
*Apa yang akan terjadi jika kauhidup di dunia berbeda seperti bumi?
Tak ada alat teknologi, makanan berbeda, bahkan castle yang dipakai saat berperang manusia menganggapnya sebagai peninggalan di zaman penjajahan.
Bahkan keramik dan beberapa barang antik lainnya di simpan di museum di jadikan pajangan. Bahwa peninggalan tersebut pernah berada pada zaman kuno.
Aku bisa melihatnya secara langsung, seperti patung, kiasan patung yang terukir di tembok, relief. Benar-benar peninggalan bersejarah.
Di tempat ini pun kau bisa melihatnya secara nyata cara pelayan melayani penguasanya.
Penguasa dianggap Tuhan. Percaya akan kekuatan magis, yang manusia tak pernah sangka hal seperti itu ada.
Satu kebodohan manusia 'Menguasai semuanya di dunia dengan cara apapun meski strateginya salah', mereka tidak pernah tahu cara penguasaan agar tak berpindah pada pemimpin lain.
Jiao Chan*
****
Saat pagi menjelang, matahari telah siap menampakkan sinarnya. Sedari tadi aku bangun, rasa bosan menghantui diriku. Tanpa ponsel, komputer. Apa yang harus kulakukan di sini. Hanya terpaku di kamar terduduk tanpa memikirkan apapun.
Tolong siapapun bantu aku kembali ke bumi? Bagaimana dengan sekolahku?
Dulu aku benci dengan tugas rumah dari guru, baca buku membuatku sakit kepala. Tapi sekarang merindukan mereka. Bodohnya aku meminta terlepas dari kekangan tugas. Setelah terlepas ternyata jauh lebih menyiksa. Kebosanan ternyata jauh lebih menyengsarakan. Hanya duduk, makanan pun tersedia. Tapi makanan di sini tidak sesuai dengan lidahku, bumi yang kurindukan kini jauh dari jangkauanku.
"KENAPA MENGURUNGKU DI TEMPAT KUNO INI SIH? AAARRRRRGGGHHH..."
"Nona, jaga sikap Anda. Calon putri tak boleh berteriak, harus menjaga kewibawannya sebagai seorang gadis."
"Persetan kewibawan gadis, mengurung gadis itu perbuatan penculikan. Jika dunia ini ada semacam kepolisian, lebih baik aku melaporkan penguasa kalian itu." Mereka saling tatap seakan tak paham apa maksudku.
Aku masih bingung sebenarnya. Tidak mengetahui penguasa mereka. Tetapi pria yang selalu muncul di hadapanku, apakah seorang penguasa?
Tidak mungkin, penguasa harusnya memakai baju tahtanya seperti di zaman kerajaan China dan bersikap tegas, dingin, dan ada aura membunuhnya.
"Nona.." Lamunanku buyar.
"Hmm.."
"Sebaiknya Nona sarapan dulu, ini makanannya." Aku mengembuskan napas melihat sarapannya.
Memangnya aku tahanan makanan seperti ini, rasanya hambar.
"Kalian makan saja."
"Tapi Nona."
"Eoh.. tidak ada penolakan, biar minumannya untukku." Mereka memakannya dengan lahap.
Apa mereka tidak pernah diberi makan? Aku menganga melihat mereka makan.
"Kami selesai Nona."
"Biar Julia yang membawanya ke dapur. Alexa disini saja menemani Nona."
"Aku ikut ke dapur." Sekalian saja aku keluar dari kamar yang membosankan ini.
"Baik Nona." Kami bertiga berjalan menuju ke dapur.
Beberapa pelayan menatapku tajam apa maksud tatapan mereka.
"Jangan pikirkan tatapan mereka Nona, mereka hanya iri pada Nona." Dari segi mana mereka iri.
Tatapan benci mereka aku bisa rasakan. Mungkin karena aku berbeda, ada darah manusia yang mereka cium dariku.
Sesampai di dapur mereka memberi salam hormat, "Salam hormat untuk Putri Jiao Chan."
"Ada apa Putri?"
"Nona.. jangan memanggilku Putri."
"Anda kan calon Ratu Penguasa dari Dunia Kegelapan." Aku tidak suka dengan perkataan mereka.
Aku bahkan belum menyetujui akan menikah dengan si penguasa itu. Si penguasa tanpa rupa. Tampangnya saja tidak kuketahui.
"Terserah kalian mau memanggilku apa." Kataku sambil tersenyum.
"Putri kenapa di tempat kotor seperti ini, nanti baju Putri kotor." Benar-benar zaman kuno, putri di larang ke dapur.
Tugasnya hanya mempelajari wibawa wanita, menghormati suami, mendengar titahnya. Kehidupan yang membosankan, tentu aku menentang tekanan yang seperti itu.
"Tidak usah hiraukan saya ada disini. Kalian beraktifitas seperti biasa."
"Tapi No-eh.. maksud saya Putri kalau Tuan Penguasa tahu, Anda ad-"
"Alexa... kau tak perlu khawatir, dan kalian semua jangan takut. Kalau dia marah biar saya yang bicara dengannya. Saya tidak akan membiarkan kalian di hukum karena saya." Aku mencoba menenangkan mereka.
Baiklah saatnya memperlihatkan bakatku dalam memasak. Aku melihat beberapa bumbu, lebih alami. Sepertinya langsung di ambil dari kebun. Ya, kerajaan memang begitu kan. Tidak ada bumbu jadi di sini. Apapun bumbunya aku tetap memasak.
Aku akan buat makanan khas China, biar mereka tahu makanan manusia jauh lebih enak. Karena bumbu di sini tidak terlalu banyak seperti di bumi jadi aku akan buat Gong Bao Ji Ding, Ma Yi Shang Shu dan Jiaozi.
Gong Bao Ji Ding adalah hidangan yang berbahan dasar daging ayam yang dimasak dengan menggunakan campuran saus asam manis. Di hidangkan dengan tambahan kacang dan cabai.
Dan untuk Ma Yi Shang Shu terbuat dari campuran mie dan daging sapi cincang yang ditumis langsung bersama bumbu khas dan rempah-rempah. Cita rasanya pedas. Tapi di sini tidak ada mie, dan tidak mungkin aku membuatnya. Membuat mie memakan banyak waktu lama.
Sedangkan Jiaozi terbuat dari tepung dan campuran kanji dengan sambal khas China. Aku bisa merasakan tatapan takjub mereka padaku, pasti tidak menyangka aku bisa memasak.
"Setelah selesai kalian bisa mencicipinya, karena sudah membiarkan saya memasak."
****
Di sisi lain, Changhai bingung dan cemas sudah 2 minggu tidak ada kabar dari Jiao Chan. Terakhir mereka menonton pertandingan basket bersama, setelah itu meninggalkan Jiao Chan dan Yu Lian. Changhai juga tidak pulang ke asrama waktu itu, ia pulang ke rumah karena ibunya yang sedang sakit, dan membiarkan Jiao Chan sendirian.
Ia bahkan tidak datang ke sekolah, pakaian dan semua barang-barang Jiao Chan ada di asrama. Tidak ada yang hilang, ponselnya pun tidak di bawah. Bagaimana cara menghubunginya? Ini pasti penculikan. Bahkan Yu Lian sudah menjelaskan ia mengantarnya sampai ke asrama.
Yu Lian sangat khawatir jika terjadi sesuatu padanya. Changhai ingin melaporkankannya ke kantor polisi tapi Yu Lian akan mencarinya dengan bantuan orang kepercayaannya. Changhai hanya mengiyakan Yu Lian, tapi sudah 2 minggu tidak ada kabar Yu Lian.
"Senior, kita harus melaporkannya sekarang. Bahkan orang yang kau percayai itu belum memberikan kabar untukmu kan." Yu Lian mengembuskan napas frustasi.
Mereka sekarang berada di taman letaknya tak jauh dari asrama sekolah.
"Changhai percaya kan padaku. Dan sepertinya aku beberapa minggu ini tidak akan masuk sekolah, aku akan fokus pencarian Jiao Chan. Jangan beri tahu yang lain kalau Jiao Chan menghilang. Katakan saja pada guru kalau dia lagi pulang ke kampungnya."
"Tapi Senior, bagaimana kalau guru mencoba hubungi keluarganya di kampung?" Yu Lian makin gusar memikirkannya.
"Begini saja, katakan saja kalau Jiao Chan sakit dan di bawah ke luar kota untuk berobat. Soal orang tuanya biar aku yang tangani." Changhai mempercayakan semuanya pada Yu Lian.
"Baik."
"Tugasmu hanya membuat Jiao Chan tidak di keluarkan dari sekolah."
"Siap senior."
"Kalau begitu aku pergi dulu."
Yu Lian meninggalkan Changhai.
Aku akan menemukanmu Jiao Chan, tunggu aku. Gumamnya.
---TBC---