Racial World Is Different

Racial World Is Different
LIFE ON EARTH



Kriingg...


"Baiklah anak-anak, kelas berakhir hari ini. Kalian langsung pulang kerumah jangan singgah ketempat lain. Jika tidak terlalu penting." Ujar guru yang mengajar di kelas Jiao Chan dengan tegasnya.


"Baik bu." Serentak murid.


Gurunya lantas keluar setelah selesai memberikan materi.


"Jiao Chan, kau tidak lupakan pertandingan senior dan kelas kita?" Jiao Chan menepuk keningnya.


Benar, ada pertandingan antar kelasnya dan senior. Ya, ini hanya pertandingan biasa saja. Hanya pertandingan bersahabat.


"Kau benar, aku melupakannya barusan. Untung kau mengingatkanku." Changhai mengangguk.


"Liat, teman pria kelas kita bergegas mengganti pakaiannya. Aku tidak sabar melihat mereka memakai pakaian yang memperlihatkan otot mereka." Changhai kembali mengkhayal.


Jiao Chan hanya bisa menggelengkan kepalanya menghadapi sahabatnya jika sudah mengkhayal seperti ini.


"Aku tinggal, ya." ucapnya datar.


"Selalu begitu."


Mereka tiba di lapangan basket, tempat juru penonton hampir penuh. Untung mereka dapat tempat untuk menonton. Mereka duduk dibagian bawah dekat langsung ke lapangan.


"Liat mereka semua sangat tampan, senior juga tampan semua. Ya Tuhan... apakah aku bisa melihat otot kotak-kotak perut mereka hari ini." Masih saja memikirkan hal mesum.


"Otakmu ini penuh hal mesum, ya." Jiao menunjuk kepala Changhai.


"Semua gadis pasti menyukai hal itu. Kau lah yang paling berbeda, menanggapi Senior Yu Lian yang selalu memberikan perhatiannya kau biasa-biasa saja." Cibirnya. Jiao Chan memutar bola matanya malas.


Changhai menutup mulutnya ia memikirkan sesuatu hal yang mungkin saja, "Apa kau menyukai sesama jenis Jiao Chan?" Ujarnya sedikit berteriak. Membuat penjuru penonton menatap mereka.


"Maaf atas keributan kami, dia ini asal bicara saja." Jiao Chan menatap tajam Changhai.


Changhai merasa hawa dingin dari tatapan Jiao Chan, "Diam, ok. Jangan membahas hal yang tak masuk akal." Changhai mengangguk patuh.


"Kau benar tidak suka wanita kan?" Bisiknya. Jiao Chan menepuk keningnya dengan kesal.


Sahabatnya yang satu ini mengenal Jiao Chan sudah lama kenapa bisa dia perpikiran hal seperti itu.


"Aku normal Changhai." Ia mengangguk paham.


"Habisnya kau tidak pernah terlihat senang di hadapan pria. Hmm... kalau dipikir-pikir, kau hanya punya aku di sampingmu. Dan bisa saja kau menyukai sesama jenis kan." Sumpah, Jiao Chan ingin sekali menyumpal mulut Changai dengan bola basket.


Jiao Chan tersenyum licik, ia mengelus bibir Changhai sembari menatapnya intens. Changhai bergidik ngeri ats reaksi Jiao Chan padanya, "Ap..apa yang ingin kau lakukan Jiao Chan?"


"Bibirmu ini... sungguh terlihat cantik, ya Changhai." Ia menelan ludahnya.


"Da-dasar, wanita pe-"


Jtaakkk.


"Mau mulut cantikmu ini disumpal dengan bola basket yang di sana." Ia melirik ke arah lapangan.


"Sialan kau Jiao Chan. Sakit." Keningnya memerah karena jitakan Jiao Chan barusan.


"Biarkan saja, siapa suruh mulutmu ini banyak kotoran. Aku kan sudah bilang, diriku ini normal. Siapa juga yang menyukaimu Changhai, Hmph.." Lanjutnya.


"Jiao Chan." Teman sekelas Jiao Chan memanggil dari arah lapangan. Ia berjalan mendekati Jiao Chan.


Jiao Chan heran, "Iya, Lu Feiye?" Dengan malu pria berkacamata itu mencoba menghilangkan kegugupannya di hadapan Jiao Chan.


"Jika kelas kita menang, kau harus menjadi pacarku, ya?" Hah? Sontak Jiao Chan terkejut. Menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Bukan hanya dia, beberapa orang di sana mendengarnya. Jiao Chan tersenyum hambar. Ia tidak ingin mempermalukan Lu Feiye, yang notabenenya teman se-kelas. Ia hanya mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban. Dalam hati Jiao Chan ia sama sekali tak ingin berpacaran tanpa ada rasa padanya. Harapannya kelas Senior Yu Lian menang.


"Tentu saja Jiao Chan akan memilih senior Yu Lian, secara dia lebih populer." Apa mereka tidak sadar, perkataan mereka secara langsung menghina Lu Feiye.


Jiao Chan bukanlah orang yang dengan gamblangnya mencoreng nama baik siapapun, ia hanya memutar bola matanya, "Aku merasa risih di sini, apa sebaiknya kita pulang Changhai." Changhai menahan lengan Jiao Chan.


"Pertandingan akan segera dimulai. Dan... Jika kelas kita menang tentu saja sepakatnya kau harus menjadi pacar Lu Feiye." kekeh Changhai.


Dasar Changhai, jika menyangkut pria ia tidak bisa berpaling. Dengan sigap Jiao Chan langsung mencubit pipi sahabatnya itu, "Berhenti menggodaku, oke." Changhai mengusap pipinya yang dicubit Jiao Chan.


"Sudah kedua kalinya kau menyiksaku." Changhai memasang wajah cemberut. Tega sekali Jiao Chan mencubit pipinya.


Priitt...


Pertandingannya pun dimulai.


Sorak tim kelas Yu Lian begitu riuh. Jiao Chan berharap dalam hati agar kelasnya tidak menang. Bisa bahaya kalau dirinya harus menjadi milik orang lain.


Pertandingan berjalan dengan sengit antar dua kelas.


Jiao Chan memandang intens pertandingan tanpa mengalihkan mata ke arah lain. Sesekali Yu Lian mengarahkan pandangan ke juru penonton, melihat sosok Jiao Chan. Ia tersenyum manis.


"Kau liat tidak Yu Lian memandang ke arah sini, dia pasti sadar kalau seorang Xiao Lin itu sebenarnya jauh lebih cantik."


"Percaya diri sekali dia, padahal terlihat jelas Yu Lian menyukai siapa." Sinis Changai.


"Ya, kan Jiao Chan?"  Jiao Chan tak mengubrisnya. Pertandingan lebih penting dibanding berdebat dengan gadis sepertinya.


Tidak ada gunanya juga bersaing memperebutkan Yu Lian, dia yang menentukan siapa diantara mereka dipilihnya. Tidak membuang tenaga hanya untuk persaingan, lagi pula banyak laki-laki lain diluar sana. Jiao Chan tidak ingin berpikir melankolis hanya karena cinta yang tak pasti. Setelah beberapa jam bermain basket, bunyi peluit menandakan pertandingan berakhir.


Akhirnya tiba saatnya menentukan pemenangnya.


"Skor untuk kelas XI-B adalah 2 poin, sedangkan untuk kelas XII-A poinnya jauh lebih unggul 3." Secara otomatis riuh kembali meneriakkan kelas Yu Lian.


"YU LIAN." Teriak histeris dari gadis-gadis ini membuat telinga Jiao Chan berdengung. Dia menutup telinga.


"Cukup, aku akan pergi sekarang." Ia melirik jam tangan menunjukkan pukul 5 sore. Saatnya rutinitas kerja paruh waktunya.


Bukan waktunya untuk bermain-main.


"Jiao Chan." Ternyata Lu Feiye memanggilnya.


"Iya?" Ia mengembuskan napas sebelum membuka suara.


"Maaf-maafkan aku ya Jiao Chan tidak bisa lebih unggul saat bertanding." Terdengar nada suara penyesalan, menambahkan rasa bersalah bagi Jiao Chan.


Secara Jiao Chan tidak menyukai Lu Feiye, bukan membencinya. Tetapi ia tidak ingin berada hubungan special antara mereka. Jiao Chan hanya menganggap Lu Feiye sebagai teman. Hanya itu.


Jiao Chan memegang tersenyum tulus sembari menatap Lu Feiye Lembut, "Tidak masalah Lu Feiye, kau sudah berusaha keras untuk kelas kita."


Ia terkesima dengan kelembutan Jiao Chan. Rumor itu benar, Jiao Chan bidadari sekolah. Bukan hanya cantik, tetapi dia wanita ramah dan tidak pernah sekalipun menyakiti orang lain.


"Jiao Chan, maukah kau-"


"Lu Feiye..." Ia memegang kedua tangan Lu Feiye.


"Aku tidak bisa menjadi kekasihmu. Namun, kau bisa menjadi teman, seperti Changhai. Jangan merasa putus asa karena penolakan Lu Feiye. Masih banyak gadis yang lebih baik, kau terlalu baik untukku." Semoga penolakan ini tidak membuat Lu Feiye merasa malu.


"Aku merasa tersanjung atas pujianmu. Aku paham, kau belum mengenal diriku terlalu jauh. Mungkin menjadi teman adalah solusi terbaik agar kau bisa tahu tentangku." Fiuhh...  Jiao Chan bisa napas juga.


"Aku tidak akan menyerah terhadapmu Jiao Chan." Hahaha... ternyata perkataannya menambahkan semangat untuk tetap berjuang mendapatkan hati Jiao Chan.


Ia menggaruk kepalanya, bagaimana caranya biar ia bisa bebas dari Lu Feiye hari ini. Pergi bekerja untuk mendapatkan uang jauh lebih penting dibanding berbicara berdua dengannya.