Santri Pekok

Santri Pekok
15



"Baik. Fix ya, Agus masuk di kelompok Ahmad," ucap Andri, seolah memutuskan hasil diskusi bersama.


"Tapi .... saya tidak bisa memasak," jawab Agus kemudian.


Agus merasa tidak enak, bukan ia bermaksud tidak mau dimasukkan ke kelompok itu, melainkan dia benar benar tidak memasak. Karena memang ia, belum pernah menyentuh dapur sama sekali. Saat di rumah dulu, dia memang hidup sendiri, tapi ada pembantu rumah tangga yang menyiapkan makanan, dan juga membersihkan rumah.


"Tidak apa apa, nanti biar Ahmad bantu. Semuanya dulu juga sama, kita awal nya tidak bisa memasak. Tapi karena kebiasaan, lambat laun juga kita bisa. Tapi kalau kamu tidak mau juga ya nggak apa apa," tutur Andri.


"Saya mau kok, cuman takut tidak membantu kelompok, malah jadi beban saja," jawab Agus segera. Meskipun dia tidak bisa melakukan nya, ia tidak akan dengan gampang menolak nya. Karena ia cukup tau diri, kepada orang yang telah memperlakukan nya dengan baik.


"Gampang kalau masalah itu, ada Ahmad yang siap membantu," celetuk Junaidi.


"Bagaimana Mad, bisa kan untuk menerimanya?" tanya Andri pada pihak yang bersangkutan.


"Insyaallah, saya mah asal mau bekerja sama, siap untuk dalam segala hal," jawab nya sambil menyesap rokok nya.


Karena santri di sini adalah anak yang sudah berumur, sang pengasuh tidak melarang santrinya yang merokok, juga diperbolehkan membawa handphone. Yang perlu para santri lakukan adalah mengaji, sholat berjamaah, dan tidak malas.


"Terimakasih Mas. Mohon untuk bimbingan nya," Agus pun segera menyahut nya.


"Oke. Udah fix ya. Kalau begitu, mulai besok kamu bisa menanyakan hal hal yg perlu dilakukan kepada Ahmad dan Roby," ucap Andri menatap Agus. Agus pun mengangguk setuju.


Kelompok Ahmad, memang hanya terdiri dari dua orang, yaitu dirinya dan Roby. Namun kini ketambahan satu orang, yaitu Agus.


"Em... boleh saya bertanya?" tanya Agus, setelah tahu ragu sebentar.


"Boleh. Silahkan saja," jawab Andri, karena Agus menatap ke arah nya.


"Bisakah mengajari sholat? Saya ingin bisa sholat dan mengaji," ucap Agus sedikit malu. Karena di usianya yg sekarang, yang sudah terlewat baligh, ia masih belum tahu doa doa sholat, serta tata cara yang benar. Sebenar nya ia sedikit malu untuk mengatakan hal ini, tapi dia harus mengatakan nya, agar bisa mendapatkan ilmu agama lebih mendalam.


Agus memutuskan hal itu, setelah ia mengamati aktifitas para santri, dari tadi sore. Tidak mungkin baginya meninggalkan ibadah, sedangkan dirinya tinggal di lingkungan orang orang yang ahli ibadah. Ia berfikir, jika tidak ada salah nya belajar. Hal itu pun dipengaruhi oleh kata kata Paijo, saat mereka makan di warung sebelum nya. Menurut Agus, perkataan Paijo memang benar. Jadi ia memutuskan untuk belajar, selama ia masih tinggal di pesantren itu.


"Oh itu, tidak masalah. Saya tadi sudah mendapat dari instruksi dari pengasuh, jika kamu mau belajar, insyaallah saya siap membantu. Mungkin saya tidak cukup me mengetahui banyak, namun kalau hanya dasar dasar, saya siap membantu," jawab Andri.


"Terimakasih," jawab Agus. Ia pun senang, karena Andri tidak menolak nya.


Semua orang di ruangan itu tidak ada yang mengeluarkan suara, saat Andri berbicara dengan Agus. Karena mereka semua tau, Andri adalah santri terlama di antara orang yang ada di ruangan itu, masalah ilmu religi nya juga tentunya tidak perlu ditanyakan lagi. Selain itu, Andri juga lurah pesantren, atau bisa di sebut kepala dari para santri.