
Meskipun sakit, Bara benar-benar menyebalkan. Dia menjengkelkan sekaligus membuat Yasmin kesusahan. Sampai hal itu membuat Yasmin merasa merawat Bara seperti ujian kesabaran terberat untuknya.
"Selimutnya terlalu panas!" keluh Bara dengan wajah sendunya, tapi kemudian dia seperti bertenaga melemparkan selimutnya ke lantai.
Yasmin mendesah kasar, lalu memutar kedua bola matanya karena jengkel. "Kalau nggak suka bilang aja, nggak usah dibuang, Pak?!"
"Emang beneran panas kok!" jawab Bara ketus.
Yasmin tak menjawab lagi, melainkan segera membereskan selimutnya. Kemudian dia kembali sofa setelah meletakkan selimutnya di keranjang cucian.
Namun baru saja beberapa menit duduk di sana dan memainkan ponsel, Bara kembali memanggilnya. "Yasmin, aku kedinginan!"
Membuang nafasnya dengan kasar, Yasmin memaksakan diri untuk bangkit dan menghampiri keranjang cucian.
"Jangan gila, aku tak mau memakai selimut kotor!" peringat Bara, membuat Yasmin kembali memutar bola matanya kesal.
Namun walaupun begitu, dia tetap menurut dan berbalik menuju lemari pakaian Bara. Lalu mengambil selimut lain untuk diberikan pada suaminya itu.
"Tidak mau yang ini. Terlalu tebal dan tidak lembut. Aku sedang sakit, kamu pikir aku bisa baik-baik saja memakainya?" ujar Bara menolak.
"Ya ampun, Pak. Mau pakai selimut aja kenapa harus pilih-pilih sih?!" ujar Yasmin menahan kesalnya.
"Kalau bisa memilih, kenapa tidak?" jawab Bara dengan tanpa dosa.
Mengepalkan tangan, Yasmin mendesah kasar kemudian kembali mengambil selimut yang baru lainnya.
"Tidak mau, warnanya terlalu ngejreng bikin sakit mata!" tolak Bara.
Mengambil yang lain dan selimut yang dikeluarkan Yasmin kembali di tolak. "Itu terlalu tipis. Tidak akan cukup menghangatkanku!"
"Astaga Pak, terus kamu maunya yang bagaimana sih. Tolong jangan mengada-ada deh. Bapak ngeselin tahu!" keluh Yasmin mengeluarkan uneg-unegnya. "Lihatlah sudah berapa selimut yang aku keluarkan. Semuanya! Apa Bapak berpikir aku harus membeli selimut baru sekarang juga?!" tanya Yasmin diakhir kalimatnya.
Maksudnya untuk menyindir Bara, tapi kemudian pria itu malah mengangguk setuju. "Iya. Belikan yang bagus, bahannya lembut dan berbulu. Tidak tebal ataupun tipis, tapi harus lebar!"
"Bapak nyebelin!!" ketus Yasmin mengatai Bara.
Namun seorang Bara mana mungkin perduli itu. "Pergilah dan belilah selimut yang kumaksud. Kamu ambil uangnya di dompetku!" perintah Bara dengan tak mau dibantah.
"Ini sudah malam. Bapak pakai selimut yang ada saja, ya ...." Yasmin menurunkan nada suaranya dan kali ini mencoba peruntungan dengan membujuk Bara.
"Tidak. Aku sedang sakit Yasmin dan aku tidak bisa menunggu lama. Cepatlah, aku sudah sangat kedinginan!!" perintah Bara.
Yasmin meraih dompet pria itu, mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan rupiah. Namun kemudian saat sudah di luar rumah, dia teringat dengan selimut yang dia miliki. Sehingga bukannya pergi ke toko yang menjual selimut, Yasmin malah jajan dan membeli makanan pereda stress. Dia makan mie ayam dengan level pedas yang lumayan dan berhasil membuat bibirnya memerah juga sedikit membengkak.
Dia pulang setelah puas dan langsung ke kamarnya mengambil selimut di atas ranjangnya. Lantas membawanya dan menyerahkannya pada Bara. Akan tetapi bukannya menerima selimut, Bara malah menarik tangannya.
"Ughhh, mmm ...." Bara membungkamnya tanpa aba-aba. Hanya sesaat, sebelum kemudian melepaskannya.
"Kamu makan apa sih, kenapa rasanya pedas? Kamu sengaja ya, mau mengerjai aku?!" omel Bara galak.
Yasmin yang mengatur nafas, dan bahkan belum selesai mencerna apa yang barusan terjadi, langsung melotot terkejut dengan ucapannya. "Sudah sakit, masih saja me-sum! Dengar ya, Pak Bara. Aku masih gadis, jadi jangan macam-macam sama aku. Aku dan tubuhku hanya milik suamiku!" tegas Yasmin tak terima.
"Lama-lama aku cabein juga mulut, Bapak!" galak Yasmin berkata ketus.
"Kamu kan sudah melakukannya barusan. Dasar istri stress. Sudah sana, ambilkan buah untukku. Kamu tahu perbuatanmu membuat bibirku terasa panas dan sedikit kebas. Sial, aku jadi menyesal. Tahu begitu kamu cuma mau menjebakku, aku tadi pasti menahan diri!"
"Gila! Dasar Pak Bara gila. Aku tidak minta kamu gituin dan aku tidak sudi! Kamu sendiri yang salah, rasain makanya jangan me-sum terus!!"
"Nggak usah omong terus, cepat sana ambilkan buahnya!" tegas Bara dengan penuh perintah.
Yasmin membuang nafasnya kasar lalu ke dapur. Mengambil apel dan mengupasnya. Namun ingatan tentang apa yang spontan Bara lakukan tiba-tiba saja membuatnya berdebar dan membeku. Sial, kenapa efeknya terasa di saat yang tidak tepat.
"Tidak-tidak! Lupakan itu Yasmin dan mulai sekarang harus waspada, Pak Bara sudah menunjukkan taringnya. Jangan sampai aku diapa-apakan. Ngeri ah, kalau itu terjadi. Mana Pak Bara belum moveon lagi, dia bisa membuangku jika bosan lalu menikah dengan janda kesayangannya!"
Yasmin tak fokus dan terus melamun sambil terus mengupas buahnya. "Ah, tapi bagaimanapun juga kami sudah menikah dan walau bagaimanapun juga aku tak rela di selingkuhi. Aku nggak mau Pak Bara sama janda itu, walau hubungan diantara kami cuma suami istri di atas kertas. Nggak maulah!" tegas Yasmin pada dirinya sendiri.
Lalu karena serius dengan kegiatannya, Yasmin tanpa sadar mengiris tangannya. "Arrrggghhh! Sial. Jariku keiris!"
Gadis itu sambil menahan sakit langsung berlari dan mencuci lukanya ke wastafel. "Sssttt ... perih juga rasanya!"
Tak bisa melanjutkan kegiatannya, Yasmin terpaksa mengambil buah baru dan membawanya pada Bara tanpa di kupas atau dipotong, sebab tak mungkin lagi memberikan buah yang sudah terkena darahnya.
"Maaf, aku hanya bisa memberikan buah ini tanpa dikupas lebih dahulu. Bapak bisa makan apelnya langsungkan, aku sudah mencucinya kok!" jelas Yasmin sedikit merasa bersalah.
"Tidak. Aku mau makan buah yang dikupas, ayo cepatlah kupas sekarang!" ujar Bara menolak.
Yasmin geleng kepala lalu menunjukkan lukanya yang cukup menganga dan belum ditutup pembalut luka. Bahkan belum diobati sama sekali.
"Kenapa bisa begitu, apa kamu bodoh sampai memotong jarimu sendiri. Cepat ambil kotak obat dan bawa kemari!" ujar Bara setengah membentak.
Namun saat Yasmin menurut dan melakukan perintahnya, Bara segera menarik gadis itu duduk disebelahnya lalu mengobati lukanya. "Ini pasti sakit, ya. Kamu sih, kenapa bisa ceroboh Yasmin?"
Bara mengangkat kepalanya menatap Yasmin, dan di saat yang sama ternyata Yasmin pun melakukan hal yang sama. Mereka saling bertatapan. Sangat intens lalu tanpa sadar keduanya hilang dalam pandangan masing-masing.
Jarak diantara keduanya semakin menghilang dan tak tersisa lagi. Untuk kedua kalinya, dan saat ini bukan hanya Bara yang hilang akal, tapi Yasmin. Mereka tidak berhenti sampai kemudian nafas diantara keduanya habis.
Bara melepaskan Yasmin, tapi tidak memutus tatapan diantara mereka. Akan tetapi setelah mendapatkan nafasnya, kewarasan Yasmin kembali.
"Ba--apa yang sudah kamu lakukan padaku, Pak Bara?!"
Tidak langsung menjawab, Bara malah tersenyum lalu dengan santainya mengusap bibir Yasmin yang baru saja dia rasakan.
"Bukan aku, tapi kita!"
Mendengar itu Yasmin langsung membulatkan matanya hampir sempurna dan secara spontan pipinya memerah. Belum habis perasaan Yasmin yang seolah terombang-ambing setelah yang terjadi. Bara kembali berbicara dan membuatnya lebih tak karuan.
"Sebenarnya aku tidak suka pedas, tapi karena itu kamu, maka aku bahkan jadi tidak mau rasa lain!" ujar Bara dengan wajah tanpa dosanya.
❍ᴥ❍
Bersambung