Santri Pekok

Santri Pekok
07



Andri memang sudah lumayan lama berada di pesantren itu. Jadi, watak, prilakunya, serta pola pikir nya, sangat dewasa, berkat bimbingan dari sang guru. Andai ia ditugaskan mengajar di suatu wilayah, pasti akan mampu. Bukan hanya dari segi pola pikir, bahkan ibadah dan ngajinya, tidak perlu dipertanyakan lagi.


Andri dan Agus terus berjalan memasuki area asrama, sambil terus berbincang. Agus kagum pada Andri, karena usia yang masih muda, namun sudah menjadi karakter yang bgitu hebat dan berpengetahuan luas. Iapun terus bertanya beberapa hal, dan Andri akan menjawab, semampu yang ia tahu, tanpa merasa sombong. Ia berbicara dengan nada santai, layak nya mengobrol, hingga sampai pada asrama santri.


"Ini kamar yang akan kamu tempati. Maaf kalau mungkin bagimu kurang nyaman, karena kita di sini diajarkan untuk hidup dengan kemewahan," ucap Andri, setelah membawa masuk ke kamar, yang bersebelahan dengan kamar nya. Ruangan itu nampak kosong, hanya terdapat satu tikar sebagai alas tidur, bantal, sebuah almari kecil kecil untuk baju, serta rak buku tempat kitab dan buku belajar.


"Iya, terimakasih. Saya bersyukur, karena sudah diberi tempat tinggal, dan diperlakukan dengan baik," jawab Agus, yang memang merasa tidak enak hati, karena harus merepotkan mereka. Ia sudah bersyukur, karena tidak berakhir hidup di jalanan, dan menjadi gelandangan.


"Kalau begitu, silahkan istirahat. Kalau ada sesuatu, bisa mencari saya," ucap Andri, lalu meninggalkan Agus, beranjak pergi ke kamar nya.


Sepeninggal Andri, Agus masih berdiri, memandangi ruangan itu. Tidak lama kemudian, ia menggelar tikar, mengambil banyak untuk alas kepala, lalu merebahkan tubuh nya sambil menghela nafas panjang.


"Fiuuuh... untung saja ketemu orang baik dan mau menolong, kalau tidak ... ah, bisa jadi gelandangan aku," ucap nya, berbaring telentang, dengan ke dua tangan di tekuk menjadi alas kepala, sambil memandangi langit langit ruangan.


Agus terus mengingat perjalanan nya dari rumah, sampai tiba di tempat ini. Namun kerena badan nya kelelahan akibat perjalanan itu, ia pun harus merelakan mimpinya menguasai diri, terlelap dalam bunga tidur.


Agus membuka ke dua matanya, setelah beberapa jam, membiarkan tubuh nya rileks dengan tidur nyenyak nya.


"Jam berapa ini? Kok sepi?" Ia pun segera bangkit, lalu melihat jam yang tertempel di dinding, "Jam dua?" gumam nya, setelah melirik jarum jam itu. Ia pun mengambil handuk, lalu pergi ke kamar mandi, untuk membersihkan diri.


"Huuh... segar juga," ucap nya, setelah mandi, dan mengganti pakaian nya. "Enak nya, ngapain ya?"


"Kruuuk...."


"Waduh, mana lapar pula," ucap nya, setelah mendengar alarm yang berbunyi di perut nya. Ia memang belum menyantap apa pun, dari semalam.


Agus melangkah keluar dari kamarnya. Ia mengernyitkan dahi, saat melihat suasana yang begitu sepi, sangat berbeda dengan tadi pagi. Meski tadi pagi sepi, tapi tidak se-sunyi ini. tadi pagi, ia masih melihat beberapa orang di tempat tersebut. Namun sekarang, ia tidak menemukan tanda tanda kehidupan sama sekali.


Angin sesekali bertiup pelan, menerpa daun daun di pepohonan, sehingga yang kering akan jatuh berguguran. Agus berjalan ke halaman, memperhatikan tempat sekitar. Ia menemukan bahwa tempat ini berada di tengah area persawahan, bahkan dengan dengan sebuah hutan. Ia tidak menemukan bangunan lain di tempat itu, selain beberapa yg ia tempati. ini menandakan tempat ini jauh dari pemukiman penduduk, dan sejauh mata memandang ini hanyalah hamparan luas persawahan. Hanya ada kicauan burung yang sesekali terdengar, dan suara pintu rusak yang sesekali tertiup angin menimbulkan suara krieet krieet, menghiasi kesunyian.