
Yasmin sudah kembali ke ruang tengah. Walaupun awalnya dia cukup berselera dengan jajanan anak SD yang dibelinya, tapi sekarang bukan itu yang menjadi pusat perhatiannya. Yasmin bahkan tak perduli jika saat ini Gina bersemangat menghabiskannya sendiri.
'Ribuan hari aku selalu bermimpi mendapatkan uang sebanyak ini, lalu menabung untuk mewujudkannya. Namun, sampai beberapa menit lalu aku tidak bisa, tapi sekarang aku benar-benar memilikinya,' batin Yasmin sambil menatap pemberitahuan isi saldo di m-banking di HP-nya.
"Tante."
"Hm ...."
"Yang bulat-bulat pedas enak ini buat Gina, ya?"
Yasmin menoleh sekejap, melihat bakso yang ditusuk dan pakai saos kacang yang sebenarnya sangat menggiurkan itu menjadi incaran Gina. Yasmin tertarik, tapi saat teringat isi saldonya dia seolah lupa dalam sekejap pada ketertarikannya itu.
"Ya. Habiskan saja," jawab Yasmin tanpa ragu.
"Benarkah, Tan?"
"Hm," dehem Yasmin mengiyakan.
'Biarlah untuk bocah rese itu, toh dengan lima puluh juta aku bisa beli apa saja!' seru Yasmin membatin senang.
Tak bisa menahan diri Yasmin bahkan mencium HP-nya lalu memeluknya, sangking bahagianya bisa mempunyai uang sebanyak itu. Akan tetapi beberapa saat kemudian kantuk mulai menyerangnya dan tanpa sadar Yasmin malah ketiduran di sana.
"YASMIN!!"
Deg! Yasmin yang sudah terpejam tiba-tiba membuka matanya dan terkejut. Berusaha keras mengumpulkan kesadaran yang sempat hilang terbawa tidur.
"Dipanggil dari tadi, oh ternyata kamu enak-enakan tidur di sini. Di mana Gina?!" tuntut Bara tiba-tiba sudah menjulang tinggi dihadapannya. Pria itu berdiri, melipat tangannya, sambil menatap tajam Yasmin.
"Loh kok, Bapak sudah pulang. Cepat sekali?" ujar Yasmin bertanya sambil menatap Bara dengan heran.
"Cepat katamu?!" bentak Bara dengan geram. "Coba kamu tatap jam yang ada di sana. Sudah pukul berapa sekarang?!"
Yasmin menoleh dan menemukan arah jarum pendek dan tebal pada angka enam, sementara jarum jam yang lebih panjang di angka dua belas. Masih tidak yakin dengan waktu yang ditunjukkan jam, Yasmin duduk dan menoleh menatap ke arah jendela untuk memastikan waktu.
"Loh, kok udah sore bangat Pak?" tanya Yasmin bingung.
"Memang sudah sore, kamu pikir masih siang, hah?!" ketus Bara mencibir dan Yasmin mengangguk dengan polosnya membuat Bara semakin naik pitam.
"Sial!" umpat Bara marah. "Jangan bilang kamu ketiduran sejak siang?!" Sayangnya Yasmin malah kembali menganggukkan kepalanya. Kepala Bara saat itu juga ingin meledak dan juga ingin menghabisi Yasmin saat itu juga.
Namun, mengingat Gina yang masih belum dia lihat sejak pulang, Bara pun mengurungkan niat. Dia harus menahan diri karena sekarang dia harus mencari Gina.
"Mau kemana, Pak?" tanya Yasmin dengan berani.
"Brengsek! Kamu masih berani bertanya setelah kelakuan burukmu, hah?!" Bara berbalik dan kembali menatap Yasmin dengan tajam.
"Gina tidak terlihat Gadis Sialan dan itu semua karena kerjamu tidur terus!!" bentak Bara.
Yasmin tersentak mundur, menoleh ke sekitar lalu tak menemukan siapapun di sana. Yasmin pun menyesal dan segera merasa bersalah.
"Kamu memang gadis matre yang tidak tahu diri. Setelah aku membayarmu untuk menjaga Gina ini yang kau lakukan. Menelantarkannya begitu saja?!" ungkap Bara dengan tak percaya.
Untuk pertama kalinya, Yasmin setuju dengan ucapan Bara. Dia yang salah dan ceroboh sampai-sampai sekarang Gina tiba-tiba saja hilang.
"Maaf. Ak-aku tidak bermaksud melakukannya," ujar Yasmin tulus.
Bara mengepalkan telapak tangannya erat, lalu meninju udara sangking geramnya. "Aku tidak butuh permintaan maafmu, karena sekarang yang aku butuhkan adalah keselamatan Gina!!"
Selanjutnya mereka pun mencari ke berbagai tempat, tapi tak menemukannya di mana pun. Hal itu membuat Bara semakin marah dan semakin habis-habisan memarahi Yasmin.
"Gadis bodoh sepertimu memang tak pantas dipercaya. Aku menyesal sudah meminta bantuanmu atau bahkan membayarmu dengan sejumlah uang, tapi hasil yang aku dapatkan hanya omong kosong. Awas saja jika Gina sampai kenapa-napa, aku tidak akan mengampunimu!!" bentak Bara.
"Ak-aku--"
"Diam!!" potong Bara menaikkan nada suaranya. "Jangan bicara, karena aku tak butuh penjelasan dari mulutmu. Lebih baik temukan Gina secepatnya atau aku benar-benar tidak akan mengampunimu!!"
Yasmin tak berani menjawab, sejak tadi di omeli dan dimarahi membuat keberaniannya hilang. Perlahan dia mundur, tak mau mengikuti Bara, karena tak mau terus-terusan dibentak.
Yasmin tahu ini akibat kelalaiannya, tapi bagaimanapun juga dia tak sadar melakukannya atau tak sengaja. Namun, haruskah dia bentak dan diperlakukan demikian. Rasanya dia jadi menyesal menerima uang lima puluh jutanya.
Sementara itu, Bara sudah berjalan menjauh mencari Gina ke sisi yang lain. Yasmin masih mencari, tapi kini dia mencari ke arah yang berlawanan. Berharap segera menemukan Gina dan anak itu baik-baik saja.
"Hoam!!"
Tiba-tiba Gina muncul dari balik pintu kamarnya sendiri. Gadis kecil itu mengerutkan dahi dan menatap Yasmin dengan tatapan heran.
"Tante kenapa nangis?" tanya Gina polos dengan muka khas baru bangun tidur.
"Kamu darimana saja, Gina?!" tanya Yasmin yang malah khawatir dan tak menjawab pertanyaan Gina. Dia bahkan tak sadar memang sudah menangis karena dibentak terus dan juga khawatir.
"Gina tidak kemana-mana, Tan. Gina cuma tidur di kamar Gina," jawab Gina menjelaskan.
Yasmin menghela nafas, lalu menyadari kesalahannya dengan Bara. Mereka karena terlalu cemas, tak berpikir waras dan langsung mencari Gina ke seluruh tempat, tapi kamar anak itu sendiri mereka lupa.
"Astaga, Sayang. Kamu dari mana saja?" tanya Bara tiba-tiba berjalan ke arah mereka. Menarik Gina paksa dari Yasmin lalu memeluknya.
"Gina dari kamar habis tidak, Om, tapi gara-gara suara, Om dan Tante yang berisik Gina jadi kebangun," jelas Gina adanya.
"Tapi Om sudah ke sana tadi, Gin. Om tidak melihatmu di tempat tidur?"
Ah, ternyata sebelum menuntut Yasmin, Bara sudah lebih dahulu memastikan keberadaan Yasmin dan itulah kenapa dia bisa marah, karena ternyata tak menemukan Gina di kamarnya.
"Gina tidur di lantai Om soalnya panas," jawab Gina.
"Astaga, padahal kamu bisa minta Tante Yasmin untuk mengatur pendingin udara di kamarmu?!"
Gina mengangguki ucapan Bara. "Gina juga mau melakukan itu, tapi Tante Yasmin sedang tidur, jadi Gina tak berani membangunkan," jawab Gina lagi.
"Kenapa tidak berani?" tanya Bara penasaran.
"Mama kalau tidur, Gina bangunkan saat sedang tidur suka marah-marah dan Gina tak mau dimarahi," beritahu Gina.
Sementara itu, Yasmin yang sudah sadar kalau dirinya menangis, menghapus air matanya dan masih di sana.
"Gina sudah ketemu bukan dan dia baik-baik saja, tap-tapi walaupun begitu aku akan mengembalikan uang Bapak, jadi kirim saja nomor rekeningnya," ujar Yasmin menyela.
"Kamu bisa pergi tidak? Lakukan saja yang lain dan berhenti membuatku pusing!" cibir Bara sambil melirik Yasmin sinis.
Namun, Yasmin pun mengangguk dan melakukannya. Dia dengan perasaan yang masih tak karuan meski mereka sudah menemukan Gina, pun berbalik dan tak mau mengganggu waktu keduanya.
❍ᴥ❍
TBC