Secret Wife

Secret Wife
08 • Seperti Ibu yang Sesungguhnya



Pagi-pagi sekali, Yasmin sudah terbangun dan langsung beres-beres sebelum melakukan pekerjaannya yang lain. Baru setelahnya dia ke luar ruah untuk membeli bubur. Ah, ya. Yasmin sedang tak mood memasak apalagi nanti masakannya bisa dimakan anak dari perempuan selingkuhan suaminya yang serakah itu.


Namun walaupun begitu, dia membeli tiga porsi dengan toping ayam paling banyak untuk Gina nantinya. Anehnya memang dia masih perduli. Namun mau bagaimana lagi, memang sulit untuk menjelaskan pada hati, bahwa anak kecil itu adalah bagian dari penghancur rumah tangganya.


Dengan telaten diapun menyiapkan bubur itu lalu menaruh di atas meja. Bara tiba di sana beberapa saat kemudian tanpa di panggil.


"Tumben makan pagi, biasanya langsung pergi?!" tanya Yasmin yang terdengar seperti cibiran.


"Jadi kamu pikir makanan di sana siapa yang akan memakannya. Kamu bisa menghabiskannya?" balas Bara dengan sengit.


Namun tentu saja Yasmin tidak akan mau kalah. "Untuk apa dihabiskan. Aku hanya ingin mencicipinya saja, lalu dibuang deh!"


"Jangan mubazir!" nasehat Bara.


"Iya, iya. Aku cuma bercanda Pak Bara. Nggak usah menatap aku sampai segitunya dong. Aku seperti penghianat saja ditatap begitu. Padahalkan siapapun tahu siapa diantara kita penghianatnya!" seru Yasmin dengan acuh tak acuh.


"Cukup! Aku sedang tidak mood untuk mendebatmu Yasmin!!" geram Bara memperingatkan. "Dan jangan lupa apa status mu di sini. Walaupun kamu istriku, tapi bagiku kau tak lebih dari pembantu yang harusnya segera melunasi utang-utang ibumu dengan itu. Lakukan saja tugasmu! Karena pembantu tidak pernah berhak ikut campur masalah majikannya!!"


Yasmin terhenyak, terdiam dan langsung kaku untuk sesaat. 'Jangan terluka Yasmin. Menjadi pembantunya itu jauh lebih baik daripada istrinya!' tekan Yasmin membatin pada dirinya sendiri.


Bagaimanapun juga itu membuatnya sesak. Cinta ataupun tidak, istri manapun di dunia ini pasti wajar sakit hati dikatai demikian. Akan tetapi Yasmin tidak akan memperlihatkan lukanya itu, karena tak mau Bara menang seutuhnya.


"Panggil Gini kemari untuk makan!"


"Aku hanya pembantu, bukan babysitter-nya disini!" jelas Yasmin dengan tajam.


"Apa bedanya?!" ketus Bara.


"Pembantu pekerjaannya hanya membereskan rumah, sementara babysitter artinya merawat anak-anak. Mungkin tepatnya menjadi pengganti ibu untuk menjaga dan memperhatikan anak itu sementara waktu yang disepakati," jelas Yasmin.


"Pintar juga kamu," sanjung Bara yang terdengar seperti ejekan. "Tapi apapun itu aku tak perduli. Kamu tetap harus tahu diri dan juga patuh kepadaku. Pergi bangunkan Gina dan ajak anak itu sarapan!!"


Mau tak mau, karena ultimatum yang terbantahkan itu, Yasminpun pasrah dan menurut. Dia membangunkan Gina yang tidur seperti batu saja. Susah sekali untuk dibangunkan.


"Apa aku pakai cara ibuku saja ya. Hm, biar bocah edan ini bukan cuma bangun, tapi juga sadar!" seru Yasmin pada dirinya sendiri.


Dia mengambil air ke kamar mandi yang ada dalam kamar itu lalu memercikkannya pada Gina. Akan tetapi bukannya terbangun, anak itu saja tidak terlihat terganggu sama sekali.


"Astaga. Tidurnya ngebo bangat lagi! Siall!" geram Yasmin kesal, tapi dia masih tak menyerah.


Kali ini dia menghampiri Gina lalu menariknya untuk digendong. Tidak mudah, sebab bobot anak kelas tiga SD tentu saja sudah bukan main beratnya untuk perempuan seukuran Yasmin.


"Banyak dosa emaknya, makanya anaknya berat!" ceplos Yasmin asal.


Diapun membawanya ke kamar mandi, lalu dengan kejam bersikap seperti ibu Gina sungguhan. Gadis itu mengguyur bocah itu dengan air dingin sampai terpaksa bangun.


"Arrrggghhh!" jerit Gina langsung karena kaget. Bocah itu langsung membulatkan mata dan mengeluh. "Dingin tante, dingin!!"


"Tentu saja dingin, ini memang air dingin. Sudah, tutup mulutmu biar aku mandikan kamu sekalian!" seru Yasmin gemas.


Maka setelahnya gadis itu benar-benar melakukan ucapannya. Memandikan Gina ala ibu-ibu pada umumnya. Dia cukup ahli dan terlihat telaten memandikan anak kecil itu. Meski sepanjang memandikan Gina terus saja menjerit dan mengeluh.


"Ughh!! Dingin, Gina belum pernah seperti ini!" seru bocah itu.


"Cih, anak manja ternyata. Pantas saja," komentar Yasmin. "Tapi hm, tak masalah gadis kecil. Jika kamu tinggal di rumahku itulah aturannya. Bangun cepat dan mandi air dingin!!" tegas Yasmin.


"Gi-Gina tidak bisa Tan ...."


"Pakai saja nggak usah manja. Begitu saja, kamu tak bisa padahal gampang!" seru Yasmin memperingatkan.


Untuk beberapa kali gadis itu gagal, tapi akhirnya dia bisa juga. Yasmin selanjutnya pun karena tak yakin Gina bisa mengerjakannya sendiri, dia membantu untuk membereskan rambut gadis itu.


Setelah kering karena bantuan hairdryer, diapun mengikatnya dengan kucir dua. Gina menurut saja saat itu, tapi giliran mereka telah berpindah ke meja makan, anak itu lantas mengadukannya pada Bara.


"Tante Yasmin, jahat! Dia sakitin Gina!!" seru Gina dengan yakin.


Bara segera memelototi Yasmin dengan galak, tapi Yasmin tak perduli itu. "Siapa suruh Bapak memaksa aku mengurus anak kecil. Gadis tidak pernah punya anak, bagaimana mungkin bisa mengurus anak," balas Yasmin dengan cerdas.


"Tapi kamu tak seharusnya menyakitinya," balas Bara.


"Sakit? Jadi maksud Bapak Gina terluka karena aku? Jangan fitnah deh, Pak. Cek tuh, anak pacar gelap kamu, apakah di tubuhnya ada bekas luka ataupun memar di sana!" sarkas Yasmin dengan sengitnya.


Bara terdiam dan Yasmin langsung mendesah kasar. Bukan karena kediaman Bara, tapi sekarang adalah masalah bubur yang tinggal satu porsi dan itu pun bukan porsi yang banyak ayamnya.


"Pak," panggil Yasmin dengan nada keberatan.


"Hm ...."


"Buburnya kenapa dimakan dua porsi?"


"Enak."


"Terus sekarang aku makan apa jika begini?"


Bara terdiam dan memikirkannya. Dia terlihat menyesal, tapi kemudian dia malah mengucapkan hal sebaliknya. "Apa perduliku. Aku suka tentu saja aku makan lebih. Lagian kamu bisa makan dengan satunya itu. Bagi dua dengan Gina. Anak itu tak makan banyak," jelas Bara.


"Nggak begitu jugalah, Pak. Huhh, tapi baiklah," jawab Yasmin dengan pasrah.


Sudahlah, lebih baik begitu daripada mendebat pria yang tak mau kalah itu.


Yasmin terlebih dahulu menyuapi Gina. Untuk sesaat berjalan lancar, tapi dua suapan kemudian dia menggelengkan kepala.


"Gina udah enek makan itu!"


"Apa?! Jadi kamu tak mau makan lagi?!" tanya Yasmin memastikan dan Gina langsung menganggukkan kepala.


"Tuhkan dia ta--"


"Aku tidak mau tahu, buka mulutmu dan habiskan bubur ini. Jika tidak maka jangan salahkan aku, kalau kamu tidak sekolah hari ini!!" tegas Yasmin mengancam dengan perasaan kesalnya.


Dia bahkan sudah memotong kalimat suaminya, tapi Bara juga terdiam untuk selanjutnya. Melihat Gina menatapnya, Bara anehnya berpaling agar tak bertatapan dengannya. Seperti setuju dengan Yasmin dia memperlihatkan dukungannya.


Mau tak mau, Gina pun pasrah dan menurut saja.


❍ᴥ❍


TBC