
Kurang dari satu jam lalu, Helena mengajak Bara bertemu dan makan malam bersama, atau bisa di sebut kencan. Untuk beberapa saat Bara merasa bahagia di awal. Bagaimanapun juga dia sangat menantikan hal itu. Sulit menghabiskan waktu dengan kekasihnya dan sekarang adalah kesempatannya.
Namun saat mengingat Yasmin dan melihat dia sudah menyelesaikan masakannya, Bara yang sekarang jangankan untuk senang, menikmati kencannya pun dia tidak bisa. Bahkan anehnya dia sekarang tiba-tiba saja merasa tidak enak badan.
"Ada apa, Sayang? Apa kamu tidak menyukai makanan di sini ... wajahmu terlihat muram sejak sampai di sini?" tanya Helena perhatian.
Bara geleng kepala sambil menatap makanannya dengan tanpa minat. Dia baru makan dua-tiga suap, tapi rasanya lambungnya tak bisa menopang makanan di hadapannya lagi.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Helena melanjutkan ucapannya.
"Aku tidak tahu Helena, sepertinya aku kurang enak badan dan juga mual dengan makanan ini," jawab Bara seadanya.
Reflek Helena mengulurkan tangannya memeriksa kening Bara. Memang benar suhunya sedikit lebih hangat dari suhu normal, tapi setelah mengetahui hal itu, Helena masih biasa saja. Dia tak mengkhawatirkan kekasihnya sama sekali.
"Hm, kamu mengacaukan kencan kita dengan demam, aku kecewa, tapi bagaimana lagi sakit juga bukan maumu," ujar Helena cukup acuh.
Bara menghela nafas, dia kecewa dengan reaksi Helena tersebut. Mereka adalah pasangan kekasih, tapi bahkan di saat tiba-tiba sakit begini dia malah di salahkan.
"Padahal aku sudah susah payah berjuang supaya ada waktu berdua dengan kamu malam ini. Membujuk Gina supaya mau aku tinggal di rumah ibuku dan bahkan bekerja keras sepanjang siang," lanjut Helena mengungkapkan kekecewaannya.
"Maaf, aku tidak bermaksud Helena," jawab Bara masih bersabar.
"Hm, yasudahlah, tapi artinya setelah ini kita pulang saja dan kamu beristirahatlah di rumah," jelas Helena, lagi-lagi membuat Bara kecewa.
Kekasihnya itu bahkan tidak menunjukkan harapan supaya dirinya cepat sembuh. Bahkan saat pulang Helena tidak inisiatif untuk mengantarkan Bara pulang, mengingat kondisinya yang semakin buruk.
Hujan turun dan ditengah jalan Bara merasa pusing luar biasa. Dia sudah tak sanggup mengemudi lebih jauh lagi. Takut akan melakukan kesalahan yang menciptakan kecelakaan, pria itu menepi di tempat yang tepat.
"Yasmin jemput aku!" ujarnya begitu panggilan telepon terhubung.
Anehnya pria itu malah mengingat orang asing yang menjadi istrinya, ketimbang perempuan istimewa yang barusan bertemu dengannya.
"Bapak ganggu aja, pulang sendiri. Aku sudah tidur," jawab Yasmin terdengar serak dan juga malas di telepon.
"Ngghh ... kepalaku pusing, lemas dan sekarang aku merasa mual, Min ...." Bara merengek sambil mendesah berat. Sepertinya pria itu tak berdaya sekarang.
Hujan semakin deras, dan itu membuat Bara semakin menggigil, walau dia di dalam mobil dan menyalakan penghangat udara di mobilnya. Namun, seakan-akan itu tak ada gunanya. Pria itu justru semakin kedinginan ditengah suhu tubuhnya yang meningkat drastis semakin hangat. Jauh dari suhu normal.
Merasa kesadarannya semakin menipis, setelah menghubungi Yasmin, pria itu segera membagikan lokasinya pada sang istri, lalu kurang dari setengah jam kemudian, sosok Yasmin berdiri di luar dengan sebuah payung dan mengetuk pintu mobilnya. Bara menoleh dan segera berpindah ke kursi disebelah pengemudi.
"Ch, Bapak nyebelin bangat jadi orang. Sudah pergi begitu saja, sekarang malah manja minta jemputan. Lihat nih, aku jadi basah karena terkena hujan!" omel Yasmin sambil menutup payung yang dipakainya, lalu melipat dan menyimpannya di kursi belakang mobil.
Gadis itu belum sadar kalau kondisi Bara benar-benar buruk sekarang dan dia terus mengomel, sampai menyadari kalau bibir Bara sangatlah pucat.
"Pak Bara kamu sungguh sakit!" ujar Yasmin sedikit kaget, lalu meletakkan telapak tangannya untuk memeriksa kondisi Bara.
Tak ada jawaban, karena sepertinya kesadaran Bara sudah sangat tipis. Hanya geraman halus dan juga tatapan sendu tak berdaya yang diperlihatkan olehnya.
"Yaampun, habis ngapain sih sampai drop tiba-tiba begini?!" Yasmin terlihat kebingungan. Dia sudah sering melihat orang demam, tapi tak pernah seperti Bara yang sekarang. Bicara saja sepertinya sudah berat.
Kondisinya pun terkuak setelah dibawa ke dokter. Ternyata Bara mengalami demam, dia kelelahan karena terlalu memporsir diri bekerja, stress dan juga kurang beristirahat. Cuaca yang buruk juga menjadi penyebab jatuh sakitnya pria itu.
"Pergi sehat, pulang tumbang. Bapak benar-benar bikin khawatir aja. Abis ngapain aja sih? Jangan bilang habis ketemuan sama selingkuhan Bapak itu?!" omel Yasmin yang terlihat khawatir.
"Kamu ini baru bangun udah mengomel saja, menguap dulu Yasmin," jawab Bara. Akhirnya kondisinya sudah jauh lebih baik setelah ditangani semalam, dan pagi ini dialah yang bangun di awal.
"Ya, gimana nggak ngomel, Bapak nyebelin, nyusahin ditambah bikin orang pusing dan sakit hati!" ujar Yasmin dengan berani mengatakan uneg-unegnya. Mumpung Bara sedang sakit dan kurang berdaya, jadi Yasmin tak perlu takut.
Siangnya Bara memaksakan untuk pulang walaupun sebenarnya dia disarankan menginap satu malam lagi. Yasmin walaupun berisik, tapi gadis itu setia merawatnya, dia bahkan tak terlihat keberatan walaupun ucapannya selalu yang keluar adalah keluhan.
"Waktunya makan," ujar Yasmin sambil membawa makanan dan juga obat untuk Bara konsumsi.
"Tidak mau!" tolak Bara sambil bergerak memunggungi Yasmin.
Melihat itu, Yasmin langsung menghela nafasnya kasar. "Terserah saja, tapi jika Bapak bertambah sakit, jangan salahkan aku!"
"Ch, aku baru saja makan Yasmin!" ujar Bara kesal.
Yasmin mengangkat bahunya acuh. Kemudian mengelilingi tempat tidur dan menghadap Bara yang tadinya membelakanginya. Yasmin pun menaruh nampannya di bagian tempat tidur yang kosong, tepat di sebelah Bara.
"Ini sudah malam, Pak Bara. Kamu makan tadi siang!" ujar Yasmin mengingatkan.
"Tapi aku tidak mood dan tidak berselera," rengek Bara.
Yasmin menghela nafasnya kasar. "Kamu juga tidak mau sakitkan Pak Bara, tapi nyatanya sakit itu tetap saja datang. Begitu juga dengan sebaliknya, walaupun tak mau harusnya Bapak tetap makan karena itu salah satu cara supaya pulih," jelas Yasmin membujuk.
"Ayolah, kalau Bapak makan aku akan mengabulkan satu keinginan Bapak!" lanjut Yasmin serius membujuk Bara.
"Petikkan bulan untukku," ceplos Bara asal.
"Nggak gitu juga, Bapak!" ujar Yasmin dongkol dan tak habis pikir.
"Tapi kamu bilang akan mengabul--"
"Yang masuk akal. Permintaan masuk akal, Pak Bara!" ujar Yasmin memperingatkan.
Bara terdiam untuk sesaat, memikirkan apa yang dia inginkan, lalu mengingat kalau dia sudah punya hampir segalanya. Pria itu segera terlihat bingung dan di saat yang sama dia juga tak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkan penawaran Yasmin.
"Cepatlah, atau aku berubah pikiran!" ujar Yasmin mengancam dan mendesak Bara.
"Aku mau makan kalau disuapin," jawab Bara akhirnya secara sembarang.
"Yaampun, tentu saja. Sakit begini memangnya Bapak sudah makan sendiri, tapi pagi dan siang, aku juga suapinkan. Aneh-aneh aja, kayak nggak ada yang diinginkan," balas Yasmin sewot.
"Ya iyalah, memangnya apalagi yang aku inginkan aku sudah punya segalanya. Uang, ketampanan, kekayaan dan juga wanita!" seru Bara dengan yakin, tapi terdengar ragu pada kata 'wanita.' Siapa yang dia maksud, Helena ataukah Yasmin.
Akan tetapi walaupun sempat terpikirkan, Yasmin tak ambil pusing. Dia bahkan memikirkan bagian yang Bara tanyakan saja. Apa yang tidak pria itu miliki.
"Anak. Bapak tidak punya anak!" ejek Yasmin tersenyum senang karena merasa berhasil mengalahkan Bara si tuan angkuh. Tak sadar tentang maksud ucapannya itu sama sekali, sebab maksudnya cuma untuk meledek Bara.
"Gimana mau ada, kamu saja menolak memberikan hak saya!" sarkas Bara dengan serius dan membuat Yasmin langsung terdiam kehilangan kata dalam seketika.
❍ᴥ❍
To Be Continued