Santri Pekok

Santri Pekok
14



"Ini kopinya, silahkan di minum, asal jangan sama gelas nya," ucap salah satu dari mereka, sambil meletakkan gelas yang berisi kopi hangat, di depan Agus.


"Iya, terimakasih," Agus pun tersenyum dengan sopan ke arah orang itu.


"Kenalin semuanya. Nama nya Agus. Dia akan tinggal di sini untuk sementara waktu. Gus, ini teman teman yang tinggal di sini. Karena kita semua berada satu lingkup tempat tinggal, jadi harus saling mengenal, satu sama lain. Biar tidak jadi orang asing," ucap Andri memperkenalkan nya.


Agus mengangguk, " Nama saya Agus, salam kenal untuk semuanya," sapa nya, menatap mereka sambil tersenyum.


"Tidak perlu sungkan bro, santai aja,"


"Iya bro. Santai aja, anggap kita di sini adalah saudara,"


"Ah siapa juga yang mau jadi saudara kamu? Nanti yang ada malah ketularan kamu. Orang kamu jorok gitu,"


"Enak aja, itu tuh si Angga yang gak pernah mandi,"


"lah mending Maas mandi, daripada malas cuci baju kek si juned. Masa baju ampek bau ampek, parah tuh,"


"Eh, jangan salah. Gini gini, gue paling tampan ya di antara kalian semua,"


Mereka pun saling bercanda, membuat suasana begitu ramai seperti pasar tradisional. Agus pun tersenyum melihat tingkah mereka. Ia senang, karena semua orang di sini begitu ramah dan tidak mengacuhkan orang yg baru seperti diri nya.


"Udah dulu ya. Kalian itu tidak kasian sama orang baru, malah saling berdebat," ucap Andri.


"Siap pak bos,"


Jawab mereka semua, saat mendengar perkataan Andri. Semuanya pun menghentikan ocehan yang saling meledek satu sama lain itu.


"Saya mau menjelaskan sedikit Gus. Karena kamu bakal tinggal di sini, jadi kita akan memberikan kegiatan yang sama dengan teman teman semua," ucap Andri lagi, sambil menatap ke arah Agus.


"Untuk masalah makan, kita biasanya masak sendiri, namun dijadwalkan secara bergantian. Bahan makanan, kita akan iuran bareng. Jadi saya akan memasukkan mu kedalam jadwal kami. Apakah setuju?" tanya Andri, menatap ke arah Agus.


"Pokok nya saya mengikuti saja, apa yang menjadi kebiasaan di sini," ucap Agus.


"Baik kalau gitu, di tempat siapa yang kekurangan anggota?" tanya Andri, menatap semua orang di ruangan itu.


"Kita kekurangan nih," sahut Junaidi.


"Bah, orang kamu malas memasak gitu, yang ada ntar malah Agus muluk yang kau suruh suruh bah," sahut Angga.


"Biar di kelompok ku saja," sahut Ahmad.


"Nah, bener tuh. Biar di tempat Ahmad saja," sahut yang lain lagi, setelah Ahmad berkata.


"Bah, tega sekali kalian. Saya punya juga kekurangan," sanggah Junaidi.


"Kalau di komik mu, yang ada ntar si Agus yang tersiksa," sahut yang lain.


"Iya tuh. Hahaha...."


Kelompok jadwal memasak dibagi menjadi 7 kelompok, dan bergilir selama 7 hari. Setiap kelompok, terdiri dari 3 orang, hanya kelompok Junaidi dan Ahmad yang terdiri dari 2 orang, karena jumlah santri di pesantren itu hanya 19 orang, dan ketambahan Agus jadi 20 orang.


"Baik. Fix ya, Agus masuk di kelompok Ahmad," ucap Andri, seolah memutuskan hasil diskusi bersama.


"Tapi .... saya tidak bisa memasak," jawab Agus kemudian.