Secret Wife

Secret Wife
02 • Keputusan yang Sulit



Setelah berkutat dengan berbagai macam isi pikirannya, Yasmin akhirnya mengambil keputusan yang tegas pada dirinya sendiri. Ibunya ternyata sudah lama menderita dan terbebani dengan memenuhi biaya hidupnya, ditambah lagi selama ini biaya kuliah yang tidaklah murah. Yasmin jadi sangat merasa bersalah dan dia pun putuskan untuk mengorbankan masa depannya.


Berdiri di depan kaca, sembari menatap pantulannya di sana. Yasmin sekarang sudah memakai pakaian terbaik dan riasan untuk menyempurnakan penampilannya.


Pintu terbuka memunculkan Bunga dibaliknya. "Ibu tak menyangka kamu bisa menurut kali ini dan juga hm, anak gadis Ibu cantik juga."


Yasmin terdiam sejenak, sebelum kemudian mengulas senyum simpulnya. Dia sudah bertekat dan beranting tidak tahu dan juga nanti takkan memperlihatkan ketertekanannya.


"Cuma pakai baju begini dan pakai riasan. Itu nggak bikin Yasmin susah, apalagi ini adalah hobi Yasmin. Yaudah, kenapa engga, Bu," jawab Yasmin ceria.


Namun tiba-tiba saja Ibunya murung, dan Yasmin sadar alasannya kenapa, karena dia sudah mengetahuinya.


Menarik putrinya ke tempat tidur, duduk bersama di sana kemudian memberi tatapan yang serius.


"Dengarkan Ibu baik-baik kali ini Yasmin, dan sebelumnya Ibu minta maaf, Nak," ujar ibunya menatap Yasmin sendu. "Ibu tahu kamu mungkin akan sulit menerima ini dan juga akan marah pada Ibu, tapi ketahuilah Nak, Ibu juga sulit melakukan ini. Ibu tidak punya pilihan dan Ibu harap kamu mau merima perjodohannya!"


Yasmin meneguk ludahnya kasar, rasanya dia sakit hati mendengarnya langsung dari bibir ibunya. Namun Yasmin juga tak berdaya karena jelas-jelas dia sudah tahu alasannya.


"Perjodohan Bu?" tanya Yasmin mengulang kalimat terakhir ibunya.


"Iya, Nak. Ibu harap kamu mau dan menerimanya," jelas Bunga pada anaknya.


Yasmin mengangguk dan Bunga hampir tak percaya itu. Bagaimana mungkin Yasmin semudah itu bisa menyetujuinya.


"Yasudah, nggak apa sih, Bu. Asal laki-laki yang mau sama Yasmin itu baik, Yasmin nggak masalah. Lagian Yasmin juga belum punya pacar," jawab Yasmin dengan entengnya, tapi percayalah kalau dalam hatinya dia sangat berat menerimanya.


"Beneran Yas?" tanya Ibunya Bunga memastikan.


"Iyalah, Bu. Memangnya kenapa, tidak ada salahnya juga, dan Yasmin percaya kalau keputusan ibu yang terbaik," jawab gadis itu dengan lancarnya.


'Dan Yasmin harap setelah ini Ibu tidak perlu kepikiran lagi soal uang dan biaya hidup Yasmin yang selama ini menyusahkan Ibu. Ya, Tuhan. Apa yang sudah aku lakukan, aku pikir ibu hanya kolot karena selalu meremehkan orang yang berkuliah, tapi ternyata dia sangat terbebani dengan biayanya.


Dia tak pernah mengeluh soal keperluan dapur, uang jajan dan bahkan rumah ini yang ternyata pernah digadaikan bapak. Hidup ibuku sudah berat dan aku harap dengan ini aku bisa meringankan bebannya sedikit,' batin Yasmin penuh harap.


•••


Tak lama, orang yang ditunggu segera tiba, tapi sang pria yang akan dijodohkan dengan Yasmin sedikit terlambat, dikarnakan pria itu masih punya urusan.


"Tante senang mendengarnya, Yasmin anak yang baik dan mau menerima perjodohan ini," jelas Lidia sambil tersenyum senang.


Tak beda jauh dengan sang suami yang disisinya, dia bahkan terlihat lega. "Om juga senang, walaupun kamu belum bertemu dengan anak Om, kamu sudah dengan tegas menyetujuinya," jawab Himawan calon ayah mertuanya itu.


Bunga sendiri masih belum menyangka bagaimana bisa putrinya begitu mudah untuk setuju, padahal mendadak. Terhitung beberapa jam sebelum keluarga yang menjodohkan anak mereka dengan Yasmin tiba.


"Maaf, Aku terlambat!" interupsi seseorang membuat semua orang yang di sana segera menoleh.


Yasmin segera terkejut dan segera menundukkan kepala sambil meneguk ludahnya kasar. Dia takut sekarang, terlebih melihat pria yang datang itu bukan orang yang sangat asing, tapi dikenalinya sebagai dosennya sendiri. Pak Bara.


Tuti mendesah lega, melihat pilihan putrinya tak buruk. Walaupun demi bayar hutang, rupanya Bunga menjodohkan cucunya dengan orang yang tampang fisiknya patut diacungi jempol. Tak tahu bagaimana keperibadiannya, tapi Tuti harap laki-laki itu akan memperlakukan Yasmin dengan baik.


•••


"Jadi kamu yang dijodohkan dengan saya?" ujar Pak Bara dengan begitu formal, ketika mereka sekarang sedang berdua saja.


Diberi waktu agar berkenalan dan lebih dekat setelah makan. Saat ini mereka sedang diluar tepatnya di taman yang letaknya masih di kompleks yang sama dengan gang rumahnya Yasmin.


"Kenapa memangnya, Bapak tak suka?" jawab Yasmin menebak ke poin inti.


Sekarang lebih berat lagi bebannya, melihat siapa yang ternyata dijodohkan dengannya.


"Kau pikir memangnya apa? Batalkan perjodohan ini, dan katakan pada ibumu kalau kamu tak keberatan!" tegas Pak Bara dengan seenaknya.


"Kenapa bukan Bapak saja yang melakukannya?" balas Yasmin dengan sarkas. "Saya juga memang tak suka perjodohan ini, saya tak suka dengan Bapak, tapi sayapun tak berdaya melakukannya," jelas Yasmin beralasan.


"Kenapa? Apakah karena kamu tahu saya kaya dan banyak uang. Kamu jadi gelap mata untuk menerimanya?" tebak Pak Bara merendahkan.


Setelah melihat keadaan keluarga perempuan yang katanya akan dijodohkan dengannya, cuma berasal keluarga yang pas-pasan atau mungkin bisa dikatakan miskin. Pikiran terburuk Bara langsung keluar.


Dia tak menyangka hal itu dan sebelumnya dia pikir pernikahan cuma bisnis orang tuanya supaya lebih kaya, tapi kenyataannya bukanlah seperti itu.


"Dengar Yasmin, saya tidak bisa menikah dengan kamu, tapi sayapun tidak bisa menolaknya. Kau tahu kenapa? Itu karena saya tak mau keadaan ibu saya yang belakang ini memburuk akan lebih buruk lagi. Saya juga tak bisa melakukannya!" tegas Bara serius.


•••


Yasmin mengerutkan keningnya pusing. Setelah berbicara empat mata dengan serius. Nyatanya Yasmin tak bisa melakukan apapun. Dia bahkan sangat dilema malam ini. Sulit tidur dan juga gelisah.


"Huftt! Bagaiamana ini, aku tidak mungkin menikah dengan dosenku sendiri terlebih lagi itu si jahat Pak Bara. Ya, Tuhan. Kehidupan pernikahan ku nanti pasti akan seperti di neraka.


Akan tetapi kalau aku menolak, kasihan juga ibu dan bagaimana dengan nasib rumah ini. Kalau aku menolak orang tua Pak Bara pas marah dan bisa jadi akan menuntut balik uang mereka yang pernah dipinjam ibu untuk menebus rumah ini," ujar Yasmin tak bisa tenang sama sekali.


Nasibnya memang buruk sejak kecil. Ibunya cuma korban penipuan ayahnya di masa lalu. Dulu ayahnya yang bernama Arman menikahi ibunya dalam keadaan sudah punya istri, tapi ibunya Bunga belum tahu kenyataan itu.


Sampai kemudian ibunya bunga menaruh curiga, dia pikir dialah yang sudah diselingkuhin, tapi ternyata dialah selingkuhnya.


Tak terelakkan setelah busuknya ayahnya Arman terbongkar, orang tuanya itupun bercerai. Sayangnya Yasmin sudah lahir saat itu berumur sekitar sembilan tahun dan lebih buruk lagi serta baru saja Yasmin ketahui, ternyata diam-diam ayahnya yang kejam itu juga sudah menggadaikan rumah entah untuk apa.


Namun apapun itu, sudah jelas Bunga ibunyalah yang paling menderita.


•••


TBC