Secret Wife

Secret Wife
20 • Bukan Menjenguk, tapi Niat Terselubung



Bara memaksakan dirinya bangkit dari tempat tidur dan berdiri. Sudah jauh lebih baik dari semalam memang, meski dia masih agak terhuyung sekarang. Dia menuju dapur dan menemukan Yasmin di sana.


Awalnya dia cuma bermaksud untuk mengambil air minum, karena persediaan di kamarnya sudah habis. Bara haus dan ingin minum. Namun, saat bagaimana Yasmin berkutat dengan kompor, Bara jadi tertarik. Pria itu menarik garis bibirnya ke atas lalu menyeringai dan menghampirinya.


Bugh!


Bara dengan tak terduga memeluk Yasmin dari belakang. Membuat Yasmin terkejut dan syok karenanya. Gadis itu bahkan sampai melotot dan debar jantungnya terasa seperti sedang demo.


"Lepas! Apa yang Pak Bara lakukan?" ujar Yasmin reflek memberontak. "Tolong, ini tidak benar Pak! Lepaskan aku!!"


"Apanya yang tak benar Yasmin, kamu istriku, ini tidak salah dan harusnya kau bahkan memberikan hal yang lebih!" ujar Bara menjawab dan lebih menuntut lagi.


Wajah Yasmin jadi memerah, memanas saat mendengar kata memberikan hal yang lebih. Pikirannya melayang mengenai jatah suami dan Yasmin segera bergidik ngeri membayangkan semua itu. Oh, tidak. Bagaimana mungkin dia melakukan hal seperti dalam pikirannya dengan dosennya sendiri? Ah, tapikan mereka juga suami istri.


"Tolong mengertilah, aku sedang memasak Pak!" ujar Yasmin beralasan.


Cklek!


Bara tiba-tiba mematikan kompor, menyeringai dan segera menyeret Yasmin duduk ke atas kursi yang berada di depan meja makan. Cuma bara yang duduk di kursi itu sebenarnya, sebab Yasmin malah dia paksa duduk di atas pahanya.


"Tolong jangan seperti ini, hubungan kita tak seharusnya begini. Bapak mempunyai wanita lain dan--"


"Kau cemburu?!" sarkas Bara.


Yasmin tidak memberi jawaban ataupun keterangan atas pertanyaan itu. Namun, dia juga tak bisa diam menikmati tubuhnya yang sedang di kompromi oleh suaminya sendiri.


"Kau tidak mau menjawab sekarang? Hm ... baiklah aku tidak akan memaksamu Yasmin, dan jika yang kau takutkan aku tak perjaka lagi, maka dengarkan ini baik-baik. Itu hanya akan terjadi jika aku denganmu, istriku!!" ujar Bara dengan serius. Mengingat istrinya itu pernah menuntut di awal pernikahan mereka.


"Pak tolonglah aku harus memasak. Kamu masih sakit juga, telat sarapan artinya telat minum obat dan Pak kamu bisa sakit lagi!" Kali ini Yasmin mencoba bijak.


"Baiklah, tapi sebelum itu. Biarkan begini selama lima menit lagi!"


❍ᴥ❍


Rupanya Helena memang datang sesuai janjinya pada Bara. Siang itu saat Yasmin pergi kuliah, Helena ke rumah untuk menjenguk Bara.


"Bagaimana keadaanmu sayang, apakah sudah mendingan?" tanya Helena perhatian.


Bara tak langsung menjawab, tapi berpikir keras. Helena tak biasanya begitu. Biasanya dia selalu sibuk dan sangat mementingkan kesibukannya ketimbang Bara.


"Aku sudah jauh lebih baik," jelas Bara adanya.


"Hm, baguslah. Aku jadi tenang. Ngomong-omong kenapa kamu tidak ke rumah sakit, Bar. Bukankah diperiksa dokter itu lebih baik?" tanya Helena.


"Aku juga diperiksa dokter disini," jawab Bara.


"Tapi di sini tak ada perawat yang menjaga dan mengawasimu?"


"Baiklah jika begitu, sayang. Hm, ada yang ingin kusampaikan kepadamu. Sebenarnya aku tidak ingin mengatakannya, karena kau sedang sakit, tapi aku benar-benar butuh bantuanmu," ujar Helena merubah mimik wajahnya dalam seketika ke wajah yang paling menyedihkan.


"Katakan saja. Kenapa harus sungkan, aku pacarmu Helena," ujar Bara, tapi anehnya dia mulai ragu dengan kebenaran itu.


"Ak-aku tak yakin mengatakan ini, tapi aku sangat membutuhkan bantuanmu sayang. Perusahaan Papaku terancam gulung tikar, bisakah kamu membantunya?" tanya Helena terlihat ragu, tapi malah begitu lancar saat mengatakannya.


Bara mendengus kasar. Akhirnya dia tahu alasan Helena menepati janjinya. Agak miris memang, tapi kenyataannya Helena memang ada di saat membutuhkannya saja. Bara jadi sangat mempertanyakan soal apa dirinya bagi Helena sekarang, kekasih atau sebatas penghasil uang untuknya.


Oh, bukan, tapi juga pengasuh anak, penolong ekonomi keluarganya dan juga pendukung untuk keberlangsungan karirnya. Anehnya Bara baru tersadar akan hal itu. Sekarang dan dimulai dari sejak dengan tanpa hatinya Helena membiarkannya yang sakit begitu saja dan bahkan menyalahkannya karena hal itu menghancurkan acara kencan romantis mereka. Sial kalau dipikirkan lagi, Bara sudah mirip pembantu pribadi wanita itu.


"Maaf, Helena, tapi kali ini aku tak bisa," ujar Bara untuk pertama kalinya menolak permintaan Helena.


"Tapi kenapa? Apa aku sudah tak penting untukmu?!" tanya Helena sedikit menuntut.


Bara terdiam dan kesal karena dialog itu harusnya dia yang mengatakannya. "Harusnya kamu bisa tanyakan pada dirimu sendiri, Helena. Aku masih sakit walaupun sudah sedikit pulih dan aku bukan kamu yang kuat kerja! Aku bisa tambah sakit, jika terus dipaksa kerja apalagi itu untuk keluargamu," jelas Bara sedikit banyaknya menyindir Helena.


"Sayang kau bisa melakukannya saat kau pulih. Tolong bantu papaku mendapatkan kliennya kembali dan membangun perusahaannya lagi!" jelas Helena membujuk Bara.


"Aku sibuk Helena, apa kamu pikir pekerjaanmu saja yang banyak? Aku bukan hanya jadi dosen, tapi juga harus bekerja untuk mengurus perusahaan orang tuaku sendiri!" tegas Bara.


"Sayang!?" ujar Helena mengeluarkan jurus terakhirnya. Dia seperti akan menangis dan sangat mengemis.


Namun Bara tak perduli lagi, semalam saja saat dirinya sakit dan membutuhkan bantuannya wanita dihadapannya tak perduli. Sekarang datang-datang bukannya menjenguk, tapi malah ada maunya.


Bara jadi teringat perkataan papanya, kalau Helena hanya main-main dengannya dan tak pernah serius. Bahkan sekarang pun Helena hanya terus memanfaatkannya.


"Tolong pulanglah, aku membutuhkan istirahat sekarang! Kepalaku pusing," ujar Bara tiba-tiba dan langsung berdiri.


Helena menyusulnya dan mencoba meraih lengannya, tapi keburu ditepis oleh Bara. "Aku masih sakit, Helena. Tolong mengertilah ...."


Tak bisa memaksa, Helena pun terpaksa mengangguk paham. "Baiklah, Bar. Semoga kamu cepat sembuh dan tolong pertimbangkan ucapanku itu. Papaku akan menjadi papamu juga, jadi apakah kamu tidak mau membantu mertuamu sendiri ataukah akan membiarkannya melarat nantinya?"


Bara mendesah kasar, dia benar-benar ingin menolaknya sekarang, tapi dia masih punya hati nurani untuk tak membuat Helena sakit hati.


"Akan aku pikirkan nanti, sekarang tolong biarkan aku beristirahat. Jika tidak aku bisa sakit kembali," ujar Bara yang tidak bisa memberikan kepastian.


Helena akhirnya mengangguk pasrah, tapi daripada menghawatirkan Bara yang sakit, dia malah lebih terlihat mengkhawatirkan hal lain.


"Sial. Dia bahkan sama sekali tak mencemaskanku!!" geram Bara kesal. "Jadi apakah benar Helena itu bukan wanita yang baik?"


❍ᴥ❍


Bersambung