
Jiao Chan terus mengikuti Ashley dari belakang, mereka berjalan jauh dari taman. Sekitar dua puluh menit mereka berjalan di belakang istana ternyata ada sebuah bangunan yang lebih kuno dan tak terawat sama sekali. Gelap sama sekali tak ada cahaya sebagai penerang.
Ashley tampak mencari sesuatu yang bisa di pakainya sebagai penerang. Obor, ada sebuah obor terletak di bawah pohon, dia meniup obor itu hingga muncul kobaran api. Jiao Chan melongo melihat kekuatan makhluk di dunia ini, jentikan jemari yang pernah dilakukan Ferius, Ashley menggunakan tiupannya sebagai kekuatan magisnya.
“Kenapa diam? Ayo masuk.” Serunya. Dia tersadar dari lamunannya.
Kreeekk
Bunyi pintu yang terdengar nyaring membuat telinga sakit, “Begini kondisinya saat bangunan ini tidak digunakan lagi oleh Ibunda Ratu.” Jiao Chan menautkan kedua alisnya, heran.
Bangunan yang kuno dan tak terawat ini miliknya? Apakah dia tinggal di sini? Atau tempat persembunyiannya di saat dia merasa kesepian?
“Ya,ini tempatnya di saat dia merasa diasingkan oleh Raja.” Lagi, lagi Ashley membaca isi pikirannya. Sedikit kesal sebenarnya tapi dia tidak perlu buang-buang suara untuk bicara dengan Ashley kan. Dia bisa membaca pikiran
siapapun.
Apa dia juga bisa membaca pikiran orang yang disukainya dan tidak disukainya?
“Tidak semua pikiran bisa kubaca, Jiao Chan.” Jawabnya sembari menghela napas. Dia masih sibuk menyalakan semua obor yang tersedia tiap dinding-dinding. Jiao Chan sibuk mengamati bangunan itu.
Nguingg…
Jiao Chan merasa beban tubuhnya begitu berat, kepalanya pening. Barusan itu apa? Muncul dalam sekajap dan pergi begitu saja. Dia melihat sosok perempuan yang asyik menulis sesuatu di sebuah buku. Tunggu, buku? Jangan-jangan buku yang pernah ia dapatkan di perpustakaan Darkness World itu. Jiao Chan berusaha mengingat kembali cover dari buku itu, mungkin saja sama dengan buku yang dia miliki saat ini.
Beberapa menit dia berusaha untuk mengingat kepalanya terasa pusing hingga dia tersungkur ke lantai dan benda yang disentuhnya pun ikut terjatuh. Menyadari itu, Ashley lekas menolongnya dan mendudukkannya dikursi.
“Kepalamu sakit lagi? Kali ini apa yang kau ingat?” dia tidak ingin mengingatnya lagi. Lebih baik baginya menjaga kepalanya agar tidak sakit.
“Ingatan itu masih buram, aku mengingat sebuah buku.” Ashley berpikir keras. Buku ya? Dia mengobrak-abrik rak buku yang berada di ruangan itu.
“Buku seperti apa?” tanyanya. Tangan dan matanya sibuk mencari dan melihat-lihat buku yang dimaksud Jiao Chan. Namun gadis itu terdiam sesaat.
“Aku sudah bilang ingatanku buram, aku tidak mengingat buku seperti apa.” Jelasnya. Dia memijit-mijit kepalanya yang terasa pening. Ashley menghela napas mendengar jawaban Jiao Chan.
Jiao Chan masih belum yakin buku di dalam ingatannya itu dengan apa yang ditemukannya, kalau pun benar buku itu yang dimaksud, dia tidak boleh gegabah membiarkan siapapun menyentuhnya. Buku itu milik Darkness World.
Pandangannya bertemu dengan Ashley, “Kau membaca pikiranku lagi?!” serunya. Ashley menaikkan bahunya lalu mendekati Jiao Chan, bahkan sangat dekat. Meja sebagai pembatas mereka dan Jiao Chan memundurkan wajahnya.
“M-mau apa kau?” Ashley memicingkan matanya. Menatap lekat mata Jiao Chan. Dia mengalihkan matanya jangan sampai dia tahu soal buku itu,
Tuhan kumohon biarkan aku memiliki buku itu. Sangat berarti bagiku.Batinnya.
“Kau…” mencari-cari sesuatu yang dipikirkannya. Ashley semakin menyudutkannya membuat Jiao Chan keringat dingin.
Dia menelan ludahnya, “Apa, hah?”
“Kau… menyukaiku, ya?” Jiao Chan memelototinya. Dasar laki-laki narsis. Kaki di bawah meja sukses terayun menendang Ashley, ia pun merasa kesakitan.
“Dasar narsis.” Untung saja dia tidak membaca pikiran tentang buku itu, gadis itu menghela napas lega.
“Aku kan sudah bilang tidak bisa membaca semua pikiran seseorang.” Jiao Chan jadi penasaran dengan kekuatan yang dimiliki Ashley.
Tidak semua, ya? Jadi pikiran seperti apa yang bisa dibacanya?
“Kau bertanya-tanya tentang pikiran apa yang bisa aku baca?” tanpa berlama-lama Jiao Chan mengangguk mantap.
Ashley mengembuskan napas dia mengambil kursi dan duduk di hadapan Jiao Chan kedua tangannya di depan dada, “Untuk manusia memiliki aktivasi sinyal pada sarafnya dalam korteks premotor yang disebut dengan neuron
cermin. Manusia menggunakan rasa itu untuk mendeteksi membaca pikiran, namun kelemahannya tidak dipergunakan seterusnya ada masa ia sulit membaca pikiran. Begitupun aku makhluk di sini tentu memiliki otak yang sama dengan manusia, hanya saja otak kami berpikir dua kali lipat dibanding manusia. Mengontrol kekuatan. Makhluk di sini memiliki kelebihannya tersendiri, membaca pikiran termasuk kelebihanku namun memiliki kelemahan…” Dia memperbaiki posisinya menghadap Jiao Chan memandanya lebih intens, gadis itu merasa terintimidasi dengan tatapan pria di hadapannya.
“Apa?!” pria itu memicingkan matanya.
“Jika kau tahu kelemahanku ini, pasti kau akan mempertahankan kelemahanku untuk membentenginya. Hmm… jadi sulit membaca pikiranmu lagi.” Lanjutnya sembari mengeluh.
Jiao Chan terus mendesak untuk membongkar kekuatannya itu, cepat atau lambat Ashley harus mengatakannya. Lucia juga akan muncul di dirinya.
Dasar! Kelemahan Ashley bertambah melihat Jiao Chan tampak manis di depannya, sial!
“Ekhm..” dia berdehem sesaat untuk menetralkan dirinya yang sedang menahan jantungnya berdegup kencang. Mungkin saja pipinya saat ini terlihat seperti merah tomat. Melihat itu Jiao Chan memiringkan kepalanya menatap Ashley dengan lugu. Sangat menggemaskan.
“Pipimu…” Jiao Chan ingin menyentuh pipi Ashley namun ditahan oleh tangan kekarnya.
“Sebaiknya kita kembali ke istana, besok saja kita lanjutkan sesuatu yang penting di sini.” Ashley berdiri cepat sebelum Jiao Chan menyadarinya. Gadis itu melenguh kesal. Bahkan dia belum mendapatkan informasi apapun mengenai bangunan ini dan tentang kekuatan magis itu.
“Ck! Aku bahkan tidak tahu tentang tempat ini kau belum menceritakannya dan tentang kekuatanmu itu.” Ashley melambaikan tangan memberi kode nanti saja, masih ada lain waktu.
Jiao Chan berpikir sejenak lalu menyusul Ashley. Pria itu memperlambat jalannya mengiring bersamaan Jiao Chan. Gadis itu termenung.
“Sesuatu mengganjal pikiranmu?” Jiao Chan berhenti sejenak menghadap Ashley.
“Tidakkah kau merasa aneh dengan bangunan itu?” sebelah alisnya terangkat mendengar pertanyaan gadis itu.
“Aneh?” dia mengangguk.
“Aku merasa bangunan itu menyembunyikan barang berharga.” Ashley mengangguk mantap. Dia membenarkan yang dikatakan Jiao Chan.
Dia menatapnya tajam, wajahnya menegang serius.
“Kau sudah lama berada di sini. Kau tidak tahu banyak tentang bangunan itu?” sukses membuat Ashley tak berkutat. Secara tidak langsung pertanyaan itu menyerang Ashley membongkar sejarah bangunan itu.
Jiao Chan hanya tahu bangunan tersebut milik Ibunda Ratu Lucia, secara incinya ia tidak tahu menahu kenapa bangunan itu menjadi tempat kesukaan Ibunda Ratu.
Ashley menatap lurus ke atas memandang rembulan, “Bahkan bulan yang berada di bumi muncul pada siang hari tidak selalu terlihat dengan mata telanjang.”
Tatapannya berubah sendu terahlihkan pada sosok gadis di hadapannya, “Aku sudah lama tinggal di sini pun belum tahu jelas tentang bangunan tersebut.”
“Hah? Tapi Ash-” Tatapan mata Ashley membuat Jiao Chan berhenti berkutat, dia menghela napas.
“Baiklah, besok saja.”
****
“Cari tahu tentang manusia itu!” dia perempuan memerintahkan kepada pengawalnya, sedang asyik menatap gelas yang berisi air berwarna merah pekat kental, bau amis yang menyeruak bisa dipastikan itu adalah darah yang masih segar.
“Apa bagusnya mencari tahu tentang manusia yang tidak ada gunanya sama sekali.” Ujar gadis lainnya dengan nada meremehkan. Perempuan yang memegang gelas itu memandang bengis perempuan yang berdiri tepat di sampingnya.
“Kau lupa sosok Lucia, Nona Celine Agatha?” gadis itu memicingkan mata mendengar nama Lucia yang sudah lama jadi legenda pertarungan 300 tahun yang lalu.
Gadis yang bernama Celine Agatha memicingkan mata menatapnya tajam, sudah lama nama itu tidak di dengarnya. Dan hari ini perempuan yang duduk di singgasana kembali menyebut gadis yang telah mati.
“Jangan pernah membahas gadis yang sudah tutup nyawa.” Tajamnya. Perempuan yang duduk di singgasana memperbaiki posisi duduknya sembari mengibaskan tangan memerintahkan pengawalnya untuk lekas pergi mencari tahu manusia itu.
“Kau masih tuli tentang desas-desusnya ya, manusia itu adalah renkernasi Lucia telah ada di Darkness World. Asal kau tahu itu, Celine.” Katanya sambil meminum segelas cairan merah pekat hingga habis tak bersisa.
Celine mendengus kesal, “Lucia tidak pantas menjadi Ratu Castle Darkness World, aku lah yang akan menikah dengan Xander Osferius.” Perempuan itu tertawa terpingkal-pingkal mengetahui Celine menginginkan kursi Ratu Darkness World.
Dia menghampiri Celine menarik dagunya menghadapnya, kukunya yang panjang mampu menggores wajah mulus Celine, namun perempuan itu tidak melukainya.
“Dengar Putriku, Darkness World bukanlah penguasa yang mudah ditaklukkan. Sebuah rencana untuk memasuki kawasannya dan tentu kau ikut andil dalam hal ini.” Celine mengangkat sebelah alisnya.
“Bukankah tinggal menjalin kerjasama untuk memperluas kekuasaan dengan Xander semuanya beres, Bunda Ratu?” perempuan menyebut Bunda Ratu itu sebenarnya wanita paruh baya, wajah dan seluruh tubuhnya bertolak belakang dengan kata wanita paruh baya, lantaran kulitnya yang putih mulus, bersih, wajah bercahaya, tidak ada
keriput sedikitpun terlihat seperti anak muda. Siapa yang menyangka bahwa dirinya sudah menua selama beratus tahun karena ramuan darah pekat itu.
“Kerjasama tidak semudah itu, Putriku. Jalannya adalah licik.” Rencana apa lagi sekarang yang dipikirkan nenek tua.
Dia berjalan menjauh dari Celine, “Pastikan mengambil hatinya Xander, dan satu hal yang penting. Sebuah buku dengan lubang kunci, ambil di kediamannya.” Dia melengos pergi membiarkan Celine sendirian dengan spekulasinya.
Apa yang dikatakan Ibunda Ratu menjadi renungan baginya. Buku itu pasti sangat penting, “Aku harus mendapatkannya.”