Santri Pekok

Santri Pekok
05



Setelah selesai membersihkan diri, Agus mengganti pakaian nya, dengan pakai an yang telah diberi oleh Andri.


"Mas, kalau boleh tau, namanya siapa?" tanya Agus dengan sopan, karena perlakuan baik dari Andri.


"Nama saya Andri Sugeng Prakoso, kamu bisa memanggil saya Andri. Kalau mas sendiri namanya siapa?" Andri pun balik bertanya, karena belum mengetahui namanya.


"Nama saya Agus mas,"


"Kamu bisa memanggil saya Andri, tidak perlu menggunakan sebutan mas," cegah Andri, karena dari penampilan nya, Agus mungkin seumuran dengan nya.


"Baik Ndri, kamu juga panggil saja saya dengan sebutan nama,"


keduanya pun saling tersenyum, dan mengangguk.


"Ayo saya antar sowan ke dalem pengasuh," ajak Andri.


"Sowan? Dalem, pengasuh?" Agus mengulangi kata tersebut, karena merasa asing dengan kata kata ini.


Andri tersenyum, lalu menjelaskan.


"Sowan itu bahasa Jawa halus, yang artinya bertamu. Dalem juga bahasa halus Jawa, yang artinya rumah," ucap Andri.


"Oh... iya iya, saya baru tahu," Agus pun mengangguk mengerti.


"Mari."


Ada pepatah Jawa yang bila menggunakan bahasa Indonesia seperti ini, "Bila datang harus menunjukkan wajah, dan apabila pergi harus menunjukkan punggung," yang artinya, bila kita hendak bermukim, atau menetap dan juga akan pergi meninggalkan tempat tersebut, seharusnya meminta izin pada sang pemilik tempat. Itu adalah sebuah tata Krama yang harus kita terapkan, agar kita hidup tidak menimbulkan masalah di belakang.


"Assalamualaikum..." Andri mengucapkan sebuah salam, di depan rumah sang pengasuh, dengan suara yang lembut.


"Wa'alaikumussalam..." sebuah jawaban salam, terdengar Dali dalam rumah, kemudian sosok orang tua yang sudah berusia pun muncul. Penampilan nya sangat berwibawa, meski kulit telah sedikit keriput, akibat dari usia nya. Rambut nya seluruh memutih, di tutupi dengan peci putih, menggunakan baju gamis panjang berwarna putih, di padukan sarung berwarna putih. Usianya memang tidak bisa ditutupi, dengan tampilan yang bukan hanya rambut saja yang putih, tetapi jenggot dan alis nya pun sudah memutih.


Andri buru buru menurunkan tubuhnya, menekuk kaki, dan berdiri dengan kedua lutut, saat sosok itu mendekat ke arah mereka. Lalu dengan sangat sopan, Andri menyambut tangan orang tersebut, lalu mencium punggung telapak tangan nya. Sedang Agus yang tidak tahu, hanya berdiri di belakang nya sambil menatap heran dengan hal yang dilakukan oleh Andri, kemudian ia pun mengalami orang tau tersebut, setelah Andri.


"Ayo masuk sini." ajak orang tersebut dengan penuh senyum ke arah kedua nya. orang tersebut tidak lain adalah, pengasuh pesantren.


Andri pun mengikutinya, berjalan di belakang nya, dengan menggunakan kedua lutut nya. Sedang Agus tetap berdiri, dan mengikuti langkah mereka, memasuki rumah.


Andri kemudian duduk di sebuah kursi, setelah sang pengasuh duduk, dan mempersilakan kan nya, dan Agus hanya bisa mengikutinya. Andri dan Agus duduk berhadapan dengan sang pengasuh.


"Bagai mana Andri?" tanya sang pengasuh, untuk mengetahui tujuan mereka datang.


"Begini Pak, ini namanya Agus ..."


Andri pun menceritakan kisah Agus kepada sang pengasuh, dengan nada yang sangat sopan, serta pandangan nya tertunduk ke bawah, menandakan ia sangat menghormati guru nya ini.


"Oh begitu..." sang pengasuh mengangguk, setelah mendengar penjelasan Andri.