Secret Wife

Secret Wife
19 • Perasaan yang Pudar



Yasmin tidak bisa tidur, dia gelisah dan tak bisa tenang. Bukan hanya memikirkan apa yang sudah dilakukannya dengan Bara, tapi juga mengkhawatirkan dirinya sekarang yang tidak dalam tempat dan keadaan yang aman.


"Mmm ... tidur Yasmin. Udah ngantuk tahu!" gerutu Bara protes pada Yasmin dengan nada mengeram khas orang yang mengantuk berat.


"Nggak bisa. Aku tuh kalau di tempat asing susah tidur," jelas Yasmin sambil kemudian mencari tempat nyaman untuknya di tempat tidur.


Namun bagaimana dia bisa tenang. Dia anak gadis dan sedang tidur di kamar pria, walaupun suaminya, tapi Yasmin tetap saja takut dalam ketidaksadarannya Bara mengambil kesempatan. Beberapa jam lalu saja, Bara yang sadar dan mereka sama-sama sadar bisa mengambilnya, apalagi kalau sudah tidur. Yasmin takut dia habis malam ini dan takut berubah menjadi wanita besok pagi.


"Susah bangat jadi kamu. Tidur saja kenapa sih?!" gerutu Bara kesal lalu dengan tanpa peringatan, dia menyingkirkan bantal guling yang menjadi pembatas diantara mereka. Menarik Yasmin kepelukannya dengan memaksa dan menjadikannya bantal guling.


"Cepat tidur!" ujar Bara dengan tegas.


Yasmin membulatkan matanya. Jangankan untuk tidur, sekarang untuk mengantuk diapun takut. Tuh, kan. Belum apa-apa Bara sudah macam-macam.


"Lepasin!" protes Yasmin.


"Tidur Yasmin!" paksa Bara.


"Nggak bisa! Lepaskan dulu, Pak!" ujar Yasmin sambil memberontak dan berusaha melepaskan diri.


Namun bukannya menurut, Bara malah membulatkan matanya galak, menatap Yasmin dengan tajam. "Tidur atau kamu mau ditidurin, hah?!"


Sontak saja, Yasmin meneguk ludahnya kasar, lalu karena takut dia segera memejamkan kelopak matanya dengan paksa. Melihat itu Bara segera tersenyum gemas. Lucu juga gadis yang menjadi istrinya itu. Bara sungguh terhibur dengan kelakuannya. Tanpa sadar Bara bahkan melupakan Helena dan tak mengingatnya walau sedetikpun.


Dia bahkan tak merasa bersalah dengan kedekatannya dengan Yasmin. Malahan pria itu seperti menikmatinya. Tak perduli meski nyeri yang diakibatkan demam pada tubuhnya masih terasa. Kehadiran Yasmin di kamarnya seperti kecocokan tersendiri yang membuat Bara seperti selalu merasa baik.


❍ᴥ❍


Pagi itu Bara bangun lebih awal. Merasakan tubuhnya sendiri yang sepertinya sudah jauh lebih baik, tapi saat melihat dirinya dengan Yasmin, Bara mendesah kecewa.


Anehnya semalam dia ingat memeluk Yasmin sudah seperti gulingnya, tapi saat ini bahkan dia terbangun saling memunggungi dengan gadis itu. Mereka seperti dua orang yang bertengkar, sampai walaupun di atas tempat tidur yang sama tak ada sentuhan sama sekali. Bara tidak terima itu dan menyalahkan Yasmin.


Tak mau pasrah, Bara bangkit dan memindahkan tubuh Yasmin ketengah. Sebelum gadis itu bangun dia melakukan sesuatu yang membuat Yasmin seperti sedang memeluknya saat tertidur. Bara membelakanginya dan Yasmin sebisa mungkin memeluknya erat dari belakang. Lalu seperti nasib baik sedang dipihaknya, Yasmin tanpa sadar semakin mendekapnya erat. Bukan hanya melingkarkan tangan, tapi juga kakinya.


"Kau menyukaiku di alam bawah sadarmu," ujar Bara senang dengan kesimpulannya sendiri itu.


Selanjutnya dia menunggu sambil pura-pura tidur, tapi malah kebablasan tidur beneran. Sehingga saat bangun Bara terpaksa melewatkan reaksi Yasmin ketika bangun tidur.


Awalnya gadis itu mengendus-endus tubuh Bara yang dipeluknya, lalu semakin memeluknya ketika rasa nyaman menguasainya. Namun, beberapa saat kemudian tiba-tiba saja matanya terbuka lebar, dan Yasmin terlihat begitu syok.


Bergerak menjauhi Bara dengan spontan. Yasmin menggelengkan kepala. "Tidak mungkin! Aku nggak mungkin ngelakuin ini sama Pak Bara ... argghhh, kok begini? Susah payah aku melakukan segala cara supaya dia tidak melakukan apa-apa padaku semalam, tapi kenapa aku yang malah peluk dia?!"


Merasa debar jantungnya semakin menjadi, Yasmin tidak kuat berlama-lama di kamar pria itu. Pergi ke dapur lalu minum dan berharap air dingin bisa meredakan perasaan aneh yang menggelutinya.


"Apa sekarang aku juga harus mewaspadai diriku sendiri?!" Yasmin berpikir keras dan menganggukkan kepala. "Ya, aku memang harus melakukan itu. Jika semalam saja aku bisa hanyut dalam tatapan Pak Bara dan saat tidur aku sendiri malah memeluknya posesif begitu, aku berarti tidak baik-baik saja. Aku harus terus sadar, jangan sampai begitu lagi!"


Tak mau terus larut dalam pikiran yang membuatnya gila, Yasmin pun melakukan sesuatu untuk melupakan semuanya. Meski akhirnya tak ada gunanya.


Yasmin membuatkan sarapan pagi, sementara Baru pun terbangun di kamar. Pria itu segera mendesah kasar saat Yasmin tak lagi disisinya.


"Sial. Aku ketiduran. Gara-gara itu aku jadi melewatkan kesempatan untuk menggodanya!" ujar Bara dengan kecewa. Dia memasang wajah seperti orang yang kalah judi saja.


Namun tak sampai di sana, bunyi teleponnya cukup mengganggu, membuat Bara semakin badmood dan mendesah kasar. "Siapa sih, pagi-pagi buta yang kurang kerjaan itu. Jam segini udah gangguin orang dengan teleponnya."


Bara dengan jengkel tetap menjawabnya. Mau bagaimana lagi ternyata kekasih hatinya Helena yang sedang menghubunginya. "Sayang bagaimana kondisimu apakah sudah baik?"


Bara mencengkram ponselnya erat. Anehnya dia sangat kesal ditanyakan demikian, padahal Helena bertanya karena memperhatikannya.


"Sudah lebih baik," jawab Bara dengan malas. Bukan apa-apa, dia masih teringat bagaimana Helena kesal ketika dia tiba-tiba saja sakit dan membatalkan kencan mereka malam itu. Lalu dengan tanpa khawatir, Helena malah pulang begitu saja dan membiarkan Bara yang sakit pulang sendiri.


"Baguslah. Kamu tahu aku sangat mengkhawatirkanmu," ungkap Helena. Entahlah wanita itu serius atau tidak, tapi Bara anehnya untuk pertama kali muak mendengar itu, padahal biasanya dia bahkan sangat mengharapkan hal itu.


"Terimakasih untuk perhatianmu, tapi sekarang aku sangat baik," jawab Bara datar.


"Aku minta maaf soal malam itu. Kamu tahu sendiri bukan aku sangat sibuk, lalu ketika kamu tiba-tiba sakit dan karenanya makan malam kita harus berakhir. Semua itu karena aku kecewa, sebab waktu yang susah payah aku luangkan jadi sia-sia," jelas Helena dengan tanpa dosa.


"Hm," balas Bara acuh dan tak perduli. Untuk pertama kalinya dia bahkan berharap teleponnya segera berakhir.


"Baiklah sayang. Besok jika aku tidak sibuk, aku dan Gina akan datang untuk menjengukmu," ujar Helena memberitahu.


Bara menarik nafasnya panjang dan berpikir kalau bagi Helena kesibukannya jauh lebih penting dari Bara. Bahkan untuk melihatnya yang sakit pun wanita itu harus pikir panjang. Segitu tak ada artinya Bara untuknya.


"Baiklah aku harus beristirahat!" ujar Bara sebelum kemudian menutup teleponnya karena tak sanggup berlama-lama.


Pertama kalinya dia tak terima dengan perlakuan Helena yang demikian, tapi kini ada sakit hati lagi. Perasaan muak lebih terasa ketimbang kecewa.


"Dia pikir cuma dirinya saja yang punya kesibukan? Cih, bahkan aku jauh lebih sibuk dari pada dirinya, tapi masih sempat meluangkan waktu!" geram Bara tak terima. Mulai sekarang, dia sudah tak mau memaklumi Helena lagi.


❍ᴥ❍


Bersambung