
Shock, tentu saja, di hadapannya saat ini adalah sosok ayah yang merindukan putrinya. Jiao Chan merasa jantungnya berdesir, bukan karena takut, tapi karena ia merasakan hal yang sama dirasakan oleh ayah Lucia.
Kenapa dia merasakan hal tersebut sedangkan di hadapannya bukan sosok ayah kandung. Tatapannya mematung tangannya bergetar hebat, Jiao Chan berusaha menguasai dirinya dengan baik. Dirinya tak menerima sosok pria di
hadapannya ini namun hatinya berkata lain, ia ingin memeluk pria paruh baya itu.
Matanya berkaca-kaca, siap air merembes keluar dari pelupuk mata. Kenapa respon hatinya seperti ini dia menggeleng tidak percaya.
“Jangan… jangan dekati aku.” Seseorang memegang pundaknya menggeleng dan berkata tak boleh berlaku seperti itu kepadanya.
Dia menepisnya dan sedikit berteriak, “Dia memang bukan ayahku.” Matanya berdalih, Jiao Chan tahu perkataannya menusuk hati pria paruh baya itu. Dia tidak ingin berlaku layaknya Lucia, disisi lain ingatannya belum
benar-benar pulih mengenai Lucia.
Pria paruh baya itu bukanlah pengusaha yang berhati kejam lagi semenjak putri tunggalnya meninggal saat pertarungan itu terlalu menyakitkan baginya kehilangan sosok yang dicintainya. Ini terakhir baginya tidak akan membiarkan putrinya pergi lagi, sekali pun pengusaha Darkness World mencoba merebut wilayahnya lagi ia yang akan menghunuskan pedangnya tepat jantung tidak akan membiarkan jazatnya berenkernasi kembali.
Dia kembali mendekati Jiao Chan yang sibuk bergelut dengan pikirannya yang ke mana-mana. Memberanikan diri merengkuhnya dipelukan, pria itu jauh lebih tinggi beberapa meter dari Jiao Chan hingga membenamkan
kepala Jiao Chan di dadanya. Jiao Chan tak membalas, pikirannya saat ini kosong.
Pria itu mengelus lembut punggung Jiao Chan tersedu-sedu mengeratkan pelukannya Jangan pergi lagi. Itulah respon batinnya terhadap Jiao Chan, ia merasakan kehangatan sosok ayah sesungguhnya dari pria ini, seolah-olah ayahnya yang berada di bumi tergantikan dengan sosok ayah yang baru, Heavenly World. Jiao Chan membalasnya dan ikut terenyuh dengan kerinduan antara ayah dan anak.
Sosok pria di belakang mereka terharu, tidak sia-sia dia memulangkan Jiao Chan ke Heavenly World. Bukan saatnya untuk kembali ke bumi, banyak permasalahan yang mesti Jiao Chan bereskan dan tentu ingatannya harus
benar-benar pulih.
Pria paruh baya itu melepaskan pelukannya dan menghapus bulir air mata yang tersisa di wajah yang sedikit keriput namun masih terlihat tampan. Jiao Chan pun menghapus sisa air matanya dengan punggung tangannya.
“Panggil aku ayah. Saya tahu ingatanmu belum pulih sempurna, namun di dalam dirimu ada sosok Lucia bersarang.” Ya, dia benar. Lucia sangat dicintai di dunia ini, bahkan sosok pengusaha Darkness World ingin
memperistrikan meski dua dunia tidak merestui hal tersebut.
Bisa jadi ayahnya pun melarang ikatan pernikahan antara dua belah dunia ini. Perebutan wilayah, hingga merekrut nyawa.
Jiao Chan mengangguk, respon hatinya harus ia ikuti saat ini biarkan ingatan Lucia merebut tubuhnya. Lagi pula bila tugasnya telah selesai di dunia ini sosok Jiao Chan yang tertidur akan kembali, entah kapan.
“Baiklah, kita sarapan pagi.” Ujar ayahnya dengan senyuman manis. Jiao Chan membalas senyuman itu.
Ayahnya menghampiri meja makan dan menarik satu kursi mempersilahkan Jiao Chan duduk di sana. Dia pun menerima.
“Ashley kau silahkan duduk juga, ikut sarapan dengan kami.” Ashley dipersilahkan seempu istana dengan sopan Ashley menolak. Namun pria paruh baya itu tidak suka ajakannya ditolak, dengan terpaksa Ashley duduk
di samping Jiao Chan.
Dalam hati Jiao Chan bertanya-tanya, serendah itukah peran Ashley sampai memberi hormat dengan pria paruh baya itu. Dia mengira Ashley ini termasuk anggota keluarga istana ini, mungkin sepupu. Namun dilihat dari penghormatannya dan kesetiaannya terhadap kerajaan Heavenly World sepertinya ia adalah pengawal pribadi atau mungkin semacam orang yang telah dipercaya.
Pikirannya teralihkan, satu persatu pelayan keluar membawa beberapa hidangan, matanya membulat. Ini sarapan pagi namun sebanyak ini, terlihat lezat sampai-sampai matanya tak lari dari meja yang terpampang sarapan pagi menggiurkan. Pagi ini ia dimanjakan dengan makanan manis dan minuman yang menyehatkan tubuhnya, tentu jus buah-buahan dan ada lima gelas sekaligus.
Aku harus menghabiskan lima gelas minuman ini? Batinnya.
“Ayah tidak tahu jus apa yang disukai sosok manusia. Tapi Lucia akan mengambil strawberry.” Jiao Chan mengangguk, dia juga menyukai strawberry. Lantas ia mengambil jus yang berwarna merah muda yang berada sisi
sebelah kirinya.
“Aku juga suka strawberry, ayah.” Katanya sumringah.
Rupanya manusianya dan wujud Lucia di dalam dirinya menyukai hal yang sama. Pria paruh baya itu menghentikan makannya, mengelap sisi bibirnya dengan serbet.
“Apa kau juga menyukai semacam arsitektur kuno, seperti relief yang terpampang di berbagai istana?” Jiao Chan mengangguk antusias, sangat menyukainya. Matanya berbinar-binar.
Apakah hari ini dia akan melihat semacam museum, apakah museum di sini ada? Berarti tempat ini lebih hebat dibanding Darkness World. Tidak sabar lagi menanti hal tersebut.
“Jangan bermimpi melihat museum yang kau idamkan itu, di sini tak ada hal seperti itu.” Jiao Chan mendelik atas ucapan Ashley, ia terkikik.
“Jangan membaca pikiranku, Tuan Ashley.” Kesalnya, ia menginjak kaki Ashley.
Ashley mendesis merasakan kakinya diinjak, terlebih lagi kakinya diinjak bukan kaki telanjang, Jiao Chan memakai heels. Kakinya terasa nyut-nyut. Wajahnya yang kesakitan diperhatikan oleh ayah Lucia.
“Ada apa Ashley?” Ashley menegakkan badannya dan menjawab bahwa tidak ada hal perlu dikhawatirkan.
“Baiklah, habiskan makanannya. Jangan sungkan-sungkan Ashley.” Ujarnya ramah.
“Tentu, Tuan. Dan terima kasih atas hidangan yang disediakan untuk saya.” Hormatnya.
****
Selesai sarapan, ayah Lucia menyuruh Ashley menemani Jiao Chan mengelilingi kerajaan, dia tidak bisa menemani Jiao Chan karena ada urusan kerajaan yang mesti diurus. Ashley pun menyanggupinya.
Selama perjalanan tak henti-hentinya ia kagum dengan nuansa interior koridor dan seluruh penjuru istana ini. Telah dibuat takjub untuk kedua kalinya, pertama di Darkness World dan hari ini dia melihat Heavenly World yang sebenarnya. Tempat kelahiran, sekaligus tempat Lucia di besarkan dengan penuh kasih sayang.
Ashley memperhatikan Jiao Chan, dia senang akhirnya bisa melihat senyuman Jiao Chan. Gadis itu berhenti di sebuah lukisan besar terletak di koridor, wanita dan pria memakai busana glamour kerajaan. Pria itu merangkulnya dari samping dan wanita itu menatap lurus dan tampang wajah murung.
“Dia Baginda Raja dan Ibunda Ratu Lucia.” Jawabnya saat melihat Jiao Chan nampak bingung siapa gerangan di dalam lukisan itu.
Jiao Chan mengindahkan matanya ke arah Ashley, “Orang tua?” Ashley mengangguk membenarkan pertanyaan Jiao Chan.
“Tapi aku tidak melihat ibunya Lucia.” Ashley menghela napas.
Ia menatap sendu lukisan itu mengingat kembali di masa lalu, Ibunda Ratu yang merupakan sosok penyayang, Ashley sudah menganggapnya sebagai ibunya pula.
“Dia sudah tiada.” Jiao Chan terkejut, jadi yang memiliki kekuatan magis pun bisa mati. Tapi kan ada namanya renkernasi.
“Dia tidak renkernasi? Mungkin saja dia renkernasi menjadi manusia namun belum ada yang menemukannya di dunia.” Dia kembali mengembuskan napasnya.
Susah untuk menjelaskan detail dunia ini, penghidupannya seperti apa, kekuatan-kekuatan magis itu asalnya dari mana. Jiao Chan belum paham banyak hal tentang semuanya, terlebih perwujudan aura Lucia belum nampak
dari dirinya sama sekali.
“Di bumi manusia memiliki keterikatan kepada Tuhan ia percaya Tuhan itu ada. Begitu pun dunia ini, hanya saja kami memanggilnya Corner God. Kami bisa berkomunikasi dengannya jika diberikan kehormatan untuk bertemu. Dia menentukan takdir dunia ini dan turun tangan atas pertikaian terjadi.” Jiao Chan masih tak puas
penjelasan dari Ashley.
“Kalau memang seperti itu, saat pertarungan itu kenapa Corner God tidak menghentikan pertarungan 300 tahun yang lalu?” Jiao Chan berkacak pinggang menunggu jawaban Ashley.
Ashley menautkan kedua alisnya, nampak berpikir. Apa dia akan paham jalan cerita yang sebenarnya? Jiao Chan belum paham sepenuhnya tentang klise pertarungan itu.
“Sudahlah kau tidak akan paham biar ku jelaskan hingga mulutku berbusa-busa.” Ck! Jiao Chan nampak kesal dia ingin tahu segalanya tentang kenapa harus bertarung? Kenapa tidak dibicarakan baik-baik? Begitu ribetnya dunia ini.
Tanpa memedulikan Jiao Chan yang kesal di depan lukisan itu, Ashley meninggalkannya seorang diri. Jiao Chan pun mengerjakan dan menghentakkan kakinya marah.
****
Tidak seperti biasanya, malam ini Jiao Chan tampak sulit memejamkan matanya, entahlah. Ya, malam ini ia tengah berpikir keras. Surainya yang terurai membuat angin dengan bebas menerpa dan membiarkan tengkuk leher mulusnya terlihat jelas.
Saat ini dia sedang berada di sebuah taman dipenuhi bunga-bunga yang indah dan pepohonan yang rimbun dia duduk di sebuah gazebo terbuat dari material kayu yang kokoh di zamannya dan ada tirai putih yang membentang di gazebo tersebut.
Sejuk, kesuramannya sedikit tersingkirkan kala angin sepoi menenangkan pikirannya, jangkrik yang seakan bernyanyi dan kunang-kunang seolah menerangi kegelapannya. Bulan purnama pun tampak jelas di atas langit.
“Kau menyukainya?” terdengar suara berat dari arah belakang Jiao Chan, ia berdalih mencari asal suara. Dia lagi, Jiao Chan memutar bola matanya malas.
Pria itu mendekati Jiao Chan duduk di sampingnya sambil memandang langit malam yang di penuhi bintang-bintang dan bulan purnama. Jiao Chan berkacak pinggal sambil memandang pria itu bengis.
“Ck! Mau apa kau ke sini?” pria itu menautkan alisnya.
“Tentu saja menemanimu.” Tuturnya lembut. Jiao Chan tidak begitu peduli. Dia masih ingin tahu cerita ibu Lucia, tapi pria di sampingnya ini tidak ingin membeberkannya. Dia kan Lucia, sebentar lagi jika ingatannya kembali.
“Aku ingin tahu tentang Ibunda Ratu, tolong beritahu aku Ashley.” Dia mengembuskan napasnya. Ashley melirik ke kiri dan ke kanan, seolah-olah menghindari seseorang. Jiao Chan bingung sikap Ashley, lantaran ia bersikap aneh.
“Kau kenapa?” Ashley membisikkan sesuatu untuk tidak menceritakannya di sini, mereka harus mencari tempat aman. Dia mengajaknya ke tempat lain, Jiao Chan pun mengekorinya di belakang.
“Takut sekali orang tahu mereka membicarakan mendiang Ratu Istana.” Katanya pelan.
Ashley berhenti sejenak memandang lekat Jiao Chan, “Apa?!” bentaknya.
“Membicarakan kematian mendiang Ratu itu sebenarnya tabu di sini, asal kau tahu itu. Namun karena kau ingin tahu soal Lucia, apa boleh buat.” Dia mengangkat bahu. Jiao Chan merasa bersalah seharusnya tidak memaksa
seperti ini. Ya, sudahlah. Ashley pun juga ingin menceritakannya kan.