Secret Wife

Secret Wife
10 • Masalah Membawa Berkah



Perkuliahan Yasmin setelah diusir Bara dari kelas baik-baik saja, meski menyisahkan kekesalan. Untuk beberapa waktu memang begitu, sampai pria yang suka bersikap bossy pada Yasmin itu, menghubungi Yasmin dan memaksanya menjemput Gina.


"Enak saja. Aku bukan bukan pengasuh ataupun ibunya. Ogah! Tapi kalau Bapak perduli silahkan saja, aku tidak melarang, cuma jangan repotin orang dong!" gerutu Yasmin pada Bara di telepon.


'Sudah selingkuh mana sama janda, ini masih saja tak punya hati merepotkan istri sah merawat anaknya selingkuhannya. Suami macam apa Pak Bara ini? Gak punya hati bangat!!' lanjut Yasmin membatin dan mengeram kesal.


"Baiklah. Ok, kali ini aku tidak akan memaksamu, tapi sebagai gantinya jika kamu mau aku akan membayarmu," jawab Bara membuat Yasmin yang kurang mengerti maksud ucapannya yang sebenarnya, langsung salah paham.


"Apa, Bapak mau membayarku? Enak saja, aku nggak pernah jual diri ya, Pak!" tegas Yasmin geram.


"Bodoh! Siapa yang bilang mau membeli dirimu, aku mau membayar jasamu!!" balas Bara dengan nada tak habis pikir. "Kamu selalu bilang aku mesum, tapi sekarang kenyataannya kamulah yang mesum. Dasar Yasmin gadis otak kotor perlu disensor!"


Yasmin menggaruk kepalanya yang tak gatal, sadar kalau rupanya kali ini dirinya yang salah paham.


"Hm, tapi aku tetap nggak mau," balasnya mengungkit topik sebelumnya supaya Bara tidak mengatainya lagi.


"Tidak usah jual mahal. Kamu menikah denganku saja itu karena bayar hutang, artinya kamu miskin dan butuh uang. Sudahlah aku akan membayarmu, berapapun itu asal kamu menjemput Gina dan mengurusnya dengan baik!!" cibir Bara yang kemudian kembali memaksa Yasmin.


"Mau bagaimanapun Bapak membujukku, aku tidak akan sudi. Di mana-mana istri sah, tidak seharusnya diperlakukan sehina itu sampai harus mengurus anak selingkuhan suaminya. Kamu sudah gila, Pak?!"


Tuutttt!


Belum juga Bara menjawab kalimat Yasmin, telepon sudah dimatikan, sebab Yasmin memang tak sudi mendengar jawabannya.


"Huuh! Nasib-nasib, gimana bisa semiris ini sih? Sudah menikah sama dosen sendiri, makan cibiran tiap hari, lah sekarang mau dijadikan babu untuk mengurus anak dari wanita selingkuhan suami sendiri!" rutuk Yasmin pada dirinya sendiri.


Hari itu setelah serangkaian kejadian sial yang menimpanya, Yasmin pulang cepat karena sudah tak ada kelas. Dia pulang dengan nebeng naik mobil teman kampusnya.


"Kita lewat sekolah dasar ya, Yasmin. Kamu tidak masalah kan ... aku lagi pengen jajanan anak SD yang super enak dan murah itu!" seru Angel.


"Yuk," jawab Yasmin singkat tak keberatan sama sekali.


Lagian bagus juga mereka melewati lokasi yang di maksud, kebetulan Yasmin juga pengen ngemil yang enak, tapi bajetnya pas-pasan.


Namun setelah tempat yang di maksud dan saat mereka sedang membeli bakso aci, batagor dan beberapa jajanan khas anak SD lainnya, seseorang tiba-tiba saja menarik bajunya.


"Mama, aku mau juga dong!" seru seseorang yang terdengar horor bagi Yasmin, pasalnya anak itu menarik bajunya, berarti dia dong yang dimaksud mamanya anak tersebut.


Yasmin tidak bisa mengelak, kalau dia tak kenal karena itu adalah Gina. Yasmin tentu saja mengenalnya, walaupun kenalannya baru semalam.


Sementara Angel sudah mengerutkan dahi terlihat kaget dan langsung menuntut Yasmin lewat tatapannya. "Duh, bukan-bukan seperti yang kamu pikirkan, Nggel. Di--dia keponakan aku. Ah, iya keponakanku. Benar kan, Gin. Kamu keponakan Tante dan kamu cuma becanda aja biar Tante belikan jajan?" jelas Yasmin sambil menatap temannya itu, lalu berganti dengan Gina yang kemudian ditatapnya dengan pelototan.


'Sial. Gimana bisa anak dari wanita selingkuhan Pak Bara ada di sini? Malah pake bacot ngaku-ngaku aku ibunya lagi!!' geram Yasmin membatin heran.


Dia masih belum sadar kalau mereka sedang di sebelah gerbang sekolahan anak SD dan itu mungkin sekolahnya Gina.


"Wah, kebetulan sekali dong. Anak manis keponakannya Tante Yasmin, udah selesai sekolahnya mau ikut pulang?" tanya Angel dan Gina mengangguk saja.


Entah apa yang dipikirkannya, tapi bocah itu meski sempat membuat Yasmin horor, tapi selanjutnya dia cuma menurut. Dia bahkan tidak mempermasalahkan penjelasan Yasmin.


Sepertinya benar, jika anak itu memanggil Yasmin dengan panggilan mama hanya untuk mendapatkan jajan. Itulah mengapa dia tak rusuh karena selanjutnya mau tak mau Yasmin pun membelikannya.


Tak ada masalah setelahnya dan mereka pun pulang bersama ke rumah Bara. Namun, sesampainya di tempat tujuan Angel sempat curiga dan bertanya pada Yasmin, sebab setahunya bukan di sana tempat tinggal Yasmin.


Yasmin pun sempat hilang kata, bingung mau menjawab, sampai kemudian Gina membuatnya punya alasan untuk mengelak ataupun membohongi Angel.


"Ini rumahnya Gina. Maksudku orang tuanya, Nggel," jelas Yasmin dan karena masuk akal Angel pun tak menuntut lagi.


"Oh begitu rupanya. Hm, baiklah kalau begitu aku pulang ya," pamit Angel.


"Nggak mampir Nggel?" tawar Yasmin basa-basi.


"Kapan-kapan aja."


"Nggak nyangka, Tante baik bangat mau belikan aku jajanan sebanyak ini. Biasanya mama tidak akan kasih, soalnya tidak mahal," ujar Gina sambil menatap penuh minat jajanannya.


Yasmin menoleh dan menatap Gina. "Mamamu itu mungkin kaya, kalau beli jajanan semurah itu duitnya terasa nggak kepake, jadi wajarlah."


'Tapi sialnya walaupun tidak kerasa untuk mamamu sipelakor itu, jajanan murah sebanyak ini lumayan menguras dompet untukku. Uang yang harusnya cukup buat bolak-balik kampus tiga hari dan uang makan malah terpakai untuk menutup mulut sembaranganmu bocah. Aduh, mana aku baru dipecat lagi, gimana dong ini?' batin Yasmin sambil melirik Gina.


"Ada apa, Tante?" tanya Gina bingung dengan tatapan Yasmin yang menurutnya aneh.


Namun setelah ditanya begitu, tiba-tiba saja wajah Yasmin ceria. 'Aha, di kampus tadi bukannya Pak Bara mau menawarkan bayaran jika aku menjemput Gina, ya? Hm, gimana kalau manfaatkan saja!' batinnya menyeru dengan serius.


"Tidak ada Gina. Hm, kamu makanlah jajanannya di sini ya. Tante mau kebelakang sebentar," ujarnya sambil kemudian melakukan ucapannya dengan gesit bangkit dari sofa.


Gina mengangguk saja dan selanjutnya Yasmin pun ke arah halaman belakang rumah, kemudian menghubungi Bara di sana.


Tut!


Sambungan telepon terhubung, tanpa basa-basi lagi bicara dengan Bara mengungkapkan maksudnya. "Halo Pak Bara, aku menerima tawaran Bapak, aku akan menjemput Gina sekarang asal Bapak juga transfer bayarannya sekarang juga!"


"Ckckck, akhirnya kamu menurut juga. Gini dong tidak usah jual mahal. Orang miskin yah begitu, suka nggak tahan kalau urusan uang," balas Bara dengan cibiran. Rasanya tak lengkap jika tak begitu.


"Hm, pokoknya aku mau. Sudahlah, transfer sekarang atau aku berubah pikiran?!" balas Yasmin dengan ketus karena dia sempat kesal dengan ucapan Bara.


"Iya-iya, kamu maunya berapa?"


"Satu juta aja."


"Sedikit sekali!"


"Lima deh, kalau sedikit."


"Baiklah, aku transfer sekarang ya ... setelah kamu kirimkan nomor rekeningmu!"


Tiba-tiba Yasmin mengerutkan dahinya. 'Mudah bangat Pak Bara setuju. Nggak bisa dibiarkan ini. Mumpung ada kesempatan,' batin Yasmin.


"Maksudku lima puluh juta, ya Pak!" ujar Yasmin setelah berpikir.


"Gila kamu!" umpat Bara terdengar kaget.


"Itu harga pas dan tidak ada tawar menawar lagi. Salah sendiri keberatan transfer satu juta, yasudah lima puluh juta saja sekalian!" seru Yasmin meledek.


"Tapi nggak gitu juga!?" jawab Bara tak terima.


"Mau atau nggak sih. Lima puluh juta atau aku tidak akan mau menjemput Gina. Biarkan saja dia sendiri di sekolahannya, biar diculik sekalian dan aku pun tak merugi, karena tak harus repot mengurusi anak janda kesayangannya Bapak itu!" jawab Yasmin menyeringai dan tersenyum senang meski Bara tak melihatnya.


"Ok. Baiklah. Akan aku transfer segitu, puas?"


"Aku tidak akan berterima kasih, karena itu adalah bayaran atas jasaku!"


"Terserahmu saja, asalkan Gina kamu jemput dan urus dia sampai aku pulang kerja nanti!!"


"Siap Pak!" yakinkan Yasmin.


Bagaimana tidak yakin toh, anaknya sudah dijemput tanpa sengaja dan sekarang tak butuh lama. Kurang dari lima menit mereka selesai berbicara ditelepon, uang perjanjian lima puluh juta itu pun masuk ke rekeningnya.


"Wah, gila! Gampang bangat cari uang jika begini!" seru Yasmin.


❍ᴥ❍


Bersambung