Racial World Is Different

Racial World Is Different
Heavenly World



"Hoaammm..."


"Bagaimana tidurmu? Nyenyak?" Yu Lian, ah tidak dia Ashley. Tepat berada di ambang pintu senyum dengan manis terpancarkan ketampanannya aku jadi speechless.


"Dari dulu aku memang tampan." Aku sadar, dengan cepat merespon menatapnya sarkastik sedikit memperbaiki posisi dudukku bersandar di tepi ranjang, tangan menyilang di depan dada.


"Ada perlu apa?" Datarku, wajah senyumnya berubah jadi serius, sepertinya dia ingin membicarakan sesuatu yang penting padaku.


“Siap-siaplah, aku menunggu di depan kamarmu.” Aku mengangguk dia pun berlalu segera kututup pintu kamar. Aku pun siap-siap seorang diri, tidak ada pelayan yang menemaniku seperti Julia dan Alexa, aku jadi rindu dengan mereka.


Secara garis besar aku tidak nyaman berada di sini walaupun tidak jauh beda dengan istana Darkness World, istana berumur ribuan tahun masih berdiri kokoh, memiliki banyak sekali ornamen yang rumit atau hiasan hampir disetiap sudut ruangan terlebih lagi bahannya diambil dari alam dan proses pengerjaannya pasti butuh waktu yang sangat lama.


Aku pernah membaca disebuah buku mengenai arsitektur dari sebuah bangunan kerajaan masa lampau yang bangunannya berdiri selama ratusan tahun silam itu dibangun karena tempat tinggal bagi yang memiliki kekuasaan untuk menghuninya, wadah penyembahan pada Tuhan untuk beribadah dan tempat berkumpul.


Heavenly World, aku tidak tahu banyak tentang kehidupannya. Ada yang janggal, tidak merasa asing dengan istana


ini.  Istana megah ini terdapat banyak barang-barang kuno juga yang tidak mungkin bisa di dapatkan di dunia manusia. Aku yakin harga satu barang saja jika di nominalkan uang manusia bakal dapat membeli apapun yang mereka inginkan, mungkin saja negara pun ia beli. Tapi, bagi penghuni dunia ini uang bukanlah segalanya bagi mereka melainkan sebuah kekuasaan dan pertarungan.


Setelah selesai berpakaian aku menatap diriku di cermin besar mencapai di atas tinggiku yang berada di samping


ranjang frame bingkai rias minimalis modern nampak cantik.


Gaun Off The Shoulder Dusty Blue Lace, bagian leher terlihat transparan dengan kain tipis tulle memperlihatkan


jenjang tulang leher, lengan flare yang agak melebar cocok untuk lengan kurus dan gemuk bagi si pemakai. Pada bagian depan membentuk lekukan proporsi dadaku. Gaun cantik ini terbuat dari renda bunga timbul. Atasan bagian belakang memakai korset pengganti resleiting. Tidak semua orang menyukai korset, namun aku lebih suka dengan korset ini karena tidak mengimpit atau menyakiti bagian atasan tubuhku, korset ini pas sekali di tubuh idealku.


Untuk bagian bawahan ada lapisan dua kain, satu kain utama yang tidak transparan dan satunya adalah tulle persis


kain yang dikenakan pada bagian leher yang transparan. Aku menata sedikit rambutku yang bergelombang panjang, menggulung beberapa rambut menggempulnya di bagian atas sisi telinga kiri.


Aku mengambil hiasan rambut yang telah disediakan dikotak khusus tempat perhiasan rambut tidak terlalu besar


tidak juga kecil, namun mampu mengisi lebih dari dua puluh hiasan rambut bermacam-macam model dan bentuk bunga yang cantik, serta beberapa jepitan. Aku mengambil hair piece pita berantai bunga berwarna dusty paduan sapphire cocok untuk rambutku yang berwarna brown jingga dan pakaian yang kukenakan.


Aku berputar melihat pantulan tubuhku di cermin, cantik. Tidak sia-sia diriku belajar tentang fashion di bumi secara langsung aku bisa memodis diriku sendiri tanpa bantuan siapapun. Tampak terpukau, aku membanggakan diriku.


Tokk, tok, tok…


“Nona Jiao Chan, apa masih lama?” Aku terkikik mendengar suara jenuhnya dibalik pintu kamarku.


Aku mendekat ke pintu yang super besar, interior minimalis klasik. Menutup mulutku, jangan sampai dia mendengar aku terkikik.


Aku bisa menduga kepanikannya di luar, hentakan kaki mengelilingi pintu kamar ini, “Hei Jiao Chan, kau baik-baik


saja di dalam?” Tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Biarlah dia khawatir.


Clekk.


Dia membuka pintunya dan aku yang berdiri bersandar di pintu itu terjatuh tepat di dada bidangnya, menyembunyikan wajahku yang malu sempat menguping dia yang berteriak dibalik pintu.


“Sedari tadi kau hanya mendengar dan terkikik dibalik pintu ini.” Sial! Dia tahu. Bodohnya aku melupakan sesuatu


penting, makhluk di sini punya keahlian khusus. Buru-buru aku menjauh darinya memperbaiki tampilanku.


“Cak, ayo kita sudah ditunggu Yang Mulia di ruang makan.” Yang Mulia? Itu berarti pemilik istana megah ini? Lebih


berbahaya dari Feriuskah? Aku menelan ludah membayangkan sosok penguasa istana ini, dadaku bergemuruh ketakutan memandang tanganku yang gemetaran.


Apa dia menerimaku berada di sini, secara hanya Ashley yang menerima kedatanganku dan tidak penguasa itu. Semalam aku tidak melihat penguasa itu ada di istana ini, hanya Ashley, beberapa pengawal dan pelayan yang kujumpai.


Kau tidak tahu banyak tentangnya Ashley entah kenapa aku tidak suka orang lain menghina Ferius di depanku,


memandangnya sebelah mata. Aku mendengus kesal melihat Ashley, dia lebih menyebalkan dibanding perawakannya Yu Lian.


“Kau berbeda dari Yu Lian. Aku lebih suka Yu Lian dibanding Ashley.” Aku mendahuluinya, dia masih asyik dengan pikirannya.


Aku menyusuri jalanan koridor pemakaian pilar-pilar, ornamen dan profil-profil yang muncul pada saat kerajaan Romawi. Suguhan yang indah, tak henti-hentinya aku kagum desain ini selalu menjadi objek utama dimataku.


Ada yang membuatku aneh, seakan-akan aku berjalan tahu tempat tujuan yang dikatakan Ashley, ruang makan. Aku menghentikan langkahku dan berbalik melihat Ashley beberapa meter dari tempatku berhenti.


“Kenapa berhenti?” ujarnya heran.


“Lebih baik kau berjalan duluan, mungkin aku salah langkah tujuan.” Dia menggeleng dan aku memandangnya penuh tanya apa jalannya benar?


“Kau tidak salah jalan, Nona Jiao Chan. Jika kau ingin berdampingan jalan denganku tak masalah.” Ia menaikkan bahunya sembari tersenyum manis. Nampak perawakan asli Yu Lian yang sebenarnya di sini.


Tidak salah aku datang ke dunia ini, tentang dirinya aku bisa lihat jelas. Yu Lian yang populer, dingin dengan perempuan lain, tampan, gaya modis ternyata berbeda dengan dirinya di dunia ini. Dia narsis tingkahnya berubah 360 derajat, aku tersenyum kecut membandingkan dua sifat yang jauh berbeda itu.


“Sudahlah, sebaiknya kita cepat ke sana.” Ia berubah serius, benar-benar susah diprediksi tingkahnya ini. Kadang dia bercanda, narsis, tahu-tahu berubah serius lagi. Kau bisa mendapatkan Oscar jika beradu akting.


Aku mengangguk sebagai jawaban akhirku.


Sampai akhirnya, aku yang berjalan duluan dan dia berada di belakangku. Ekor mataku memandangnya yang juga melihatku dengan tatapan intens. Aku sedikit risih dengan matanya yang serius. Tapi sudahlah Yang Mulia


pasti menunggu kami.


Kami sampai di sebuah pintu berwarna coklat kristalan kasar berasal dari batu kapur atau dolomit, disebut marmer yang berbentuk melengkung bagian atas. Ashley mengetuk pintu itu tidak berselang lama pintu dibuka, bisa kutebak yang membukanya pengawal pribadi Yang Mulia.


“Silahkan masuk Nona dan Tuan Ashley.” Ia memberi hormat pada kami berdua. Kami masuk bersamaan.


Di atas singgasana mewah, seorang pria paruh baya berkulit putih kumis padat di bagian rahang dan dagu, rambut sebahu berwarna kecoklatan, badan yang kekar, tinggi semampai, memakai busana mewah sedang duduk di sana. Biar kutebak, dia penguasanya dan pakaiannya super mewah dan tebal  itu adalah tanda dia pemilik istana megah ini. Tangan sebelah kanan memegang tongkat berwarna emas berbentuk sayap pada bagian atas dan bagian tangkai tongkat tersebut ada dua patung ekor ular berwarna hijau yang melingkar, kepala ular menengadah memandang sayap tersebut, ukurannya kurang lebih dua meter.


“Kau telah kembali, kami menunggu kedatanganmu Putriku tercinta.” Senyum tulus terpancar dari wajahnya. Dia berdiri dan menghampiri kami tanpa menunggu aku berkata dia memelukku erat sembari terisak.


Aku mematung di tempat, tatapanku lurus ke depan. Banyak pertanyaan yang ingin aku utarakan. Siapa pria paruh baya ini? Kenapa hatiku mencelos saat memandangnya sedari tadi?


Ia melepaskan rangkulannya, “Ini ayahmu, Putriku.” Seakan tahu maksud tatapanku. Aku mengedipkan mataku berkali-kali, memastikan aku tidak salah dengarkan.


“Saya ayahmu, orang tuamu setelah ibumu.” Aku menggeleng, aku tidak punya hubungan dengan siapapun di dunia ini kecuali Ferius.


Aku menepis tangannya yang berada di kedua pundakku dan menjauh darinya. Berkali-kali aku menggeleng dan memperlihatkan senyum kecutku padanya. Pria paruh baya itu memelas dan terkejut atas responku padanya. Benar, aku bukan Putrinya. Aku lahir di bumi, bahkan aku punya foto-foto di masa kecilku tersimpan di rumah. Aku punya orang tua di bumi, bukan dia.


“Kau salah, Tuan. Ak-aku… lahir di bumi dan orang tuaku adalah manusia bukan makhluk dari dunia ini.” Suaraku mengecil, aku menunduk tak berani menatapnya.


Dia berusaha untuk medekatiku tapi aku semakin menjauh darinya, “Berhenti di situ. Aku bukan-”


“Kau Lucia.” Nama itu? Jadi dia… ayah Lucia?


 


 


 


^TBC^