
***Srak
Srak
Srak***
Bunyi benda tajam yang mereka gunakan menggema dan terdengar nyaring.
"Apakah kau ingin melanjutkan pertarungan ini?" suara baringtone pria terdengar.
"Apapun yang terjadi aku tetap akan melindungi wilayahku." ujar seorang perempuan dengan tegasnya.
Perempuan itu terkapar dan mencoba mengumpulkan segala kekuatannya untuk melawan musuh yang ada dihadapannya sekarang.
Pria itu tak ingin melakukan ini. Tapi... ini sudah takdir pertarungan perebutan wilayah dan untuk melindungi ras harus mereka laksanakan.
"Kumohon... hentikan Lucia, aku tak ingin kau terbunuh." hati pria ini tersayat melihat perempuan yang dicintainya terluka.
"Aku... aku masih bisa melawanmu." terbatanya. Ia berusaha berdiri.
Terlalu banyak goresan pedangnya serta kekuatannya yang melukai perempuan yang dicintai.
Jika ia mengalah karena perempuan ini, ia akan membuat perempuan dihadapannya jauh lebih menderita. Dan lebih baik ia membunuhnya sendiri dari pada sang raja yang menumpaskannya.
Tidak ada pilihan lain. Ia mengambil sebuah air suci yang disembunyikan dari balik baju perangnya dan menumpahkan seluruh cairan itu ke pedangnya.
"Kuharap ini berhasil." perempuan itu menatap tegas pria yang dihadapannya.
"Kau lawan aku, jangan karena aku terluka parah. Lantas kau merasa kasihan padaku." ujarnya perempuan itu dengan sengitnya.
"Apakah kau lupa kenangan yang kita lalui bersama Lucia?" lirih pria itu.
Ingin rasanya ia memeluk wanitanya.
"Lupakan soal kenangan itu, hosh... Antara kita berdua tak ada... Disini waktunya bertempur. Hanya memperhitungkan pihakmu atau pihakku kah yang akan menang." teriaknya.
Wanita itu mau tidak mau, rela tidak rela membunuh pria dihadapannya. Ia tentu harus melakukannya.
"Baik. Jika itu pilihanmu." mereka saling mengeluarkan kekuatan.
Hanya mereka yang menentukan pihak manakah yang lebih kuat. Pasukan yang lainnya telah terbunuh.
Perempuan itu mengeluarkan kekuatan gaibnya. Tapi pria itu dapat mengatasinya dengan lincahnya pria itu melesat menuju kearah perempuan itu dan alhasil ia menancapkan pedang perak mutiaranya ke jantung perempuan itu.
Perempuan itu terbelalak. Ada cairan aneh yang tercampur di pedang pria itu.
"Kau... apa... yang kau campurkan pada pedangmu, hah..." ia merasakan pasokan nafasnya menyempit.
"Maafkan aku... Lucia." tumpah air mata pria itu.
"Kau tidak mencintaiku... kenangan indah yang kau berikan... hanyalah, hanyalah bualan." pria itu mengelus wajah wanitanya.
Wanita itu tidak tahan berdiri, kakinya gemetar. Kakinya tak mampu menopang badannya, aliran tersedot kejantungnya.
Pedang itu menyedot beberapa mili darah. Ia terjatuh.
Perlahan matanya mulai sayup-sayup. Pria itu masih mengelus wanitanya, "Sungguh, aku mencintaimu. Kuharap kita dapat bertemu kembali." perempuan itu mulai kehilangan nafas.
"Darah yang tersedot ini akan menemukanmu nanti, berenkernasilah ratuku." ia mencium bibir wanitanya untuk yang terakhir kalinya.
Wanita itu meneteskan air mata sebelum ia mati. Ia mendengar ucapan terakhirnya, pria itu mencintainya.
Perlahan-lahan tubuh wanita itu memudar seperti cahaya kunang-kunang.
Pria itu mengusap wajahnya menghapus bulir air mata yang masih tersisa.
"Lucia... dimana pun kamu. Aku yakin takdir dewa akan selalu berpijak diantara kita berdua. Entah cara apa, aku tetap menunggumu. Walau itu bertahun-tahun."