
Di sebuah Pondok Pesantren...
Andri, adalah seorang santri tulen jujur nan lugu, dia adalah seorang santri yang patuh pada sang Kiyai. Jika sang Kiyai berkata A, maka dia tidak akan berpikir lain, tidak pernah sedikitpun terlintas untuk membangkang atau mengelak dari perintah sang Kiyai.
Waktu subuh telah tiba, suara adzan subuh berkumandang memenuhi jagad raya. Selesai beradzan subuh, Andri berlari keasrama, untuk membangunkan temannya.
"Lay.... bangun Lay," Andri mengguncang-guncang tubuh, membangunkan temannya.
"Hemm.... Masih ngantuk nih." Nah, yang ini namanya paijo, seorang santri yang memiliki latar belakang cukup rumit.
******
Paijo adalah anak tunggal dari keluarga terpandang. Ayahnya adalah seorang pengusaha sukses di kotanya, bahkan dengan harta kekayaan yang ia miliki, dia mampu menaklukkan semua orang di kotanya. Sedang sang ibu, merupakan seorang istri yang pandai dalam meminige keuangan, tidak heran.... karena ia pangsiunan dari mentri keuangan negara.
Paijo terlahir di tengah keluarga yang berlimpah harta. Orang di kotanya, menyebutnya dengan sebutan "Keluarga Berdarah Biru". Sebagai seorang mantan mentri, ibu Paijo menginginkan anaknya menjadi pejabat negara, Ibu Paijo menginginkan anaknya menjadi Presiden. Mungkin terdengar berlebihan, mengingat Paijo adalah orang ber iq standar, namun itulah kenyataannya, ibu Paijo memaksa anaknya untuk jadi presiden.
Karena merasa tertekan dengan kalimat ibunya yang diucapkan setiap pagi, siang, petang, Paijo jadi malas menyelesaikan setiap materi kuliah. Kesehariannya hanya berfoya-foya, meminum sampai tidak sadarkan diri, mengonsumsi obat-obatan, memakai sabu serta heroin.
Paijo telah jatuh terjerumus dalam dunia hitam yang tidak bertepi, bahkan ia pun terjerat dengan mainan wanita, dan menhadi pria gila ****, hingga suatu ketika salah satu wanitanya hamil, dan dimintai pertanggung jawaban.
Karena frustasi dengan masalah yang ia hadapi, akhirnya ia mengonsumsi narkoba dengan jumblah besar, dan membuatnya gila sampai harus dimasukkan ke Lapas untuk mengikuti rehabilitasi.
Setelah 1 tahun berada di dalam Lapas, akhirnya Paijo sembuh dari kecanduan narkoba, dan ia pun telah tobat, berhenti dari sifat buruknya, belajar kembali pada jalan yang benar.
Paijo keluar dari Lapas, membawa seribu juta penyesalan, ia ingin pulang menemui orang tuanya. Alangkah terkejutnya Paijo, kala sampai di tempat yang dulunya berdiri bangunan mewah bak istana, yang tidak lain adalah rumah orang tuanya, kini telah hilang, rata dengan tanah.
Paijo terjatuh lemas, sepertinya semua telah terlambat, dia tidak tahu apa yang telah terjadi selama ia berada di Lapas, ia juga tidak tahu kemana orang tuanya pergi. Paijo tidak menemukan apa-apa, yang ada di hadapannya hanyalah puing-puing sisa bangunan megah, yang dulu menjadi tempat tinggalnya bersama orang tua yang menyebalkan baginya.
Rasa penyesalan kian bertambah, seakan menjadi beban dalam kepala. Namun Pijo belum putus asa, dia mencoba bertanya pada tetangga sekitar, untuk mengetahui keberadaan orang tuanya, dia ingin meminta maaf, karena sebelumnya telah menjadi anak durhaka yang tidak berguna.
Setelah mendapat informasi dari tetangganya, Paijo terduduk lemas sambil meremas kepalanya kasar, menangis pun tiada gunanya. Paijo bersedih amat teramat dalam, setelah mengetahui orang tuanya telah pergi ke akhirat, ia bersedih atas meninggalnya kedua orang tua yang tanpa diketahui penyebabnya.
Paijo datang ke sebuah pemakaman umum, untuk melihat rumah terakhir kedua orang tuanya. Karena dia tidak bisa berdoa'a ataupun membaca do'a, Paijo hanya bisa meneteskan air mata, duduk bersimpuh diantara dua gundukan tanah, yang tak lain adalah makam kedua orang tuanya.
Penyesalan memang selalu hadir diakhir, namun apalah arti sebuah penyesalan, tanpa ada tindakan untuk berubah lebih baik, bangkit dari keburukan yang menyesatkan.
Paijo ingin berbalas budi kepada orang tuanya, dia berencana untuk menuntut ilmu agama, agar bisa mendo'akan orang tuanya. Paijo memutuskan pergi nyantri di sebuah pondok pesantren.
*******
"Lay.... bangun Lay,"
"Iya.... " dengan malas, Paijo mendudukkan tubuh, bangkit dari tidurnnya, namun matanya masih terpejam.
"Temenin saya dong Lay...." Andri duduk bersilah sambil menunggu mata Paijo terbuka, karena jika blum terbuka, biasanya Paijo akan tidur kembali, saat Andri meninggalkannya.
"Temenin kemana.... " Paijo menggaruk-garuk kepala, lalu menguap.
"Pokonya temenin.... " Andri masih setia, menanti mata Paijo terbuka.
"Hemmn.... ya, ya, ya.... " Paijo akhirnya membuka mata, lalu bangkit, beranjak dari tempatnya. Andri ikut bangkit, karena ia tahu, jika Paijo akan pergi ke kamar mandi, dan pasti akan ikut sholat berjama'ah.
Andri kembali ke masjid, sambil menunngu sang imam datang. Andri tertundik takdim, kala mendapati Sang Kiyai telah berdiri di bekakang tempat pengiman. Andri segera beriqomah, untuk memulai sholat subuh. Ia berjama'ah sholat subuh hanya berdua dengan imam, yang tak lain adalah pengasuh pesantren yang ia tempati.
"Aaamiin..... " Paijo segera mempercepat langkah, lalu bergabung di samping Andri, untuk menunaikan ibadah secara berjama'ah. Paijo tertinggal 1 roka'at.
Paijo menjadi ma'mum masbuk, begitulah sebutan bagi makmum yang tertinggal roka'at imam. Paijo memang sering terlambat, bahkan.... kadang ia tiba, saat imam telah duduk tahiyat akhir.
"Assalamualsikum warohmatulloh.... " sang imam membaca salam sambil menoleh ke kiri, yang menandakan sholat telah usai, namun Paijo berdiri lagi, untuk mengganti roka'at yang tertinggal.
Sang Imam berbalik badan, menghadap makmum, kemudian hanya terdengar suara istighfar dan gelengan kepala, saat melihat jumblah santri yang mengikuti jama'ah subuh.
Sang imam pun melanjutkan zdikir, lalu menutup dengan Do'a. Andri menyalami tangan dan mencium punggung telapak tangan Sang Kiyai, ketika Do'a telah usai, yang menandakan ritwal religi rutinan telah usai.
"Tolong kamu bangunkan, orang yang tidur di teras, suruh dia melaksanakan sholat subuh!" suara lembut dari orang paruh baya memerintah Andri, sebelum berdiri, kemudian beranjak pergi meninggalkan masjid.
"Dengan segala hormat Pak Kiyai," Andri mengangguk takdim, mengiyakan perintah sang Kiyai.
Andri menunggu tubuh Sang Kiyai lenyap berlalu, barulah ia beranjak. Berbeda dengan Paijo, dia segera pergi bersamaan dengan Sang Kiyai yang beranjak untuk pergi.
Andri bangkit lalu berjalan, menuju teras depan.
"Mas.... bangun, udah mau siang," Andri hanya berdiri di samping tubuh seseorang yang terlelap di lantai teras masjid. Karena tidak mendapat respon, Andri berinisiatif untuk menggoyang tubuh orang tersebut.
"Mas... bangun.... " dengan penuh sopan, Andri menggoyang tubuh orang yang tengah terlelap, dia tidak akan berhenti membangunkan sebelum berhasil, karena itu sudah perintah Sang Kiyai. Sekali Sang Kiyai mengucapkan A, maka pantang baginya untuk berpaling, yah... itulah sifat Andri.
Siapa sih, orang ini? kayaknya bukan orang sekitar sini, santri pun bukan.
Andri memandangi tubuh tersebut, dia merasa orang itu adalah orang asing, yang entah dari mana asalnya.