
"Penerang hati?" Agus mengulangi kalimat tersebut, karena penasaran, apa yang dimaksud dengan penerang hati.
"Iya. Kalau bahas yang mudah dimengerti, mungkin terbukanya mata batin. Namun, kalau mata batin terbuka, itu terkadang hanya bisa melihat keberadaan mahluk lain ciptaan tuhan, seperti Jin atau mahluk halus lain nya. Nah, kalau penerang hati, bukan hanya bisa melihat mahluk astral, tetapi juga bisa mendengar omongan di dalam hati seseorang," terang Andri.
Bulu bulu di sekujur tubuh Agus seketika berdiri, mendengar penjelasan dari Andri. Antara percaya dan tidak tentang hal itu. Kalau bisa melihat mahluk astral, Agus sudah terbiasa dengan hal ini, karena sering melihat si televisi. Entah itu nyata atau tidak, namun Agus merasa, itu sudah biasa. Namun ketika ada orang yang bisa mendengar kata hati, itu sungguh membuat nya seperti konyol. Sebenar nya ia tidak percaya, namun kejadian tadi siang, membuat ia bertanya tanya. Apakah itu memang benar? Namun jika dilihat dari ekspresi wajah Andri, itu tidak tampak berbohong. Memikirkan Andri adalah santri yang dipercayai oleh sang pengasuh, dengan pahaman agama nya juga tidak sedikit, tidak mungkin Andri mengatakan kebohongan.
"Memang nya, amalan apa yang dilakukan Paijo itu," Agus pun semakin dibuat penasaran, dengan sosok Paijo.
"Amalan nya adalah, tidak makan nasi, dan makanan yang awal nya bernyawa. Seperti daging, dan ikan,"
"Tidak makan nasi? Tapi dia tadi makan nasi bersama saya," sanggah Agus, saat mengingat di warung makan tadi sore. Perkataan Andri, sepertinya menjelaskan, mengapa tadi Paijo memesan nasi pecel. Sebelum nya Agus mengira, jika para santri mungkin lebih suka makan sayur sayuran, tapi ternyata ada rahasia di balik nya. Tapi untuk nasi, ia sedikit meragukan nya. Dia dengan jelas mengingat, jika Paijo tadi memakan nasi.
"Karena untuk tidak makan nasi, dia sudah lulus. Namun untuk tidak memakan barang yang bernyawa, itu masih berlanjut. Dia menunggu instruksi sang pengasuh. Jika sang pengasuh belum menerima instruksi, dia tidak akan berani untuk memakan makanan yang bernyawa,"
"Ooh... begitu ya?" Agus mengangguk mengerti.
"Memang nya sudah berapa lama dia tidak memakan barang yang bernyawa?" tanya Agus.
"Ha? Empat belas tahun?" Agus pun terkejut, "Berarti dia sudah lama ya, di pesantren ini?"
"Kurang lebih, sekitar 35 tahun. Sewaktu saya masuk di sini, yang saya tau, dia sudah jadi santri di sini, selama 20 tahun. Setalah satu tahun saya di sini, barulah Paijo melakukan puasa ngerowot. Ia mula tidak makan nasi, dan makanan yang awal nya bernyawa, dan hanya diperbolehkan makan sayuran saja oleh pengasuh. Hal itu, sampai membuat nya kurus, bahkan layak nya tengkorak. Tubuhnya terlihat hanya tersisa tulang dan kulit. Tiga tahun setelah melakukan itu, barulah dia diperbolehkan memakan nasi oleh pengasuh, namun untuk tidak makan makanan yang bernyawa, masih tetap lanjut, sampai saat ini," ucap Andri.
"Kok pengasuh tega?" tanya Agus dengan heran.
"Maaf, itu bukan paksaan. Pengasuh dulu memberikan amalan ini, setelah mereka khatam mengaji kitab ihya' Ulumuddin. Pengasuh hanya memberikan, dan pilihan tergantung kepada para santri. Yang saya ingat waktu itu, ada sekitar 387 santri. Salah satunya adalah Paijo," tukas nya.
"387 santri? Bukan nya dari dulu, santri di sini tidak pernah lebih dari 20 orang?" Agus bertanya tanya, karena yang ia tau dari cerita para santri, bahwa santri di sini, dari dulu tidak pernah banyak, bahkan tidak pernah lebih dari 20 orang. Meski santri terus datang dan pergi, sampai waktu saat ini.
"Itu kan santri yang kasat mata. Yang jadi santri di sini, bukan hanya manusia,"
Deg!
Agus pun langsung merasakan sesuatu yang aneh, saat mendengar ucapan yang keluar, dari mulut Andri.