Santri Pekok

Santri Pekok
11



Jangan menilai isi buku, dari sampulnya.


Mungkin sudah tidak asing lagi dengan kalimat pepatah tersebut. Namun, jarang orang yang benar benar mengerti mak nya. Kebanyak, orang akan menilai yang lain, berdasarkan penampilan, status, ataupun jabatan.


Seperti si Paijo contoh nya. Penampilan nya yang tidak meyakinkan, membuat banyak orang akan meremehkan nya. Bahkan Agus tidak terkecuali.


Kayanya santri, tapi penampilan nya tidak mencerminkan seorang santri. Hanya seperti seorang pemuda pada umum nya, bahkan lebih terlihat alay. Memakai celana jins pensil, dengan atasan kaos putih polos, dipadukan dengan jaket kulit warna hitam. Memakai sepatu putih, kalung rantai melingkar di lehernya, serta rambut hitam ikal bergelombang yang ditutupi topi dengan gaya miring di atas nya.


Orang yang melihat sekilas juga akan menilai, jika pemuda itu mungkin lebih mirip seperti anak jalanan. Yang sukanya nongkrong di pinggir jalan, kelayapan, dan kurang pendidikan. Namun ucapan yang keluar dari mulut nya, sangat bertolak belakang, dengan penampilannya. Ucapan nya layak nya orang yang benar benar taat agama, serta memiliki pengetahuan luas dalam hal religi.


Agus sedikit melirik orang di samping nya. memperhatikan penampilan nya, sungguh berbeda jauh dengan Andri, yang ia kenal tadi pagi. Namun saat mengingat kalimat yang diucapkan orang itu, membuat Agus berpikir, jika pengetahuan agama nya, tidak lebih buruk dari Andri.


Agus dan Paijo telah menyelesaikan acara santapan nya. Kini mereka menikmati secangkir kopi, yang telah Paijo pesan.


Paijo membakar sebatang rokok, menyesap nya perlahan, lalu membuangnya sambil bergumam, "Alhamdulillah... kenyang juga. Sungguh nikmat nya..."


Agus pun bertanya, saat melihat Paijo merokok, "Bukan nya merokok itu haram ya?"


"Kata siapa haram? Rokok itu makruh. Makruh itu, jika ditinggal kan mendapat pahala, jika tidak dilakukan, juga tidak mendapat apa apa." jawab nya santai.


"Oh iya, memang pekerjaan apa yang diberikan oleh pengasuh, pada santri santri?" tanya Agus penasaran.


"Tergantung minat mu di bagian apa? Pengasuh memiliki beberapa usaha, seperti toko atk dan photo copy, toko baju, dan toko sembako. Kemudian di bidang ternak, ada peternakan sapi, kambing, dan ayam. Selain itu, beliau juga menangani bangunan di bidang kontruksi, dan struktur. Karena beliau juga arsitek. Juga ada di bidang pertanian. Sawah di area wilayah pesantren, itu milik pengasuh. Ada yang bagian tani sayur, padi, serta kebun jeruk dan buah naga," jawab Paijo.


Agus sedikit terkejut, mendengar penjelasan Paijo. Ia tidak menyangka, jika pengasuh pesantren itu memiliki banyak cabang usaha.


"Jadi, tergantung kita mau minat di bagian mana. Kalau saya, bagian menjaga toko atk dan jasa photo copy. Meski dibandingkan dengan Andri, upah nya lebih kecil, namun kerjaan nya lebih mudah, dan tidak mengeluarkan banyak tenaga,"


"Memang nya, Andri di bidang apa?" tanya Agus antusias.


"Andri ikut si bangunan, bagian struktur. Sebenarnya kalau upah sih kurang lebih tidak jauh beda, cuma terkadang mereka mendapat kerjaan tambahan, dan otomatis upah mereka tambah,"


"Oh... semua usaha pengasuh, tenaga kerjanya adalah santri?" tanya Agus penasaran, karena banyak usaha yang dimiliki pengasuh, pasti membutuh kan banyak tenaga kerja.


"Ya jelas tidak lah. Santri hanya menjadi anggota, sedangkan kepala masing masing bagian, adalah warga sekitar sini. Seperti pertanian, peternakan, dan bangunan. Kebanyakan anggotanya adalah warga, sedangkan para santri yg berminat kerja akan di masukkan sesuai bidang yang diinginkan, dan bakal mendapat bimbingan dari para kepala tersebut. Namun, bagi santri yang tidak mau bekerja, sang pengasuh juga tidak akan memaksa. Pengasuh memberikan arahan kepada kita, agar menjadi pribadi yang mandiri, tidak bergantung kepada orang tua. Karena kebanyakan santri di sini, adalah anak anak yang sudah lepas pendidikan sekolah. Menurut agama, kalau sudah baligh itu, sudah lepas tanggung jawab orang tua. Artinya, kita harus belajar menghidupi diri kita masing masing. Tidak lagi menggunakan harta orang tua," jelas Paijo panjang lebar.


Agus tertegun mendengarkan penjelasan Paijo. Ia sungguh mengagumi sang pengasuh itu, karena bukan hanya mendidik dari segi religi, bahkan mengajarkan para santri nya menjadi pribadi yang mandiri.