
Mereka memanggil Agus untuk bergabung di tempat itu, yang telah tersedia kursi dan meja. Tempat yang memang biasa dipakai bersantai saat malam hari, setelah kegiatan mengaji selesai.
Agus dan Andri pun ikut bergabung dengan mereka, duduk di kursi salah satu sudut tempat itu.
Agus memandangi langit yang cerah. Pemandangan langit malam memang indah, jika dilihat dari tempat itu. Suasana yang nyaman begitu terasa. Tidak ada suara kendaraan, yang terdengar hanya candaan para santri yang berkumpul di tempat itu.
"Oh iya, kamu kenal kang Ale ya?" Andri menatap Agus yang sedang mendongakkan kepalanya, menatap langit bertabur bintang.
"Ale?" Agus mengulangi nama tersebut, sambil mengernyitkan dahi.
"Iya, yang tadi ngajakin kamu untuk kerja bersamanya," jelas Andre.
"Ooh... itu," Agus mengangguk, lali kembali berkata, "Bukan nya nama dia Paijo ya?" tanya nya.
"Heem ... namnya emang Paijo. Cuman dulu sering dipanggil Ale. Jadi dia pun sampai sekarang dikenal nya dengan nama Ale," ucap Andri.
"Ooh... begitu. Saya baru kenal dia tadi siang. Saya tadi sedang jalan jalan melihat sekeliling, terus ketemu dia. Eh, dia ngajakin makan ke luar. Ya saya ngikut aja, kebetulan saya juga sedang lapar," jawab Agus.
"Em... tapi dia kok agak aneh ya? Dia tadi sempat menjawab omongan ku yang tidak ku ucapkan. Padahal saya hanya berbicara di dalam hati, tapi omongan dia tuh, seolah menjawab omongan ku," mengingat Paijo, Agus jadi teringat kejadian tadi siang. Menurut nya itu sungguh tidak wajar. Kalau cuman satu kali, mungkin bisa dibilang omongan asal, dan kebetulan saja, tapi itu terjadi dua kali. Agus pun merasa ada yang janggal dengan itu.
" Kang Ale ya? Yah, dia memang bisa mendengar ucapan orang dalam hati. Jadi berhati hatilah saat sama dia, jangan sampai mengumpat di samping nya, meski hanya dalam hati," jawab Andri sambil tertawa kecil.
"Kok bisa seperti itu? Emang ada orang yang bisa mendengar ucapan orang lain dalam hati?" Agus pun menatap Andri sungguh sungguh.
"Bisa dibilang sih, kelebihan kalick ya. Namun memang begitulah. Kang Ale itu murid terlama di sini. Saat saya masuk ke pesantren ini, dia sudah berada di sini beberapa tahun sebelum nya," jawab Andri.
"Terus kalau udah lama jadi santri, itu bisa mendengarkan omongan orang dalam hati?"
Andri tertawa kecil mendengar itu, lalu berkata, "Kalau hanya menjadi santri di sini, hal itu tidak mungkin lah, meskipun sampai berpuluh puluh tahun. Kang Ale dulu orang yang gemar melakukan tirakat,"
"Tirakat?" Agus menyela ucapan Andri, saat ada kata kata asing yg terdengar di telinganya.
"Iya. Tirakat itu, melakukan suatu hal, untuk mendapatkan sesuatu. Atau kata lain nya itu melakukan amalan tertentu. Seperti puasa mutih, ngerowot, puasa patih geni, dan masih banyak amalan amalan lain, dengan tujuan yang berbeda beda.
"Ngerowot?" lagi lagi, Agus mendapatkan kata kata asing, yang belum pernah ia ketahui selama ini.
"Iya. Ale dulu dan teman seangkatan nya, melakukan hal ini, bertujuan untuk mendapat kan penerangan hati,"
"Penerang hati?" Agus mengulangi kalimat tersebut, karena penasaran, apa yang dimaksud dengan penerang hati.