
Setelah memandangi cukup lama, Agus pun kembali meletakkan foto itu pada tempat semula. Ia pun hendak berbalik dan pergi dari ruangan itu. Namun, saat ia membalikkan badan, tiba tiba ia mendapati sosok kurus yang berdiri tidak jauh dari pintu ruangan, sepertinya sosok itu telah mengawasi Agus sudah beberapa saat yang lalu.
"Se... se.... setaaaan!"
Teriak Agus, saat mendapati sosok tersebut tiba tiba ada di ruangan tersebut. Masalah nya, ia tidak merasakan ada orang yang masuk ruangan, setelah dia masuk ke dalam.
Agus berlari menuju ke arah pintu keluar. Ia tidak menghiraukan sosok tersebut, yang ia pikirkan, cepat kabur dari sana.
"Brug!"
"Argh!"
Andri berteriak, bersamaan dengan sosok itu, saat tubuh nya bertabrakan.
"Kamu manusia?" tanya Agus, setelah keduanya bertabrakan, karena kalau itu hantu, sosok nya pasti tidak akan tersentuh oleh manusia. Agus pun segera bangkit dan berdiri, sambil memegangi jidat nya yang agak sakit.
"Ya manusia lah. Kamu itu yang hantu!" maki sosok itu pada Agus, "Siang siang kok teriak hantu," kemudian bangkit dan berdiri.
Agus pun segera tersenyum malu, "saya kira tadi hantu, orang tiba tiba muncul gitu aja. Maaf ya," ucap nya merasa bersalah.
"Iya, tidak apa apa," lalu sosok itu pun keluar dari ruangan. Agus pun segera mengikuti dari belakang.
"Mas nggak apa apa?" tanya Agus, saat melihat orang tersebut masih menggosok jidat nya. Sepertinya sebelum nya mereka adu jidat, lalu jatuh tumpah tindih bersama.
"Nggak apa apa gundul mu cepot. Ya sakit lah," balas orang itu, sambil melirik Agus, yang kini berjalan di samping nya.
"Ya maaf. Saya tidak sengaja,"
"Iya, Nggak apa apa. Kamu santri baru ya?" tanya nya, sambil mengerut kan kening, karena baginya baru bertanya kali melihat Agus.
"Oh... pantas, muka mu asing gitu," slonong orang itu.
"Kriuuuk..." tiba tiba perut Agus berbunyi lagi.
"Wah kamu kelaparan ya? Belum makan?" tanya orang itu, setelah mendengarkan alarm alami dari perut orang di samping nya.
"Hehehe iya nih. Mau makan, tidak tau makan apa," jawab Agus dengan sedikit malu.
"Ya makan makanan lah. Nasi kek, mie kek, apa kek. yang penting makanan. Ya kalick makan batu,"
"Maksud saya, saya tidak punya uang, buat beli makanan. Jika punya uang juga, saya tidak tau harus beli di mana," jawab Agus dengan jujur.
"Ya beli di warung makan lah. Masa iya beli di tukang las. Udah yok, ikut saya. Kebetulan saya juga lapar, mau cari makanan dulu." ajak orang itu lalu pergi begitu saja.
"Pergi kemana Mas?" tanya Agus, dan buru buru mengikuti langkah orang tersebut.
"Ke WC. Ya ke warung makan lah," jawab nya dengan acuh tak acuh.
'Orang ini kalau ngomong nggak pakai rem apa ya?' gumam Agus di dalam hati, tidak berani mengungkapkan.
"Kamu kira kendaraan, ada remnya? Mulut ku ini bukan kendaraan, jadi tidak ada rem nya," sahut orang itu, setelah Agus membatin.
Agus pun terkejut, karena orang itu dapat membalas omongan dia di hatinya, padahal itu tidak terucap secara lisan. Namun Agus, kali ini tidak berani berkomentar, baik di dalam hati, apalagi secara lisan. Karena takut kena skak lagi.
Mereka berdua pun pergi, dengan Agus yang hanya mengikuti langkah orang itu. Mereka berjalan, keluar dari area pesantren.