
Yasmin segera bangkit dengan tubuh yang kaku, karena barusan syok akibat terjatuh. Matanya masih membulat dan nafasnya tak beraturan. Apalagi dia merasakan deru nafas tak biasa oleh Bara yang menerpa kulitnya.
"Menyingkir!!"
"Lepas!!"
Bara dan Yasmin berkata bersamaan, tapi tindakan mereka berlawanan. Yasmin sudah hampir bangkit, akan tetapi Bara dengan aneh malah menahannya.
"Cepatlah menyingkir dari atasku, Yasmin! Kau pikir tubuhmu ringan?!" bentak Bara dengan kasar.
Yasmin mengepalkan tangannya dan tanpa babibu langsung memukul tangan Bara yang sudah melingkar di pinggang Yasmin untuk menahannya. Sepertinya telah terjadi sesuatu dengan pria itu, sampai bicara berlawanan dengan apa yang dilakukannya dan sorot matanya yang tiba-tiba aneh menjelaskan segalanya.
"Kau benar-benar gila gadis brengsek!!" umpat Bara dengan entah apa maksudnya.
"Aku tidak perduli. Lepaskan aku sekarang Pak Bara!!" ucap Yasmin serius.
"Kau yang sudah menggodaku. Di saat aku memintamu menyingkir, kau bersikeras terus di sini. Jadi sekarang kau harus tanggung jawab!!" seru Bara dengan gerakan yang membuat Yasmin lebih syok lagi.
"Nggak, aku nggak pernah menggoda Bapak. Lepas nggak, atau ak--"
"Kau mau apa, hm ... Kau sudah merayuku, dan seharusnya kau senang karena berhasil melakukan itu, karena aku sudah tergoda!" jelas Bara membuat Yasmin semakin geleng-geleng kepala.
Perasaan gadis itu resah gelisah serta tak bisa tenang walau sesaat. Dalam keadaan yang terdesak dia berusaha untuk berpikir keras, karena sungguh Yasmin tak mau terjadi sesuatu yang buruk kepadanya.
"Aaarrggh!!"
Tiba-tiba Bara menjerit karena kesakitan, sementara Yasmin tak buang kesempatan segera melepaskan diri dari Bara.
"Kau benar-benar perempuan sialan! Setelah menggodaku kau beraninya melakukan kekerasan kepadaku. Dasar perempuan sialan!!" geram Bara menatap tajam Yasmin yang kini sudah dalam jarak aman cukup jauh dari jangkauannya.
"Bapak yang sialan. Dasar mesum, berani sekali macam-macam padaku. Dengar ya, Pak Bara Adiwiryawan jangan coba-coba untuk melakukan hal tadi kepadaku lagi, atau lain kali bukan hanya tanganmu yang aku gigit tapi--" Yasmin melanjutkan dengan memperagakan seolah dia sedang menggorok leher seseorang.
"Cih, kau terlalu percaya diri! Andai aku tidak khilaf karena godaanmu, kau pikir aku juga mau menyentuhmu. Kau tidak semenarik itu, Yasmin!!" tegas Bara mengejek, tapi sepertinya ucapannya tak benar-benar sungguh-sungguh.
Setelah Yasmin pergi dan meninggalkan Bara sendirian, kepala pria itu segera merasakan pusing luar biasa dan kepanasan di saat yang bersamaan. Dia tak bisa melupakan kejadian yang barusan terjadi dan itu sangat mengganggunya.
"Ini semua pasti karena Helena selalu menolakku dan Yasmin ... aaarrggh, dia istriku tapi sepertinya status kami tak ada gunanya!" rutuk Bara frustasi.
Tak mau lebih stress lagi, kali ini Bara melampiaskannya ke pekerjaan. Dia berusaha menyibukkan diri dan melupakan segalanya.
❍ᴥ❍
Hari berikutnya meski kejadian insiden mengenaskan dirinya sudah tak membuat Bara terlalu kepikiran, tapi dia rupanya mendendam. Dia tak melepaskan Yasmin, meskipun dirinya sendirilah yang keterlaluan. Di kampus pria itu selalu mencari celah, untuk mempermalukan Yasmin.
Namun perempuan yang sudah jadi istrinya itu, tak sekalipun melakukan gelagat yang bisa digunakan untuk menjatuhkannya.
'Sialan. Perempuan itu pasti sengaja tidak membuat onar hari ini, karena tahu aku akan mempermalukannya. Ah, tapi baiklah, aku tidak akan membiarkanmu Yasmin!!" ujar Bara membatin dengan serius.
"Yasmin!"
"Ya, Pak."
"Tolong bawakan semua ini dan taruh di ruanganku!" tegas Bara.
"Baik Pak," jawab Yasmin menurut.
"Belikan aku makan siang dan tolong carikan aku buku di perpustakaan untuk bahan ajarku di anak semester empat!" tegas Bara ketika keduanya kini sudah di ruang dosen Bara dan Yasmin sudah meletakkan beberapa barang Bara yang tadi dibawanya di atas meja yang ada di sana.
"Saya bukan asisten Bapak!" jawab Yasmin menolak halus dan mengingatkan Bara.
"Jadi kamu menolaknya?" tanya Bara dengan tatapan penuh intimidasi.
"Tapi Pak--"
"Jangan lupa alasan kita menikah dan kau menjadi istriku untuk apa!" ujar Bara memotong kalimat Yasmin.
Tidak bisa mempermalukan, maka baiklah Bara bisa memanfaatkannya. Sementara Yasmin segera menghela nafas, dia memang tak bisa berdaya jika sudah begitu. Hutang ibunya yang mana mungkin bisa dibayarkan olehnya sekarang ataupun bahkan kedepannya, sebab itu terlalu banyak.
"Ini bukunya dan makan siangnya, Pak," ujar Yasmin begitu dia kembali setelah melaksanakan perintah Bara.
Akan tetapi bukannya berterima kasih, Bara malah menatapnya sinis. Sebelum kemudian dengan tanpa hatinya memakan makan siangnya dan tak memperdulikan Yasmin.
"Jangan kemana-mana sebelum membereskan semua ini Yasmin!" ultimatum Bara ketika Yasmin hendak pamit keluar.
Baiklah, Yasmin kembali pasrah dan menurut. Dia yang lelah berdiri pun duduk di sofa yang ada di sana.
"Siapa yang bilang kamu sudah boleh duduk?!" ujar Bara mencibir.
Yasmin menghela nafasnya kasar, lalu memutar bola matanya karena kesal. "Tapi nggak ada yang bilang kalau aku harus terus berdiri," jawabnya berani.
"Berdiri di sana, hadap sini dan terus perhatikan aku!" perintah Bara dengan segera.
'Sial. Dia bukan artis, tapi aaarrggh, kenapa begitu menyebalkan sekali. Oh, tapi baiklah, kita lihat saja Pak Bara, sampai berapa lama kamu tahan aku lihatin!' batin Yasmin menjerit kesal.
Alih-alih menatapnya dengan seksama, Yasmin menatap Bara yang sedang makan siang dengan tatapan sinis dan penuh kegeraman. Tentu saja hal itu mengganggu Bara dan dia tak suka.
"Berhenti melakukan itu dan duduklah di sana. Tunggu aku selesai dan setelahnya bantu aku memeriksa tugas mahasiswa!" seru Bara.
Namun dia benar-benar tak berhenti di sana. Dia terus memerintah Yasmin, bahkan keterlaluannya pria itu melupakan kalau perempuan yang tengah bersamanya belum makan siang. Dengan kejam diapun tak peduli, berbicara lewat telepon dengan Helena pacarnya dihadapan Yasmin.
"Baiklah, Honey ... apapun untukmu dan Gina!" seru Bara dengan manis.
Beda sekali ketika bicara dengan Yasmin. Pria itu jangankan bicara lembut, bicara dengan nada normal tanpa membentak, rasanya hampir sangat jarang.
"Tidak masalahkan, kalau Gina sampai besok sama kamu, Bar?"
"Tidak Helena. Bagaimanapun juga dia anak kamu dan kalau kita sudah bersama akan jadi anak kita juga," jawab Bara tanpa keberatan.
Ternyata Helena akan pergi keluar kota selama dua hari, dan karena Gina anaknya tak bisa dibawa ikut, maka dia menitipkannya pada Bara, selama dua hari juga atau lebih.
"Baiklah kalau begitu aku, akan menghubungi mu lagi, jika aku sudah selesai berberes dan akan mengantar Gina ke tempatmu," jelas Helena dan Bara setuju saja.
Saat mereka sudah selesai bicara, Bara menemukan Yasmin yang memang belum dia perbolehkan pergi, sedang menatapnya tajam dan kali ini kebencian. Tidak perlu rasa untuk marah, saat Bara tega bicara dengan perempuan lain dihadapannya dengan mesra, tentu saja Yasmin merasa terhina walaupun dia tak cinta.
"Jangan menatapku seperti itu. Kita memang suami dan istri, tapi bukan berarti kau berhak mencampuri urusanku!!"
❍ᴥ❍
Bersambung