
"FERIUS!" Jiao Chan terbangun dari tidurnya, dengan sigap Ferius memeluknya seerat mungkin. Takut Jiao Chan menghilang lagi.
Dia sudah keluar dari hutan seram itu. Hutan yang mengingatkannya pada kematian, kematian mengerikan. Kekasihnya yang merenggut nyawanya.
"Kau sadar sayang." Baru kali ini Jiao Chan melihatnya menangis, terlihat dirinya yang putus asa. Gaun yang dikenakannya kotor karena lumpur yang melekat dan beberapa cairan darah yang bau amis, serta air mata Ferius yang membasahi bajunya. Tercampur.
Ia berhasil melewatkan satu perubahan, mengingatkannya pada kenyataan sebenarnya. Meski terasa buram. Ingatkah rasa sakit yang tidak mereda di saat kehilangan seseorang yang kita sayangi? Setelah itu, ingin rasanya menghilang saja dari bumi tanpa dirinya. Namun, kau memiliki tugas penting. Tetaplah hidup dan terisolasi dengan bongkahan kepahitan yang menyayat.
Gadis itu lebih setuju, ingatan seperti puzzle dan menyakitkan datang secara menyeluruh dibandingkan perlahan dan merasakan tiap inci peliknya.
Ia melenguh kesal, pelukannya membuatnya sesak. Air matanya yang basah. Sebesar itukah cintanya pada Jiao Chan hingga membuatnya lumpuh dan tak berdaya. Menangis bagai orang gila.
"He-hei, kau... ingin aku mati, hah." Ia merontah ingin dilepaskan. Ferius paham, ia pun melepasnya. Walau, ada rasa tak rela.
"Dasar kekanakan." Dengusnya. Sambil mengibaskan pakaiannya.
Di belakang Ferius nampak dua pelayan sekaligus teman bagi Jiao Chan. Wajah kusut mereka, khawatir, takut nampak begitu kacau, "Pu-Putri... hiks... ma-maafkan kami yang sudah meninggalkan Putri sendirian." Julia yang cengeng, menurut Jiao Chan, tapi dia perempuan yang berhati lembut, ceria. Jiao CHan merasa terenyuh melihat Julia yang periang itu menangis.
"Putri, mohon maafkan kami." Meski Alexa tidak menangis tapi tampang khawatirnya nampak jelas. Tipikal gadis tegas dan tidak memperlihatkan kepanikannya secara terang-terangan.
Jiao Chan berdiri dan menghampiri mereka, memeluk dengan kasih sayang seperti saudaranya sendiri. Julia mirip dengan Changhai sahabat yang dirindukannya. Aku tak suka melihat orang lain mengkhawatirkannya apalagi menangis karena dirinya.
"Tenanglah, aku tak apa. Terima kasih sudah menjagaku, akunya saja yang nakal pergi padahal kalian sudah mengatakan untuk tetap di sana." Cengirnya. Jiao Chan mengusap air mata Julia, mereka senang Putri orang yang lembut, ramah. Apakah dia akan tetap seperti ini saat dia tahu bahwa dunia mereka, ras mereka adalah musuh, saingan. Julia tidak ingin Jiao Chan berubah dan menjadi saingan, seperti ini saja. Jiao Chan bagai kakak kedua setelah Alexa.
"Alexa, Julia. Bersihkan Lucia, pakaikan gaun secantik mungkin." Ia melengos pergi. Meninggalkan Jiao Chan.
"Uhh.." Lenguhnya.
"Mari Putri." Jiao Chan pun mengikutinya ke pemandian istana.
Pemandian yang lumayan besar, seperti kolam. Terbagi atas dua, ada air hangat dan dingin, suasana yang dingin di Darkness World mengharuskan Jiao Chan memilih air hangat. Dengan taburan dua bunga yang berbeda. Bunga Rosella dan Honje.
Bunga Rosella memiliki kandungan zat vitamin A, C, kalsium, protein, 18 jenis asam amino, esensial. Jadi, cocok untuk diminum ataupun sebagai penyegaran tubuh serta merilekskan tubuh.
Untuk bunga honje, memilih khasiat dalam menghilangkan bau tak sedap pada tubuh, membersihkan darah, memperlancar ASI, meningkatkan fungsi otak, mencegah dehidrasi, mengobati luka dan menguatkan gigi dan tulang.
Dua bunga tersebut dijadikan campuran teh, mereka membuatkannya untuk Jiao Chan. Bukan hanya dipakai untuk mandi.
"Apa ini?" Katanya setelah melihat dua gelas yang baunya berbeda.
"Untuk tubuh Anda." Jiao Chan mengangkat sebelah alisnya. Sejujurnya, ia tidak tahu mengenai apa yang dibuatkan untuknya.
"Bagus untuk kesehatan Anda. Dua minuman tersebut ada campuran bunga rosella dan honje. Di kolam itulah bunga rosella dan honje itu." Ujar Julia, saat melihat tatapan bingung Jiao Chan.
Jiao Chan paham. Ia meminumnya. Namun, ada rasa yang berbeda. Tidak ada rasa, keduanya hambar.
"Apa tidak ditaruh gula sebagai perasa manis."
"Jika ada tambahan gula, khasiatnya akan berkurang. Lebih nikmat jika dinikmati tanpa manis. Akan terasa segar Putri." Jiao Chan mengangguk paham.
Dia bukan dokter, soal ini dia tidak paham sama sekali.
"Tolong gosokkan badanku." Alexa Dan Julia pun melepaskan alas kakinya lalu turun ke kolam. Ia tidak peduli pakaian pelayannya basah. Sensasi segar ditubuhnya membuat dirinya lebih rileks.
"Aku suka ini." Julia memijat pergelangan tangan, kaki, sedang Alexa sibuk menggosokkan badan Jiao Chan.
"Putri, seharusnya tidak ke tempat itu." Jiao Chan berbalik menghadap Alexa.
"Tempat itu berbahaya untuk Putri." Jiao Chan mengembuskan napas. Ia mengingat kejadian itu, di mana dirinya terbunuh mengenaskan di depan Ferius. Itu nyata, apakah di kemudian hari Ferius akan melakukan hal tersebut? Pertemuannya di bumi, mimpi dan berakhir di sebuah dunia yang tidak diketahuinya bukan tidak terencana. Tapi ini sudah diatur Ferius secara acak dan mungkin saja terkendali olehnya.
Namun, Jiao Chan harus memperhitungkan seluruh hari lain agar tidak terjadi lagi masa lalu itu dan mengulangnya kembali. Mungkin saja di kehidupan reinkarnasinya ia tidak boleh mati lagi tapi harus membunuh Ferius dengan tangannya sendiri hingga ia tidak terjerat lebih lama di sini. Suatu saat jika ia membunuh Ferius dia bisa kembali ke bumi.
"Aku tahu." Singkatnya. Julia dan Alexa saling memandang.
Biasanya Putri akan menanyakan, apa sebabnya berbahaya. Sikap ingin tahunya membabi buta, tapi tidak tentang tempat itu. Seakan-akan ia sudah paham jelas mengenai tempat itu.
"Jangan melihatku seperti itu." Dengusnya.
"Ya, aku sudah mengingat kejadian 300 tahun itu." Ujarnya datar.
Ia naik di atas kolam, lalu memakai jubah mandinya dan meninggalkan dua pelayannya yang termangu di tempat.
Rupanya Putri sudah mengingat semuanya. Tapi aneh bagi mereka, kenapa tidak ada aura kekuatan dahsyat di dalam diri Putri. Seharusnya ingatan itu menyalurkan kekuatannya pula. Bahkan tidak ada perubahan di dalam diri Putri, tegas, aura tak bersahabat dan kebencian.
"Kau benar Alexa. Kita harus memberitahukan Tuan Ferius." Alexa mengangguk.
****
"Apa yang kau lakukan di kamarku?!" Teriaknya.
Jiao Chan merasa risih melihat Ferius berada di ambang pintu melihatnya berdandan seorang diri. Tatapan tajamnya membuat Jiao Chan gugup menyisir rambutnya yang panjang itu. Dia berusaha menetralkan tubuhnya yang gemetar. Berusaha untuk tidak terlihat gugup. Saat ini ia memakai gaun malam, tidak terlalu tipis dan menutupi tubuhnya mulai dari pangkal lehernya hingga lutut tapi memperlihatkan lekukan tubuhnya yang indah dan mulus.
"Mana pelayanmu?" Menatap punggung Jiao Chan dan mencium aroma bunga menyejukkan baginya. Dia berusaha untuk menahan diri. Jangan sampai dirinya dipandang buruk oleh Jiao Chan, tidak akan memperlakukan Jiao Chan sebelum dia diterima olehnya.
"Mereka masih berada di kolam." Ketusnya. Dia masih menyisir rambutnya. Menyibukkan diri dengan rambut dibanding berpapasan menatap mata Ferius.
"Kau sendiri kembali ke kamarmu?" Desisnya. Memangnya kenapa kalau sendiri. Memangnya dia anak kecil yang mesti berjalan dipapah orang lain. Kenapa dirinya dianggap istimewa di sini, padahal mereka ini musuh. Apa maunya Ferius memperlakukannya seperti Ratu, ingin menaklukkannya begitu, jangan harap kau mampu melakukannya Ferius. Jiao Chan harus berusaha menahan Lucianya yang dulu untuk datang.
Ia menghentikan sejenak menyisir rambutnya dan berbalik memandang Ferius di ambang pintu acuh, "Memangnya jarak kolam ke kamarku 1 kilometer. Hanya jarak 50 meter." Dia kembali berbalik menyisir rambutnya.
"Kau pikir di dalam istana itu aman." Jiao Chan kali ini kesal ia menghentikan kegiatannya dan membanting sisir dan menghampiri Ferius yang berdiri di ambang pintu dengan gaya coolnya menempel di tembok sembari tangan ditautkan di depan dada bidangnya.
"Kau kan pemilik istana. Mestinya kau bisa meyakinkan keamanan 100%." Wanita yang berani. ia menunjuk dengan jari telunjuknya. Ferius tersenyum sarkastik.
"Di istana ini bukan cuman aku yang menginginkanmu, ada banyak penyusup yang tidak kau ketahui." Jiao Chan memutar bola matanya malas. Siapa? Itu berarti dirinya tidak aman. Kalau seperti itu kenapa Ferius terlihat tenang, mencurigakan. Dia sengaja melakukannya untuk memancing penyusup lalu menerkamnya hingga habis, benar-benar licik.
"Kau meremehkan aku dalam menghadapi musuhmu rupanya." Angkuhnya. Memangnya dia wanita lemah. tunggu saja jika kekuatan itu sepenuhnya telah ada ia akan membasmi siapapun yang berniat membunuhnya agar ia terbebas.
Ferius berkacak pinggang, "Ckck... angkuh sekali kamu, sayang." Ujarnya menggoda.
"Jangan menyentuh daguku." Ia memalingkan wajah. Ferius ini sangat menyebalkan.
"Salam Tuan Ferius." Kompak Alexa dan Julia tiba di depan kamar Jiao Chan.
"Dari mana saja kalian! Membiarkan Putriku sendiri memangnya tidak berbahaya." Tegasnya kepada dua pelayan tersebut.
Pelayan itu terlihat ketakutan, mereka menunduk karena tidak menjalan tugas sebagai pelayan, "Maafkan kami Tuan." Jiao Chan merasa kasihan karena ulahnya mereka berdua dapat imbasnya.
"Jangan membuat mereka tertekan karena perkataanmu itu." Nasihat Jiao Chan. Makin hari makin lama Jiao Chan ngelunjak, dia mulai berani dengan Ferius meski ia tahu, dia adalah pemilik istana.
"Tuan, kami perlu berbicara denganmu." Tegas Alexa. Ferius mengerutkan dahinya.
"Kita bicara di sini saja." Alexa menggeleng mengisyaratkan bahwa ini tentang Putri. Sepertinya penting sampai Alexa memberikan kode untuk tidak mengatakannya di sini.
Ferius menatap dalam Jiao Chan sebelum meninggalkan Jiao Chan dengan Julia.
"Kira-kira apa yang mereka bicarakan." Kenapa mesti bersembunyi? Kenapa tidak berbicara di sini saja. Jiao Chan orang yang ingin tahu apa yang mereka bicarakan.
"Saya tidak tahu Putri." Katanya pura-pura polos.
"Ya sudahlah, apa peduliku." Jiao Chan berusaha mengibas prasangka buruknya, mungkin saja ini tentang istana.
"Oh iya Julia. Ambilkan aku makanan." Julia mengangguk dan secepat kilat, tanpa terlihat bayangannya berlalu mencari makanan di dapur.
Ia beranjak ke ranjang empuknya. Akhirnya ia bisa memanjakan tubuhnya.
****
"Apa?!" Ferius terlonjak kaget dengan perkataan Alexa.
"Kau pasti berbohong. Mana mungkin Jiao Chan mengingat semua kejadian 300 tahun itu. Jika itu terjadi, kekuatannya pasti terbuka. Dan aku pasti merasakan auranya."
"Aku juga tidak tahu pasti Tuan. Tapi, mungkin saja kekuatan itu masih tersegel dengan baik. Atau bisa saja ingatannya masih belum terbuka semua hingga menyegel kekuatannya juga." Ujarnya.
Aneh. Ferius harus mencari tahu kebenarannya, terasa janggal baginya. Sepemahamannya ingatan dan kekuatannya itu saling tersegel, jika ingatan itu sepenuhnya terbuka otomatis kekuatan milik Lucia dan kepribadiannya yang dulu tentu akan muncul, Jiao Chan sudah tiada lagi.
Ferius memegang dagunya tampak dirinya berpikir, "Cari tahu lagi pada si kunang kecil itu." Alexa mengangguk, ia pun pergi meninggalkan Ferius dengan perasaan bingungnya.
"Bagaimana caranya membuka aura diri Lucia. Jika dia mengingat semua pertempuran itu~~~~ berarti ingatan tentang kita ia mengingatkannya kan. Tapi, kenapa seakan itu bukan Lucia. Sifat arogan, datar, kharisma sama sekali tidak terlihat."