
Bara merasa pusing karena hasratnya tak tersampaikan. Sebagai seorang pria dewasa, tentu saja itu sangat sulit, apalagi dia mempunyai pacar seksi seperti Helena. Janda dengan satu anak itu sungguh menggoda, pakaiannya selalu terbuka sekaligus kurang bahan, tapi di saat yang sama dia tak bisa disentuh entah mengapa.
"Sial. Andai saja Helena tidak trauma, mungkin aku akan membuatnya hamil saja. Dengan begitu aku rasa Mama dan Papa tidak akan melarang kami menikah, tapi sialnya memang tidak semudah itu. Aku bahkan sekarang terjebak menikah dengan mahasiswiku sendiri!" rutuk Bara kesal.
"Tapi gadis itu juga tidak kalah dengan jandamu yang cukup menggoda Bara," ujar Rafandi sahabatnya.
Dia menemui Rafandi setelah memastikan Helena baik-baik saja, dan mereka saat ini sedang di kantor sahabatnya itu, atau tepatnya di ruang kerja pribadi Rafandi.
"Tahu apa kamu soal Yasmin?!" tanya Bara kesal.
"Tidak tahu apa-apa dan aku tidak mengenalnya sama sekali, jika seandainya kalian tak menikah. Hanya saja, Bro. Aku ada di sana saat kalian menikah dan melihat istrimu. Dia sungguh cantik dengan bodynya yang tak kalah dengan janda kesayangan mu itu. Om Himawan dan Tante Lidia sungguh pintar mencarikanmu istri," jawab Rafandi mengungkapkan.
"Kamu benar, tapi sayangnya aku tidak mencintainya dan paling buruk dia mahasiswiku sendiri!" jawab Bara serius.
"Astaga Bara! Kamu ini bodoh atau bagaimana? Menikmati seseorang tidak butuh cinta dan tidak usah bahas soal status. Beberapa waktu lalu kamu bahkan pernah mencium mahasiswimu sendiri tanpa melihat status!" seru Rafandi mengingatkan.
"Itu tidak sengaja dan aku sedang tidak sadar. Ayolah, Aku mabuk saat itu dan tidak berpikir dengan waras. Lagipula aku tak tahu dia mahasiswiku sendiri, dan bahkan aku tidak ingat wajahnya sendiri" jelas Bara, tiba-tiba membuat Rafandi menyeringai aneh.
"Kamu yakin?"
"Ya, kamu pikir memangnya aku laki-laki apaan?!" sarkas Bara.
"Tapi aku ingat siapa perempuan itu," jawab Rafandi.
"Cih, jangan asal kamu?!"
"Aku di sana saat kamu mabuk dan seandainya aku tak menghentikanmu mungkin kamu akan melakukan hal yang lebih daripada itu!!" seru Rafandi menjelaskan.
Bara menatapnya serius. "Katakan siapa dia?"
"Lupakan saja. Aku sedang tidak mood memberitahunya sekarang," jawab Rafandi sambil berdiri dan bangkit dari sana.
Pria itu ke arah kulkas mini yang ada di dalam ruangannya, kemudian meraih kalengan minuman yang ada di sana.
"Kau benar-benar bedebah. Beraninya mempermainkan aku!" umpat Bara kesal.
Rafandi mengangkat bahunya acuh. "Sebenarnya aku mungkin mood mengatakannya sekarang, jika seandainya kamu merelakan mobil kesayanganmu untukku," tawar Rafandi membuat Bara membuang nafasnya kasar.
"Cih, lebih baik aku melupakan itu. Lagipula perempuan itu tak begitu penting bagiku ataupun ciumannya. Ch, kalau benar dia mahasiswaku, dan kami tak sengaja pas-pasan dijalan, dia pasti segan padaku," jawab Bara ketus.
"Terserah saja, tapi suatu saat nanti kamu pasti menyesal karena tak mengetahuinya karena perempuan itu sangat spesial!" pancing Rafandi.
Bara membulatkan matanya kesal. Dia sudah tak perduli lagi tentang hal itu. "Helena lebih penting dari apapun."
"Kau sungguh terbutakan janda kesayanganmu itu ternyata!" jelas Rafandi tak habis pikir.
"Terserah saja," jawab Bara acuh.
• • •
Yasmin sedang mengepel lantai saat Bara kembali. Tatapan keduanya bertemu, sampai kemudian Yasmin yang lebih dahulu memalingkan wajahnya.
"Ternyata kamu penurut juga. Baguslah. Tak sia-sia aku menikah. Seenggaknya dapat pembantu gratis!" seru Bara dengan seenaknya.
Yasmin menggigit bibir bawahnya sendiri, menahan diri dan mencoba bersabar. Yasmin pikir tak ada gunanya juga berdebat dengan Bara.
Namun tentu saja, Bara merasa kesal karena diabaikan. Dia lanjut dan lebih memancing emosi mahasiswi sekaligus istrinya itu. "Kamarku sudah bersih kan? Jangan lupa pakaianku yang ada di lemari, sudah kamu cuci dan kamu setrika kembali?!"
"Hm," jawab Yasmin malas.
"Baguslah. Kalau begitu buatkan aku teh. Jangan yang terlalu manis atau hambar," lanjut Bara.
Yasmin menghela nafas, berhenti dengan kegiatannya kemudian menatap Bara dengan kesabarannya yang tersisa. "Aku masih harus mengepel lantainya Pak Bara. Apa kamu tidak lihat?!" tanya Yasmin serius meminta pengertian.
Membuang nafasnya kasar. Yasmin pun berhenti melakukan pekerjaannya, kemudian ke dapur dsn melakukan perintah Bara.
"Aku mau teh yang ada perasan lemonnya!" keluh Bara ketika Yasmin sudah membawakan minumannya dan sudah meminumnya sedikit.
"Tadi Bapak nggak bilang?!" protes Yasmin.
"Aku sudah bilang kok, kamu saja yang tidak dengar!" balas Bara tak mau kalah.
"Mana ada itu. Aku tidak mendengarkan apapun!" lanjut Yasmin terus protes.
"Ada!" tegas Bara dengan serius. Membuat Yasmin menghela nafas sambil kemudian menggigit bibir bawahnya untuk menahan diri.
'Sial. Apa yang gadis ini lakukan, kenapa dia menggigit bibirnya ssndiri?!' geram Bara yang langsung merasakan sensasi aneh ketika Yasmin mengigit bibirnya sendiri.
"Nggak!"
"Aku bilang dalam hati, Yasmin. Kamu saja yang tak peka. Baru juga minuman, kamu sudah tak tahu apa yang suamimu inginkan!"
Mendengar itu Yasmin membulatkan matanya tak habis pikir. "Yaampun, Pak Bara. Sebelumnya kita itu tidak kenal dan aku hanya tahu kamu dosenku. Yaiyalah, masa aku tahu apa kesukaanmu? Apalagi sampai tahu isi pikiran?! Emangnya aku cenayang apa?!" sarkas Yasmin.
Namun bukan Bara namanya jika mau mengalah. "Cih! Sudahlah. Berhenti mendebatku dan lebih baik sekarang pergi ambilkan perasan jeruk lemonnya!" tegas Bara yang anehnya malah ikut kesal juga.
Yasmin mengepalkan tangan, sungguh kesal dengan hal itu, tapi kemudian diapun menurut saja. Pergi mengambil air perasan jeruk lemon dan menyerahkannya pada Bara.
Setelahnya tak terjadi apapun lagi, selain Yasmin yang kembali melanjutkan pekerjaannya dan Bara yang menontonnya melakukan itu.
'Walaupun menyebalkan, tapi gadis ini penurut juga,' batin Bara.
• • •
Bara bangkit dari tempat nyamannya di sofa, tempat dimana dia duduk sambil menikmati teh lemonnya. Ide jahil terbersit dalam kepalanya, dan entah mengapa dia ingin sekali mengerjai Yasmin. Berjalan dan bergerak melewati lantai yang barusan Yasmin pel. Bara bermaksud untuk mengotorinya.
Hal itu berhasil dan membuat Yasmin melotot. "Pak Bara! Apa-apaan sih, aku udah cap--"
Brak!!
"Sial!!" umpat Bara.
Belum juga Yasmin selesai bicara, lantai yang basah dan menjadi terasa licin segera membuat Bara terpeleset jatuh. Melihat itu Yasmin langsung terkekeh lucu dan Bara selain malu menjadi teramat kesal.
"Cukup! Ini semua salah kamu!!" geram Bara membentak.
"Tapi Bapak sendiri yang nekat melewatinya, bahkan sampai kotor lagi tuh!"
"Aku tidak perduli. Kau tidak bisa mengelak, kau salah Yasmin!" bentak Bara marah.
Namun bukan hanya itu, Bara pun bertindak dan menarik kaki Yasmin. Sampai gadis itu tergelincir, tapi malah menimpanya.
"Sudah jatuh, ketimpa kamu lagi. Maumu apa sih?!" geram Bara yang masih belum sadar dan lanjut mengomeli Yasmin.
Yasmin tak menjawab, tapi malah berusaha untuk bangkit.
Brukk!
Ah, tapi sialnya hal itu malah membuatnya jatuh lagi dan kali ini di posisi yang lebih intim. Yasmin syok dan membulatkan matanya, sementara Bara, wajahnya langsung memerah seperti tengah menahan sesuatu.
"Menyingkir!!"
• • •
To Be Continued