Secret Wife

Secret Wife
04 • Menjadi Babu



Keesokan harinya, Bara langsung membawa Yasmin tinggal di rumahnya sendiri. Dia tentu tak mau berlama-lama berdua di hotel bersama Yasmin, apalagi masih mengingat kekasihnya hatinya yang sekarang entah bagaimana nasibnya.


"Kamu tinggal di kamar ini sekarang," jelas Bara pada Yasmin.


Gadis itu menurut saja dan pasrah. Dia masuk ke dalam dan menyeret kopernya masuk. Awalnya tidak ada masalah, Yasmin yang lelah karena resepsi memutuskan untuk membereskan pakaiannya terlebih dahulu dengan menyimpan pakaiannya itu di dalam lemari yang ada di sana. Baru kemudian setelahnya bermaksud melanjutkan tidurnya kembali.


Akan tetapi beberapa saat kemudian, Bara yang sudah sempat pergi entah kemana, tiba-tiba kembali lagi dan masuk kamar. "Rajin juga kamu," pujinya yang tak lantas membuat Yasmin senang, sebab dia tahu sedikit banyaknya tabiat dosennya yang satu itu. Pujiannya pasti ada maksudnya.


"Tapi baguslah. Jangan lupa bereskan juga kamarku dan rumah ini dengan baik. Bersihkan sebersih-bersihnya jangan sampai setitik debu pun tertinggal!" ultimatum Bara melanjutkan dengan tegas dan tak mau dibantah.


"Apa?!" kaget Yasmin yang tak menyangka hari pertamanya jadi istri sudah langsung dijadikan babu.


"Aku tahu kamu sudah mendengarnya dengan baik dan kamu memahami apa maksudku. Jadi lakukan saja yang aku perintahkan. Tidak ada yang gratis di dunia, apalagi menjadi istriku!" jawab Bara mengintimidasi Yasmin dengan tatapan dinginnya.


"Jangan gila, Pak Bara. Aku bukan pembantu dan lagian siapa juga sudi menjadi istrimu," jelas Yasmin tak terima.


Siapa juga yang sanggup kerja rodi, padahal resepsi pernikahannya saja yang kemarin masih cukup melelahkan untuknya. Walaupun resepsinya sederhana dan hanya dihadiri orang terdekat saja, tapi tetap saja itu sangat melelahkan Yasmin.


"Aku tidak perduli dan sudi ataupun tidak, kamu sudah menjadi istriku, dan aku berhak melakukan apapun kepadamu. Termasuk memerintahmu. Lagipula kamu tidak lupa berapa banyak hutang ibumu pada keluargaku, bukan?!" Bara membuat Yasmin menunduk dan langsung tak berdaya. "Jadi lakukanlah Yasmin, bayar hutang itu dengan tenagamu dan jangan berani membantah!!"


Yasmin mengangguk paham dan Bara yang masih tak puas dengan itu pun melanjutkan. "Jangan lupa kamar mandinya. Pastikan lantainya tidak licin dan wangi!"


"Iya," jawab Yasmin pasrah.


"Oh, iya. Aku ingat pakaianku di dalam lemari sepertinya sudah agak kusut dan mungkin sudah tidak enak dipakai. Cuci semuanya dan setrika dengan rapih," lanjut Bara membuat Yasmin seperti tidak ada pekerjaan saja, tapi gadis itu masih menurut.


"Iya."


Lama-lama entah mengapa walaupun tak dibantah, Bara jadi kesal sendiri. Kepasrahan Yasmin anehnya masih saja tetap membuatnya geram dan tak suka.


"Jangan iya dan iya terus. Kerjakan dengan baik dan jangan coba melapor pada ibuku," lanjut Bara yang kali ini memperingatkan.


"Hm," jawab Yasmin mengubah tanda setujunya dan membuat Bara kembali protes.


"Sial. Kenapa sekarang kamu malah berdehem. Mana jawabanmu, Yasmin?!" tuntut Bara membuat Yasmin akhirnya kesal juga.


"Tadi dijawab, 'iya' Bapak protes, sekarang deheman juga nggak boleh. Mau Pak Bara apa sih, kok nyebelin bangat jadi orang?!" amuk Yasmin tak terima.


"Beraninya kamu!! Jaga nada suaramu Yasmin, ingatlah di rumah ini aku adalah suamimu dan kamu harus menghormatiku!!" tegas Bara memperingatkan. Dia menjadikan status untuk menekan gadis dihadapannya.


Mendengar itu, Yasmin tak menjawab lagi. Dia sudah capek berdebat dengan Bara dan memilih beranjak dan masuk kamar mandi. Melihat itu Bara tak terima.


"Mau kemana kamu, jangan lari dari tugasmu Yasmin!!" peringat Bara dengan tegas.


Membuat Yasmin membulatkan matanya sambil kemudian mendesah kasar untuk kesekian kalinya. "Astaga Pak Bara!! Aku mau ke kamar mandi, mau buang air besar. Kamu mau ikut juga?!" jelas Yasmin sembarang sangking kesalnya.


"Gila kamu! Sudah sana, pergi kamu!!" omel Bara tak habis pikir.


Blam!!


Yasmin masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar itu dan menutupnya kencang. Membuat Bara yang masih di luar langsung memperingatkannya.


"Iya - iya!!!!" jawab Yasmin berteriak.


"Dasar nyebelin bangat sih jadi orang. Banyak bangat tuntutannya. Gila!!" rutuk Yasmin pelan di dalam kamar mandi, sebab tak mau didengar Bara dan mereka berdebat lebih banyak lagi.


• • •


Setelah bertengkar dengan Yasmin dari malam sampai siang itu, Bara memutuskan untuk menemui Helena pacarnya dan memastikan keadaannya. Namun baru saja sampai, Helena sudah seperti menolak kehadirannya.


"Pergi kamu! Aku sudah muak melihat wajahmu!!" usir Helena begitu melihat Bara sudah dihadapannya.


"Sayang, dengarkan aku dan bukankah kita sudah sepakat dengan hal ini?!" ujar Bara mencoba meraih telapak tangannya dan menjelaskan.


"Cukup!! Aku benar-benar tidak menyangka kalau kamu sungguh menikah dan sekarang kamu milik wanita lain!!" seru Helena mencoba menepis tangan Bara.


"Aku tidak berdaya Helena. Mama sakit kamu tahu itu!" seru Bara meminta pengertian.


Membuat Helena geleng-geleng kepala. "Tapi aku juga tidak bisa menerima ini. Kamu sekarang bukan hanya milikku sendiri, kamu juga milik perempuan lain!! Suatu saat cepat atau lambat hatimu akan benar-benar menjadi milik perempuan itu dan aku akan terbuang seperti sampah!!" ujar Helena tak sanggup lagi akhirnya mengeluarkan air matanya dihadapan Bara.


"Mantan suamiku sudah pernah membuangku, tapi sebentar lagi kamu pun melakukan hal yang sama!!"


"Aku tidak akan begitu. Sungguh Helena, aku benar-benar mencintaimu. Andai Mama tidak sakit dan kondisinya drop karena aku. Aku juga tidak akan menikah dengan perempuan itu. Dihatiku hanya kamu dan seperti yang pernah aku katakan, kita tidak akan terpisahkan meskipun dengan pernikahan ini!!" tegas Bara.


Helena terlihat luluh dan memeluk Bara. "Aku sungguh tak sanggup kamu menjadi milik perempuan lain. Kamu hanya milikku Bar!!" ujarnya posesif.


"Ya, aku hanya milikmu Helena!" seru Bara dengan yakin.


Pelukan itu makin erat dan menjurus ke arah yang lebih, dan telapak tangan Bara sudah naik merangkak kemana-mana, tapi kemudian sebelum semuanya lebih jauh, Helena tiba-tiba bangkit.


"Maaf. Aku tidak bisa," ujar Helena tegas.


"Tapi kenapa Helena? Kenapa kau selalu menolak aku?!" tanya Bara yang kini gilirannya menuntut.


Ah, ya. Meskipun janda, tapi Helena tidak pernah membuka dirinya terlalu dalam pada Bara. Dia enggan melakukan itu dan tak pernah terlihat menginginkan Bara.


"Ak-aku masih trauma dengan mantan suamiku, Bar," jelas Helena mengingatkan Bara, sambil menatap dengan tatapan yang sulit dijelaskan.


Entah apa yang wanita itu pikirkan, tapi dia tidak sesuci yang dibayangkan. Dia bahkan masih bermain dengan mantan suaminya, dan Bara. Entahlah, apa yang dia pikirkan tentang kekasihnya yang tidak direstui itu.


"Maafkan aku Helena, tapi hanya kamu yang membuatku khilaf. Aku janji saat aku berhasil menceraikan Yasmin suatu hari nanti, aku akan menikahimu saat itu juga!" jawab Bara gentle tak mau egois. "Seharusnya aku memang tak boleh begitu, karena kita belum menikah dan seharusnya aku menghormatimu, sekali lagi maafkan aku sayang!" lanjutnya tulus.


Helena menganggukkan kepala kemudian tersenyum. "Lupakan itu, Bar. Aku hanya berharap kamu tidak pernah ingkar kepadaku," ujar Helena menuntut.


"Ya, tentu saja. Karena aku sangat mencintaimu Helena!" jawab Bara sungguh-sungguh.


• • •


To Be Continued