
Mendamaikan dua dunia bukan hal mudah. Mereka yang memiliki visi dan misi yang berbeda dalam memerintahkan kekuasaan, tidak mungkin untuk menyatukan.
Aku mengutuk pertemuanku denganmu yang tidak seharusnya terjadi, aku mengutuk kehidupanku yang harus saling membunuh hanya untuk kekuasaan.
"Kau tahu kenyataannya, akulah yang mampu untuk membunuhmu."
"Aku tahu, tapi prioritasmu adalah diriku. Kau tidak bisa melakukan itu karena kau mencintaiku." Itulah kenyaatan pahitnya, kau musuh dari rasku yang seharusnya kulenyapkan. Tapi, perasaan timbul yang tidak seharusnya.
Kulepaskan pelukannya dariku, "Jangan temui aku lagi. Kau dan aku berbeda." Begitu menyakitkan untukku, hati yang tidak rela untuk meninggalkan.
"Apa aku tidak penting untukmu?" Nada suara yang terdengar sendu, begitu mengiris hatiku.
Kau sangat penting, hingga aku membuat keputusan ini. Aku memilih untuk menjauh bukan karena membencimu, tapi aku tak ingin membuat dunia kekuasaanmu hancur hanya karena cinta di antara kita yang tidak semestinya ada.
Aku iri dengan dunia bawah rintangan yang tidak memfokuskan pada perbedaan dunia.
Kenapa dunia kami begitu rumit, perbedaan ras dan kekuasaan membuat kami terus berseteru perebutan tahta yang tidak ada pangkal ujungnya. Kami tidak boleh saling mencintai, lalu kenapa kami harus diciptakan dalam satu dunia ini. Kenapa dunia kami tidak dibedakan saja, agar tak ada pertumpahan darah apalagi saling merajut cinta yang tidak digariskan sejak kami lahir.
"Bukan saatnya ego di tinggikan. Kekuasaanmu harus kau jaga, musuh tak berpikir panjang saat mereka memulai perang. Apalagi jika melihat kondisi kekuasaanmu ada celah untuk di hancurkan." Xander, kau terlalu lemah soal urusan cinta.
"Aku paham sekarang, tahta yang kau pegang tidak lebih dari bongkahan hartamu yang kau jaga." Aku hanya ingin dia lebih kuat dariku, bertahan untuk beberapa waktu yang lama.
Kau yang pertama dan terakhir bagiku Xander. Meski terus bertemu di masa yang akan datang, takdir antara kau dan aku adalah perpisahan yang akan terus berlanjut.
Aku memegang tengkuknya mendekat menyempitkan jarak antara kami. Biarkan aku menyentuhnya untuk terakhir kalinya Dewa, kumohon.
Bibir kami bersatu, kecupan kecil yang berubah menjadi lumatan, menyalurkan cinta yang dalam.
Taman yang di penuhi bunga bermekaran dan pepohonan yang rindang serta kicauan burung, kupu-kupu, dan binatang lainnya yang menjadi saksi bisu kemesraan kami, tapi bukan untuk selamanya.
Ciuman perpisahan ini kuberikan padamu Xander aku mencintaimu, sungguh sangat mencintaimu. Perlahan mata yang tertutup menikmati ciuman ini akhirnya mengeluarkan air mata, sakit bukan main.
Perpisahan yang tak ikut kulakukan. Aku melepaskan pagutan kami. Mata sendunya menahan air mata, maafkan aku.
"Kau masih mencintaiku, tetapi kenapa." Dia memegang pundakku, wajah sendunya tertampik di wajah tampannya.
Aku mengalihkan pandanganku ke penjuru lain, menyembunyikan kesedihanku. Aku tidak boleh lemah di hadapannya.
"Kenapa kita harus pisah hanya ka-" Lanjutnya.
"Hanya katamu? Ras kita berbeda, penguasaan kita berbeda. Selamanya akan seperti itu, dan sudah digariskan. KAU dan AKU tidak akan pernah menjadi KITA. Jadi buang perasaanmu itu Tuan Xander." Kataku dengan penekan tinggi, lalu meninggalkannya secepat mungkin.
"Lucia, kumohon tetaplah bersamaku." Aku berlalu meninggalkannya sendirian.
****
"Hosh... mimpi aneh. Kenapa begitu nyata?" Gumamku.
Mataku, air mata? Aku menangis saat mimpi itu. Dadaku bergemuruh sakit, seperti ada belati yang menusuk hatiku. Aku menyimpan luka begitu dalam, sesakit inikah?
Xander, kenapa ini terjadi? Siapa sebenarnya dirimu? Kenapa mengingatmu adalah kesakitan untukku. Aku terisak mengingat mimpi itu. Aku sebenarnya siapa, kenapa aku memimpikan perempuan lain dan Xander?
Sulit kucerna secuil mimpi yang entah itu berapa abad yang lalu. Kenapa hadir menyelubungi mimpiku?
"Putri, kenapa menangis? Siapa yang membuat Anda menangis?" Kuhapus jejak air mataku.
Setelah bangun lalu menangis, aku jadi lapar. Aku mengambil makanan yang di bawa Alexa.
"Aku lapar." Lebih baik hindari topik alasan aku menangis.
Bukannya aku tidak percaya pada mereka, tapi ini privasiku.
****
"Tuan Ashley Anda mau ke mana?"
"Saya ingin memastikan."
"Tapi Tuan Dunia Kegelapan penjagaannya sangat ketat." Ashley menatap bawahannya tajam.
"Saya tidak akan membuat masalah, hanya mengobrol dengan Xander."
"Baiklah, saya akan mengawal Anda." Ashley menepuk keningnya kesal.
Memangnya ia pria yang lemah.
"Biarkan aku pergi sendiri."
"Tapi Tuan-"
"Jangan kuatirkan aku, jaga castle untuk sementara." Dengan cemas ia harus menuruti Ashley.
Tak perlu waktu yang lama untuk sampai ke Dunia Kegelapan, dengan sayap yang berada di punggung Ashley pun bisa membawanya dengan cepat ke Castle Dunia Kegelapan.
"Anda siapa? Ada perlu apa Anda kemari?" Pengawal dari Castle Dunia Kegelapan menghalangi Ashley.
Sosoknya tentu tidak di ketahui oleh pengawal Xander, karena Ashley menyembunyikan auranya dan tubuhnya pun di tutupi dengan baju jubah hitam.
Dengan satu kali jentikan tangan pengawal itu pingsan, kesempatan untuknya bisa masuk. Ia memasuki gerbang Castle, kekuatan pengawalnya tidak sepadan dengannya. Jentikan tangan saja mereka semua pingsan dengan mudahnya.
Meski begitu Ashley merasa aneh dengan tingkah pengawal-pengawal ini. Sebuah istana dengan pengawal selemah mereka bagaimana bisa diberikan tugas sebagai penjaga baris depan gerbang.
Mungkin kekuatan Ashley lebih kuat dibandingkan pengawal ini, pikirnya.
Di sisi lain.
"Bagaimana ini Tuan? Dia sudah di gerbang Castle." Pria itu dengan tenangnya tersenyum licik.
Dia sudah memperkirakan orang dari Dunia Khayangan akan datang, "Ashley, Ashley... tindakanmu gegabah memasuki Castle ku tanpa seizinku."
"Tak apa, biarkan saja. Kita lihat apa yang bisa dilakukannya." Ia mengangkat salah satu kaki menopang di atas pahanya, duduk di kursi singgasananya, jubah penguasa dan mahkota kekuasaannya menampilkan kewibawaannya sebagai penguasa.
"Magwa tidak akan memangsa langsung korbannya, dia membiarkan mangsanya dalam jangkauan lalu diterkam hingga kehabisan darah." Benar-benar picik.
Dia terkenal dengan kekejamannya selama bertahun-tahun memegang kekuasaan. Setelah kehilangan kekasihnya, ia sadar. Bahwa kelemahannya lah yang menjadi batas atas cintanya yang tidak mampu ia gapai.
Cara membunuh musuh yang keji dengan pedang-pedang andalannya, kebrutalannya dalam bertempur tidak dipandang bulu, dan tidak memiliki belas kasihan pada siapapun yang menentang kehendaknya.
Tekadnya keras, untuk menjadi kuat adalah pilihan yang bagus mencapai apa yang diinginkannya. Namun, menjadi kuat akan menggoyahkan kesombongannya, kuat namun dari segi kebaikan. Menolong rakyatnya, dan membasmi musuh yang menentang kekuasaannya untuk perdamaian. Itulah yang diharapkannya.
Pria itu tersenyum licik memandang cermin ajaibnya berbentuk segiempat.
"Kau terlihat bodoh atau sudah terlahir bodoh. Tidak mencurigai pengawal-pengawal itu sedari masuk di gerbang. Hahaha..." Ia merasa dirinya menang.
Ini masih permulaan, jika ia datang untuk membawa matenya, nyawalah taruhannya. Siapapun yang mnyentuh matenya dia akan bertindak keji.
"Bersenang-senanglah dengan istanaku, wahai Ashley bodoh."