Santri Pekok

Santri Pekok
01



Agus mondar mandir di keramaian kota, hatinya bingung, karena melamar kerja di tolak, dia tidak tahu kenapa, kurang syaratnya.


Agus berpindah dari satu kota, ke kota yang lain, dia melamar kerja di berbagai tempat, namun semua lamarannya ditolak.


Agus berdiam diri di pinggir jalan, dia duduk pada trotoar, di belakangnya, tas ransel selalu menempel pada tubuhnya.


Setelah memutuskan keluar dari rumahnya, dia bingung mau kemana, melamar kerja pun di tolak, padahal dia sudah memasukkan lamaran pekerjaan di berbagai tempat.


"Woy! Copet! Copet! Copet!"


Agus berlari menyusuri gang perumahan, dia sedang mengejar orang yang telah membawa lari ranselnya.


"Copet! Copet! Copet!"


Dia terus berlari sambil berteriak, di sekelilngnya banyak orang yang sedang beralalu lalang. Tapi sayang, lihatlah! Mereka tak peduli.


"Copet! Copet! Copeeet..."


Terikannya memelan, dia merasa capek, dengan nafas yang tersengal, Agus berjongkok di tengah jalan.


Ini di mana?


Agus clingukkan menatap sekelingnya, dia bingung saat menyadari, dia berada di tengah kegelapan, padahal sebelumnya dia berada di tengah kota.


"Sepi, gelap, ini di mana?"


Agus melihak ke seluruh penjuru, lehernya telah berputar 380° diikuti gerakan badan, namun dia tidak menemukan rumah, sepertinya dia telah jauh dari pemukiman, seberapa jauh dia berlari? Entahlah, yang pasti saat ini, dia sedang berada di lingkungan terbuka tanpa ada rumah, di sekelilingnya, hanya ada sawah, seluas mata memandang, yang terlihat hanyalah sawah.


"Ya Allah... ini di mana?"


Agus kemudian melangkah, dia berjalan tidak tau arah, yang dia lakukan, hanya melangkahkan kakinya entah ke mana.


Hari semakin sore, sorotan cahaya matahari, berwarna kemerah merahan, Agus duduk seorang diri di pematang sawah, Agus tadi berjalan mencari jalur pintas, dia melewati luasnya persawahan.


Rasa capek pegal, lapar dan dahaga sudah tidak tertahankan, tenggorokannya kering krongkongan. Karena sangatblelah, Agus memutuskan untuk istirahat sejenak, dia berbaring di sebuah gubuk kecil.


Hari emakin malam, Agus yang merasa kelelahan, telah terlelap dengan nyenyak, dia tertidur di gubuk di tengah persawahan.


Agus terbangun saat ribuan nyamuk menggigit tubuhnya, dengan keadaan setengah sadar, dia merogoh saku baju dan celananya.


Agus kaget, saat dia tidak menemukan ponselnya.


"Ya Allah, mampus lah aku, baju gantiku berada di tas, berkas-berkas penting ada di tas, dan tasnya di copet, sekarang ponsel juga tidak ada." Agus bersedih seorang diri.


Di tengah kegelapan malam, di hamparan luasnya sawah, Agus terisak, dia menangis mengingat kejadian kejadian buruk akhir-akhir ini, yang sedang dia alami.


Agus merasa kesal saat dia menjadi korban dari kehancuran rumah tangga orang tuanya. Sebagai anak tunggal, dia merasa tidak pernah dianggap menjadi bagian dari keluarganya. Ayah dan ibunya, hanya mementingkan kepentingan mereka masing-masing, karena merasa tidak dianggap, setelah beberapa minggu perpisahan terjadi, Agus memutuskan untuk merantau, dia pergi jauh dari tempat tinggalnya. Sepanjang perjalanannya, Agus hanya berharap, jika nanti mendapat pekerjaan dan bisa membiayai hidupnya sebdiri.


Namun sayang serinu sayang, kenyataan tidak seindak ekspetasi. Lamaran kerjaannya di tolak dari berbagai tempat, agus tidak bisa mendapatkan pekerjaan, dan lebih na'as lagi, saat ranselnya di bawa lari orang, kini dia hanya mempunyai harta, apa yang sekarang menempel pada tubuhnya, hanya satu setel pakaian yang kini ia kenakan.


Setelah cukup lama dia meratapi nasibnya, dia pun bangkit, agus beranjak dari tempatnya, dia memandang arah sekotar. Ternyata semuanya masih tetap sama, hanya hamparan sawah yang begitu luas, dia tidak menemukan adanya pemukiman di sekitarnya. Agus pjn melangkah, dia hanya berjalan, mengikuti kata hatinya.


setelah berjam-jam dia jalan, akhirnya dia melihat ada sebuah tembok bembatas, dengan perasaan senang, Agus mencari gerbang masuk dari pagar tembok tersebut.


Ini pagar apa sih, tinggi, panjang, tapi gak ada gerbangnya. Ah mungkin sebelah sana.


Agus berjalan menyusuri tembok itu, dia sedang mencari gerbang masuk.


Ah! Ini rupanya.


Agus tersenyum bahagia, saat menemukan gerbang masuknya. Tanpa basa basi, dia langsung masuk pagar itu, yang ternyata tidak ada pintunya, Agus berharap, bisa meminta air minum pada pemilik rumah itu, Karena dia merasa sangat haus dan lapar.


Agus terdiam saat berada di dalam pagar, dia tiadak menemukan rumah di dalamnya, dengan pandangan mata melihat sekitar, dia berjalan pelan. Karena tidak melihat ke bawah, dia akhirnya tersandung, dan jatuh ke tanah.


"Udah gelap, malah terjatuh, sial bener sih."


Agus merogoh semua saku pakainnya, dia teringat kalau mempunya macis.


"Ah! Ini dia." Agus mengambil macis dari salah satu sakunya, kemudian menyalakan macis itu.


"Ini apa? Ada namanya? Heeemm... wafat? Ohh... batu nisan ya." Ucap Agus setelah membaca nama dan tanggal wafat yang tertera oada sebuah papan, yang tadi membuatnya jatuh.


"Batu nisan? Berarti... Kuburaaaan!" Agus berlari terbirit birit, dia baru sadar, kalau ternyata, kini dia berada di tempat pemakaman, dan yang membuatnya terjatuh tadi adalah batu nisan, Agus berada di sebuah tempat pemakaman tua yang di pagar keliling.


Agus lari sekencang kencangnya, perasaan takut terus menghantuinya, dia merasa kalau saat ini sedang diikuti seseorang yang tidak bisa dilihatnya.


Agus berlari tidak mempedulikan sekitar, dia hanya berlari, berlari dan terus berlari, bahkan padi yang baru berbuah, manjadi korbannya, agus berlari lurus ke depan, dia menerjang barisan padi yang masih hijau.


Malam semakin larut, Agus berlari seorang diri, dia berlari tanpa tujuan, dalam pikirannya, dia berharap dapat menemukan pemukiman dan dapat bertemu dengan orang.


Entah berapa lama dia berlari, entah seberapa jauh dia berlari, entah sampai mana dia saat ini, yang dia tahu hanya lari. Agus semakin berlari kencang, saat matanya menangkap kelipan cahaya. Agus melihat ada cahaya lampu, dari pandangan matanya, seprtinya jaraknya masih cukup jauh, karena cahayanya terlihat kecil, bahkan hanya seoerti bintang, namau itu tidak membuatnya menyerah, dia semakin semangngat, dan memacu kecepatannya.


Setelah bebrapa jam dia berlari, akhirnya dia menemukan sebuah bangunan, dia berhenti berlari dan duduk di sebuah teras, entah itu rumah milik siapa, Agus tidak peduli, yang penting dia menemukan rumah untuk singgah, bukan kuburan seperti gang ia dapati sebelumnya, atau gubuk kecil tengah sawah, yang tidak ada penghuninya.


Karena sudah berlari selama berjamjam, rasa capek, letih, dan lelah telah bercampur aduk, hingga dia tidak lagi merasa lapar. Perlahan, Agus membaringkan tubuhnya di lantai, Agus berbaring telentang di teras sebuah bangunan.


Malam telah semakin larut, di sebuah bangunan yang sepi, Agus membaringkan diri, tidak lama kemudian, rasa katuk dan lelahnya telah mengendalikan tubuhnya. Agus tertidur di teras depan, dia tidur dengan pulasnya.