasmin tak langsung percaya. Satu atap dengan pria itu, meski tidak tidur di ranjang yang sama, tapi Yasmin tahu kebiasaannya dan mulai mengenal watak aslinya.


"Jangan sembarangan!" omel Bara sambil membentak ditelepon.


"Siapa yang sembarangan. Itu faktanya, jujurlah Pak Bara!" seru Yasmin menuntut. "Aku bahkan sangat yakin, sebelum menghubungi aku, Bapak pasti habis ketemu janda pirang kesayangannya Bapak itu!"


"Cukup!!" Bara membentak karena tak suka kekasihnya dikatai, atau mungkin dia sudah mulai jengah diejek karena mencintai Helena.


"Janda yang kau maksud itu punya nama dan dia bernama Helena. Dia tidak pirang dan aku akui kami memang habis bertemu, tapi memangnya kenapa, dia kekasihku. Tak ada yang salah dengan itu," jawab Bara dengan sungguh-sungguh.


Yasmin segera menghela nafas walaupun Bara tak melihatnya, karena mereka hanya bicara lewat panggilan suara. Dia kecewa, sangat kecewa, dan ini bahkan sudah cukup sering diperingatkan Bara padanya, padahal juga tak ada cinta di antara mereka. Anehnya sampai sekarang Yasmin masih tak terima, dan dia bahkan geram setiap kali mendengar nama perempuan yang menjadi pacar suaminya itu.


"Kalau dia yang kekasihmu, cari saja dia jangan aku!!" sarkas Yasmin terdengar marah karena tak terima.


"Tapi kau istriku, dan seperti yang aku katakan di awal. Harusnya begitu aku pulang. Sampai di rumah itu ada kamu yang siap sedia menghidangkan kebutuhanku, membuatkan kopi misalnya atau memijat otot tubuhku yang letih," jawab Bara dengan tanpa dosanya, membuat Yasmin semakin geram saja.


"Minta saja pada kekasihmu. Tuntut dia yang melakukan semua itu!" ketus Yasmin kesal.


Bara terdiam untuk sejenak, tertohok dengan ucapan Yasmin, lalu teringat dengan adegan di mana Helena berulang kali menolaknya. Jangankan beres-beres rumah, memijat tubuh Bara yang letih atau menyiapkan kebutuhannya, kekasihnya itu sekedar diajak senang-senang dan bermesraan saja, sangatlah susah.


Menyadari hal itu, Bara memijat pangkal hidungnya, tiba-tiba saja dia merasa miris pada dirinya sendiri juga merasa pusing.


"Giliran istri diperlakukan seperti babu, tapi janda pirang itu malah dijadikan ratu!" cibir Yasmin melanjutkan ketika Bara tak juga bicara.


Bara yang mendengarnya pun menghela nafasnya kasar. Jujur dia masih kesal kekasihnya terus diledek janda pirang, tapi kali ini saat teringat hal buruk tentang Helena dia tak mood melakukannya. Alih-alih membela, Bara pun mengalihkan pembicaraan.


"Cukup bicaranya. Aku mau kamu pulang sekarang dan berhenti membantah!"


"Aku lagi kerja, dan belum boleh pulang. Puas?!" balas Yasmin mengelak dan membuat Bara terkejut.


"Kerja?" tanya Bara memastikan. "Kerja apa kamu. Masih kuliah memangnya bisa?!" tanya Bara meremehkan, tapi tanpa sadar dia sudah menggunakan kata 'kamu' lagi ketimbang 'kau.' Tampaknya amarah pria itu sudah cukup stabil dan tidak sebesar beberapa menit lalu.


"Itulah Bapak. Terlalu meremehkan aku, dan juga memangnya kalau masih kuliah tidak bisa kerja?!" sarkas Yasmin.


Bara sekali lagi tertohok mendengarnya, tapi tentu saja egonya tidak akan membuatnya kalah ataupun mengalah. "Kalau itu bukan kamu, aku tidak akan ragu."


"Kalau begitu silahkan ragu. Karena keraguan Bapak sama sekali tak mempengaruhi aku!" jengkel Yasmin sudah tak tertahankan, lalu karena tak mau mendengar jawaban Bara, gadis itupun memutuskan sambungan telepon sebelah pihak.


"Sial! Gadis ini belum memberitahuku di mana dia dan apa pekerjaannya, sudah berani mematikan teleponnya!!" Bara kesal, tapi kemudian dia kembali menghubungi Yasmin untuk mengomelinya.


❍ᴥ❍


Yasmin baru saja pulang dari restoran, pekerjaannya di sana cukup padat apalagi di hari pertama. Pekerjaannya sebenarnya adalah tukang cuci piring, tapi namanya anak baru sudah bukan rahasia lagi kalau diperlakukan semena-mena. Hal itulah yang kemudian membuat Yasmin terpaksa kerja double job.


"Tahu pulang juga, kamu?!"


Ucapan itu membuat Yasmin langsung menoleh dan menemukan Bara suaminya sedang di sofa. Duduk di sana dengan angkuh dan menatapnya penuh intimidasi.


"Kenapa lagi, Pak Bara. Aku melakukan kesalahan apalagi?"


"Apa?!" Bara terlihat tak percaya dengan ucapan Yasmin, dan berdiri karena tak terima. "Berani sekali kamu berkata begitu? Lupa siapa kamu di rumah ini? Kamu istriku Yasmin, istriku!!" tegas Bara melanjutkan sambil penuh peringatan.


'Lebih tepat babumu, Pak Bara. Aku nggak lebih dari pembantu di sini,' ringis Yasmin membatin.


Namun, dia tak mengungkapkannya,karena Yasmin sudah lelah dan tak sanggup bertengkar lagi. Maklumlah dosen sekaligus suaminya ini selain suka mengomel dan marah-marah tak jelas, dia juga suka sekali mencari perkara.


"Maaf Pak, aku tak bermaksud begitu," jelas Yasmin pasrah. Sudahlah, biarkan saja Bara menang kali ini, lalu selanjutnya biarkan tubuhnya sendiri untuk istirahat.


"Hm, yasudah sana!" ketus Bara akhirnya membiarkan Yasmin, karena merasa puas dengan kepasrahan istrinya.


Namun sayangnya Bara juga rupanya plinplan, sebab baru juga dua, tiga langkah menuju kamarnya, Bara kembali memanggil Yasmin.


"Yasmin!"


"Iya, Pak."


"Kopi untukku!" seru Bara memerintah, tapi tak hanya itu, sebab bukan Bara namanya jika tidak meminta lebih dan berlebihan. "Jangan lupa air hangat untuk pemandianku juga, aku mau berendam sebentar. Makan malam pake rendang, aku sendang mau makan itu nanti. Oh, iya. Habis mandi nanti datanglah ke kamarku, tubuhku sangat pegal, jadi pijatlah!"


Yasmin yang mendengar itu langsung memutar bola matanya jengah, meski kemudian diapun mengangguk setuju.


"Iya-iya ... terserah Bapak aja!"


"Jangan cuma iya, lakukan juga!"


"Hm."


"Yasudah. Pergi sana, apalagi yang kamu tunggu sekarang!"


"Bapak yang menahanku sejak tadi!"


"Nggak usah ngeles. Sana kamu!!"


Yasmin tak menjawab lagi. Kali ini dia benar-benar pergi dan bahkan setengah berlari karena sudah sangat jengah menghadapi Bara.


❍ᴥ❍


Bersambung