Santri Pekok

Santri Pekok
17



"Biarkan dia ikut aaya saja,"


Saat Agus berpikir, tiba tiba ada suara yang seolah mengambil keputusan. Semua orang melihat ke arah pintu, setelah suara itu terdengar. Seketika semuanya hening. Bahkan yang sebelum nya ada bermain game atau bercanda, segera menghentikan aktifitas mereka, saat melihat sosok yang sebelum nya berbicara.


"Paijo," gumam Agus, setelah mendapati sosok, yang sudah tidak asing lagi baginya. Ia hendak berbicara, namun seketika ia hentikan, saat mendapati ruangan ini seketika hening.


"Biar dia ikut sama saya, jaga toko Atk, dan mesin fotocopy. Jika dia tidak keberatan tapi," Paijo berbicara santai, lalu mengambil cangkir yang berisi kopi di depan Andri lalu menyerap nya.


Entah sejak kapan ia hadir di antara mereka, namun kehadiran nya tidak ada yang mengetahui. Saat Agus mendapati sosok itu pun, posisinya sudah duduk bersila di depan pintu, seakan akan, ia telah berada di sana sejak tadi. Namun Agus yakin, jika sebelum nya Paijo tidak ada di antara mereka, tapi aneh nya, diri nya muncul begitu saja, layak nya hantu.


"Gimana Gus?" tanya Paijo.


Agus melihat ke arah Andri, lalu melirik sekitarnya. Sepertinya hanya Andri yang bersikap santai, sedang yang lain nampak diam, seolah olah mereka sangat sungkan dan hormat kepada Paijo.


"Terserah kamu, kalau kamu mau ikut dengan nya juga boleh," jawab Andri, setelah mendapatkan tatapan dari Agus.


"Ya sudah, kamu pikir pikir saja dulu. kalau mau, kamu bisa ikat saya mulai besok malam, sekarang kamu ngobrol dulu sama teman teman. Saya mau pergi dulu, mau buka toko. Terimakasih kopi nya." Paijo pun pergi begitu saja, tanpa menunggu Agus menjawab, dan mengabaikan sikap santri lain nya di ruangan itu.


Setelah kepergian Paijo dari ruangan itu, semuanya pun kembali bersikap normal. Yang awalnya meletakkan handphone mereka masing masing, saat ada paijo, kini mereka kembali mengambil, dan memainkan ponsel meraka masing masing.


'Seperti ada yang aneh? Kenapa mereka langsung terdiam saat Paijo masuk?' gumam Agus, keheranan.


"Ya sudah, karena Agus akan kerja bareng sama Ale, berarti semua nya udah beres," suara Andri kembali terdengar, setelah kepergian Agus, "Yuk, kopinya di minum, keburu dingin," tambahnya, menatap ke arah Agus.


"Kalian kalau merokok jangan barengan lah, satu satu kenapa? Kalau enggak merokok di depan sana loh, biar ruangan nya tidak ngab, dan berbau sangit," protes Andri, saat mendapati ruangan ini telah terpenuhi oleh asap samar. Karena semu yang ada di ruangan itu adalah perokok aktif. Hanya Agus dan Andri yang tidak memegang rokok di jari jari mereka.


"Yok pindah pindah woi. Noh si lurah udah mulai marah. pindah pindah." ucap Junaidi, yang langsung berdiri beranjak keluar ruangan, sambil menenteng hp di tangan kiri, secangkir kopi di tangan kanan, dan sebatang rokok yang diapit dua bibir di mulut nya.


Segera setelah itu, satu persatu pun keluar ruangan, menuju kursi yang terletak di balkon, sambil membaca cangkir kopi masing masing.


"Sini Gus, biar lebih sejuk," panggil Ahmad, karena Agus masih berdiam diri di ruangan itu dengan Andri.


"Kamu tidak merokok?" tanya Andri, karena ia belum pernah melihat Agus merokok.


"Merokok kok," jawab Agus.


"Weh, kalian tidak mau nawarin teman nya? Mana rokok kalian? Sini bagi ke Agus," ucap Andri pada mereka yang telah berpindah tempat di luar ruangan.


"Wah gak bilang dari tadi, saya kira tidak merokok. Sini Gus, gabung sini,"


"udah gak usah sungkan. Ini rokok aja,"


Mereka memanggil Agus untuk gabung di tempat itu, yang memang tersedia kursi dan meja, tempat yang memang biasa dipakai bersantai saat malam hari, setelah kegiatan mengaji selesai.