
"Oh iya, nama kamu siapa?"
Setelah pesanan telah terhidang, mereka menyantap makanan, dibarengi dengan obrolan santai.
"Agus Mas. Mas sendiri, siapa namanya?" jawab Agus, kembali bertanya.
"Saya Paijo. Cuman biasa dipanggil Ale," jangan orang tersebut, yang tidak lain adalah Paijo. Teman teman manggilnya Ale, sebenarnya karena dia sering berlebihan, entah dari segi perilaku atau pun penampilan. Ale, alias Anak lebay.
"Saya itu sebenarnya agak tidak betah di pesantren," lanjut nya, setelah menelan makanan, di mulut nya.
"Lah, kok bisa?" tanya Agus, sambil mengernyitkan dahi.
Paijo menyuap kan nasi ke dalam mulut nya, "Di pesantren itu banyak penghuni nya. Apalagi kalau mereka lagi mengaji itu, suara bikin saya tidak bisa tidur malam. Makanya, saya keseringan tidur pagi, bangun siang. Malam nya begadang." ia berbicara sambil mengunyah makanan, lalu menelan nya, sambil men-jeda ucapan nya.
"Banyak penghuninya? Perasaan cuman beberapa orang. Bahkan tadi sepi banget," sanggah Agus. Meskipun tadi pagi dia melihat cukup banyak santri yang berlalu lalang, tetapi iya yakin, jika jumlah penghuni penghuni di tempat itu tidak akan lebih dari 30 orang. Jadi tidak mungkin bisa membuat keributan, sampai membuat orang itu tidak bisa tidur.
"Iya. Banyak penghuninya. Mungkin kamu melihat penghuni di pesantren tidak lebih dari 30 orang, tapi sebenarnya ribuan. Kamu belum tau aja mereka, makanya mengira cuman segitu. Kalian siang begini memang sedikit sepi, soalnya anak anak kerja,"
"Iya, sedikit sepi. Karena yang lain juga biasanya pergi kalau siang," sahut Paijo.
Agus kembali terkejut, ini kedua kalinya, orang tersebut menimpali ucapan dalam hatinya. Apakah hanya perasaan Agus? Tapi dia yakin, kalau orang itu seperti mendengar pembicaraan orang dalam hati.
"Oh iya, kamu berasal dari mana?" pertanyaan kembali terlontar, meski Paijo tidak menghentikan acara makan nya. Ia menyantap makanan dengan lahan sambil berbicara, namun tidak melihat lawan bicara yang ada di samping nya.
Agus pun menjawab setiap pertanyaan Paijo apa adanya, sambil terus menyantap hidangan di depan nya. Mereka terus berbincang. Agus menceritakan perjalanan nya dari rumah, hingga sampai di pesantren, bertemu Andri, dan meminta izin untuk tinggal di sana.
Paijo mengangguk, "Menurut ku, kamu lebih baik jadi santri saja. Toh gak ada ruginya. Kamu bisa menambah ilmu agama, untuk bekal akhirat.asalah biaya tenang saja. Semua santri di pesantren kita, tidak ada yang dipungut biaya sepeserpun. Selain itu, pengasuh memberikan kami pekerjaan, dan memberi upah sesuai pekerjaan yang kita lakukan. Upah itu cukup untuk kebutuhan kita sehari hari, malah terkadang masih bisa nabung. Nanti kalau sudah cukup bekal ilmu, barulah keluar pesantren. Sampai saat itu tiba, juga tidak ada kata terlambat kalau dalam masalah urusan dunia. Percayalah, Rizki sudah ada yang mengatur. Miskin dan kaya itu hanya sebuah status. Asal berkah, insyaallah cukup. Ingatlah, kita di dunia tidak akan selamanya,"
Paijo berbicara begitu santai, sambil menyantap hidangan. Agus terkejut dengan kalimat yang keluar dari mulut Paijo. Ia tidak berharap bahwa orang itu bisa berkata bijak, padahal dari segi penampilan, itu tidak meyakinkan sama sekali.
Yah, memang benar kata pepatah, jika tidak boleh menilai isi buku, berdasarkan sampulnya.