
Aku membuka mataku takjub melihat sekeliling. Taman yang indah, bunga bermekaran ditaman itu dan beberapa kupu-kupu beterbangan di atas bunga sesekali hinggap untuk mengisap sarinya. Ada sebuah sungai di sana dan pohon yang berbuah aneh, entah buah apa.
Kicauan burung serta pancaran sinar mentari menambah kesan sempurna untuk taman yang sekarang kupijaki.
Aku berjalan-jalan seorang diri sembari menari ditengah bunga bermekaran. Aroma bunganya menyeruak dihidungku.
Aku memetik salah satu bunga dan menciumnya.
"Bunga Gerbera." Aku melihat sosok pria yang tak jauh dariku.
Rambut jatuh berwarna hitam pekat setengkuk, hidung mancung, wajah tirus, mata merah darah, bahu bidang, proporsi badan tinggi sekitar 180cm dan bisa kuprediksi dari balik bajunya ada otot-otot perut yang terbentuk di sana, dan juga bibir agak tebal dengan bentuk sensual, aku membayangkan jika bibir itu menyentuh bibirku seperti apa ya rasanya.
Aku menggeleng membayangkan hal mesum. Tidak! Aku menepuk wajahku mencoba berpikir jernih. Kenapa aku membayangkan hal buruk seperti ini, bukan seperti ini Jiao Chan yang asli.
Tanpa kusadari dia sudah dekat denganku.
Deg
Deg
Deg
Seakan melayang saat dia menyentuh wajahku dengan tangan kekarnya.
Blush
Aku bisa merasakan saat ini pasti wajahku merah seperti tomat.
"Aku suka rona merah dipipimu ini, Lucia." Eh? Lucia. Tunggu... jangan-jangan dia pria yang selama ini selalu kumimpikan dan bertemu denganku waktu tadi sebelum tidur.
Sial! Aku menjauh darinya. Dia pria berbahaya, dari tampangnya saja terlihat. Tapi, kalau dipikir-pikir dia memang tampan sih. Tidak, tidak! Bukan saatnya berpikir lain. Aku harus menghindari darinya dulu.
"Kau.. pria yang selalu kutemui dimimpi dan, kau pasti pria semalam tadi kan ?" Tatapan teduhnya membuatku mematung.
Ada sorot mata kerinduan dibalik mata kilat merahnya. Tubuhku entah kenapa gemetar, ingin rasanya menangis. Ada apa sebenarnya? Ya Tuhan.. jelaskan sebenarnya kenapa dengan diriku? Dia kembali mendekat, dan kakiku terasa membatu tak bisa bergerak sedikitpun.
Ia menggenggam tanganku, menciumnya dengan hati-hati. Senyumannya seakan kurindukan, tumpah sudah air mata yang kutahan beberapa menit yang lalu. Entah kenapa rasanya aku ingin memeluknya.
"Aku sangat merindukanmu." Dia memelukku tentu aku membalasnya.
Kami seperti saling menyalurkan rasa rindu selama bertahun-tahun. Air mataku semakin menggila, rasa nyaman akan pelukannya membuatku menginginkannya untuk terus berada di sisinya.
Apakah dia nyata?
Tuhan, tolong ciptaan dia untukku selamanya.
"Siapa... hiks kau sebenarnya?" Aku mendorongnya. Tidak boleh begini.
Dia tidak nyata hanya ada dimimpi.
"Aku akan membuat ingatanmu kembali, walau itu memulainya dari awal. Sikapmu yang merespon pelukanku tanda bahwa kau merindukanku." Ia mengelus wajahku dan tangannya beralih pada bibirku.
"Ikutlah bersamaku, di dunia yang dulu kita bertemu." Aku menggeleng.
Tidak! Tubuhku akan mati jika jiwaku berada di alam mimpi. Walau di sini memang indah, tapi aku tak mungkin meninggalkan sahabatku, aku ingin menggapai cita-citaku sebagai seorang penulis.
"Tidak!" Aku menghempaskan jarinya yang bermain dibibirku. Aku berjalan menjauhinya tetapi tangan kekarnya menarikku.
Dengan cepat ia langsung menciumku, awalnya hanya kecupan dan akhirnya kecupan itu menjadi lumatan. Aku memejamkan mataku, menikmati ciuman ini. Ia menggigit bibir atasku membuatku membuka untuk membiarkan lidah kami saling beradu di sana. Ohh tidak! Kenapa aku begitu menginginkannya saat ini, aku kembali menangis perlahan-lahan muncul seperti memori yang hilang menghanyutkan layaknya film.
Aku mendorongnya sedikit menjauh dariku. Kepalaku sakit, aku meringis kesakitan.
"Ada apa Lucia?" Dia khawatir padaku ia memegang wajahku.
"Apa sebagian ingatanmu muncul?" Aku bisa melihat sekilas barusan, peperangan. Itu yang terlihat.
Tapi aku tak mengenali wanita yang berperang dengan pria di hadapanku.
"Peperangan, kenapa malah pertarungan sengit yang muncul di kepalaku? Ingatan macam apa ini?" Ia menghela napas sebelum menjawab.
"Semuanya akan terkuak setelah kau mengingat semua ingatan kita." Kita? seperti apa sebenarnya hubunganku dengannya.
"Apa kita kekasih?" Dia menjawab dengan mantap. Tak semudah itu untukku percaya padanya.
Jangan anggap diriku gadis bodoh. Aku langsung mendorongnya dengan kekuatan yang kupunya dan berlari.
Tolong, tolong aku. Siapapun di bumi sana bangunkan aku dari mimpi bodoh ini. Aku tidak terjerat dari dunia konyol ini, ini tak nyata.
Liu Changhai, Yu Lian kumohon kembalikan aku.
Tiba-tiba saja pria yang berada jauh dariku langsung berada di depan. Bagaimana mungkin? Sudah kuduga di bukan manusia. Dia makhluk supermagic, memiliki sihir dan kekuatan yang berbeda dari manusia.
"Lepaskan aku makhluk asral, bodoh. Tanganku sakit."
"Xander Osferius, bukan makhluk asral." Aku memutar bola mataku malas.
"Terserah, aku tak peduli. Sekarang lepaskan aku ma-"
Cup
Aarrgghh...
"Siapa suruh kau menciumku?"
"Ingat namaku, memanggilku makhluk asral lagi aku bisa menciummu lagi, sayang." Menjijikkan.
Keparat mesum, mati saja kau. Seharusnya kau memperlakukan wanita dengan lembut.
Ehh...
Tanganku sudah dilepaskan. Aku punya celah untuk kabur darinya.
"Kau kabur pun tak akan bisa, portal ke duniamu tertutup. Kau akan tinggal di sini."
APA?! Portal tertutup? Apa maksudnya coba?
"Itu berarti, aku tidak bisa kembali?" Ia mengangguk mantap sebagai jawaban.
Aku terduduk atas jawabannya. Terkejut? Tentu saja, bagaimana dengan sekolahku dan..
"Tubuhku bagaimana? Bukankah dunia mimpi ini hanya jiwa yang ada di sini kan?" Ia mengangkat alisnya.
"Tenang, kau tahu perjalanan waktu?" Jadi, aku menjalani waktu di dunianya?
Hahaha...
Lucu sekali, layaknya dunia fantasi. Lelucon macam apa ini, tidak lucu. Ini menyangkut nyawa.
Aku menepuk keningku. Kenapa ini terjadi padaku?
"Apa aku bisa kembali ke bumi saat portal yang kau maksud itu terbuka?"
"Tergantung."
"Tergantung apa?"
Seringaian licik muncul diwajahnya, tubuhku rasanya ada yang aneh dengan seringaiannya. Idenya pasti busuk, aku mundur beberapa langkah agar menjauh darinya.
Kemudian dia menarik pinggangku, dan jarak kami begitu dekat. Jantungku menggila karena tingkahnya, kenapa degupan jantungku kencang tak seperti biasanya. Apa karena atmosfir di sini dan tindakan tiba-tibanya yang membuat jantungku seperti mau copot dari tempatnya.
Bibirnya mendekati telingaku, "Jika kau mau menjadi istriku, kita bisa kembali ke bumi setelah urusan di sini selesai, bagaimana Lucia?"
Kurasakan semburan merah dipipi, kenapa pipi ini memerah lagi sih? Sebelum dia menyadarinya aku mendorongnga semakin menjauh dariku.
"Kau pikir aku akan bilang 'Bersedia Untukmu' begitu? Jangan harap, itu mungkin
hanya hayalanmu saja Tuan Xander Osferius."
"Kau akan menyetujuinya nanti." Dia lalu meninggalkanku sendirian ditaman.
Eh? Apa aku dibiarkan sendirian di sini? Aku kan tidak tahu menahu soal dunia misterius ini. Kalau aku dimakan binatang buas di sini, tidak lucu kan.
Aku mengacak rambutku frustasi, tidak ada pilihan lain. Dia satu-satunya orang yang kutemui di sini, tidak ada seorang selain dia yang kukenal.
"Tu-tunggu..." Teriakku, dia berbalik menyeringai. Pria busuk, aku kutuk kau jadi belalang
biar kuinjak sampai ******.
"Kau mengerti sekarang maksudku?" Dia kembali mendekat memberi jarak 1 meter dariku.
Aku melipat kedua tanganku, "Aku tidak terlalu tahu soal ingatanku di masa lalu, hanya ingatan pertarungan yang entah apa hubungannya denganku."
"Untuk itu aku ikut denganmu. Tapi... jangan berani menyentuhku. Atau aku akan membunuhmu." Ancamku.
Dia hanya tertawa mendengar tutur kataku. Memangnya apa yang lucu, dasar brengsek. Mati saja kau pria berandalan.
"Kau berani membunuhku? Kau tak akan bisa berani, karena di waktu sebelum membunuhku kau akan terpikat dengan wajah tampanku." Membanggakan dirinya memang apa peduliku kalau kau tampan.
Tidak akan pernah seorang Jiao Chan terjerat akan sosoknya. Cih, menjijikkan.