
Agus dan Paijo terus mengobrol banyak hal, sat itu. Mereka berdua makan di sebuah warung makan, dekat area pesantren. Sebuah warung kecil, yang begitu sepi, karena pembeli di warung tersebut hanyalah para santri di pesantren itu. Sebelum nya Agus tidak mengetahui, kalau ada warung makan di sana, karena letak nya yang tertutupi oleh gedung asrama, jika dari dalam area pesantren. Bukan hanya warung itu saja, ternyata masih ada beberapa rumah warga juga rupanya.
Setelah cukup lama mengobrol, Paijo pun membayar tagihan nya. Lalu mengajak Agus, kembali ke pesantren.
Sesampai nya di pesantren, Agus hanya kembali masuk di kamar nya, tanpa tahu haru melakukan apa.
***
Waktu pun berlalu, menjelang waktu asyhar, beberapa sosok mulai bermunculan. Mereka adalah para santri, yang telah Pelang dari tempat kerja mereka masing masing. Para santri memang pulang kerja lebih awal, dari para warga. Karena setelah asyhar, mereka ada kegiatan mengkaji kitab, yang di ajarkan langsung oleh pengasuh.
Suara adzan mulai berkumandang, bergema bersahutan, yang terdengar di setiap sudut wilayah itu. Agus mengintip dari jendela, setelah Adzan seleksi berkumandang. Ia dapat melihat para santri yang berjalan menuju masjid. Ia sebenarnya ingin melaksanakan ibadah sholat seperti mereka, namun ia tidak mengetahui doa doa nya, serta cara bersuci yang benar. Ia sendiri pun memang tidak pernah melakukan sholat, meski agama nya Islam.
Agus tetap di kamar berdiam diri, sebenar nya ia sangat gelisah, karena keaktifan para santri di tempat itu. Melaksanakan sholat berjamaah di masjid, dan belajar mengaji yg di pimpin oleh sang pengasuh. Kegiatan itu terus berlanjut, sampai jam 9 malam.
"Assalamualaikum..." suara seseorang, di depan pintu kamar Agus. ia pun segera membalas salam, dan beranjak membukakan pintu kamar.
"Wa'alaikumussalam." jawab nya, sambil membuka pintu.
"Gak usah pakai mas, panggil saja Andri," balas Andri, sambil tersenyum, "Oh iya, karena mas Agus baru di sini, jadi saya mengumpulkan teman teman, agar kita bisa saling mengenal. Mari gabung sama yang lain nya," lanjut nya.
Agus diam beberapa saat. Ia merasa minder, kumpul sama para santri. Selain dia baru di tempat itu, ia juga orang yang awam akan ilmu agama.
"Sudah santai aja, mati kita ke sana." Andri menarik lengan Agus, mengajak nya paksa, setelah melihat keraguan di wajah lawan bicara. Agus pun hanya bisa mengikutinya.
Setelah Agus mengikuti, Andri pun melepaskan tangan Agus. Lalu keduanya berjalan beriringan, sampai di sebuah gedung bertingkat. Andri menapaki anak tangga, diikuti Agus dari belakang.
'Rasa nya seperti ada yang aneh," gumam Agus, saat melewati ruangan di dekat tangga, menuju lantai dua. Ia merasakan bulu di sekujur tubuh nya berdiri. Perasaan nya pun sedikit tidak nyaman, namun ia mencoba menepis perasaan itu.
Setelah berhenti di tempat itu sejenak, ia pun segera menyusul langkah Andri, menapaki anak tangga, menuju lantai dua. Agus dapat mendengar suara canda dan tawa, yang di ditransmisikan dari ruangan, yang ada di atas sana.
Setelah sampai lantai dua, Agus mendapati pemandangan yang cukup bagus. Kamar di atas hanya ada satu deret, menghadap ke arah barat, sedang di depan kamar itu adalah balkon yang cukup lebar, dengan bentuk memanjang, dari ujung ke ujung.