Santri Pekok

Santri Pekok
03



"Mas... bangun.... " dengan penuh sopan, Andri menggoyang tubuh orang yang tengah terlelap, dia tidak akan berhenti membangunkan sebelum berhasil, karena itu sudah perintah Sang Kiyai. Sekali Sang Kiyai mengucapkan A, maka pantang baginya untuk berpaling, yah... itulah sifat Andri.


Siapa sih, orang ini? kayaknya bukan orang sekitar sini, santri pun bukan.


Andri memandangi tubuh tersebut, dia merasa orang itu adalah orang asing, yang entah dari mana asalnya.


"Mas bangun." kali ini ia mengguncang tubuh tersebut.


"Heem..." Agus perlahan bangkit, sambil mengucek kedua matanya. "Siapa ya?"


Agus memperhatikan tempat sekitar, dan bertanya saat mendapati sosok asing di depan nya.


"Bangun, ini udah mau siang. Silahkan melaksanakan kewajiban lebih dulu," tutur Andri dengan suara halus dan sopan.


Agus mengernyitkan dahi, dia sedikit linglung. Sedang berada di mana? Orang di depan nya siapa? Ia masih menerka, dan mencoba mengingat kembali tentang hal yang telah ia lalui, sebelum kesadaran nya hilang.


Saya sebelum nya terjatuh di makam, dan berlari, setelah itu, saya tidur di teras rumah.


Batin Agus, mencoba mengingat hal yang telah terjadi.


"Oi mas, kamu nggak apa apa kan?" tanya Andri, sambil menepuk pundak Agus.


"Hah!"


"Walah. Kamu itu ada ada saja. Mana ada hantu pakai sarung dan kopiah seperti saya? masa iya hantu alim?" Andri sedikit tertawa, melihat tingkah orang di depan nya.


"fuuh..." Agus menghela nafas lega, "syukur lah kalau begitu." kemudian ia duduk kembali.


"Oh iya, kamu siapa? ini di mana?" tanya Agus, karena merasa asing dengan tempat ini.


"Ini Pesantren Darul Khoir, desa Jati Asih. Dan saya santri di pesantren ini," jawab Andri dengan sopan.


"Pesantren Darul Khoir? Desa Jati Asih?" Agus mengernyitkan dahi, merasa bingung, mencoba berpikir mencari tau, namun tidak tahu apa apa.


'Ah iya, saya sudah merantau ke kota, kemudian di copet orang, dan kemudian tersesat. Sepertinya saya tersesat terlalu jauh." batin Agus.


"Ya sudah, Mas sholat dulu, biar pikiran nya tenang, nanti kita bisa mengobrol lebih lanjut, setelah mas selesai sholat," ucap Andri, dengan nada yang sopan. Karena gurunya selalu mengajarkan, untuk bersikap sopan kepada siapapun, baik kepada orang yang seumuran, lebih muda, terlebih kepada yang lebih tua. Karena nabi Muhammad itu di utus menjadi Rasul, untuk menyempurnakan akhlak, sebagai mana yang telah Andri pelajari dari kitab Akhlaqul Banin.


"Anu ... saya..." Agus bingung, harus menjawab apa. Karena dia tidak terlalu faham dengan agama, sholat pun dari kecil dia tidak pernah, selain sholat idul Fitri dan idul Adha.


"Kenapa mas?" Andri sedikit heran, karena orang di depan nya terlihat gugup dan canggung.


"Itu ... saya tidak pernah melakukan sholat, dan tidak tahu cara nya sholat," Agus sedikit canggung menjawab nya.


"Ooh... kalau boleh tau, Mas nya dari mana, mau kemana? Mungkin saya bisa membantu," Andri tetap tidak menurunkan kesopanan nya kepada orang yang meninggal kan ibadah, dan orang tersebut sebaya dengan nya. Karena guru nya telah mengajarkan cara hidup bersosial, menghargai adat, budaya, dan agama. Karena Indonesia berdiri, aman dari penjajah, bisa makmur, mengajar dan belajar, menyebarkan dakwah agama, itu semua tidak lepas dari perjuangan semua orang untuk memerdekakan negara, yang tidak hanya terdiri dari satu agama, satu suku, ataupun satu ras. Melainkan perjuangan bersama, dan kemudian terjadilah satu kesatuan negara, yg berdasarkan Pancasila, dengan semboyan bhineka tunggal Ika.