Secret Wife

Secret Wife
07 • Anak dari Selingkuhan Bara



Yasmin memijat bahunya sesekali. Lelah yang diakibatkan kerja rodi membuat tubuhnya pegal dan letih. Namun, dia tak mengeluh hal itu ataupun keberatan walaupun kesal, tapi Yasmin justru sesak mengingat bagaimana suaminya bicara dengan perempuan lain.


"Rin ...," panggil Yasmin pelan membuat temannya menoleh walaupun sesaat.


Tidak mungkin lama, sebab saat ini mereka sedang ada di dalam mobil dan orang yang dipanggil Rin adalah Karin sahabatnya yang tengah mengemudi.


"Hm," balas Karin singkat.


Yasmin membuang nafasnya pelan kemudian memutuskan untuk mencari solusi dari Karin. "Menurutmu kalau dua orang tidak saling mencintai, tapi mereka menikah. Apakah salah satu dari mereka boleh selingkuh atau punya pasangan lain?!"


Karin mengerutkan dahi. Gadis itu terlihat heran dan sangat kebingungan. "Ada apa, Min ... kamu tidak biasanya bertanya hal seperti itu?!" balas Karin bertanya balik.


Yasmin segera meneguk ludahnya kasar, kemudian agar Karin tak curiga diapun berbohong. "Tidak ada apa-apa, aku hanya menonton drama series kemarin, dan menyaksikan drama macam itu!"


"Oh, bilang dong dari tadi. Huh, hampir aja aku pikir kamu sedang membicarakan dirimu, tapi mana mungkinlah. Kamu kan belum menikah!" ceplos Karin membuat Karin lega, tapi tertohok dalam waktu yang bersamaan.


"Yah, nggak mungkinlah!" seru Yasmin mengelak dengan tegas, tapi kemudian dia justru membatin dengan kalimat yang berlawanan. 'Ya, aku memang sudah menikah Karin, tapi aku nggak tahu harus mengatakan bagaimana padamu.'


"Iya juga ya, kamu kan masih kuliah. Lupa!"


"Terus gimana sama yang aku tanyakan itu?"


"Sudah menikah, tidak mencintai, tapi selingkuh?!"


Yasmin mengangguk membenarkan, sementara Karin langsung mengerutkan dahinya, sambil mengemudi dia berpikir keras. "Sebenarnya kalau menurut aku pribadi sih itu tetap salah. Karena artinya di sudah mempermainkan makna dari pernikahan itu sendiri yakni kesakralannya, dan nih, seandainya aku menjadi pasangannya, aku pasti tidak akan diam saja. Cinta tidak cinta, aku bersumpah tidak akan membiarkan siapapun berani mengkhianati aku!!" seru Karin bersungguh-sungguh diakhir kalimatnya.


❍ᴥ❍


Malam hari, Bara pulang dan sampai di rumah. Namun, laki-laki itu tak sendiri. Seperti apa yang dikatakan lewat telepon dan Yasmin mendengarnya dengan lumayan jelas. Dia membawa seorang anak kecil ke rumah.


Yasmin menatap miris dan mengepalkan telapak tangannya marah. Dia merasa harga dirinya sedang diinjak saat ini, tapi tentu saja penderitaan sesungguhnya dari suami yang terang-terangan selingkuh, baru saja akan dimulai.


"Kenapa hanya menyiapkan makan malam untuk dua orang dan--" Bara mengamati masakannya lagi. "Ini pedas?!" katanya dengan suara tak menyangka.


"Kenapa, bukankah biasanya Bapak tidak akan ikut makan malam?" balas Yasmin serius.


"Ya, tapi saat ini sampai besok malam ada Gina di sini," jelas Bara.


Yasmin mengerutkan dahi. "Gina, dia siapa memangnya?"


"Ini Gina," jawab Bara sambil menunjukkan anak kecil yang bersamanya. "Gina, ini Tante Yasmin dan Yasmin ini Gina," lanjut Bara memperkenalkan keduanya.


"Oh, ini anak selingkuhan Bapak ternyata?!" ceplos Yasmin tanpa babibu dan berpikir panjang saat mengatakannya. Dia bahkan tak segan menatap gadis kecil dihadapannya dengan galak.


Menarik kursinya sendiri, kemudian dengan anggun, Yasmin menunjukkan keacuhannya. Sementara Bara justru sebaliknya.


"Gina sayang, kamu mau makan apa? Nanti Tante Yasmin masakin setelah dia makan," jelas Bara seenaknya saja dan Yasmin selanjutnya cuma diam dan menikmati makan malamnya tanpa memperdulikan ucapan Bara.


Namun, saat suaminya itu duduk, Yasmin melayaninya di meja makan dengan sangat baik. Bara pikir gadis yang menjadi istrinya sudah menurut, tapi saat dia selesai makan dan ke kamarnya meninggalkan Yasmin dan Gina berduaan semuanya tidak berubah tidak seperti bayangannya.


Gina menangis setelah beberapa saat, dia ketakutan karena sendirian dan kelaparan. Setengah jam kemudian Bara barulah turun ke dapur untuk mengecek kondisi Gina. Dia terkejut dan cukup syok melihat anak itu masih terisak di sana dengan muka yang sudah memerah.


"Yasmin!!!" teriak Bara marah.


Tidak ada jawaban, tentu saja. Karena mungkin saja Yasmin sendiri sudah mengunci diri di kamarnya untuk menghindari amukan Bara.


"Sialan! Perempuan itu memang tak bisa dipercaya!!" geram Bara.


Tak mau Gina semakin menangis, Barapun mendekat dan mengusap surai rambutnya yang sudah sangat berantakan. "Sssttt ... jangan menangis lagi ya, Sayang. Om sudah disini ...."


"Hiks-hikss ... Gi-Gina ta-takut, Om," adu Gina sambil masih sesegukan.


Bara menghela nafas panjang dan mulai membujuk serta menenangkan anak itu. Sampai benar-benar diam dan tidak lagi menangis. "Gina lapar?" tanya Bara memastikan.


Dia akhirnya terpikirkan, selama setengah jam lebih dia tinggalkan. Mungkin saja Gina belum diberi makan oleh Yasmin.


"Be-belum," jawab anak itu dengan masih terbata.


Bara mengusap puncak kepala Gina sambil menatapnya. "Mau makan apa Gin?"


"Ayam goreng, pizza, nasi goreng, spagetti dan orange jus Om," jawab anak itu tak membuat Bara heran sama sekali.


Dia memang sudah sangat mengenal bagaimana Gina ini. Dia anak yang rakus dan lumayan serakah, tapi tak masalah karena Bara pikir dia masih kecil dan sudah seharusnya butuh asupan makanan yang banyak.


Namun setelah makannya datang dan Gina juga telah memakannya. Bara harus menarik nafasnya panjang dan membuangnya kasar. Anak itu bukan hanya tak menghabiskan makanannya, tapi juga cuma memakan sedikit dari bagian makanan masing-masing.


"Gina udah kenyang, Om!"


"Setidaknya habiskan ayamnya Gin," saran Bara menasehati.


"Tidak mau. Gina udah kenyang!" seru Gina sambil kemudian bangkit dan berlalu dari sana begitu saja.


Bara terlihat menahan diri dan terus bersabar. Tak mau ambil pusing atau menegurnya lagi, Bara cuma bisa pasrah dan membawa Gina ke kamar yang biasa anak itu pakai ketika menginap bersamanya


"Benar-benar bucin tuh, Pak Bara sama selingkuhannya. Sampai mau menegur anak itu saja nggak berani. Huhh, kalau sudah aku plototin tajam biar nggak semena-mena. Entah mau jadi apa anak itu, jika kecil begini sudah begitu. Cuma aku tinggal bentar udah mewek, sudah begitu serakah lagi!" geram Yasmin yang ternyata diam-diam mengamati Gina.


Walaupun tak sudi menjaganya, rupanya Yasmin masih tak tega meninggalkannya sendiri. Andai Bara tak segera datang tadi, mungkin hari nuraninya akan menang melawan egonya dan Yasmin mungkin saja akan memperhatikan Gina.


Kembali ke dalam kamarnya dan kemudian tak lupa mengunci pintunya. Yasmin terdiam dan duduk di atas kasur sambil merenung. Dia bukannya iri, tapi melihat Bara begitu sabar menghadapi Gina, sementara menghadapi dirinya selama ini justru pria itu sangat kasar membuatnya sedikit cemburu.


"Nyebelin banget sih, nasibku. Punya suami, tapi hatinya milik perempuan lain ...." lirihnya kecewa.


Dia tak sampai seperti seorang yang putus cinta, tapi walaupun belum ada perasaan antara dirinya dan Bara. Kecewa yang teramat mendalam sebagai istri sah, itu masih tetap terasa, dan Yasmin tak bisa membohongi hatinya.


❍ᴥ❍


Bersambung