
Yasmin baru saja selesai mandi, ketika dari luar teriakan Bara terdengar bersamaan dengan gedoran keras di depan pintunya. Membuang nafasnya kasar, Yasmin secara acak terpaksa mengambil sembarang pakaiannya dari lemari.
Satu hal yang diwaspadai, jangan sampai orang di depan pintu itu hilang akal dan menerobos masuk seenaknya. Sehingga hal itupun membuat Yasmin waswas dan tak tenang selama memakai pakaiannya, meski setelahnya dia berhasil melakukannya dengan baik.
Yasmin menghela nafasnya lega, tapi tak sadar dengan pakaian macam apa yang sudah dipakainya. Baju tidur berbentuk seperti terusan dan hanya sepanjang paha. Kainnya lembut dan sangat nyaman, tapi mungkin tidak akan membuat orang nyaman melihatnya memakai itu.
Cklek!!
Yasmin membuka pintu kamarnya dan langsung menatap kesal pada Bara. "Ada apa lagi sih, Pak? Aku habis mandi tahu! Heran bangat kenapa sih doyan bangat gangguin orang, nggak bisa bikin aku tenang sebentar saja, Pak ...."
"Sial!" umpat Bara membalas dengan tatapan kesal. "Kamu tuh yang tidak bisa membuat orang tidak bisa tenang!!"
Yasmin sontak mengerutkan dahinya bingung. Menatap Bara yang tiba-tiba gelisah. 'Kenapa lagi dosen rese ini?' batin Yasmin heran.
"Apalagi yang kamu tunggu, ayok!" Bara dengan tak sabaran dan tanpa bisa diduga tiba-tiba saja meraih dan menarik pergelangan tangan Yasmin dan memaksanya mengikutinya.
"Mau kemana?" Yasmin protes meski dia sendiri pun mengikutinya.
"Melakukan tugasmu sebagai istriku!" tegas Bara semakin tak sabaran menarik pergelangan tangan Yasmin.
Sontak saja membuat Yasmin syok dan langsung diam. Mereka berhenti tiba-tiba, lalu Bara menatap Yasmin dengan heran. "Apa? Kenapa lagi diam?!"
"Nggak-nggak! Aku nggak mau!" tutur Yasmin dengan gelisah dan tiba-tiba takut. Menyilang tangannya ke depan dada, lalu perempuan itu tiba-tiba tersadar dengan pakaian apa yang dikenakannya.
Yasmin horor sendiri dan meneguk ludahnya kasar, lalu menatap Bara yang rupanya menatap ke arahnya juga atau tepatnya pada aset berharganya sedang coba-coba pamer tanpa disadarinya itu.
"Apanya yang nggak. Pokoknya kamu harus mau, kamu istriku dan aku berhak mendapatkannya!" seru Bara kali ini tak hanya menariknya, tapi juga memanggulnya sampai membuat Yasmin kaget.
"Bapak, enggak! Aku nggak siap, aku nggak mau!!" jerit Yasmin sambil histeris.
Sayangnya Bara mana perduli itu, dia terlihat acuh atau mungkin sangat serius membawa Yasmin dengan pemaksaannya.
Brak!
Tanpa bisa dicegah, Yasmin sudah berakhir di kamar Bara dan tepatnya di atas tempat tidur empunya. Yasmin gugup bukan main, apalagi takutnya sudah di ubun-ubun.
"Tolong Pak, jangan lakukan ini! Jangan, aku mohon ...." Gadis itu terus geleng kepala dan mundur sampai ke sisi tempat tidur yang paling ujung dan dia tidak kemana-mana.
Bara masih tak terlihat mengampuninya, terus mendekat dan ... srak! Pria itu sudah membuka pakaiannya sendiri. Yasmin sontak saja membuang muka dan meneguk ludahnya kasar. Untuk akhirnya yang mengenaskan sebagai istrinya Bara, karena tak punya perlawanan lagi Yasmin memasrahkan dirinya.
Namun setelah beberapa detik memejamkan matanya, tak ada sesuatu yang terjadi. Yasmin masih bertahan sampai kemudian rasa penasaran membuatnya terpaksa membuka mata dan memeriksa keadaan.
"Apalagi yang kamu tunggu, cepat pijat bahuku! Sial! Gara-gara pemberontakanmu tadi, lenganku juga jadi kram karena menggendongmu. Dasar perempuan berat pasti kebanyakan dosa!" omel Bara yang terlihat sudah terlihat berbaring tengkurap tanpa baju atasannya.
Sementara Yasmin masih belum sepenuhnya mengerti dengan apa yang terjadi, mendadak bingung dan heran menatap Bara tanpa melakukan apapun.
"Yaampun, Yasmin! Kamu memang tidak tahu diri sekali jadi istri. Sudah pulang terlambat, disuruh pijitin masih saja menunda-nunda. Sebenarnya maumu apa sih, tubuhku benar-benar pegal tahu!" lanjut Bara membuat Yasmin akhirnya menurut.
'Jadi dia beneran cuma mau dipijat, tapi kenapa sampai seperti tadi ditambah harus buka baju?' batin Yasmin kebingungan.
'Sial. Padahal tinggal sejengkal lagi, kenapa akal sehatku malah muncul sih?!' geram Bara membatin dan sekarang karena sentuhan Yasmin dia terlihat lebih menahan diri.
"Pake tenaga Yasmin. Kalau kamu memijat seperti itu, bukannya pegal-pegalnya hilang, aku jadi--"
"Iya-iya, Pak!" seru Yasmin memotong kalimat Bara karena dia tak mau sampai mendengar kelanjutannya yang mungkin akan membahayakannya.
"Kamu udah makan belum?" Tiba-tiba saja Bara berbalik dan duduk menatap Yasmin, padahal belum selesai.
Yasmin tentu saja kaget dan spontan mundur, lalu menjaga jarak aman, namun kalau dipikir lagi bagaimana dia bisa aman, mereka di kamar dan masih di atas ranjang yang sama.
"Jawab Yasmin, jangan cuma diam saja. Bengong begitu kayak orang bodoh. Walaupun kamu ini memang beneran bodoh!" cibir Bara sambil mengalihkan pandangan dari sesuatu yang membuatnya resah sejak awal.
Sebenarnya dia sudah tak tahan. Pijatan Yasmin beneran terlalu meresahkannya dan Bara jadi dalam masalahnya sendiri.
"Gimana mau makan, baru pulang udah diomelin. Habis mandi sudah di seret ke sini buat mijitin Bapak!" jawab Yasmin menuntut.
"Itukan tugasmu sebagai istri. Resiko kalau udah nikah berarti kamu harus siap sedia melayani suami, dan aku pun bukankah sama, mencari uang, tapi kini aku harus juga memenuhi kebutuhanmu. Kamu tanggung jawabku Yasmin!" seru Bara yang terdengar aneh untuk mereka berdua.
"Sudah. Sana masak!" lanjut Bara.
❍ᴥ❍
Yasmin terlihat patuh, dia menurut dan kali ini melakukan pekerjaannya dengan ikhlas. Setelah ucapan Bara, Yasmin sedikit tersentuh sehingga dia memasak khusus menu yang dirasa disukai Bara.
"Kamu sudah selesai?"
Bara tiba-tiba datang ke meja makan dan terlihat menyesal. Awalnya Yasmin tak curiga, tapi saat menyadari pakaiannya berubah, Yasmin menatapnya heran.
"Iya, aku juga masak beberapa menu yang mungkin kamu suka Pak," jelas Yasmin mencoba berpikiran positif.
Bara menatap hidangannya, lalu menghela nafasnya kasar. "Kamu makanlah, aku harus keluar sekarang dan tidak usah menungguku pulang," ujar Bara langsung membuat Yasmin rasanya ingin marah, tapi dia hanya mengepalkan tangannya dan menahan diri.
"Tahu mau keluar untuk apa menyuruhku memasak?" tanya Yasmin kesal.
"Untuk kamu makan, memangnya kamu tidak lapar?" balas Bara tak mau disalahkan.
"Yah, tapi setidaknya beritahu, supaya aku tidak harus memasak sebanyak ini," protes Yasmin.
"Sudahlah. Hanya memasak, begitu saja kamu sudah mengeluh. Makananmu juga tidak akan rusak jika aku tak makan bukan?!" sarkas Bara tanpa hati.
Yasmin menghela nafas, lalu tanpa menjawab dia ke arah kulkas dan meneguk sesuatu yang bisa menjernihkan kepalanya. Sementara Bara setelah mengatakan demikian, dia sudah tak perduli lagi dan pergi begitu saja.
Ini bukan masalah masakannya bisa rusak jika Bara tak memakannya, namun kali ini karena omongan Bara yang mengakuinya sebagai tanggung jawabnya, Yasmin tersentuh sehingga dia memasak menggunakan hatinya dan sekarang apa gunanya semua itu.
Sekarang dia cuma bisa menatap hidangan yang sudah dimasak olehnya, tapi dia juga tak menyentuhnya. Kecewa membuat Yasmin tak berselera.
❍ᴥ❍
Bersambung