Secret Wife

Secret Wife
14 • Salahpaham Yang Terlalu Jauh



Bara pulang dalam keadaan yang badmood karena ditolak kencan oleh Helena. Dia kecewa sekaligus kesal pada dirinya sendiri, sebab tidak pernah berdaya untuk melaksanakan kehendaknya dan juga tak berani menuntut lebih. Seharusnya sebagai lelaki dia memperlihatkan egonya, namun apa yang sudah dia lakukan malah sebaliknya.


"Pak Bara ...."


Yasmin memanggilnya karena kesal melihat Bara yang baru pulang, lalu dengan tanpa perasaan menginjak lantai yang baru saja dia bersihkan dengan sepatu kotornya.


"Apa?!" jawab Bara galak membuat Yasmin mendesah kesal.


'Dasar tukang selingkuh yang tidak tahu malu, setelah dipergoki bukannya minta maaf, tapi malah bikin ulah. Huhh! Andai saja ibu tidak mempunyai hutang budi dengan mama Lidia, aku nggak sudi jadi istrinya Pak Bara songong ini!' geram Yasmin membatin sambil menatap Bara dengan tajam.


Dia tak mengatakannya langsung karena malas saja berdebat dengan pria songong dan merasa paling benar.


"Bapak lihat sendiri deh, apa yang sudah Bapak lakukan!" jelas Yasmin serius dan juga jengah di saat yang bersamaan.


Bara mengerutkan dahi, kemudian terpikirkan kejadian siang di mana Yasmin memergokinya dengan Helena dan gadis itu terlihat marah. Anehnya mengingat itu, Bara tiba-tiba tersenyum entah mengapa. Entah bagaimana bisa, tapi dia juga tiba-tiba merasakan perasaan aneh yang membuatnya senang dengan cemburunya Yasmin.


"Saya nggak mau menjelaskan apapun soal siang itu, memangnya kenapa? Kamu tahu sendiri tahu kita itu apa dan kami itu apa?!" pancing Bara membahas kejadian siang itu, dan masih tak sadar dengan apa yang sepatunya lakukan.


Namun Yasmin juga jadi teringat hal itu dan mengeram tak suka. Sejenak melupakan sepatu Bara yang sudah mengotori lantai bersih yang baru saja selesai di pel olehnya.


"Kamu itu dosen loh Pak, apa nggak malu pamer perselingkuhan sendiri dihadapan mahasiswa Bapak sendiri?!" skakmat Yasmin dengan cerdik.


Namun Bara juga tak mau kalah atau membiarkan Yasmin menang melawannya. "Kenapa, jangan bilang kamu benar-benar cemburu tak suka melihatku dengan perempuan lain? Mulai merasa kalau aku itu milikmu seorang dan juga bersikap seperti istriku? Namun sebelum itu, Yasmin ingatlah kenapa kita bisa bersama?! Kamu hanya pelunas hutang ibumu!!" tegas Bara dengan kejam.


"Jadi kalau pelunas hutang aku bukan istrimu?!" sarkas Yasmin tajam.


"Kau merasa sudah menjadi istriku? Ckckck, bahkan untuk menjalankan kewajibanmu memberikan hakku kau tak mampu," ujar Bara membalas dengan meremehkan.


"Lalu Bapak sendiri apa kabar, minta hak, tapi tidak menjalankan kewajiban dan bahkan tega sekali menjadikan istri sendiri sebagai pembantu!"


"Membersihkan rumah, menyiapkan kebutuhan suami dan tugas lainnya, memang bukan kewajiban istri, tapi seorang istri yang melakukan hal itu bukan berarti pembantu," jawab Bara tersenyum menang.


"Bahkan pembantu masih dibayar, tapi aku bahkan belum pernah diberi uang bulanan oleh suamiku," cibir Yasmin kesal.


"Tidak diberi, lalu yang aku berikan semalam apa? Itu nafkah untuk mu sebagai istri Yasmin!" seru Bara serius.


Yasmin mengepalkan tangannya, kemudian menoleh ke bawah dan mengingat awal perdebatan mereka. 'Sial. Pak Bara sial-an, bisa sekali dia mengalihkan pembicaraan sampai aku hampir lupa soal kotoran yang di bawa sepatunya!' batin Yasmin membatin pada dirinya sendiri.


"Baiklah, aku akui Bapak sudah menafkahi aku secara materi, tapi sekarang tolong buka se--"


"Mesum juga kamu!!" kaget Bara tiba-tiba memotong karena Yasmin meminta buka secara gamblang atau salahnya sendiri karena sudah memotong Yasmin sebelum kalimatnya selesai.


"Apanya yang mesum sih, Pak?!" tanya Yasmin syok.


"Kamu tuh, untuk apa memintaku buka baju. Kalau mau minta nafkah batin liat-liat keadaan Yasmin. Setidaknya biarkan aku mandi terlebih dahulu!" seru Bara tampaknya sudah salah paham karena ulahnya sendiri.


"Halah, aku nggak yakin kau mau membahas itu. Kamu mengatakan seperti itu pasti karena mau mengelak aja, malu karena keceplosan terus mengelak dan kebetulan bangat pas. Sudahlah Yasmin mengaku saja?!" ujar Bara membuat Yasmin mengepalkan tangan sanking kesalnya.


Ini orang benar-benar bisa sekali melebarkan masalah kemana-mana dan juga ucapannya tidak pernah di filter sama sekali. Menyebalkan.


"Terserah. Pokoknya aku nggak mau tahu, kamu tidak boleh menambah kotoran di lantai lagi lagi Pak Bara!!" geram Yasmin memperingatkan.


"Cih, memangnya kau siapa?!" jawab Bara tak terima.


"Istrimu atau istrinya Bara Adiwiryawan!!" tegas Yasmin cepat dan serius.


Anehnya Bara tiba-tiba terdiam untuk sesaat setelah mendengarkan kalimat tersebut, tapi kemudian dia malah berjalan dengan sengaja tanpa membuka sepatunya. "Aku tidak suka diperintah dan lantai itu memang harus diinjak. Kalau kotor ya tinggal kamu bersihkan saja," jelasnya dengan entengnya sambil kemudian berlalu dan tanpa memperdulikan Yasmin sama sekali.


"Arrrggghhh, dasar cowok bajingan tidak punya hati nurani!!" geram Yasmin tak terima, walaupun setelahnya dia tak mengejar dan malah pergi mengambil kain pel.


"Apes bangat sih, nasibku nikah sama Pak Bara. Sudah diselingkuhin, dijadikan pembantu pula. Huhh, kenapa sih uang membuat orang tak berdaya," lanjutnya dengan suara yang miris.


❍ᴥ❍


Keesokan harinya sebelum keluar kamar, Yasmin sempat melirik uang pemberian Bara untuknya, kemudian menghela nafasnya kasar.


"Walaupun bekerja sampai jungkir balik, mungkin aku akan sulit mendapatkan jumlah uang sebanyak itu, tapi tidak aku juga tidak mau serakah. Cukup sudah cibiran Pak Bara yang begitu kejam kepadaku. Aku memang miskin, tapi bukan berarti aku matre apalagi sampai tidak punya harga diri!" tegasnya pada diri sendiri.


Uang yang bernilai seratus juta dan katanya adalah nafkah suaminya itu, sama sekali tak berani disentuh oleh Yasmin. Namun, hal itu malah membuat motivasi untuknya sendiri supaya mencari kerja secepatnya dan giat.


Oleh sebab itu setelah kelasnya selesai, dia sengaja menemui Angel sahabatnya. Untuk membantunya menemukan pekerjaan. Lalu sekarang disinilah mereka, di sebuah restoran ternama.


"Kamu tenang aja, Min. Disini aku punya kerabat yang mungkin bisa membantumu bisa bekerja di restoran ini, tapi mungkin posisinya tidak akan sesuai dengan yang kamu harapkan," jelas Angel serius sekaligus mengingatkan.


Yasmin mengangguk dan dia merasa tak masalah dengan hal itu. "Pokoknya halal aja, Nggel!"


"Baiklah, ayo kita temui dia," kata Angel sambil menggandeng Yasmin dan menemui seseorang yang ternyata adalah manager restoran tersebut.


Hasilnya Yasmin memang diterima kerja, tapi bagian cuci piring. "Bagaimana Min, apa kamu tidak masalah?" tanya Angel sedikit tak tega.


"Apa masalahnya, justru aku bersyukur karena artinya aku bisa bekerja kembali," jawab Yasmin santai tapi serius.


Yasmin bahkan merasa beruntung, karena artinya dia kembali memiliki pemasukan dan bisa sedikit longgar untuk tidak terlalu menghemat.


❍ᴥ❍


Bersambung