Santri Pekok

Santri Pekok
08



hembusan angin sepoi sepoi menerpa wajah Agus, ia merasakan nyaman damai di tempat ini. Karena suasana sangat sepi, ia berinisiatif untuk kembali ke kamar nya, karena meski ia lapar, tidak tau harus makan apa, yang pun tak punya. Andaikan punya uang, ia pun bingung harus beli di mana, karena seluas memandang itu hanya hamparan sawah di tepi hutan.


ada sekitar 7 gedung terpisah di sana. Salah satu gedung itu asrama yang salah satu kamar nya iya tempati. Satu gedung lagi, rumah sang pengasuh yang agak berjauhan dari beberapa gedung asrama, dan di antara terdapat sebuah bangunan yang tidak lain adalah masjid. Ada satu gedung yg berdekatan dengan masjid, seperti nya itu tempat belajar santri. Sedangkan 3 gedung tersisa adalah asrama santri juga.


Setiap satu gedung asrama memiliki 5 sampai 7 kamar yang berjejer, seperti sebuah kos kos an. Hanya satu gedung yang lebih tinggi dari gedung lain nya, sepertinya itu gedung tingkat berlantai dua.


Andari berjalan perlahan, mengitari beberapa gedung asram, sambil mengamati tempat yang sepi ini. Lalu ia berhenti di depan salah satu kamar, saat ia mendengar suara batuk dari dalam ruangan.


'Seperti nya tadi ada suara orang?' batin Agus, lalu melangkah, mendekati kamar tertentu.


Meski tida terlalu jelas, tapi ia yakin, jika tadi ia mendengar suara orang.


Agus mendekat ke arah pintu itu, hendak menempelkan telinga ke daun pintu, untuk mendengarkan apakah memang benar ia tidak salah dengar, dengan suara sebelum nya.


'Tidak ada suara orang? Ah mungkin aku yang salah dengar,' bayi nya, lalu hendak pergi meninggalkan tempat tersebut. Namun, baru saja ia menjauh beberapa langkah.


"Brak!"


Pintu yang awal nya tertutup pun terbuka, terbanting keras.


"kreek... kreek... kreek..."


Agus pun sempat kaget, dan spontan berbalik menatap kamar tersebut. Beberapa saat ia menatap ruangan itu dengan seksama. Karena penasaran, dia kembali mendekati kamar yang sebelum nya hendak ia tinggal kan. Ia melangkah maju, menahan daun pintu, lalu masuk ke dalam ruangan.


"Tidak ada apa apa," ucap Agus, sambil mengamati ruangan.


Ruangan itu sangat gelap meski di siang hari. Beberapa sarang laba laba menjadi penghias di setiap sudut ruangan. Nampak kamar tersebut telah lama tidak ditempati.


Agus menatap ke sudut ruangan. Ada sebuah almari kecil di sana, dan samar samar, ada sebuah foto yang di letakkan di atas almari.


Agus pun berjalan mendekat, meski ruangan itu cukup gelap karena tidak ada jendela, ataupun ventilasi udara, bahkan lampu penerang, namun karena siang hari, itu masih bisa terlihat, secara samar samar.


"Sebuah foto bersama?"


Agus mengambil foto yang dibingkai dengan kayu itu, lalu mengusap debu yang menempel. Seperti nya itu foto santri yang sudah lama, atau mungkin mereka sudah meninggalkan pesantren. Karena terlihat foto itu sudah agak memudar. Ada 7 orang dalam foto tersebut, dengan pakaian ala santri. Memakai setelan baju koko, dipadukan dengan sarung, dan tak lupa peci hitam menjadi penghias di kepala mereka orang orang tersebut.


Setelah memandangi cukup lama, Agus pun kembali meletakkan foto itu pada tempat semula. Ia pun hendak berbalik dan pergi dari ruangan itu. Namun, saat ia membalikkan badan, tiba tiba ia mendapati sosok kurus yang berdiri tidak jauh dari pintu ruangan, sepertinya sosok itu telah mengawasi Agus sudah beberapa saat yang lalu.


"Se... se.... setaaaan!"