Secret Wife

Secret Wife
12 • Tahu diri



Yasmin sangat tersinggung dengan perkataan Bara. Sehingga setelah selesai menyiapkan makan malam, dia segera pergi keluar rumah dan segera menarik dana lima puluh juta yang Bara berikan. Dia ingin mengembalikannya malam itu juga bagaimanapun caranya.


Setelah mendapatkannya Yasmin tak langsung kembali, melainkan menenangkan diri sejenak di luar dan mencari udara segar. Barulah pulang setelah di rasa cukup.


Sayangnya baru saja masuk rumah, Bara sudah menghadangnya di sana. "Apa kamu memang tidak diajari sopan santun? Sampai pergi keluar tanpa izin, ataukah karena selama ini aku terlalu santai kepadamu, sehingga kamu merasa bebas keluar masuk tanpa izinku?!"


Yasmin meneguk ludahnya kasar. Dia tertegun dan tak tahu harus menjawab apa. Sehingga dia pun diam dan tak bicara. Sayangnya hal itu justru membuat Bara semakin marah.


"Tidak punya mulut, hah?! Jawab aku Yasmin ...."


"Ak-aku--" Yasmin menelan ludahnya kasar. Bukan hanya gugup, tapi jujur saja emosinya yang belum stabil membuatnya takut pada sosok Bara yang sekarang.


"Jawab aku?!" tuntut Bara lagi.


Yasmin tak langsung menurut, tapi kemudian dia merogoh tasnya, dan mengeluarkan segepok uang yang bertumpuk dan berjumlah lima puluh juta.


"Aku hanya ingin mengembalikan uangmu Pak Bara, karena aku tak pantas mendapatkannya," jawab Yasmin menguatkan hatinya sambil kemudian menyerahkannya pada Bara.


"Kamu tahu diri juga, tapi ambil saja itu. Aku tak membutuhkannya," jawab Bara dengan enteng.


Yasmin menggelengkan kepalanya dan memaksa Bara menerimanya. "Aku tidak bisa menerima sesuatu yang bukan hakku dan karena aku sudah gagal menjaga Gina, ini berarti bukan milikku," jawab Yasmin dengan getir.


Gadis itu bahkan berkaca-kaca dan juga dalam keadaan tak berani menatap Bara. Menyadari hal itu, Bara segera mengerutkan dahinya. Dia cukup tahu apa yang membuat perempuan itu sampai begitu, tapi dia tak mengerti mengapa Yasmin sampai semenyedihkan itu.


"Buang saja kalau begitu," jawab Bara seraya kemudian berbalik pergi, karena merasa aneh melihat Yasmin demikian.


Keesokan harinya tiba, tapi masalah semalam tak lantas selesai begitu saja. Yasmin keras kepala dan egonya masih cukup besar. Pagi-pagi sekali dia sudah bangun dan melakukan pekerjaannya sebagaimana pembantu yang Bara harapkan.


Dia bahkan merangkap menjadi pengasuh Gina dan menyiapkan gadis kecil itu dengan seragamnya, sebelum Bara keluar dari kamarnya.


"Tante mau ke sekolahnya Tante, tapi sebelum itu apakah Tante bisa minta bantuan Gina?" tanya Yasmin yang diangguki Gina dengan segera. "Tolong berikan ini pada Om ya, begitu dia bangun, dan Gina jangan sampai lupa," jelas Yasmin sambil mengingatkan.


"Ok, Tan. Asal nanti Tante jangan lupa pulang jemput Gina dan belikan jajanan seperti semalam lagi?!" seru Gadis kecil itu menuntut timbal balik. Yasmin tak punya pilihan dan dia pun mengangguk.


Seperginya Yasmin, Bara pun keluar kamarnya dan Gina segera melakukan perintahnya. Menyerahkan amplop tebal dan isinya lima puluh juta.


"Ini apa Gin?" tanya Bara penasaran.


"Gina juga tidak tahu Om, tante Yasmin yang memberikannya," jawab Gina polos.


Bara mengerutkan dahinya bingung, kemudian memeriksa dan seketika tiba-tiba saja dia menjadi kesal.


"Kenapa Om, isinya apa?" tanya Gina ikut penasaran.


Bara jadi menahan kesalnya dan karena tak mungkin menunjukkan amarahnya dihadapan Gina. "Tidak ada Gin. Hm, Tante Yasmin di mana?"


"Sudah pergi sekolah katanya," jawab Gina dan Bara pun menganggukkan kepalanya paham.


Malam harinya, Gina sudah dijemput Helena ibunya, sementara Yasmin seperti menjauh dari Bara dan berusaha menjaga jarak. Sayangnya Bara tentu saja tak membiarkannya.


"Arrrggghhh!!" teriak Yasmin ketika tiba-tiba saja menerobos masuk ke dalam kamarnya.


Dia terkejut sekaligus syok karena dirinya hanya mengenakan selembar handuk. "Sial. Apa-apaan kamu Yasmin? Mau menggodaku, hah?!"


Seolah tak tahu diri, Bara yang salah, tapi justru dia yang menyalahkan Yasmin.


"Bapak yang apa-apaan, masuk sembarangan dan udah begitu gimana caranya lagi?!" omel Yasmin sambil menyilang tangan di depan dada.


"Ini rumahku, dan sebetulnya aku punya kunci cadangan untuk segala ruangan," jelas Bara dengan entengnya.


"Kalau begitu, untuk apa kemari? Sudah tahu di sini ada gadis, masih saja menyelonong masuk?!" geram Yasmin tidak habis pikir.


Bara pun teringat tujuannya, lalu menyerahkan amplop uang pada Yasmin. Sekarang itu tak hanya lima puluh juta tapi mungkin lebih. Hal itu karena amplopnya terlihat jauh menebal dua kali lipat.


"Ini bukan upahmu karena gagal menjaga Gina, tapi nafkah karena aku suamimu!" tegas Bara membuat bulu kuduk Yasmin entah mengapa terasa meremang.


Tak mau lama-lama karena takut khilaf, Bara pun keluar kamar. Sementara Yasmin dia setelah menutup pintu kamarnya, tak langsung pakai baju, tapi malah duduk di atas tempat tidur.


Menatap uangnya lalu menghitung dan jumlahnya memang dua kali lipat. Akan tetapi dia tak bisa senang seperti kemarin lagi. Penghinaan Bara terngiang dalam kepalanya dan Yasmin bahkan tak berani berlama-lama melihatnya.


"Apa aku boleh menggunakannya?" tanya Yasmin pada dirinya sendiri, tapi kemudian dia malah geleng kepala. Rupanya gadis itu menyimpan trauma pada Bara suaminya sendiri. "Tidak. Pak Bara bisa lebih seenaknya menghinaku jika melakukan itu!"


Buru-buru Yasmin pun menyimpan uangnya, tapi di saat yang bersamaan dia tak berani menggunakannya. "Mending aku cari uang sendiri daripada menggunakannya. Lebih baik miskin daripada mendapat penghinaan," ujar Yasmin meyakinkan dirinya sendiri.


Sementara itu di kamarnya, Bara terlihat gelisah dan tak tenang. Bahkan di saat Yasmin tiba-tiba hilang, Bara tak bisa mengelak kalau dirinya merasakan sesuatu yang ganjil dan aneh pada dirinya sendiri.


"Sial. Ini pasti karena aku merasa bersalah saja dan juga tak tega pada gadis bodoh itu. Arrrggghhh, dia lama-lama bisa membuat kepalaku meledak. Sudah bodoh, ceroboh, tapi di saat yang sama kenapa sulit menebaknya?! ujar Bara serius.


Tak sadar kalau perhatiannya mulai direbut Yasmin. Bara bahkan membiarkan teleponnya berbunyi terus tanpa memperdulikannya. Dia acuh dan merasa itu tak penting padahal itu dari Helena.


Paginya Bara sengaja bangun cepat untuk bisa bertemu Yasmin sebelum gadis itu pergi dan Bara merasa perlu bicara. Namun, tiba-tiba saja di mengerutkan dahi melihat Yasmin masih belum siap dan asik mengerjakan pekerjaan rumah sambil menggunakan headset. Mendekat lalu tanpa babibu, Bara menarik headset-nya.


"Kamu tidak pergi kuliah?"


"Bapak kenapa sih, doyan bangat mengganggu hidup saya?!"


Keduanya kompak bersuara satu sama lain dengan spontan dan tidak sadar. Lalu tiba-tiba diam dan saling menatap satu sama lain. Bara terlihat canggung dan reflek mundur dengan perlahan.


'Kenapa Yasmin bisa kelihatan cantik?!' bingungnya membatin.


'Pak Bara kenapa liatin aku begitu, apa ada yang salah dengan penampilanku?' Yasmin pun membatin, tapi karena tatapan Bara dia menjadi heran sekaligus tak nyaman dengan Bara.


"Ekhemm!!"


Segera secepatnya Bara pun berdehem untuk memecah suasana. "Apa kamu tidak punya kelas hari ini?"


Yasmin menggelengkan kepala. "Siang nanti kuliah beberapa jam Pak."


Bara mengangguk paham. "Kalau kamu mau berangkat, jangan lupa hubungi aku!" ujar Bara yang terdengar seperti perintah.


"Tapi kenapa?"


"Hubungi saja!" tegasnya justru galak. Padahal niatnya sejak awal perlu diingatkan, Bara mau bicara baik-baik, tapi sekarang malah sebaliknya. "Nggak usah banyak bertanya. Menurut sesekali kamu bisa kan?!"


"Iy-iya," jawab Yasmin gugup karena terkejut dengan Bara yang tiba-tiba kembali galak.


"Hahh, susah bicara dengan gadis seperti dirimu. Sudah ceroboh, banyak tanya, tapi semoga saja kamu menurut," lanjut Bara mencibir dan juga langsung beranjak dari sana begitu saja.


"Pak Bara aneh, ada apa dengan pria itu?" tanya Yasmin pada dirinya sendiri sambil kemudian memasang headset-nya dan kembali melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.


❍ᴥ❍


Bersambung