
"Terus bagaimana dengan tujuan nak Agus? Apakah mau nyantri di sini sambil kerja, sama teman teman, atau tinggal di sini untuk sementara waktu, sambil mencari pekerjaan yang cocok dengan nak Agus?" tanya sang pengasuh itu dengan suara yang lembut dan sangat berwibawa.
"Mungkin saya akan mencari pekerjaan nantinya, cuman untuk sementara ini bisa bantu bantu di sini," jawab Agus merasa tidak enak kala harus langsung mencari pekerjaan, sedangkan ia sudah diberikan tempat tinggal secara gratis.
"Yasudah, semoga Allah memberi kemudahan," sang pengasuh memberikan anggukkan, lalu berkata kembali, "Andri, siapkan kamar untuk nya,"
Andri segera memberi jawaban dengan anggukkan, "Baik Pak,"
"Ya sudah, silahkan ke kembali," pinta sang pengasuh, setelah sekiranya dirasa cukup.
Andri pun segera membungkukkan badan, menyalami sang pengasuh, dengan mencium punggung telapak tangan tersebut, lalu berjalan mundur dengan kedua lutut nya. Setelah agak jauh, barulah dia kembali berdiri namun posisi badan masih membungkuk, sampai jauh dari halaman rumah pengasuh, barulah kembali menegakkan badan.
"Iya, itu adalah tata krama santri kepada ustadz nya. Ustadz itu ibarat pengganti orang tua. Orang tua adalah orang yang merawat jasmani kita, dari balita, yang tidak bisa apa apa, sampai bisa makan sendiri, berjalan, berbicara, serta memberikan perlindungan, sehingga kita menjadi orang yang bisa melakukan segala hal seperti kita sekarang. Sedang guru atau ustadz, adalah orang yang merawat rohaniah kita.Dati yang awal nya kita tidak mengetahui banyak hal, menjadikan kita orang yang berbudi luhur, memberikan bimbingan, mengajarkan banyak hal, sehingga kita menjadi orang yang berpengetahuan," jawab Andri menjelaskan, sambil terus berjalan menuju kamar asrama mereka.
"Lalu bagaimana dengan orang tua yang tidak peduli terhadap anak nya? Yang selalu sibuk dengan urusan mereka sendiri?" tanya Agus. Ia sedikit tertarik dan ingin mengetahui banyak hal dari Andri, karena menurut nya, Andri lebih tahu banyak hal ketimbang diri nya.
Andri tersenyum lalu berkata, "Sejelek jelek nya orang tua, tetaplah orang tua kita. Kita tidak bisa memungkiri, bahwa tanpa orang tua, kita tidak akan ada di dunia ini. Berkat orang tua, kita bisa mengetahui ciptaan tuhan di dunia ini. Berkat orang tua, kita bisa menikmati hidup dengan raga ini. Berkat orang tua, kita bisa melihat matahari, dan merasakan apa yang tidak dirasakan oleh mahluk ciptaan tuhan, yang lain. Seperti Jin, contoh nya. Mereka tidak memiliki raga seperti kita," Andri men-jeda kalimat nya, sebelum kembali berbicara.
"Jadi, seburuk buruk nya perlakuan orang tua kepada anak nya, kita sebagai anak, hanya perlu berbakti kepadanya, selama itu masih tidak keluar dari ajaran agama yang telah ditetapkan oleh sang pencipta. Apalagi untuk seorang ibu. Ketahuilah, bahwa ibu adalah mahluk yang paling mulia di dunia. Ia bersedia merawat kita dari semasih dalam kandungan. Padahal itu sangat berat. Bayangkan kamu membawa barang di perutmu selama 9 bulan penuh, bagaimana rasanya? Kalau tidak sabar sabar bukan kah sudah di buang? Setelah itu harus menghadapi gerbang kehidupan, antara hidup dan mati. Tidak jarang nyawa melayang, saat orang melahirkan. itu sungguh perjuangan yang luar biasa. Setelah kita lahir, ibu merawat kita dengan penuh kasih sayang, hingga kita besar, dan memiliki ingatan swrta berpikir. Jadi jangan pernah kita membenci orang tua, seburuk apapun perlakuan orang tua pada kita saat ini. Karena kita telah me-repot kan nya, dari semasa di kandungan." ucap Andri terus berbicara panjang lebar.